HUKRIM
Empat Nyawa Melayang di Awal Mei, Polres Kupang Ungkap Kasus Pembunuhan, Gantung Diri, dan Terseret Banjir

KUPANG, PENATIMOR – Bulan Mei 2025 membawa kabar duka dan kejadian tragis yang menggegerkan masyarakat Kabupaten Kupang. Bagaimana tidak, dalam rentang waktu kurang dari sepekan, empat nyawa melayang dalam peristiwa berbeda.
Polres Kupang merilis penanganan tiga kasus kematian tragis, yaitu seorang perempuan dibunuh lalu digantung di pohon, dua warga tewas terseret banjir bandang, dan seorang pria ditemukan tak bernyawa akibat diduga bunuh diri di rumah kontrakannya.
Kasus 1: Rekayasa Gantung Diri, Suami Jadi Tersangka Pembunuhan Istri di Amfoang
Peristiwa paling mengejutkan terjadi di Desa Timau, Kecamatan Amfoang Barat Laut. Warga dihebohkan dengan penemuan mayat Paulina Sanmusus (52) dalam kondisi tergantung di pohon Johar, kawasan hutan Oelkaka, Dusun IV, pada Rabu pagi, 5 Mei 2025.
Kapolres Kupang AKBP Rudy Junus Jacob Ledo, S.I.K., S.H., melalui Kasat Reskrim AKP Yeni Setiono, S.H., mengonfirmasi bahwa penyidikan mendalam yang dilakukan, telah mengungkap fakta mencengangkan.
Korban ternyata dibunuh oleh suaminya sendiri, OMT (55), yang kemudian merekayasa kematian istrinya seolah-olah bunuh diri.
“Pelaku memukul korban menggunakan kayu di bagian kepala dan tubuh hingga meninggal. Lalu menggantung tubuh korban dengan tali nilon agar terlihat seperti bunuh diri,” ungkap AKP Yeni.
Motif pembunuhan diduga dipicu pertengkaran hebat karena korban menolak diajak berobat ke rumah sakit. Sang suami menduga korban mengalami gangguan jiwa yang tidak terkendali selama lima bulan terakhir.
Lebih sadis lagi, setelah korban tewas, pelaku menyeret jasad istrinya ke belakang rumah, melepas pakaian, melakukan kekerasan pada bagian alat vital dengan benda tumpul, lalu mengganti pakaian korban dan menggantungnya dengan tali nilon sepanjang lima meter yang biasa dipakai untuk mengikat sapi.
Barang bukti yang diamankan di antaranya dua potong kayu, seutas tali nilon, pakaian korban, dan jepit rambut.
Jenazah korban telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Titus Uly Kupang untuk diotopsi.
Anak korban, Hesner Taunas (28), yang menjadi pelapor kasus ini, sempat melihat ibunya terakhir kali duduk di ruang belakang sebelum hilang dari rumah.
Pelaku kini telah diamankan di Mapolres Kupang dan dijerat pasal pembunuhan berencana.
Kasus 2: Dua Nyawa Melayang Terseret Banjir Sungai Hueknutu
Hanya dua hari berselang, bencana alam kembali menelan korban jiwa. Dua warga, Godlief Babnesi (48) dan Melany Amelia Nenobesi (23), ditemukan tewas terseret arus deras di Sungai Hueknutu, Kecamatan Takari, pada Rabu malam, 7 Mei 2025.
Melany, pegawai koperasi PNM Takari yang tinggal di Kolhua, Kota Kupang, mengunjungi Godlief untuk menagih cicilan sekitar pukul 17.00 WITA. Meski telah diperingatkan soal cuaca buruk dan sungai yang meluap, Melany tetap memutuskan pulang.
Godlief dan tiga warga lain mencoba membantu Melany menyeberangi sungai. Namun, saat giliran Godlief dan Melany, keduanya tak berhasil mencapai seberang dan terseret arus deras.
“Jasad Godlief ditemukan sekitar pukul 21.30 WITA di Dusun Upbatan, sekitar 1 kilometer dari lokasi hanyut, sementara jasad Melany baru ditemukan keesokan harinya pukul 05.00 WITA, sejauh 10 kilometer dari titik awal,” jelas Kapolsek Takari Ipda Fardan Adi Nugroho, S.Tr.K.
Keluarga kedua korban menerima peristiwa ini sebagai musibah dan menolak dilakukan otopsi. Sungai Hueknutu sendiri dikenal berbahaya saat musim hujan, dengan lebar mencapai 30 meter dan arus yang cepat.
Kasus 3: Karyawan BUMN Ditemukan Gantung Diri di Rumah Kontrakan
Tragedi lainnya terjadi di Kompleks RSS Baumata, Desa Baumata Barat, Kecamatan Taebenu. Seorang pria bernama Dolly Sukma Nainggolan (32), ditemukan tewas gantung diri di rumah kontrakannya pada Kamis pagi, 8 Mei 2025.
Korban diketahui sebagai karyawan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), berasal dari Tuak Daun Merah, Kota Kupang, dan tinggal seorang diri.
Penemuan mayat berawal dari laporan rekan kerjanya, Misi Pranata Perangin-Angin, yang mendapat telepon dari ibu korban di Medan.
Korban tak bisa dihubungi sejak malam sebelumnya. Saat dicek ke rumah, tidak ada respon. Setelah mengintip lewat ventilasi, saksi melihat korban tergantung dengan kain sprei di lehernya.
“Korban ditemukan tergantung dengan kain sprei, terdapat luka di pergelangan tangan kiri, namun tidak ditemukan tanda kekerasan dari pihak lain. Keluarga menolak autopsi,” ujar Kapolsek Kupang Tengah IPDA Muhammad Ciputra Abidin, S.Tr.K., S.H., M.Si.
Jenazah Dolly telah dievakuasi ke RSB Titus Uly untuk divisum. Polisi masih mendalami keterangan saksi dan kronologi kejadian untuk memastikan tidak ada unsur lain yang mencurigakan.
Kapolres Kupang AKBP Rudy Junus Jacob Ledo menegaskan bahwa pihaknya menangani seluruh kasus ini dengan serius.
“Kami tidak mentolerir bentuk kekerasan apa pun, baik dalam rumah tangga maupun kelalaian yang berujung pada hilangnya nyawa. Semua proses hukum akan ditegakkan sesuai aturan,” tegasnya. (mel)









