Connect with us

HUKRIM

Ditampar karena Maki Ibu Kandung, Pemuda di Kupang Ini Malah Polisikan Ibunya

Published

on

Ilustrasi (NET)

Kupang, penatimor.com – Seorang pelajar SMA di Kota Kupang nekat memolisikan ibu kandungnya dengan dugaan melakukan penganiayaan.

Terlapor berinisial SA, warga RT 007/RW 002, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.

Kasus ini dilaporkan ke polisi oleh korban berinisial DS (17).

Kasus dugaan penganiyaan ini tertuang dalam laporan polisi Nomor: LP/B/86/IV/Sektor Kelapa Lima.

Dalam laporannya, DS menyebutkan ibunya melakukan penganiayaan terhadap dirinya.

Kuasa Hukum SA, Herry Battileo kepada wartawan, Senin (8/6/2020) petang, mengatakan, kasus ini berawal pada saat SA bersama beberapa kerabatnya merayakan ulang tahunnya di rumahnya pada 21 April 2020.

Lalu DS bersama ayahnya tiba-tiba datang ke rumah dan memarahi SA.

DS menuduh ibunya berkumpul dan bersenang-senang dengan perempuan tuna susila.

Kepada DS, SA menjelaskan jika itu adalah teman-temannya yang bukan perempuan tuna susila.

Mendengar penjelasan SA, DS malah memaki sambil menunjuk jari ke ibu kandungnya itu.

Malu karena dimaki di depan rekannya, SA kemudian meremas jari DS.

Bukannya diam, DS malah semakin menjadi-jadi dan terus mengeluarkan kata-kata kotor ke ibunya.

Atas makian tersebut, SA lalu menampar pipi anaknya itu.

“SA menampar pipi anaknya karena dimaki dan dikatai perempuan tidak baik. Itu bentuk nasehat dari orangtua dan sebagai ibu kandung,” kata Heri.

Menurut Heri, saat pertengkaran ibu dan anak itu, ayah DS sempat merekamnya melalui ponselnya. Video itu lalu menjadi bukti laporan DS ke polisi.

Laporan DS pun ditangani polisi. Lewat perantaraan penyidik, ibu dan anak ini diminta untuk berdamai. Namun, permintaan maaf SA ditolak anaknya.

“Sebagai ibu kandung, SA sudah meminta maaf waktu dimediasi polisi. Tetapi ditolak. DS mau ibunya dipenjara,” sebut Heri.

Sebagai lembaga bantuan hukum yang menangani perkara itu, Heri Batileo berharap kasus itu tidak menjadi persoalan hukum.

Namun, jika tetap diproses, Heri mengaku akan berupaya membebaskan SA.

“Sikap SA itu sebagai bentuk didikan karakter orangtua ke anaknya. Orangtua pada prinsipnya mendidik anaknya,” tegas Heri Batileo. (wil)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Balai Karantina Kupang Musnahkan 500Kg Daging Celeng Asal Sultra

Published

on

Balai Karantina Kupang memusnahkan 500kg daging celeng asal Provinsi Sulawesi Tenggara yang merupakan wilayah zona merah PMK.
Continue Reading

HUKRIM

Balita dengan Tangan Terikat dalam Kamar Terkunci di TTS Merupakan Korban Kekerasan

Published

on

Balita malang di Kabupaten TTS yang ditemukan dalam kondisi kedua tangan terikat dalam sebuah kamar terkunci.
Continue Reading

HUKRIM

BRI Sebut Raibnya Uang Tabungan Mantan Wagub NTT Merupakan Transaksi Normal dan Sah

Published

on

Mantan Wakil Gubernur NTT Drs. Benny Letelnoni (tengah) didampingi Kuasa Hukum Emanuel Passar, SH., saat memberikan keterangan pers.
Continue Reading