SPORT
Berawal dari Gagasan Chris Mboeik, Lazarus Laiskodat Memorial Cup Kini Jadi Magnet Sepak Bola NTT
KUPANG, PENATIMOR – Berawal dari sebuah gagasan untuk menghidupkan sepak bola di Pulau Semau, Kabupaten Kupang, Lazarus Laiskodat Memorial Cup (LLMC) kini menjelma menjadi salah satu kompetisi sepak bola paling bergengsi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam tiga tahun penyelenggaraannya sejak 2024, turnamen yang digagas untuk mengenang 100 tahun kelahiran Lazarus Laiskodat, ayah kandung anggota DPR RI dan juga mantan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), itu terus berkembang. Bukan hanya dari sisi jumlah peserta, tetapi juga kualitas fasilitas, besarnya hadiah, hingga jangkauan kompetisi yang melibatkan klub-klub dari berbagai kabupaten dan kota di NTT, bahkan tim dari negara tetangga Timor Leste.
Di balik perjalanan awal kompetisi ini, terdapat peran Ketua Asosiasi Provinsi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Asprov PSSI) NTT, Petrus Christian Mboeik atau Chris Mboeik, yang turut menggagas pelaksanaan LLMC edisi pertama di Pulau Semau.
Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah kompetisi yang memiliki daya tarik tersendiri bagi klub-klub sepak bola di NTT. Konsistensi penyelenggaraan selama tiga tahun berturut-turut menjadi bukti bahwa turnamen yang dibangun dengan dukungan, komitmen, dan kolaborasi berbagai pihak dapat bertahan sekaligus berkembang.
Kini, LLMC bukan lagi sekadar turnamen antarklub. Kompetisi ini mulai memperlihatkan dirinya sebagai salah satu panggung penting bagi perkembangan sepak bola NTT.
Keunggulan LLMC semakin terlihat pada penyelenggaraan edisi ketiga tahun 2026. Turnamen ini menghadirkan lapangan sepak bola dengan rumput sintetis berstandar FIFA di kawasan Desa Uitao, Pulau Semau, serta total hadiah yang mencapai Rp1,1 miliar.
Nilai hadiah tersebut menjadi salah satu yang terbesar di antara kompetisi sepak bola yang selama ini diselenggarakan di NTT. Kombinasi fasilitas pertandingan, besarnya hadiah, dan keterlibatan klub dari berbagai daerah membuat LLMC memiliki posisi tersendiri dalam kalender sepak bola daerah.
DARI GAGASAN AWAL HINGGA MENJADI KOMPETISI BERGENGSI
Cikal bakal Lazarus Laiskodat Memorial Cup berawal dari inisiatif Viktor Bungtilu Laiskodat bersama keluarga besar Laiskodat untuk mengenang dan memperingati 100 tahun kelahiran almarhum Lazarus Laiskodat yang lahir pada 4 April 1924.
Selain sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum, turnamen ini dirancang untuk menghidupkan ekosistem olahraga sekaligus membuka ruang pembinaan bagi talenta-talenta muda di Kabupaten Kupang dan NTT secara umum.
Pulau Semau dipilih sebagai pusat penyelenggaraan karena memiliki ikatan emosional dengan keluarga besar Laiskodat sebagai tanah kelahiran keluarga tersebut.
Dalam perjalanan awalnya, Chris Mboeik turut menggagas pelaksanaan LLMC pertama di Semau. Gagasan tersebut menjadi bagian penting dari lahirnya sebuah kompetisi yang kemudian terus mendapatkan dukungan dan berkembang dari tahun ke tahun.
LLMC pertama kali digelar pada Oktober 2024 dengan melibatkan 32 tim dan berlangsung selama satu bulan. Sejak awal, kompetisi dirancang mengikuti regulasi resmi FIFA dan PSSI agar penyelenggaraannya berlangsung tertib dan profesional.
Pada LLMC II tahun 2025, kompetisi diikuti 16 klub. Sementara pada edisi ketiga tahun 2026, jumlah peserta kembali meningkat menjadi 24 klub dari berbagai daerah di NTT.
Jangkauan turnamen bahkan semakin luas dengan hadirnya tim dari luar NTT, termasuk Timor Leste.
Konsistensi tiga tahun penyelenggaraan ini menjadi pencapaian tersendiri. Sebab, tidak sedikit kompetisi sepak bola daerah yang hanya mampu berlangsung satu atau dua kali sebelum akhirnya terhenti akibat keterbatasan dukungan dan pembiayaan.
LLMC justru memperlihatkan perkembangan dari tahun ke tahun, baik dari sisi fasilitas, jumlah peserta, maupun cabang olahraga yang dipertandingkan.
LAPANGAN SINTETIS BERSTANDAR FIFA DAN HADIAH RP1,1 MILIAR
Salah satu keunggulan utama LLMC III 2026 adalah penggunaan lapangan sepak bola dengan rumput sintetis berstandar FIFA di kawasan Desa Uitao, Pulau Semau.
Kehadiran fasilitas tersebut menjadi nilai tambah bagi penyelenggaraan kompetisi sekaligus investasi jangka panjang bagi perkembangan olahraga di NTT.
