Connect with us

SPORT

Menelisik Perjuangan Atlet Difabel NTT di Peparnas XVII Solo dan Dukungan Roberth Lambila

Published

on

Dr. Roberth Jimmy Lambila, S.H., M.H., memberikan dukungan moril kepada Kontingen National Paralympic Committee (NPC) Nusa Tenggara Timur (NTT) di Solo pada Rabu (9/10/2024) malam.

Di tengah hiruk-pikuk ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) ke-17 yang berlangsung pada 7-12 Oktober 2024, sebuah pemandangan mengharukan terjadi. Bukan hanya soal persaingan medali di lintasan, tetapi lebih pada makna persaudaraan yang melampaui batas wilayah dan jabatan. Ini sebuah cerita inspiratif  tentang para pahlawan olahraga NTT di balik semarak Peparnas Solo yang patut disimak!

OBED GERIMU, Solo

Di antara para atlet difabel yang berjuang mewakili daerah masing-masing, hadir sosok yang membawa semangat lebih besar. Dia adalah Dr. Roberth Jimmy Lambila, S.H., M.H., Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar, yang datang langsung memberikan dukungan moril kepada Kontingen National Paralympic Committee (NPC) Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di balik jabatan dan tanggung jawab besar yang diembannya, Roberth Jimmy Lambila, putra asli NTT, menunjukkan kepedulian dan pengabdian yang dalam kepada tanah kelahirannya.

Tidak hanya dikenal sebagai seorang penegak hukum, Roberth juga menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Keluarga Kepulauan Alor (IKKA) Kupang, dan dalam kapasitas itulah ia datang ke Solo untuk menemui para atlet NPC NTT.

Di tengah kesibukan pekerjaannya di Karanganyar, Roberth menyempatkan diri untuk menyapa para pejuang olahraga difabel NTT yang tengah berlaga, menyuntikkan semangat dan kebanggaan yang tak ternilai harganya.

Dukungan yang Mengalir dari Hati

Ketika diwawancarai oleh awak media, Roberth dengan penuh keyakinan mengungkapkan komitmennya.

“Sebagai putra NTT, saya merasa memiliki kewajiban moral untuk memberikan dukungan penuh kepada Kontingen NPC NTT. Mereka adalah saudara-saudara saya yang sedang berjuang, dan saya bangga bisa ada di sini untuk mereka,” ujarnya dengan mata yang bersinar.

Bagi Roberth, keberhasilan para atlet NPC NTT bukan hanya tentang medali, melainkan tentang memperjuangkan harga diri dan martabat sebagai putra daerah yang mampu bersaing di kancah nasional, meskipun harus menghadapi keterbatasan fisik.

“Saya ingin memastikan bahwa mereka tahu mereka tidak sendirian. Di belakang mereka, ada banyak orang yang bangga dan mendukung, termasuk saya. Mereka berjuang tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk seluruh NTT. Bagi saya, mereka adalah bintang,” lanjutnya dengan penuh semangat.

Kata-kata ini menggema di hati para atlet yang ditemuinya di penginapan kontingen NPC-NTT, Hotel Aston Solo pada Rabu (9/10/2024) malam. Roberth memberikan motivasi yang lebih dari sekadar dorongan moral. Ini adalah pesan dari seseorang yang mengerti betul arti perjuangan, baik di medan hukum maupun di lapangan olahraga.

Dukungan Roberth Lambila tidak datang tanpa alasan. Kontingen NPC NTT, meskipun hanya berpartisipasi dalam cabang olahraga Para-Atletik, langsung menunjukkan prestasi yang membanggakan sejak hari pertama kompetisi.

Dalam nomor lari 1.500 meter kategori T38 Putra, Yeremias Babys membawa pulang medali emas pertama bagi NTT dengan catatan waktu 5 menit 30,59 detik, sebuah prestasi yang dihasilkan dari kerja keras, latihan, dan semangat juang tanpa henti.

Yeremias bukan satu-satunya yang berhasil membawa kebanggaan bagi NTT. Rekannya, Yulius Marsiano Liu, juga berhasil meraih medali perak di nomor yang sama, mencatatkan waktu 6 menit 9,43 detik.

Kedua atlet ini tidak hanya mengukir prestasi pribadi, tetapi juga menyumbang poin penting bagi NTT di klasemen sementara.

Hingga pukul 19.50 WIB pada hari pertama, Kontingen NPC NTT tercatat berada di peringkat ke-15 dengan raihan 1 medali emas, 6 medali perak, dan 2 medali perunggu.

Meskipun posisi ini belum cukup untuk masuk ke jajaran papan atas, semangat para atlet tidak pernah surut. Mereka terus berlaga dengan tekad yang membara, seolah ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih kejayaan.

Harapan dan Solidaritas yang Tak Tergoyahkan

Di tengah semangat juang para atlet NPC NTT, dukungan yang diberikan oleh Roberth Jimmy Lambila menjadi lebih dari sekadar motivasi sementara.

Dukungan itu adalah bentuk solidaritas yang tak tergoyahkan, sebuah pengingat bahwa perjuangan para atlet difabel ini adalah perjuangan seluruh masyarakat NTT.

Kehadiran Roberth di Solo tidak hanya sebagai seorang pejabat, tetapi sebagai seorang putra daerah yang peduli dan bangga akan prestasi saudara-saudaranya.

