KOTA KUPANG
Minim Koordinasi, Atlet Taekwondo NTT Maria Messakh Gagal Berangkat Seleksi Pelatnas

KUPANG, PENATIMOR – Kabar mengejutkan datang dari dunia olahraga Nusa Tenggara Timur (NTT).
Atlet putri taekwondo berprestasi, Maria Messakh, yang telah dipanggil mengikuti seleksi Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas), justru gagal berangkat.
Padahal, pemanggilan tersebut merupakan peluang emas bagi atlet daerah untuk menembus pembinaan olahraga nasional.
Lebih mengejutkan lagi, kegagalan keberangkatan itu diduga dipicu oleh persoalan koordinasi yang tidak berjalan dengan baik.
Peristiwa ini langsung memantik sorotan publik olahraga di NTT, karena kesempatan mengikuti seleksi Pelatnas merupakan jalur utama bagi atlet daerah untuk menembus level nasional hingga internasional.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Maria Messakh sebenarnya telah dipanggil mengikuti seleksi Pelatnas yang dijadwalkan berlangsung pada 1–10 November 2025 di Jakarta.
Pemanggilan tersebut dilakukan oleh Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PB TI) dan ditujukan kepada para Ketua Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia (Pengprov TI) di seluruh Indonesia.
Maria, yang saat itu dibina melalui program Sentra Pembinaan Olahraga Nasional (SPOBNAS) NTT Tahun 2025, termasuk dalam daftar atlet yang dipanggil mengikuti seleksi bergengsi tersebut. Ia masuk dalam program pembinaan itu atas rekomendasi Pengprov Taekwondo Indonesia NTT.
Dengan rekam jejak prestasi yang dimilikinya, kesempatan mengikuti seleksi Pelatnas seharusnya menjadi momentum penting dalam perjalanan karier atlet muda tersebut.Namun kesempatan itu justru terlewat.
Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, Karel Muskanan, saat dikonfirmasi media pada Rabu (4/3/2026), mengaku pihaknya tidak pernah menerima informasi resmi terkait tindak lanjut pemanggilan tersebut.

Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, Karel Muskanan.
Menurutnya, Dispora sebenarnya sangat bangga dengan capaian prestasi atlet tersebut, namun tidak memiliki dasar administrasi untuk memfasilitasi keberangkatannya.
“Kami sangat bangga dan senang atas pencapaian prestasi atlet tersebut. Namun informasi resmi dari Pengprov TI NTT mengenai perihal tersebut tidak kami peroleh sehingga kami tidak mengetahui terkait teknis keberangkatannya seperti apa,” jelas Karel.
Ia mengungkapkan bahwa informasi yang diterima Dispora hanya bersifat lisan dari pelatih SPOBNAS cabang olahraga taekwondo.
Tanpa koordinasi resmi dari organisasi cabang olahraga provinsi, Dispora tidak memiliki rujukan administratif untuk menindaklanjuti pemanggilan tersebut.
Sepanjang tahun 2025, Maria Messakh sebenarnya menunjukkan performa yang sangat menjanjikan.
Ia berhasil menorehkan dua medali emas dan satu medali perak dalam berbagai kejuaraan nasional, sebuah capaian yang membuatnya dianggap layak bersaing di tingkat lebih tinggi.
Dispora NTT bahkan meyakini kemampuan Maria cukup kompetitif untuk bersaing dalam seleksi Pelatnas.
“Melalui Pelatnas akan terjadi peningkatan kemampuan melalui pola pelatihan dan try out skala nasional bahkan internasional yang diprogramkan oleh PB TI,” ujar Karel.
Menurutnya, kesempatan mengikuti Pelatnas sangat penting bagi perkembangan atlet, karena program tersebut dirancang sebagai jalur pembinaan menuju kompetisi internasional.
Karel menjelaskan, bagi atlet yang sedang dibina melalui program SPOBNAS, mekanisme pemanggilan Pelatnas seharusnya dilakukan melalui koordinasi resmi dari induk organisasi cabang olahraga di daerah.
Koordinasi tersebut penting agar pemerintah daerah dapat menyiapkan dukungan administrasi dan fasilitasi keberangkatan atlet.
“Perlu adanya koordinasi dan informasi resmi dari Pengprov TI sebagai tindak lanjut atas surat pemanggilan dari pusat sehingga menjadi rujukan bagi kami dalam memfasilitasi atlet tersebut,” tegasnya.
Dalam mekanisme organisasi olahraga, surat pemanggilan dari PB Taekwondo Indonesia memang dikirim kepada Pengprov TI di masing-masing daerah.
Artinya, tindak lanjut awal berada di tangan pengurus cabang olahraga provinsi.
Sementara Dispora berperan memfasilitasi dukungan setelah ada dasar administratif yang jelas.
Kasus ini pun memunculkan tanda tanya di tengah publik olahraga NTT mengenai siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kegagalan keberangkatan atlet tersebut.
Banyak pihak menilai, persoalan koordinasi semacam ini seharusnya tidak sampai mengorbankan masa depan atlet.
Apalagi bagi atlet daerah, kesempatan mengikuti seleksi Pelatnas merupakan momentum penting yang belum tentu datang dua kali.
Karel menambahkan, keberhasilan pengurus cabang olahraga di daerah sebenarnya dapat diukur dari pencapaian prestasi atlet serta sejauh mana atlet daerah mampu menembus pembinaan nasional.
“Melalui Pelatnas baru kita bisa mengikuti event internasional, baik single event maupun multi event,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari Pengprov Taekwondo Indonesia NTT terkait alasan tidak diberangkatkannya Maria Messakh mengikuti seleksi Pelatnas.
Ketua Harian Pengprov TI NTT Obed Djami, S.H., M.H., yang dihubungi awak media ini melalui sambungan selular belum berhasil dikonfirmasi.
Publik pun berharap adanya klarifikasi terbuka dari pihak terkait, mengingat kesempatan menuju Pelatnas merupakan pintu utama bagi atlet daerah untuk menembus panggung nasional hingga internasional. (bet)