Lapangan tersebut memberikan pengalaman bertanding yang berbeda bagi klub-klub peserta karena para pemain dapat merasakan atmosfer pertandingan di atas permukaan lapangan yang dirancang mengikuti standar sepak bola modern.
Ketua Panitia LLMC III 2026, Bobby Damanik, sebelumnya menjelaskan bahwa turnamen sepak bola tahun ini diikuti 24 klub, meningkat dibandingkan LLMC II yang hanya melibatkan 16 klub.
Peserta dipilih melalui mekanisme undangan dengan persyaratan klub telah terverifikasi, memiliki badan hukum, serta terdaftar pada asosiasi PSSI kabupaten atau kota masing-masing.
Selain fasilitas lapangan, total hadiah mencapai Rp1,1 miliar menjadi daya tarik utama LLMC III 2026.
Besarnya hadiah tersebut memberikan motivasi tambahan bagi klub dan pemain untuk tampil maksimal. Kompetisi tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi juga memberikan penghargaan atas perjuangan klub, pemain, dan seluruh pihak yang terlibat.
Lebih dari itu, LLMC menghadirkan ruang bagi pemain-pemain NTT untuk mengasah kemampuan, mengukur kualitas permainan, dan mendapatkan pengalaman menghadapi lawan dari berbagai daerah.
FINAL LLMC I DIHADIRI LANGSUNG WAKETUM PSSI PUSAT
Komitmen membangun kompetisi sepak bola yang berkualitas tidak hanya terlihat dari fasilitas pertandingan dan besarnya dukungan pembiayaan, tetapi juga dari kepatuhan terhadap regulasi organisasi sepak bola nasional serta komunikasi yang baik dengan PSSI Pusat.
Hal tersebut terlihat sejak penyelenggaraan Lazarus Laiskodat Memorial Cup (LLMC) I di Pulau Semau, Kabupaten Kupang.
Pada partai puncak turnamen edisi perdana tersebut, Wakil Ketua Umum (Waketum) PSSI Pusat, Ratu Tisha Destria, hadir secara langsung untuk menyaksikan jalannya kompetisi.
Kehadiran petinggi PSSI Pusat tersebut menjadi perhatian tersendiri. Selain memperlihatkan perhatian terhadap perkembangan sepak bola di NTT, momentum itu sekaligus menunjukkan adanya komunikasi dan hubungan kelembagaan yang baik antara Asprov PSSI NTT di era kepemimpinan Chris Mboeik dengan PSSI Pusat.
Kehadiran Ratu Tisha juga memperlihatkan bahwa penyelenggaraan LLMC mendapat perhatian langsung dari jajaran federasi sepak bola nasional, terutama dalam memastikan kompetisi berjalan dengan mengacu pada regulasi resmi PSSI.
Bahkan, Ratu Tisha didaulat menyerahkan langsung trofi kepada Lomblen United Lembata yang berhasil keluar sebagai juara LLMC I.
Kehadiran Waketum PSSI Pusat ini menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan LLMC. Sebab, komunikasi yang baik antara organisasi sepak bola di tingkat provinsi dan pusat merupakan modal penting untuk membangun kompetisi yang tertib, profesional, serta memiliki standar penyelenggaraan yang jelas.
Dari sisi pembinaan, LLMC I, II, dan III juga menjadi ruang kompetisi yang memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk mengembangkan kemampuan, memperoleh pengalaman bertanding, dan mengukur kualitas permainan menghadapi klub-klub dari berbagai daerah.
Pada edisi pertama, Lomblen United Lembata berhasil keluar sebagai juara. Selanjutnya, LLMC II yang berlangsung pada 12 Oktober hingga 7 November 2025 dimenangkan SSB Tunas Muda Kota Kupang.
Sementara itu, LLMC III tahun 2026 kini telah memasuki babak delapan besar dengan persaingan antarklub yang semakin menarik.
Rangkaian penyelenggaraan tiga edisi LLMC tersebut memperlihatkan bahwa kompetisi ini tidak hanya berkembang dari sisi jumlah peserta, fasilitas, dan hadiah, tetapi juga semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu ruang pembinaan sepak bola di NTT.
Bagi kepemimpinan Chris Mboeik, sinergi dengan PSSI Pusat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem sepak bola daerah. Hubungan kelembagaan yang terjalin baik diharapkan semakin membuka ruang bagi kompetisi, pembinaan, dan pengembangan sepak bola NTT agar terus berkembang serta mendapat perhatian di tingkat nasional.
CHRIS MBOEIK DORONG LLMC JADI AGENDA TAHUNAN PSSI NTT
Ketua Asprov PSSI NTT, Chris Mboeik, memastikan Lazarus Laiskodat Memorial Cup akan diarahkan menjadi agenda tahunan PSSI NTT.
Menurut Chris, konsistensi penyelenggaraan turnamen tersebut merupakan modal penting untuk menjadikannya sebagai salah satu kompetisi rutin di NTT.
Meski dipusatkan di Kabupaten Kupang, LLMC memiliki cakupan tingkat provinsi karena melibatkan klub-klub dari berbagai daerah di NTT.
