Connect with us

OPINI

Muncul Surat Terbuka untuk Gubernur NTT Terkait Penetapan Anggota Komisi Informasi

Published

on

Ilustrasi/ foto: net

Kupang, Penatimor.com – Germanus S. Attawuwur, seorang warga Kota Kupang menulis Surat Terbuka kepada Gubernur NTT terkait penetapan Anggota Komisi Informasi Provinsi (KIP) NTT yang menurutnya bermuatan politik primordial.

Surat terbuka tersebut ditujukan kepada Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan juga tembusan kepada sejumlah pihak, yakni;
1. Ketua Komisi Informasi Pusat di Jakarta.
2. Ketua DPRD Provinsi NTT di Kupang
3. Ketua Ombudsman Provinsi NTT di Kupang
3.Pimpinan Redaksi Harian Timex di Kupang
4.Pimpinan Redaksi Harian Victory News di Kupang
5.Pimpinan Redaksi Harian Pos Kupang di Kupang
6.Media online se-NTT di Seantero Daerah ini.

Berikut kutipan lengkap surat terbuka tersebut yang diterima media ini, Selasa (23/7/2019).

SURAT TERBUKA UNTUK GUBERNUR NTT

“Penetapan Anggota Komisi Informasi NTT yang Bermuatan Politik Primordial”

Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang saya hormati, pertama sekali, saya mohon maaf karena saya harus bertemu Bapak dengan kondisi Surat Terbuka ini.

Kedua, point penting yang hendak saya sampaikan dalam Surat Terbuka ini adalah Penetapan Calon Komisi Informasi NTT yang Bermuatan Politik Primordial yang jelas-jelas bertentangan dengan Pasal 25 huruf b Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008.

Saya memilih membuat surat terbuka kepada Bapak, karena saya mengagumi gebrakan-gebrakan inovatif Bapak, baik melalui perkataan maupun perbuatan yang sudah Bapak lakukan.

Masih segar di memori saya adalah pernyataan Bapak yang pernah dilansir oleh sebuah koran lokal yang mengutip pernyataan Bapak bahwa Bapak dipilih bukan untuk menjadi Gubernur Suku tertentu.

Pernyataan Bapak sangat didaktis-humanis, mengandung unsur pembelajaran universal yang holistik bagi siapapun yang ada di NTT ini. 

Saya yakin Bapak membuat pernyataan ini berangkat dari refleksi panjang atas praktek penyelenggara pemerintahan yang selama ini terjadi di daerah ini.

Maka pernyataan Bapak, “Gubernur dipilih bukan untuk Suku tertentu”, mustinya juga menjadi semangat anggota komisi I DPRD NTT.

Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur NTT yang terhormat

Saya memberikan apresiasi kepada Bapak, karena Bapak berani membentuk lembaga negara ini, walau Bapak belum setahun memimpin provinsi ini.

Saya menilai Bapak memiliki political will yang tinggi karena mustinya menurut amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008, Komisi ini dibentuk di daerah-daerah setelah dua tahun Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik ini disahkan pada tanggal 30 April 2008.

Ternyata komisi ini sudah jauh tertinggal sembilan tahun dari komisi informasi di daerah lain. Pembentukan Komisi Informasi ini tentu bukan tanpa pertimbangan matang.

Bapak pasti memiliki pertimbangan yang tidak jauh berbeda dari tujuan dibentuknya Undang-Undang ini yakni untuk mengakomodir hak-hak sipil masyarakat untuk ikut mengawal dan mengawasi pemerintahan agar berjalan baik dan bersih.

Tentu bagi Bapak, kehadiran Komisi Informasi Publik di NTT akan sangat membantu untuk mewujudkan visi Bapak, Menuju NTT Bangkit dan Sejahtera.

Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur NTT yang terhormat

Pembentukan Komisi Informasi ini melalui proses panjang sejak bulan Februari lalu. Tentu tahapan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biaya yang besar itu begitu saja diabaikan oleh Komisi I DPRD NTT dengan cara penetapan calon komisioner yang bernuansa primordialistik dan diskriminatif, sebagaimana saya kutip langsung pernyataan Ketua Komisi I DPRD NTT.

“Kami sudah tetapkan lima nama. Lima nama yang lolos seleksi itu yakni Pius Rengka, Maryanti Luturmas Adoe, Iksan Pua Upa, Agustinus Bole Baja dan Daniel Tomu.”

