EKONOMI
Kuliah Umum Dirut Alex, Bank NTT Mesin Penggerak Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan NTT

KUPANG, PENATIMOR – Hari itu, di ruang kuliah Universitas Nusa Cendana (Undana), atmosfer penuh semangat menyambut kedatangan seorang tokoh yang memiliki visi besar untuk Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dirut Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur, Harry Alexander Riwu Kaho, tampil sebagai narasumber dalam Kuliah Umum yang menginspirasi.
Kuliah tersebut bertema “Keberlangsungan Bisnis Era Revolusi Industri 5.0 dan Society 5.0” bagi mahasiswa Program Studi Administrasi Bisnis Fisip Undana.
Mata mahasiswa terpaku pada pria paruh baya yang berbicara dengan penuh semangat di atas panggung.
Alex, sapaan akrabnya, dengan tegas menyatakan, “Bank NTT harus keluar dari zona nyaman.”
Ia ingin merubah citra bank tersebut, yang selama ini dikenal hanya sebagai bank bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Visinya jelas: setelah Bank NTT mendapatkan izin sebagai Bank Devisa, ia harus terus berinovasi dan menjadi pelopor dalam memajukan ekonomi masyarakat NTT.
Mahasiswa-mahasiswa yang hadir merenungkan kata-kata tersebut. Apa yang bisa mereka lakukan sebagai generasi muda untuk mendukung visi ini?
Alex pun memberi jawaban. Bank NTT tak hanya berinovasi, tapi juga bekerja kreatif dan cerdas. Mereka telah mengidentifikasi potensi di desa-desa, lalu menciptakan program pembiayaan dengan berkolaborasi bersama berbagai pihak.
Alex membagikan beberapa pencapaian yang telah diraih oleh Bank NTT sebagai pelopor pembangunan ekonomi di NTT.
Salah satunya adalah terbentuknya desa-desa binaan Bank NTT yang memiliki Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan pendapatan hingga Rp 200 juta per bulan.
Ini bukan sekadar membantu ekonomi rumah tangga, tapi juga membangun sumber daya manusia, menciptakan lapangan kerja, dan mendistribusikan pengetahuan serta teknologi.
Alex juga meramalkan bahwa revolusi industri, khususnya perkembangan teknologi, akan menciptakan peluang bisnis baru yang terkait dengan sektor pariwisata.
Bank NTT fokus pada pengembangan sektor ekonomi kreatif, termasuk pariwisata, sebagai bagian dari rantai pasokan yang melibatkan sektor holtikultura dan jasa lainnya. Ini menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
Namun, Alex tidak hanya bicara tentang bisnis. Dia juga menyoroti peran mahasiswa dalam menghadapi perubahan ini.
Dalam era Kampus Merdeka, mahasiswa harus menjadi solusi, membangun jiwa dan raga untuk kemajuan pendidikan dan masyarakat.
Bank NTT berjanji akan mendukung mahasiswa Fisip Undana yang ingin terlibat dalam dunia usaha dengan ilmu yang mereka peroleh di kampus.
Kuliah Umum ini mengubah pandangan para mahasiswa. Mereka sadar bahwa mereka memiliki peran penting dalam mewujudkan visi besar Alex Riwu Kaho untuk NTT. Mereka telah mendapatkan wawasan baru tentang pentingnya inovasi, kreativitas, dan kontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi daerah.
Setelah kuliah berakhir, mahasiswa berkumpul, penuh semangat, membicarakan langkah-langkah yang akan mereka ambil. Mereka ingin mengambil bagian dalam perubahan, membantu Bank NTT menjadi motor pembangunan ekonomi masyarakat NTT yang lebih baik. Sebuah visi besar telah ditempa dalam hati mereka, dan mereka siap beraksi untuk mewujudkannya. (Om Pena)











