Connect with us

EKONOMI

Revolusi Digital, Kunci Sukses Bank NTT dan Perkebunan Kakao di Sumba Barat

Published

on

Dua Komisaris Bank NTT masing-masing Juvenile Jodjana dan Frans Gana, saat menjadi pemateri pada seminar nasional di Undana. Foto: Ist

KUPANG, PENATIMOR – Pada sebuah pagi cerah di Kota Kupang, dua komisaris Bank NTT, Juvenile Jodjana dan Dr. Frans Gana, bersiap untuk menjadi narasumber dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan di Universitas Nusa Cendana (Undana).

Mereka berdua sangat antusias untuk berbicara tentang “Keberlangsungan Bisnis di Era Revolusi Industri 5.0 dan Society 5.0.”

Seminar ini juga dihadiri oleh Prof Dr. Martani Husaeni, seorang guru besar Ilmu Administrasi dari Universitas Indonesia, dan dipandu oleh moderator cerdas, Dr. Khalid K.M.

Ratusan dosen dan mahasiswa dari berbagai fakultas hadir untuk mendengarkan pembicaraan yang menarik ini.

Dalam pembicaraannya, Dr. Frans Gana membuka wawasan tentang inovasi digitalisasi yang telah diterapkan oleh Bank NTT.

Dia menjelaskan bagaimana bank ini telah bertransformasi dan mengintegrasikan digitalisasi ke dalam operasionalnya.

Digitalisasi ini telah memberikan manfaat yang luar biasa, tidak hanya bagi bank itu sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Koperasi, perguruan tinggi, UMKM, dan banyak sektor lainnya telah merasakan dampak positif dari revolusi teknologi ini.

“Ketika kita bicara tentang digitalisasi, kita sebenarnya berbicara tentang inovasi. Ini adalah strategi yang penting dalam menghadapi perubahan revolusi industri dan masyarakat,” jelas Dr. Frans dengan antusias.

Mereka juga membahas pandangan Joseph Schumpeter tentang tiga jenis strategi kewirausahaan. Ini mencakup mengubah hal yang biasa menjadi sesuatu yang berguna, memanfaatkan teknologi, dan merancang strategi organisasi yang melibatkan inovasi.

Komisaris Independen Bank NTT, Dr Frans Gana, M.Si saat memberikan materi.
Foto: Ist

Penelitian di Bank NTT menunjukkan bahwa inovasi digitalisasi tidak hanya berhenti di dalam bank, melainkan juga memengaruhi lingkungan eksternal. Ini adalah pandangan baru yang mengubah cara kita memahami inovasi.

“Inovasi digitalisasi tidak hanya berlaku di internal perusahaan, tetapi juga meluas ke luar. Ini telah membawa efisiensi dalam berbagai aspek, dari waktu hingga biaya,” tambahnya sembari mengutip Oliver Williamson tentang pentingnya mengurangi peluang kecurangan.

Selanjutnya, mereka menjelaskan bagaimana inovasi ini telah meningkatkan pendapatan Bank NTT hingga 40 persen, membuktikan bahwa investasi dalam teknologi adalah keputusan yang bijak.

Namun, mereka juga menyadari bahwa keberlangsungan bisnis tidak hanya bergantung pada inovasi digitalisasi. Mereka membahas temuan mereka dari perusahaan swasta yang dikelola oleh Hengky Lianto di Sumba Barat.

Hengky Lianto telah menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR) dengan membangun gereja, sekolah, dan memberikan angkutan bagi warga sekitar perkebunan kakao yang dikelolanya.

Tapi yang lebih menarik adalah pendekatan kepemimpinan Hengky Lianto. Dia menerapkan kepemimpinan paternalistik yang membuat karyawan merasa seperti keluarga. Karyawan tidak hanya dilihat sebagai pekerja, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar. Ini telah menciptakan hubungan yang kuat antara perusahaan dan karyawan.

“Kepemimpinan paternalistik telah mendukung keberlangsungan perusahaan. Hengky Lianto memperlakukan karyawan seperti anak-anaknya sendiri, dan ini sangat penting,” ungkap Dr. Frans dengan penuh keyakinan.

Selain itu, penggunaan teknologi digital, seperti M-Banking dari Bank NTT, telah membawa efisiensi dalam pembayaran gaji karyawan.

Dalam penutupan ceramah mereka, Juvenile Jodjana berbicara tentang bagaimana digitalisasi telah merubah cara bertransaksi dalam bisnis.

Komisaris Utama Bank NTT, Juvenile Jodjana.
Foto: Ist

Dia memberikan contoh dari pengalamannya sendiri dalam bisnis penerbangan dan perhotelan setelah menyelesaikan pendidikan di Amerika.

Mereka menggarisbawahi bahwa bisnis saat ini telah bergerak jauh dari metode manual tradisional ke tahap digital.

Bank NTT sendiri mengimplementasikan model hybrid yang menggabungkan aspek digitalisasi dan konvensional. Mereka percaya bahwa teknologi tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga memberikan kekuatan kepada aspek sosial dalam manajemen.

Dalam dunia yang terus berkembang, mereka merasa bahwa inovasi adalah kunci untuk mencapai keberlangsungan bisnis. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa elemen-elemen seperti CSR dan kepemimpinan yang peduli terhadap karyawan juga penting dalam menjaga keberlangsungan.

Seminar ini membawa banyak pemahaman baru tentang peran inovasi dalam bisnis modern dan bagaimana teknologi dapat mengubah cara kita beroperasi. Ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya nilai-nilai sosial dalam manajemen perusahaan. (bet)

Advertisement


Loading...
error: Content is protected !!