Connect with us

HUKRIM

Jadi Tersangka Baru Korupsi Tanah Negara di Jln. Veteran, Petugas Ukur BPN Kota Kupang Ditahan

Published

on

Erwin Piga (depan) hendak dibawa ke Rutan Kelas 2B Kupang untuk menjalani penahanan. (Ist)

KUPANG, PENATIMOR – Kerja cepat tim penyidik Bidang Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejati NTT patut diancungi jempol.

Bagaimana tidak, tim penyidik yang dipimpin langsung oleh Asisten Pidsus Ridwan Sujana Angsar, SH., MH., ini kembali menetapkan dan menahan satu tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi pengalihan aset tanah Pemda Kabupaten Kupang kepada pihak lain yang tidak berhak di Jalan Veteran, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Tersangka baru dalam kasus ini adalah Erwin Piga selaku Kepala Subseksi Pengukuran dan Pemetaan BPN Kota Kupang pada tahun 2012-2016.

Erwin Piga telah ditahan penyidik Pidsus Kejati NTT di Rutan Kelas 2B Kupang pada pukul 16.00 Wita, Rabu (29/5/2024).

Penahanan dilakukan setelah Erwin Piga menjalani pemeriksaan sebagai tersangka oleh penyidik Mourest Aryanto Kolobani, SH., MH.

Kepala Seksi Penyidikan, Salesius Guntur, SH., yang dikonfirmasi awak media ini, mengatakan, Erwin Piga akan menjalani penahanan di Rutan Kelas 2B Kupang selama 20 hari kedepan.

Selama masa penahanan, Erwin Piga akan kembali menjalani pemeriksaan tambahan sebagai tersangka.

Menurut Salesius, dari hasil penyidikan, berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Kajati NTT Nomor: Print-312 /N.3/Fd.1/05/2024 tanggal 22 Mei 2024 dan Surat Penetapan Tersangka Nomor: B-1267 /N.3/Fd.1/05/2024 tanggal 22 Mei 2024, diketahui bahwa dari keterangan saksi-saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan barang bukti, maka ditemukan dua bukti permulaan yang cukup untuk menetapkan Erwin Piga sebagai tersangka.

 

Erwin Piga (Jaket jeans) saat diperiksa penyidik Mourest Aryanto Kolobani, SH., MH.

Erwin Piga dikenakan Pasal 2 Ayat (1) Jo. Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP; Subsidair:
Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP.

Erwin Piga diduga telah bersama-sama dengan terdakwa Petrus Krisin selaku penerima tanah dan terdakwa Hartono Fransiscus Xaverius, SH., melakukan tindak pidana korupsi yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 5.956.786.664,40, berdasarkan Laporan Audit Perhitungan Kerugian Keuangan Negara Inspektorat Provinsi NTT Nomor: X.IP.775/13/2023.

Sementara, sidang perdana untuk terdakwa Petrus Krisin dan Hartono Fransiscus Xaverius, SH., akan digelar di Pengadilan Tipikor Kupang pada Jumat (31/5/2024) dengan agenda pembacaan surat dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum.

Salesius menambahkan, Erwin Piga dalam kasus ini berperan sebagai petugas ukur tanah yang dikuasai oleh Jonas Salean, Petrus Krisin dan Yonis Oeina.

“Saudara Erwin Piga ini sebagai petugas ukur yang melakukan pengukuran tanah tanpa surat tugas, terus di gambar ukurnya dia menulis nama petugas ukur lain, faktanya yang ukur adalah Erwin Piga,” jelas Salesius.

Salesius juga menegaskan bahwa tim penyidik akan terus mengembangkan penyidikan untuk mencari dan menemukan pihak lain yang dinilai patut dimintai pertanggungjawaban hukum.

“Penyidikan terus kami dalami dan kembangkan, untuk menemukan pihak lain yang juga patut bertanggung jawab dalam perkara ini. Kami juga akan mengikuti fakta persidangan nanti. Karena penyidik yakin masih ada pihak lain yang harus ikut bertanggung jawab,” lanjut mantan Kacabjari Reo, Kejari Manggarai itu.

Diberitakan sebelumnya, Petrus Krisin dan Hartono Fransiscus Xaverius, SH., saat ini resmi berstatus terdakwa di Pengadilan Tipikor Kupang.

Perkara dugaan korupsi pengalihan aset tanah Pemda Kabupaten Kupang di Jalan Veteran, Kota Kupang yang menjerat keduanya sebagai terdakwa, telah dilimpahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) ke Pengadilan Tipikor Kupang sekira pukul 14.00 Wita, Kamis (16/5/2024). Pelimpahan perkara dilakukan oleh JPU Kejati NTT, Advani Ismail Fahmi, SH.

Diberitakan sebelumnya, tersangka Petrus Krisin didampingi oleh penasehat hukumnya, Jimmy Daud, SH.,MH. Sementara, tersangka Hartono Fransiscus Xaverius didampingi oleh penasehat hukumnya, Yoseph Pati Bean, SH.

Terdakwa Petrus Krisin selaku penerima tanah, dan Hartono Fransiscus Xaverius, SH., selaku Kepala BPN Kota Kupang tahun 2003.

Untuk diketahui, dalam penyidikan perkara ini, tim penyidik telah melakukan penyitaan terhadap dua bidang tanah, masing-masing seluas 400 meter persegi yang selama ini dikuasai oleh pimpinan CV NAM Leonard Antonius alias Ko Liong dengan Sertifikat Hak Milik (SHM) atas nama Kristina Antonius yang adalah putri kandung dari Ko Liong. Dua tanah kaveling dengan total luas 800 meter persegi ini dibeli Ko Liong dari Petrus Risin dan Yonis Oeina (Alm).