Peparnas XVII ini menjadi panggung di mana mimpi, harapan, dan kerja keras bertemu. Setiap medali yang diraih bukan hanya penghargaan atas usaha fisik, tetapi juga simbol dari semangat yang tak pernah padam. Setiap langkah di lintasan adalah bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan yang lebih besar.

Bagi Roberth, menyaksikan para atlet NPC NTT berjuang di ajang ini adalah kebanggaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

“Mereka adalah inspirasi bagi kita semua. Saya hanya bisa berharap agar semangat mereka terus menyala dan menjadi teladan bagi generasi muda NTT,” tutup Roberth dengan harapan bahwa semangat para atlet ini akan terus hidup, bahkan setelah ajang Peparnas berakhir.

Ketua NPC NTT Victor Halengki Haning yang diwawancarai media ini, mengaku sangat bersyukur dan berterima kasih karena telah dikunjungi oleh Roberth Jimmy Lambila.

“Terima kasih pak Roberth karena sudah mengunjungi kami, ini memang jarang kami dapatkan. Ini sungguh luar biasa. Beliau datang memberikan semangat dan motivasi bagi kami semua agar bertanding lebih baik dan meraih prestasi lebih baik. Beliau juga berjanji akan datang lagi menyaksikan langsung atlet-atlet kita bertanding,” ungkap Victor yang diwawancarai pada Kamis (10/10/2024) siang.

“Buktinya dari motivasi beliau, barusan kita dapat lagi 1 emas, 2 perak dan 1 perunggu,” lanjut mantan Anggota DPRD Kota Kupang itu.

Menurut Victor, medali emas diraih oleh Alvin Nomleni pada nomor 400 meter putra T20, kemudian 2 medali perak pada nomor T38 400 meter putri diraih oleh Rensi Koncenciao dan 200 meter putri T12 oleh Yuni Dimurehe, dan 1 medali perunggu 400 meter T20 Putri oleh Veby Nofu. Dengan demikian total perolehan medali saat ini sebanyak 5 emas, 9 perak, dan 8 perunggu.

“Target kita 13 medali emas, 8 perak dan 7 perunggu. Semoga atlet-atlet kita bisa terus menambah medali pada pertandingan yang tersisa sampai tanggal 13 mendatang,” ujar Victor optimis.

Kisah Inspiratif di Balik Medali

Di balik setiap medali yang berhasil diraih oleh Kontingen NPC NTT, tersimpan kisah inspiratif yang mampu menggerakkan hati siapa saja yang mendengarnya.

Salah satu kisah tersebut datang dari Marni Natonis, pelari andalan NTT yang sukses meraih medali perak di nomor lari 1.500 meter kategori T20 Putri.

Marni mengaku sangat bersyukur atas prestasinya, meskipun masih merasa ada ruang untuk perbaikan.

“Yang penting, saya harus lebih semangat lagi ke depan. Medali ini saya persembahkan untuk keluarga di Kupang, NTT, dan NPC NTT. Dukungan mereka semua luar biasa,” ujar Marni dengan nada suara yang dipenuhi rasa terima kasih.

Sebagai atlet yang sebelumnya meraih medali emas di Peparnas Papua 2021, Marni tahu betul bahwa perjuangan di setiap ajang besar selalu datang dengan tantangan yang berbeda, namun semangatnya untuk terus berprestasi tidak pernah surut.

Selain Marni, nama-nama lain seperti Yosintha Boyani dan Stevany Maimany juga mengharumkan nama NTT dengan meraih medali perak dan perunggu di nomor lari 100 meter kategori T35-36 Putri.

Meski berada di podium kedua dan ketiga, kemenangan mereka tetap menjadi bukti nyata bahwa semangat dan kerja keras tidak pernah sia-sia.

Tekad yang Tak Terbatas

Di balik kesuksesan para atlet NPC NTT, ada sosok yang selalu mendampingi mereka dengan penuh dedikasi—Marselinus Snae, pelatih Para-Atletik NTT.

Marsel, begitu ia akrab disapa, mengungkapkan bahwa kontingen NPC NTT datang ke Peparnas XVII dengan tekad besar untuk memperbaiki prestasi dari Peparnas Papua 2021.

“Kami tidak hanya datang untuk berpartisipasi, tetapi untuk membawa pulang medali sebanyak mungkin. Kami ingin membuktikan bahwa NTT mampu bersaing di tingkat nasional,” ungkap Marsel di sela-sela pertandingan di Stadion Sriwedari, Solo.

Tekad ini tidak hanya diucapkan Marsel, tetapi juga terlihat jelas dalam kerja keras para atlet yang dilatihnya. Mereka berlatih setiap hari dengan penuh kesungguhan, menghadapi segala rintangan fisik dan mental dengan keberanian yang luar biasa.

Bagi Marsel, perjuangan para atletnya tidak hanya tentang memenangkan medali, tetapi juga tentang membuktikan kepada diri mereka sendiri bahwa mereka mampu melampaui batas-batas yang pernah mereka bayangkan.

Peparnas XVII di Solo bukan hanya soal persaingan medali, tetapi juga tentang memperkuat solidaritas dan kebanggaan sebagai sebuah bangsa. Dan di balik semua itu, para atlet NPC NTT berdiri sebagai simbol kekuatan, keteguhan hati, dan harapan yang tak pernah mati. (*)

Advertisement


Loading...
error: Content is protected !!