EKONOMI
Bank NTT Fasilitasi Penenun di Ende untuk Inovasi Produk Tenun Ikat

ENDE, PENATIMOR – Kekayaan intelektual yang diaplikasikan dalam produk tenun ikat memiliki nilai histori yang sangat tinggi.
Hadirnya Program Pendampingan Desa dari Bank NTT, sangat membantu masyarakat dalam upaya peningkatan pendapatan, maupun pelestarian produk tenun ikat.
Kelompok pengrajin tenun ikat diberi ruang yang lebih untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
Pengembangan produk tenun ikat dengan berbagai inovasi mutlak dilakukan dalam kontes pengembangan usaha.
Kesediaan untuk membantu inovasi pengembangan produk tenun ikat disampaikan pimpinan Bank NTT Cabang Ende Fransiskus Boli Tobi.
Ia menyampaikan itu saat berdiskusi dengan pengelola kelompok tenun ikat Desa Nggorea, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Senin (5/12/2022).
Menurutnya, dalam program pendampingan desa, Bank NTT siap memfasilitasi kelompok tenun ikat untuk mengembangkan (inovasi) sehingga menghasilkan beragam produk tenun ikat.
“Kita siap membantu memfasilitasi inovasi pengembangan produk tenun ikat. Nantinya ada produk turunan berupa tas, dompet, sal, gelang dan ikat kepala. Bahkan produk turunan tersebut juga disertakan nama yang akan menjadi brand dan dikenal di pasaran,” jelas Frans Boli Tobi.
Langkah tersebut lanjut Fransiskus Boli Tobi, sebagai upaya membantu pengrajin tenun ikat dalam upaya meningkatkan pendapatan.
Bantuan pengembangan inovasi untuk menghasilkan produk turunan lainnya.
Namun dalam pengembangan atau inovasi harus diikuti dengan keseriusan dan kemauan yang kuat, sehingga bisa menghasilkan hal yang positif pula bagi kelompok pengrajin tenun ikat.
“Kita tentunya siap mendampingi dan membantu kelompok tenun ikat Ende mengembangkan inovasi baru. Langkah ini sebagai upaya meningkatkan pendapatan bagi para pengrajin tenun ikat. Syaratnya ada kemauan yang kuat untuk menghadirkan produk turunan, sesuai permintaan pasar dengan tetap mempertahankan motif sebagai ciri kas tenun Ende,” tegas Fransiskus Boli Tobi.
Pengembangan atau inovasi perlu dilakukan, karena dari sisi produksi sudah memenuhi standar. Tetapi dari sisi pendapat masih sangat jauh.
“Kalau dari sisi produksi dan permintaan pasar sudah memenuhi standar. Cuma perolehan pendapatan perlu dilakukan inovasi untuk menghasilkan produk turunannya. Sasaran kita sebelum masuk ke pasar digital harus miliki brand dan bisa memenuhi kebutuhan pasar. Di samping itu, dengan priduk inovasi yang dihasilkan bisa merambah kelompok milenial. Dampaknya tentu ada peningkatan pendapatan dan pangsa pasar akan semakin luas,” ungkap Frans Boli Tobi.
Hal yang sama juga disampaikan Koordinator Tim Penjurian Pendampingan Desa Bank NTT Stenly Boymau.
Dikatakannya, produk tenun ikat Kabupaten Ende memiliki kekhasan dan nilai history tersendiri. jelasnya.
Namun perlu sentuhan inovasi untuk merebut pangsa pasar, sekaligus meningkatkan pendapatan bagi masyarakat.
“Untuk menguasai pasar dan menjangkau kelompok milenial, perlu ada inovasi baru dari produk tenun ikat. Selama ini produk tenun ikat langsung dijual tanpa ada sentuhan inovasi. Minimal pada produk tersebut ada nama yang menunjukan asal produk dan bisa menjadi brand,” tegas Stalenly Boymau.
Produk tenun ikat yang dijual tidak saja dalam bentuk kain hasil tenunan. Harus ada inovasi untuk menghadirkan produk turunan yang bisa dijual dengan harga lebih terjangkau, dan memenuhi tuntutan pasar.
“Kalau dijual dalam bentuk kain tenun ikat tentunya sudah ada stabdar harga. Jika ada sentuhan inovasi menghadirkan produk turunannya berupa, tas, dompet, ikat kepala, sal, dan gelang, bisa mendatangkan tambahan pendapatan bagi pengrqjin tenun ikat,” jelasnya.
Di samping harganya relatif terjangkau, produk rurunan tersebut bisa menguasai dan memenuhi pasar kaum milenial.
“Inovasi tersebut menjadi satu keharusan jika kita ingin masuk pada konsep pasar digital dan memenuhi permintaan pasar,” jelasnya. (*/nus)






