Connect with us

KOTA KUPANG

Identifikasi Stunting, Dinkes Kota Kupang Gencar Timbang Anak di Pusat Bermain

Published

on

Ilustrasi timbang anak (NET).

KUPANG, PENATIMOR – Upaya memaksimalkan operasi timbang terintegrasi di wilayah Kota Kupang, maka Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kupang menerapkan pola jemput bola (Jebol) kepada masyarakat.

Pola jebol yang diterapkan ini sebagai upaya untuk menekan angka stunting yang kini ada di wilayah Kota Kupang.

Salah satu cara yang dilakukan yakni dengan mendatangi tempat-tempat bermain anak.

Misalnya di tempat lokasi odong-odong, mall dan pusat bermain anak lainnya di Kota Kupang.

Kegiatan penelusuran untuk mencari sasaran timbang ini telah dimulai sejak pekan kemarin oleh Dinkes dan semua Puskesmas di Kota Kupang.

Kepala Dinkes Kota Kupang, drg. Retnowati yang diwawancarai di Puskesmas Bakunase, Minggu (21/8/2022), mengatakan bahwa setiap Puskesmas harus menyusuri semua sasaran yang ada di semua kelurahan di setiap wilayah pelayanan.

Drg. Retnowati menjelaskan, hingga kini kegiatan menyasar semua pusat bermain anak dan sudah hampir 20 hari berjalan kegiatan penimbangan di tempat bermain anak. Waktu pelayanan dilakukan pada malam hari.

Sudah ada 13.000 orang bayi/balita dilayani atau ditimbang berat dan tinggi badannya dari targetnya di Kota Kupang sebanyak 38.000 bayi/balita.

Sesuai dengan waktu pengisian aplikasi elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis masyarakat (e-PPGBM) yang merupakan pencatatan dan pelaporan berbasis masyarakat dengan teknologi elektronik, waktu yang diberikan hingga akhir Agustus. Tapi untuk sweepingnya bisa dilakukan hingga akhir September mendatang.

Saat ini, sudah ada 13.000 orang bayi/balita yang didata dan dilayani penimbangan berat dan tinggi badannya. Hasilnya menunjukan, sekitar 2.000 bayi/balita masuk dalam kategori stunting.

“Kalau untuk penanganan stunting akan dilakukan secara terkoordinatif dan ada beberapa langkah aksi dari berbagai sektor dan delapan organisasi perangkat daerah atau OPD yang menanganinya. Dan untuk Dinas Kesehatan menangani 30 persen,” ujarnya.

Dinas Kesehatan, katanya, menangani 30 persen saja, berupa pemberian vitamin A, penanganan anemia pada remaja dan gizi buruk.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Kupang, Hermanus Man Wakil Wali (Wawali) mengungkapkan bahwa kemiskinan menjadi pemicu utama kasus stunting dan gizi buruk di wilayah Kota Kupang. Namun demikian, semua sektor penyebab kasus stunting harus diperkuat mengingat faktor penyebab stunting bukan hanya kemiskinan saja.

Wawali mengatakan, kemiskinan menjadi penyebab utama stunting di Kota Kupang. Karena kemiskinan, banyak anak yang mengalami gagal tumbuhan atau dalam kondisi stunting.

“Mengapa demikian, karena berbicara kemiskinan, maka tentu salah satu akses yang sulit dicapai adalah akses terhadap makanan yang bergizi anak-anak di Kota Kupang,” katanya.

Untuk melengkapi nutrisi anak selama pertumbuhan, sebutnya, maka anak perlu mengonsumsi protein, karbohidrat dan juga lemak. Namun karena kemiskinan, tidak semua orangtua bisa memberikan makanan yang bergizi kepada anaknya. Akibatnya, anak menjadi gagal tumbuh dan berdampak pada penurunan kecerdasan dan menderita stunting.

Selain kemiskinan, sebut Wawali, penyebab stunting tinggi juga banyaknya anak yang menderita penyakit infeksi dan terus berulang pada anak, seperti misalnya diare.

“Anak-anak NTT ini, saya kira dalam setahun bisa kena tiga sampai lima kali diare. Saya bersyukur karena di Kota Kupang frekuensi diare anak-anak sudah di bawah tiga,” katanya.

Menurutnya, seorang anak yang terkena diare bukan hanya disebabkan oleh kebersihan saja, namun sanitasi juga pola makan. Dan untuk mencegah itu, orangtua harus bisa menjaga kebersihan jari tangan, makanan atau buah-buahan yang dikonsumsi anak. Selain itu perlu juga menjaga kebersihan lingkungan, kebersihan air dan dijauhkan dari lalat pembawa kuman penyakit.

Faktor penyebab stunting juga, lanjut Hermanus Man, karena pola asuh yang tidak tepat. Ia mencontohkan banyak ibu di perkotaan yang tidak memberikan ASI eksklusif bagi anaknya dengan berbagai alasan. Padahal, pemberian ASI eksklusif enam bulan bagi anak merupakan hal terpenting untuk mendukung tumbuh kembang anak. (wil)

Advertisement


Loading...
error: Content is protected !!