Connect with us

HUKRIM

Saat Kajari dan Mantan Kajari Medan Berjumpa di Pulau Samosir

Published

on

SILATURAHMI. Silaturahmi penuh kehangatan di Pulau Samosir. Kajari Medan Ridwan Sujana Angsar bertemu mantan Kajari Medan Mangihut Sinaga dalam suasana kekeluargaan yang kental, dibingkai nilai pengabdian dan kebersamaan.

SAMOSIR, PENATIMOR – Hujan turun perlahan di Pulau Samosir, Sabtu sore itu. Di tengah udara dingin Danau Toba dan jalan berliku yang basah, sebuah perjumpaan hangat berlangsung—bukan sekadar temu dua pejabat hukum, melainkan pertemuan batin antara murid dan guru, antara anak dan orangtua, yang disatukan oleh sejarah pengabdian dan ikatan kekeluargaan.

Memanfaatkan waktu akhir pekan, Sabtu (7/2/2026), Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Medan, Ridwan Sujana Angsar, S.H., M.H., bersama istri Ny Melani dan kerabat, menyempatkan diri berwisata ke Pulau Samosir.

Perjalanan darat dari Medan dimulai sejak pukul 09.00 WIB, menyusuri jalur panjang menuju tepian Danau Toba, sebelum akhirnya tiba di Samosir pada sore hari.

Namun, perjalanan itu bukan semata tentang liburan. Di balik agenda santai akhir pekan tersebut, tersimpan niat tulus untuk bersilaturahmi—menyambangi Mangihut Sinaga, S.H., M.H., mantan Kepala Kejaksaan Negeri Medan periode 2007–2008, yang kini menetap di Pulau Samosir.

Meski hujan lebat mengguyur sepanjang perjalanan menuju kediaman Mangihut di kawasan yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Pangururan, rombongan Kajari Medan tetap melanjutkan perjalanan.

Sekira pukul 18.45 WIB, kendaraan yang ditumpangi Ridwan Angsar akhirnya berhenti di halaman sebuah rumah adat Batak yang berdiri kokoh, penuh wibawa, sekaligus terasa akrab.

Di depan pintu rumah, Mangihut Sinaga bersama sang istri, Ny. Dra. Linda Meriati br. Napitupulu, telah berdiri menunggu. Sambutan hangat itu seolah menghapus lelah perjalanan panjang.

Jabat tangan erat pun terjalin, disusul senyum yang menyimpan banyak kenangan masa lalu.

Setelah dipersilakan masuk, suasana pertemuan segera berubah menjadi penuh keakraban. Obrolan mengalir tanpa sekat formalitas, layaknya pertemuan keluarga yang telah lama terpisah oleh jarak dan waktu.

Bagi Ridwan Angsar, Mangihut Sinaga bukan sekadar senior. Ia adalah mantan pimpinan yang pernah menorehkan jejak penting dalam perjalanan kariernya.

Saat Mangihut menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kajati NTT) periode 2012–2014, Ridwan Angsar bertugas sebagai Kepala Seksi Penerangan Hukum (Penkum) atau Humas Kejati NTT pada Bidang Intelijen.

Kenangan masa-masa pengabdian di Nusa Tenggara Timur pun kembali diurai. Tawa kecil, cerita lapangan, hingga refleksi tentang tugas kejaksaan di daerah—semuanya hadir dalam perbincangan hangat yang sarat makna.

Mangihut Sinaga, yang kini mengemban amanah sebagai Anggota Komisi III DPR RI sekaligus Ketua Umum PPTSB (Parsadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boruna) Pusat, tak lupa menyampaikan dukungan penuh kepada Ridwan Angsar yang baru saja dilantik sebagai Kajari Medan.

Ia bahkan mengenang panjang lebar masa-masa saat dirinya memimpin Kejaksaan Negeri Medan—sebuah wilayah yang dikenal memiliki dinamika hukum dan sosial yang khas.

“Pokoknya, kalau ada apa-apa atau butuh bantuan di Medan, hubungi saya. Medan ini agak beda dengan daerah lain,” ujar Mangihut, penuh penekanan.

“Intinya, sebagai orangtua, saya mendukung kamu. Semoga bisa melaksanakan tugas dengan baik dan penuh tanggung jawab,” lanjut mantan Kajati Sulawesi Utara itu.

Pesan itu disampaikan bukan sebagai wejangan pejabat kepada bawahannya, melainkan sebagai nasihat tulus seorang orangtua kepada anaknya—pesan yang sarat empati dan harapan.

Sepanjang pertemuan, nuansa kekeluargaan terasa begitu kental. Tak ada jarak jabatan, tak ada sekat waktu. Yang ada hanyalah rasa saling menghormati, kehangatan, dan kesinambungan nilai pengabdian dalam institusi Adhyaksa.

Menjelang pukul 19.00 WIB, pertemuan itu ditutup dengan suguhan Bika Ambon, kudapan khas yang melengkapi suasana akrab di dalam rumah adat Batak tersebut.

Di luar, hujan masih turun. Namun di dalam rumah itu, kehangatan silaturahmi mengalir tenang—menjadi penanda bahwa dalam dunia penegakan hukum, relasi kemanusiaan dan keteladanan tetap menjadi fondasi yang tak tergantikan. (bet)

Advertisement


Loading...
error: Content is protected !!