Connect with us

FLORES

Ultimatum PSSI NTT: Siap Jadi Tuan Rumah atau Mundur, Kompetisi Tetap Jalan!

Published

on

Ilustrasi (penatimor)

KUPANG, PENATIMOR – Kepastian penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2026 kini berada di titik krusial.

Sekretaris PSSI NTT, Abdul Muis, angkat bicara tegas bahwa seluruh agenda harus tetap berjalan, namun nasib tuan rumah masih menunggu jawaban resmi dari daerah.

Di tengah dinamika tersebut, keputusan mengejutkan datang dari PSSI Kabupaten Nagekeo yang resmi mundur sebagai tuan rumah Piala Soeratin U-17 2026. Kondisi ini langsung memicu respons cepat dari PSSI Kabupaten Sikka yang menyatakan kesiapan penuh untuk mengambil alih.

Namun bagi Abdul Muis, inti persoalan bukan sekadar siapa menjadi tuan rumah, melainkan kepastian komitmen seluruh daerah dalam menyukseskan kalender kompetisi PSSI NTT.

“Kita masih menunggu kepastian dari PSSI Flores Timur untuk ETMC Liga 4, juga Kota Kupang untuk Soeratin U-13 dan U-15. Semua masih berproses,” tegas Abdul Muis kepada media ini.

Ia menekankan, PSSI NTT telah menetapkan batas waktu yang jelas. “Kita harapkan awal April sudah ada jawaban resmi, siap atau tidak siap. Akhir Maret ini kita kirimkan surat ke masing-masing calon tuan rumah sesuai hasil Kongres Biasa di Labuan Bajo,” lanjutnya.

Abdul Muis menegaskan prinsip utama yang tidak bisa ditawar. “Prinsipnya, semua event PSSI harus digelar tahun ini. Tidak boleh ada yang tertunda,” tandasnya.

Untuk diketahui, Keputusan mundurnya Nagekeo tertuang dalam surat resmi Nomor 06/PSSI-NGK/III/2026 tertanggal 27 Maret 2026 yang ditujukan kepada Plt Ketua PSSI NTT di Kupang.

Dalam surat tersebut, Askab PSSI Nagekeo yang diketuai Marselinus F. Ajo Bupu menyatakan belum dapat menjalankan tanggung jawab sebagai tuan rumah meski sebelumnya telah ditunjuk melalui Kongres Biasa PSSI NTT pada 29 November 2025 di Labuan Bajo, Manggarai Barat.

“Mendasari hasil keputusan Kongres, setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami menyatakan belum dapat menjadi tuan rumah,” demikian isi pernyataan resmi tersebut.

Meski tanpa penjelasan rinci, mundurnya Nagekeo kuat diduga terkait kesiapan infrastruktur, teknis, serta dukungan penyelenggaraan yang belum optimal.

Di saat yang sama, PSSI Kabupaten Sikka bergerak cepat. Melalui surat resmi tertanggal 24 Maret 2026, mereka mengajukan diri sebagai tuan rumah pengganti.

Ketua PSSI Sikka Yosef Nong Soni bersama Sekretaris Silvester Sila Kedang menyatakan bahwa komunikasi dengan Nagekeo telah dilakukan sebelumnya.

“Hasil koordinasi kami, Nagekeo tidak siap dan sedang berproses mengajukan pengunduran diri,” tulis mereka.

Tak tanggung-tanggung, Sikka bahkan menyatakan kesiapan menggelar dua event sekaligus yaitu Soeratin U-17 dan Pertiwi Cup 2026.

Dalam situasi ini, Abdul Muis menegaskan bahwa PSSI NTT tidak akan membiarkan kekosongan berlarut-larut.

Menurutnya, mekanisme sudah jelas bahwa jika ada daerah yang mundur, maka harus segera digantikan oleh daerah lain yang siap secara penuh. “Kita tidak bisa tunggu lama. Kalau tidak siap, harus segera sampaikan. Supaya kita bisa ambil langkah cepat mencari pengganti,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa penunjukan tuan rumah bukan sekadar administratif, melainkan menyangkut kesiapan menyeluruh. Mulai dari stadion, fasilitas pendukung, akomodasi tim, hingga manajemen pertandingan harus dipastikan memenuhi standar. “Ini bukan hanya soal turnamen, tapi soal pembinaan. Soeratin itu fondasi sepak bola kita,” ujar Abdul Muis.

Sebelumnya, dalam rapat resmi yang dipimpin Plt Ketua PSSI NTT Chris Mboeik bersama jajaran pengurus, dipastikan seluruh kompetisi tetap bergulir sepanjang 2026.

Beberapa agenda besar yang telah ditetapkan melalui Kongres Biasa PSSI NTT antara lain ETMC Liga 4 Piala Gubernur di Kabupaten Flores Timur, Soeratin U-17 (tuan rumah dalam proses penetapan ulang), Soeratin U-13 dan U-15 di Kota Kupang, Piala Pertiwi di Kabupaten Sikka, dan Beach Soccer di Kabupaten Manggarai Barat.

Untuk mempercepat koordinasi, PSSI NTT juga telah menunjuk penanggung jawab teknis (PIC) di setiap event.

Langkah ini diambil agar komunikasi antara asosiasi provinsi dan daerah berjalan efektif dan tidak menghambat persiapan.

Abdul Muis kembali menegaskan bahwa kompetisi usia muda menjadi prioritas utama. Seluruh ajang Soeratin U-13, U-15, dan U-17 wajib diselesaikan paling lambat Agustus 2026.

Pasalnya, pada September 2026 akan digelar putaran nasional yang menjadi panggung bagi talenta terbaik dari NTT. “Kita tidak mau terlambat. Semua harus selesai sesuai jadwal karena kita bicara level nasional,” tegasnya.

Sementara itu, ETMC Liga 4 sebagai kompetisi paling bergengsi di NTT dijadwalkan berlangsung pada Oktober hingga November 2026.

Kini, sorotan tertuju pada keputusan PSSI NTT, apakah Kabupaten Sikka akan resmi ditunjuk sebagai tuan rumah baru, atau akan muncul opsi lain.

Yang pasti, Abdul Muis memastikan bahwa roda kompetisi tidak boleh berhenti. Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, publik sepak bola NTT kini menanti kepastian. Tentu hal ini menjadi sebuah keputusan yang bukan hanya menentukan lokasi pertandingan, tetapi juga arah masa depan pembinaan sepak bola di daerah.

Satu hal yang sudah jelas, sebelum pertandingan dimulai, tensi Piala Soeratin U-17 2026 sudah lebih dulu memanas. Dan di balik dinamika ini, PSSI NTT dituntut memastikan satu hal, yaitu semua harus tetap berjalan. (bet)

Advertisement


Loading...
error: Content is protected !!