Connect with us

KOTA KUPANG

Dompet Dhuafa Buka Sekolah DAI Pemberdaya di NTT

Published

on

Kepala Cabang Dompet Dhuafa Kupang Sriyati saat opening ceremony Sekolah DAI Pemberdaya di Asrama Haji Kupang.

KUPANG, PENATIMOR – Lembaga penyalur zakat, Dompet Dhuafa resmi membuka Sekolah DAI Pemberdaya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan ini digelar selama 10 hari di Aula Asrama Haji, Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Selasa (4/10/2022).

Kepala Cabang Dompet Dhuafa Kupang Sriyati, mengatakan, dalam waktu 10 tahun Dompet Dhuafa hadir di NTT untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan mengatasi berbagai persoalan sosial kemasyarakatan.

Bermula dari tahun 2013, Dompet Dhuafa hadir dan konsern pada layanan kesehatan agar lebih mudah diakes oleh masyarakat.

Seiring dengan penambahan program dan kepercayaan masyarakat, maka tahun 2020, berdasarkan surat dari Kementerian Agama, Dompet Dhuafa resmi menjadi lembaga penyaluran zakat.

“Dengan dukungan semua pihak, ada 11 daerah yang disasar lewat program dari Dompet Dhuafa, dan saat ini sudah 3.000 penerima manfaat dari donatur,” kata Sriyati.

Dijelaskannya, sekolah DAI Pemberdaya ini akan berjalan selama 10 hari. Selepas itu, baru para peserta dikirim ke tengah masyarakat untuk menjalankan program Dompet Dhuafa.

“Kita beri pembekalan di ruang kelas, tapi ada juga yang langsung praktek ke wilayah binaan di Kabupaten TTS. Nanti setelah siap, kita akan terjunkan ke masyarakat sesuai dengan kebutuhan wilayah yang membutuhkan,” jelasnya.

Lanjut Sriyati, Sekolah DAI sebenarnya sudah berlangsung yang ketujuh kali. Sedangkan, pelaksanaan sekolah baru pertama kali dilakukan di NTT.

Tahun 2022, NTT mendapat penugasan DAI dari Pusat untuk empat wilayah, yakni di Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, TTS, dan Sikka.

Sekolah DAI ini terdiri dari 21 peserta yang berasal dari seluruh NTT dan juga luar daerah.

Materi sekolah menurut dia, terkait dengan penguatan keagamaan hingga pemberdayaan ekonomi dan masyarakat.

Dimana peserta juga dilatih memetakan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Tujuannya agar peserta mendapat solusi dalam mengurangi masalah di masyarakat, dan peserta juga bisa ditempatkan di berbagai wilayah yang ada di Indonesia bahkan luar negeri,” imbuhnya.

Ditambahkan, untuk Progam DAI pemberdaya berjalan hingga satu tahun. Jikapun para DAI bekerja serius dan mampu menjalani program Dompet Dhuafa, maka bisa dilakukan perpanjangan masa tugas.

“Karena memang kita programnya harus ada dampak impact nya. Standarnya itu sampai tiga tahun. Kalau setahun dia bisa bagus maka bisa diperpanjang,” terang Sriyati.

Sementara, Juperta Panji Utama selaku General Manajer Program Dakwah dan Layanan Masyarakat Dompet Dhuafa, menjelaskan, penguatan nilai keislaman dan keindonesiaan sangat tergantung pada informasi dan data yang baik dan benar. Seturut ini juga kalau dilakukan dengan implementasi.

Dengan ini, maka niat Dompet Dhuafa akan bagus juga dengan dampaknya.

Pada titik ini menurut dia, dibutuhkan kontribusi lebih dari umat, utamanya butuh DAI yang mau terlibat dalam kemajuan NKRI.

Sebagai lembaga penyalur zakat nasional, Dompet Dhuafa fokus pada tiga hal.

Pertama, bagaimana menguatkan dan memperbanyak muzaki para dermawan di Indonesia. Dompet Dhuafa berikhtiar agar para dermawan itu untuk terus berkecukupan dan tentu makin soleh.

Kedua, Dompet Dhuafa fokus melayani kaum dhuafa. Dan ketiga, pengelolaan sumber daya manusia dan lainnya yang dititipkan.

Saat ini Dompet Dhuafa terus berbenah dan sesuai aturan yang ada.

“Sekolah DAI Dompet Dhuafa yang pertama dilakukan di NTT ini sebagai upaya meraih kemajuan Indonesia dan berpesan agar para DAI ini bisa mengabdi diri dengan sebaik-baiknya,” jelas Juperta. (wil)

Advertisement


Loading...
error: Content is protected !!