Connect with us

HUKRIM

Kajati NTT Tinjau Langsung SDN 1 Naioni, Plafon Roboh Usai Dua Tahun Direnovasi

Published

on

Kajati NTT Zet Tadung Allo, S.H., M.H., meninjau langsung kondisi salah satu sekolah terdampak pada Senin (20/1/2025) siang.

KUPANG, PENATIMOR – Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Nusa Tenggara Timur (NTT), Zet Tadung Allo, S.H., M.H., memberikan perhatian serius terhadap insiden robohnya plafon ruang kelas di sejumlah sekolah dasar di wilayah Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

Kajati Zet Tadung Allo pun meninjau langsung kondisi salah satu sekolah terdampak pada Senin (20/1/2025) siang.

Didampingi sejumlah pejabat, termasuk Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Ridwan Sujana Angsar, S.H., M.H., Koordinator Pidsus Fredy Simanjuntak, S.H., M.H., Kepala Seksi Penyidikan Pidsus Mourest A. Kolobani, S.H., M.H., serta Kepala Seksi Penkum A.A. Raka Putra Dharmana, S.H., M.H., Kajati mengunjungi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Naioni di Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Turut hadir dalam kunjungan ini, Kepala Balai Pelaksana Pemilihan Jasa Konstruksi Wilayah Nusa Tenggara Timur.

Plafon Roboh Hanya Dua Tahun Setelah Perbaikan

SDN 1 Naioni menjadi sorotan setelah plafon di tujuh ruangan kelasnya roboh, padahal gedung sekolah tersebut baru selesai diperbaiki pada 2022 pasca-bencana siklon tropis Seroja.

Pekerjaan renovasi dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan diserahterimakan pada 21 Maret 2022.

Ironisnya, hanya berselang dua tahun, plafon dari bahan gypsum tersebut mulai runtuh.

Menurut Wakil Kepala Sekolah SDN 1 Naioni, Yustus Nenotek, peristiwa robohnya plafon pertama kali terjadi di ruang kelas 6 pada Jumat pagi (17/1/2025) sekitar pukul 06.00 Wita, sebelum aktivitas belajar mengajar dimulai.

“Beruntung saat kejadian, siswa dan guru belum berada di kelas, sehingga tidak ada korban jiwa,” jelas Yustus dalam wawancara di ruang kerjanya.

Yustus menambahkan, plafon yang roboh mencakup ruang kelas 1 hingga 6 serta perpustakaan. Saat ini, hanya tiga ruangan yang plafonnya masih utuh, tetapi dua di antaranya diperkirakan juga akan mengalami kerusakan dalam waktu dekat.

Penyebab utama diduga karena kelembapan tinggi akibat cuaca buruk yang mempercepat kerusakan gypsum.

Ancaman Bagi Keselamatan Siswa dan Guru

Meski tidak ada korban jiwa, kejadian ini menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan guru dan siswa. “Kami sering menghindari ruangan dengan plafon yang masih utuh untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Yustus. Namun, aktivitas belajar mengajar tetap berjalan normal untuk 123 siswa di sekolah tersebut.

Kejadian ini telah dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Kupang, tetapi pihak sekolah masih menunggu langkah konkret dari pemerintah.

“Kami berharap ada solusi cepat untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang,” harap Yustus.

Dalam kunjungannya, Kajati Zet Tadung Allo menyatakan keprihatinannya atas kondisi tersebut dan berkomitmen untuk menindaklanjuti dugaan penyebab kerusakan.

“Kami akan mendalami apakah ini murni akibat cuaca buruk atau ada faktor lain seperti dugaan kualitas konstruksi yang tidak sesuai standar,” tegas Kajati.

Kajati juga menekankan pentingnya akuntabilitas dalam proyek-proyek pemerintah, terutama yang berkaitan dengan fasilitas pendidikan.

“Keselamatan siswa dan guru adalah prioritas. Kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tambahnya.

Kepala Balai Pelaksana Pemilihan Jasa Konstruksi Wilayah NTT yang turut hadir dalam kunjungan ini menyatakan kesiapannya untuk mendukung evaluasi teknis terkait insiden tersebut.

Kasus robohnya plafon di SDN 1 Naioni menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap proyek pembangunan dan renovasi fasilitas publik.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang bersama pihak terkait diharapkan segera mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki kerusakan, serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas konstruksi di sekolah-sekolah lain di wilayah tersebut.

Insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk memastikan keamanan dan kenyamanan lingkungan belajar bagi anak-anak. (ric)

Advertisement


Loading...
error: Content is protected !!