Lanjutnya lagi, “terkait aspek-aspek terpilihnya  lima anggota komisioner ini, kata dia, aspek yang diteliti yakni, hasil fit and proper test, terkait materi makalah dinilai penguasaan makalah dan track record dari calon. Faktor non tekhnis yang dinilai adalah perwakilan wilayah, gender dan agama. 

Ia mencontohkan, Pius Rengka dan Ikhsan Pua Upa mewakili Flores mewakili Katolik dan Muslim. Maryanti Adoe mewakili Rote dan Flores  serta perwakilan gender. Daniel Tonu dari Alor mewakili akademisi, serta Agustinus Bole Baja mewakili Sumba dan representasi Pers NTT. (www.nttterkini.com edisi 15 Juli 2019).

Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur NTT yang terhormat

Bila pertimbangan komisi I dari aspek non tekhnis yang dijadikan acuan internal untuk menetapkan kelima calon anggota komisioner Komisi Informasi tidak diungkapkan ke publik oleh Ketua Komisi I maka publik tentu menghormati proses penetapan itu. Karena itu menjadi kewenangan prerogatif komisi I DPRD NTT.

Namun, Ketua Komisi I begitu “jujur dan polos” mengungkapkan hal sebagaimana saya kutib di atas, yang justru menyalahi Pasal 25 huruf b Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 yang mengatur bahwa Anggota Komisi Informasi mencerminkan unsur pemerintah dan unsur masyarakat.

Pertanyaan saya adalah dari kelima calon komisioner yang sudah ditetapkan oleh Komisi I itu, siapakah dari mereka yang mencerminkan unsur pemerintah? Dapatkah Komisi I DPRD membuktikan bahwa dari kelima calon itu, adakah seseorang yang adalah cerminan dari pemerintah?

Jika peserta seleksi yang disodorkan tim seleksi tidak satupun mencerminkan unsur pemerintah, mengapa Komisi I DPRD NTT tidak mengembalikan hasil seleksi itu kepada tim seleksi? Mengapa sebegitu gampangnya melakukan fit and proper test dan menetapkan para calon dengan pertimbangan primordial? 

Bukankah mengabaikan perintah undang-undang patut diduga telah terjadi praktek abuse of power di kalangan Komisi I DPRD NTT? Sadarkah bahwa dengan demikian komisi I DPRD NTT telah mencederai dan melukai rasa keadilan kesembilan peserta yang dinyatakan tidak lulus fit and proper test? 

Jadi pernyataan Bapak yang saya kutip di atas bahwa Gubernur dipilih bukan untuk menjadi Gubernur Suku tertentu, bertabrakan dengan semangat komisi I DPRD  NTT. Prinsip mereka justru terbalik, para anggota Komisi I DPRD NTT dipilih untuk kepentingan daerah dan agamanya, yang jelas tergambar dalam pernyataan Ketua Komisi I.

Untuk itu Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur NTT yang kami hormati

Karena hasil penetapan komisioner komisi informasi ini justru bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008, Pasal 25 huruf b, dan mencederai rasa keadilan publik maka semoga Bapak memiliki keberanian yang besar untuk menganulir hasil penetapan itu.

Beranikah Bapak dengan kewenangan yang ada meminta tim seleksi dan Komisi I DPRD NTT mengumumkan kepada publik hasil perolehan nilai dan ranking dari peserta seleksi, mulai dari uji kompetensi akademik, hasil psiko test, hasil wawancara tim seleksi dan terakhir hasil fit and proper test dari komisi I DPRD.

Karena bukankah seleksi komisioner Komisi Informasi Publik  harusnya terbuka? Bila ditutupi maka patut diduga ada hal yang “tidak beres.” 

Hormat,

Germanus S. Attawuwur
(Warga NTT tinggal di Kota Kupang)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NASIONAL

PDIP dan Politik Kentut Jokowi

Published

on

Ilustrasi
Continue Reading

OPINI

Pemilu 2024: Ajang ‘Mengusir’ Pemimpin Destruktif

Published

on

Ilustrasi Pemilu 2024 (net)
Continue Reading

OPINI

HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN (Sebuah Refleksi Teologis dalam Kitab Pengkotbah)

Published

on

Ilustrasi Kitab Pengkhotbah (net)
Continue Reading