EKONOMI
Tidak Hanya Tagih Retribusi, PD Pasar Harus Pastikan Pedagang dan Pengunjung Aman Saat Berbelanja

KUPANG, PENATIMOR – Gebrakan awal yang dilakukan George M. Hadjoh saat memimpin Kota Kupang yakni menuntaskan masalah kebersihan, khususnya pada pusat ekonomi seperti pasar-pasar tradisional.
Tidak hanya masalah kebersihan saja, George Hadjo selaku Penjabat Wali Kota Kupang juga ingin agar masalah stunting (kekerdilan, Red) bisa segera dituntaskan.
Agar dua masalah itu bisa ditangani secara baik, maka George Hadjoh meminta dukungan para tokoh agama.
Permintaan tersebut disampaikan Penjabat Wali Kota Kupang di sela-sela pertemuan bersama Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan para tokoh agama Kota Kupang lainnya di ruang rapat Kantor Wali Kota Kupang, Kamis (25/8/2022).
Dalam pertemuan tersebut, Penjabat Wali Kota menjelaskan, pada apel perdana bersama seluruh ASN Kota Kupang dan rapat bersama para pimpinan perangkat daerah lingkup Kota Kupang beberapa hari lalu, dirinya menargetkan agar dalam waktu dua bulan Pemkot akan menyelesaikan masalah sampah di wilayah Kota Kupang dan dalam 1 tahun akan Pemkot ingin menjadikan Kota Kupang sebagai kota terbersih di Indonesia.
Menurutnya, persoalan sampah merupakan tanggung jawab semua orang di Kota Kupang. Termasuk lembaga agama yang diyakininya mampu mengubah pola pikir jemaat lewat seruan dari mimbar rumah ibadah.
Karena itu, dirinya meminta kesediaan para tokoh agama untuk membantu Pemkot Kupang lewat suara gembala untuk mengimbau seluruh warga untuk menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya.
Kerja besar ini perlu melibatkan semua masyarakat. Harus diakui bahwa masyarakat Kota Kupang cenderung lebih taat pada pemimpin agama ketimbang pejabat pemerintahan seperti camat dan lurah.
“Karena itu, kami mohon bantuan seruan suara gembala para tokoh agama kepada umat untuk menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan. Tujuannya adalah membentuk kepedulian warga, karena kebersihan adalah bagian dari peradaban,” ungkapnya.
Selain sampah, isu lain yang dibahas Penjabat Wali Kota bersama para tokoh agama adalah penanganan masalah stunting.
Diakuinya, hingga saat ini masih ada warga yang tidak mau anaknya ditimbang serta tidak mempersiapkan calon ibu secara baik.
Karena itu, dukungan berupa imbauan dari tokoh agama untuk mengedukasi warga tentang penanganan masalah stunting sangat diharapkan.
George mengaku, telah bertemu dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) tingkat Kota Kupang.
Dalam pertemuan tersebut, pihaknya sepakat untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat termasuk di rumah-rumah ibadah.
Dia juga berharap agar rencana tersebut disambut baik oleh para tokoh agama sehingga mereka memperoleh kesempatan untuk mengimbau langsung masyarakat.
Para anggota Forkopimda juga sudah menyatakan kesediaan memberikan dukungan untuk penertiban di pasar, termasuk untuk membuka akses masuk seperti di Pasar Oeba menuju Pura Oebanantha.
Ketua Klasis Kota Kupang Barat, Pdt. Ita Fointuna Ndun, S.Th., menyambut baik rencana Penjabat Wali Kota untuk percepatan penanganan sampah dan stunting di Kota Kupang.
Menurutnya, untuk mencegah warga agar tidak membuang sampah pada titik-titik tertentu maka perlu dipasang CCTV serta menempatkan petugas keamanan di lokasi yang dinilai berpotensi menjadi tempat pembuangan sampah yang dilakukan oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggung jawab.
Selain itu, dirinya menyarankan agar perlu ada tindakan atau sanksi yang bisa memberikan efek jera bagi warga yang membuang sampah di sembarang tempat.
Dukungan senada disampaikan oleh Ketua MUI Kota Kupang, H. Muhammad. Menurut Ketua MUI Kota Kupang, dalam Hadits Islam ditulis kebersihan itu bersumber dari iman dan merupakan bagian dari iman.
Diakuinya, CCTV perlu dipasang bukan hanya untuk memantau warga membuang sampah sembarangan tapi juga untuk mencegah timbulnya tindak kejahatan.
Sebagai pedagang, dirinya mengungkapkan bahwa persoalan di pasar tidak hanya kebersihan dan MCK saja tapi juga soal akses masuk yang semakin susah.
Ini karena banyak orang berjualan di sepanjang badan jalan menuju ke pasar. Kondisi ini justru berpotensi menimbulkan kemacetan.
Petugas PD Pasar juga diharapkan tidak hanya sekadar menagih retribusi tapi juga harus memastikan agar pedagang dan pengunjung pasar merasa nyaman berbelanja.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kupang, I Wayan Wira Susana pada kesempatan yang sama meminta agar pihaknya dilibatkan dalam upaya menjaga kebersihan di Kota Kupang.
Atas nama Umat Hindu di Kota Kupang, dia juga menyampaikan terima kasih kepada Penjabat Wali Kota Kupang bersama Forkopimda yang sudah memberikan perhatian serius pada akses masuk ke Pura Oebanantha yang berada di dalam kompleks Pasar Oeba di wilayah Kelurahan Fatubesi.
Ketua FKUB Kota Kupang, Pdt. Jeky Latupeirissa, M.Th., juga turut mendukung adanya sanksi tegas untuk memberi efek jera bagi warga yang membuang sampah di sembarang tempat.
Pada kesempatan yang sama sebagai Ketua FKUB dia juga mengimbau tentang pentingnya kerja sama dan kolaborasi menjaga kerukunan dalam kondisi persaudaraan untuk memajukan Kota Kupang. FKUB menurutnya sudah masuk ke sekolah-sekolah agar anak-anak milenial mulai bicara tentang kerukunan dan moderasi beragama.
Mari kita lihat kota ini sebagai rumah persaudaraan, meskipun kita beda kamar namun tetap berupaya untuk menjaga rumah ini tetap utuh, pungkasnya.
Hadir pada pertemuan tersebut, Ketua FKUB Kota Kupang, Pdt. Jeky Latupeirissa, M.Th., Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Kupang, H. Muhammad MS, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kupang, I Wayan Wira Susana, Ketua Klasis Kota Kupang Barat, Pdt. Ita Fointuna Ndun, S.Th, Wakil Ketua Klasis Kota Kupang, Pdt. Divita Damayanti serta Wakil Ketua Klasis Kota Kupang Barat, Pdt. Yohana Nenobais-Kebang, S.Th. (wil)