Ia menilai, keberlanjutan LLMC tidak hanya memperkaya kalender kompetisi sepak bola daerah, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi klub-klub untuk mengembangkan kemampuan pemain dan mengukur kekuatan tim melalui pertandingan yang kompetitif.
Sebagai salah satu sosok yang turut menggagas pelaksanaan LLMC sejak edisi pertama di Semau, Chris melihat turnamen ini memiliki potensi besar untuk terus ditingkatkan, baik dari sisi kualitas pertandingan, jumlah peserta, maupun fasilitas pendukung.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua PSSI NTT, Chris juga terus mendorong penguatan ekosistem kompetisi sepak bola daerah melalui berbagai agenda pembinaan, mulai dari El Tari Memorial Cup (ETMC), Liga 4, Soeratin U-13, U-15, dan U-17, hingga berbagai turnamen lainnya.
Keberadaan LLMC turut memperkaya ruang kompetisi bagi klub-klub di NTT, sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara PSSI, pemerintah, pihak swasta, komunitas, dan berbagai elemen masyarakat dalam membangun sepak bola daerah.
Tidak hanya mendorong keberlanjutan turnamen, Chris Mboeik juga mengungkapkan rencana pembangunan Stadion Lazarus berskala nasional.
Kehadiran stadion tersebut diharapkan menjadi fasilitas olahraga representatif yang dapat menunjang penyelenggaraan berbagai pertandingan sepak bola berskala besar.
Stadion ini juga diharapkan dapat mendukung kebutuhan NTT dalam mempersiapkan diri menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 mendatang.
Tentunya, Pulau Semau bakal berpeluang berkembang bukan hanya sebagai lokasi penyelenggaraan LLMC, tetapi juga menjadi salah satu kawasan penting bagi pertumbuhan sepak bola dan olahraga di NTT.
Chris menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Viktor Bungtilu Laiskodat bersama keluarga besar Laiskodat yang telah memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan LLMC.
Ia juga memberikan penghargaan kepada panitia pertandingan serta seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan turnamen tersebut.
Menurutnya, keberhasilan LLMC bertahan dan terus berkembang merupakan hasil kolaborasi banyak pihak. Dukungan keluarga Laiskodat, kerja panitia, serta partisipasi klub-klub dari berbagai daerah menjadi kekuatan penting bagi keberlanjutan kompetisi.
BUKAN HANYA SEPAK BOLA, LLMC BERKEMBANG JADI FESTIVAL OLAHRAGA
Perkembangan LLMC III tahun 2026 tidak hanya terlihat pada cabang sepak bola. Penyelenggara juga memperluas cakupan kegiatan dengan menghadirkan cabang olahraga tinju dan Shorinji Kempo.
Untuk cabang tinju, panitia bekerja sama dengan Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Perbati) NTT, sedangkan Shorinji Kempo melibatkan Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (Perkemi) NTT.
Lebih dari 300 petinju diperkirakan ambil bagian, dengan peserta dari 12 provinsi dan delapan kabupaten di NTT telah terkonfirmasi.
Sementara itu, pertandingan Shorinji Kempo mempertandingkan kategori junior, remaja, dan dewasa.
Perluasan cabang olahraga tersebut memperlihatkan transformasi LLMC dari sebuah turnamen sepak bola menjadi festival olahraga yang lebih luas.
Panitia juga memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Sekitar 30 pelaku usaha makanan dan jajanan telah mendaftarkan diri untuk berjualan di sekitar lokasi pertandingan di Pulau Semau.
Kehadiran peserta, pendamping, suporter, dan masyarakat diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi warga setempat sekaligus mendorong potensi pariwisata Semau.
LLMC III mengusung tema “Semau untuk Semua”, dengan subtema “Dengan Prestasi dan Budaya, Semau Bergerak Maju”.
Bagi Viktor Bungtilu Laiskodat, kompetisi ini memiliki makna lebih besar daripada sekadar perebutan gelar juara.
Olahraga dipandang sebagai investasi sosial untuk membentuk karakter, disiplin, mental kompetitif, dan keberanian generasi muda dalam mengejar prestasi.
Ia berharap, dari kompetisi yang diselenggarakan secara berkelanjutan akan lahir atlet-atlet NTT yang mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan tiga tahun penyelenggaraan, fasilitas lapangan rumput sintetis berstandar FIFA, hadiah Rp1,1 miliar, serta keterlibatan klub-klub dari berbagai daerah, LLMC telah memperlihatkan perkembangan yang signifikan.
Bagi Chris Mboeik, perjalanan LLMC menjadi gambaran bahwa sebuah gagasan yang dibangun melalui kolaborasi dapat berkembang menjadi kompetisi besar dan memberikan kontribusi bagi sepak bola daerah.
Dari Pulau Semau, sebuah gagasan awal kini tumbuh menjadi panggung kompetisi yang semakin diperhitungkan. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi, meningkatkan kualitas, dan memastikan LLMC benar-benar menjadi agenda tahunan yang memberi ruang lebih luas bagi talenta-talenta sepak bola NTT untuk berkembang dan berprestasi. (bet)