LIFESTYLE & KESEHATAN
Dinkes Malaka dan USAID MCGL Gelar Evaluasi Hasil Monev PKM PONED

BETUN, PENATIMOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malaka bersama mitra kerjanya USAID Momentum Country Global and Leadership (MCGL) menggelar pertemuan evaluasi tingkat Kabupaten Malaka.
Evaluasi ini dilakukan setelah tim monev menyelesaikan kegiatannya di lapangan.
Pertemuan evaluasi dilakukan di Hotel Ramayana Betun pada 8 Desember 2022 lalu.
Pertemuan Evaluasi Hasil Supervisi Fasilitatif PKM PONED sebagai Tindak Lanjut dari In House Trainning Gadar Matneo Tingkat Kabupaten Malaka Tahun 2022 dibuka dan ditutup oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka J.F.K. Makbalin.
Berbicara di hadapan perwakilan peserta dari PKM PONED dan Tim Monev Kabupaten, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka, mengawalinya dengan memaparkan situasi kesehatan masyarakat di Kabupaten Malaka.
Menurutnya, kita baru saja melewati masa pandemic COVID-19. Namun, itu bukan berarti kita lengah tetapi harus selalu waspada dengan tetap mempraktikan perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan pakai sabun, mengenalan masker dan sebagainya.
Dikatakannya, situasi kesehatan masyarakat Kabupaten Malaka saat ini masih dalam keadaan yang normal atau baik-baik saja. Hingga saat ini kita belum melihat adanya kasus yang menonjol seperti pandemic COVID-19.
Namun, ini bukan berarti kita terlena dengan keadaan. Sebagai garda terdepan, kita harus selalu siaga, memastikan setiap warga masyarakat, setiap keluarga, setiap ibu hamil dan bayi serta anak-anak harus dalam keadaan yang sehat wal’afiat.
Secara khusus untuk Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKI dan AKB) Kabupaten Malaka, kata Makbalin, pada periode Januari sampai Oktober 2022 menunjukan adanya penambahan jumlah AKI maupun AKB.
Diuraikannya, jumlah Kematian Ibu terdapat 5 Kasus sebagai akibat dari perdarahan 2 kasus dan penyebab lainnya ada 3 kasus. Ia mengingatkan, ke depan jumlah yang lain-lain ini harus diperjelas apa penyebabnya utamanya.
Sementara itu, untuk jumlah Bayi Lahir Mati terjadi peningkatan dari 48 kasus menjadi 58 kasus, sementara Bayi Lahir Hidup sebanyak 1.566 laki-laki dan 1.436 perempuan. Untuk Bayi Lahir Mati terang Makbalin biasanya diketahui ketika ibu tiba di fasilitas kesehatan ternyata bayi dalam kandungannya sudah tidak bergerak alias mati dalam kandungan.
Faktor penyebab biasanya karena ibu hamil tidak memeriksakan kehamilan, tidak minum tablet tambah darah dan lainnya.
Sekretaris Dinas Kesehatan menambahkan, untuk jumlah Kematian Neonatal atau kematian bayi terdapat 15 kasus yang terdiri dari kematian 0-7 hari sebanyak 15 kasus yang terdiri dari beray bayi lahir rendah atau BBLR 6 kasus, Asfiksia 6 kasus dan lainnya ada 3 kasus.
Sedangkan untuk Kematian Post Neonatal yakni usia 29 hari – 11 bulan sebanyak 2 kasus yang disebabkan oleh Pneumonia 1 kasus dan lainnya 1 kasus.
Dengan demikian Kematian Neonatal dan Post Neonatal sebanyak 17 kasus.
Sementara untuk Kematian Anak usia 12 bulan – 59 bulan hingga saat ini masih kosong.
“Kita harus terus berupaya baik secara sendiri maupun bersama-sama berupaya untuk menekan kematian ibu dan bayi. Kita harus upayakan agar tidak boleh ada lagi ibu atau bayi yang meninggal,” pinta Makbalin di hadapan peserta.
Ditambahkannya pula, dari 5 kasus Kematian Ibu dan 17 Kasus Kematian Bayi ini sesungguhnya kita belum mengetahui penyebab pasti. Yang ada adalah masih bersifat “dugaan penyebab terjadinya kematian”.
Itu berarti kita sangat perlu melakukan AMPSR atau Audit Maternal Perinatal Surveilans dan Respon. Pertemuan pengkajian kematian ibu dan kematian bayi itu harus diagendakan setiap tahun agar kita tahu apa persoalan utamanya.
“Hari ini kita hadir di sini sesuai dengan agenda adalah untuk melakukan evaluasi bersama atas kegiatan Supervisi Fasilitatif di Puskesmas Namfalus, Puskesmas Biudukfoho dan puskesmas lainnyanya yang dilakukan Dokter Obgyn, Dokter Spesialis Anak dan tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka baik dari Bidang Kesmas maupun dari Bidang Yankes. Saya berharap Tim Monev dapat menyampaikan secara utuh apa hasil pengamatan, hasil wawancara dan mungkin hasil tinjauan dokumen yang ada di Puskesmas. Dengan demikian, ke depan kita harus merencanakan bagaimana caranya mengatasi kekurangan atau persoalan yang ada di Puskesmas kita masing-masing. Kita maksimalkan angggaran yang ada guna memenuhi semua kebutuhan yang paling primer yang harus tersedia setiap saat agar Puskesmas kita bisa memberikan pelayanan yang maksimal kepada ibu, anak dan masyarakat, “terangnya. (sil)






