HUKRIM
Terbongkar! Modus Pemerasan Ketua ARAKSI TTU dan Oknum Wartawan, Minimal Rp10 Juta

KUPANG, PENATIMOR – Modus operandi yang dilancarkan oleh Ketua ARAKSI Kabupaten Timor Tengah Utara, CB dan oknum wartawan sekaligus anggota ARAKSI, FN, terbongkar ke publik.
MT, seorang kontraktor di TTU, mengaku diintimidasi dan diperas oleh CB.
Korban mengaku dimintai sejumlah uang agar pekerjaannya tidak dilaporkan ke aparat penegak hukum. Walaupun, saat itu pekerjaannya masih dalam masa pemeliharaan.
CB juga mendatangi lokasi proyek yang dikerjakan MT, dan setelah itu menghubungi korban untuk datang ke rumah nya.
“Dia bilang supaya jangan lapor, maka harus ada sedikit. Karena bilang dong pung bos di Kupang biasa makan dengan orang Polda, orang Kejati, jadi harus atur. Paling sedikit Rp10 ribu. Biasa kita di sini kalau Rp10 ribu berarti Rp10 juta,” ungkap MT kepada awak media di kediamannya, belum lama ini.
“Yang paling saya ingat itu dia bilang, makan malam itu tidak ada yang gratis. Ini bahasa saya ingat terus,” lanjut dia.
Terhadap permintaan itu, korban mengaku saat itu meminta waktu selama seminggu.
“Dia (CB) bilang kalau bisa hari Senin. Lalu saya pulang, dan karena belum ada uang, saya kembali lagi ke rumahnya. Saya bilang belum ada uang jadi minta tunda sedikit. Saya minta waktu lagi, paling lama hari Jumat,” ungkap MT yang mengaku setiap ke rumah CB selalu ditemani FN.
Untuk memenuhi permintaan CB, MT mengaku terpaksa menjual seekor sapi di Aplal seharga Rp6 juta, kemudian ditambah lagi dengan uang tabungannya Rp6 juta agar genap Rp12 juta.
“Saat itu sudah ada uang Rp12.500.000. Lalu saya beli amplop warna coklat, dan masukan uang Rp12 juta, untuk diserahkan ke CB,” imbuh korban MT.
“Setiap kali mau ke sana (Rumah CB), saya pasti ajak FN. Saya jemput dia di rumah nya, baru kami sama-sama ke sana. Di rumah CB, kami selalu duduk berdekatan di teras, jadi semua yang kami omong pasti dia juga dengar,” lanjut dia.
Saat ke rumah CB untuk menyerahkan uang, saat itu sudah ada seorang tamu yang mendahului, sehingga MT mengaku harus menunggu beberapa saat sampai tamu tersebut pulang, barulahnya ia menyerahkan amplop berisi uang Rp12 juta kepada CB, dan itu dilihat juga oleh FN.
MT juga mengaku pernah mendatangi rumah FN dan meminta agar berita terkait pekerjaannya dihapus, dan FN menyanggupinya asalkan membayar sejumlah uang.
“Dia bilang itu bisa (hapus berita), hanya mesti kasih uang, untuk orang redaksi di Kupang, supaya dong bisa hapus. Jadi waktu di dia punya rumah, saya kasih Rp500 ribu,” beber MT.
“Saat pameran itu dia mau pinjam di saya Rp350 ribu, tapi saya juga tidak ada uang. Tapi kalau kemarin waktu dikonfrontasi dia bilang pinjam Rp500 ribu, itu tidak betul, karena Rp500 ribu saya kasih untuk hapus berita,” ungkap MT. (bet)
Fe Naiboas Bantah Keterangan Mardanus Tefa, Tidak Pernah Terima Uang Rp500 Ribu