Kemudian, penyidik juga menyita tanah seluas 420m2 yang dikuasai mantan Wali Kota Kupang Jonas Salean dengan SHM Nomor 839. Di atas bidang tanah ini berdiri bangunan ruko yang disewakan sebagai Rumah Makan Waroenk.

Penyitaan ini berdasarkan Penetapan Ketua Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Kupang Nomor: 11/Pen.Pid Sus-TPK-SITA/2024/P Kpg tanggal 18 Januari 2024, dan Surat Perintah Penyitaan Kepala Kejaksaan Tinggi NTT Nomor Print-31/N.3.5/Fd.1/01/2024 tanggal 16 Januari 2024.

Tidak hanya itu, tim penyidik juga telah melakukan penyitaan terhadap 35 dokumen penting di kantor Wali Kota Kupang.

Penyidik melakukan pengeledahan di kantor Bagian Tata Pemerintahan Setda Kota Kupang, dan kantor Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Kupang.

Sejauh ini, kedua tersangka, Petrus Krisin dan Hartono Fransiscus Xaverius, SH., telah ditahan oleh penyidik di Rutan Kelas 2B Kupang.

Proses penyidikan ini telah melibatkan sejumlah saksi dari lingkungan Pemkot Kupang dan Pemkab Kupang, termasuk BPN Kota Kupang.

Beberapa pejabat dan mantan pejabat Pemkot Kupang yang diperiksa antara lain Evelyn Venita Francis, SE.,MM., selaku Kepala Bidang Akuntansi dan Aset Badan Keuangan dan Aset Daerah Kota Kupang, serta Max Dwight Bunganawa, SH., sebagai Kasubag Administrasi Pemerintahan pada Bagian Tata Pemerintahan Setda Kota Kupang.

Saksi lain dari Pemkot Kupang yang turut diperiksa adalah Drs Gabriel Geo Kahan, M.Si., selaku mantan Asisten I Sekda Kota Kupang, dan Drs Djidon De Haan, M.Si.

Drs Daud Hironimus Djira, yang menjabat sebagai Kepala Bagian Pemerintahan Setda Kota Kupang tahun 2012, juga termasuk dalam daftar saksi yang telah diperiksa.

Selain itu, saksi dari Pemkab Kupang termasuk Oktovianus Tahik, SH., sebagai Kepala Bagian Umum Pemkab Kupang, Alfons A.A. Ganggas, S.Sos., M.Si., PNS pada Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Kupang, dan Jon Alexanders Sula, STP., dalam kapasitas sebagai Kabid Pemanfaatan dan Pengamatan Asset Daerah di BPKAD Kabupaten Kupang.

Adapun saksi Drs Hendrik Paut, M.Pd., selaku mantan Sekda Kabupaten Kupang, namun sudah meninggal dunia.

Dalam rangka penyelesaian berkas perkara, penyidik juga memeriksa saksi dari kalangan pebisnis, seperti Steven Hendrick Marloanto selaku pemilik rumah makan Waroenk, kemudian Leonard Antonius Ang alias Ko Liong sebagai pimpinan NAM Group.

Kemudian, saksi dari BPN adalah Drs Jantje Tuwera, M.Si., selaku mantan Kepala BPN Kota Kupang tahun 1998-2006, serta Kepala Kanwil BPN Provinsi NTT tahun 2008-2013.

Selain itu, beberapa saksi lainnya berasal dari kalangan PNS dan pensiunan PNS, di antaranya Lasarus Yeheskial Haekase, Drs Danial Takain, Drs Philips Manafe, Aleksander Lelan, SE.,MM., dan Rongky Olis Rihi, S.Sos.

Turut juga diperiksa Meilisa sebagai petugas ukur pada Kantor Pertanahan Kota Kupang tahun 2013, Erwin Piga selaku Kepala Subseksi Pengukuran dan Pemetaan tahun 2012-2016, Terianus Tabana sebagai mantan Kasubsi Penetapan Hak Tanah BPN Kota Kupang, Andi Faisal Arkiang selaku Analis Keuangan pada Kantor BPN Kabupaten Kupang, dan juga Hendrikus Rema selaku mantan Kasi Hak atas Tanah yang juga Ketua Tim A. Termasuk saksi Suha Emy Oeina-Kufa yang adalah seorang ibu rumah tangga. (bet)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Mengupas Perjalanan Kajati NTT Zet Tadung Allo, Penugasan Pertama di Kejari Kupang, 9 Tahun di KPK, 3 Kali Wakajati

Published

on

Kajati NTT Zet Tadung Allo, S.H., M.H.
Continue Reading

HUKRIM

Kejati NTT Lidik Dugaan Korupsi Tanah Kemenkumham, Diduga Dijual Yonas Konay Seharga Rp 2 Miliar

Published

on

Kepala Seksi Penyidikan Kejati NTT, Salesius Guntur, SH.
Continue Reading

HUKRIM

Lantik Wakajati Baru, Ini Pesan Penting Kajati NTT Zet Tadung Allo

Published

on

Kajati NTT, Zet Tadung Allo, SH., MH., menyalami Wakajati NTT yang baru, N. Rahmat R., S.H., M.H., usai pelantikan di Aula Lopo Sasando pada Rabu (12/6/2024) siang.
Continue Reading