Connect with us

KOTA KUPANG

Antonius Rismiaji Tembus Peringkat 21 Nasional, PSSI NTT Resmi Punya Instruktur Wasit C3-C2

Published

on

Antonius Rismiaji, satu-satunya peserta asal Kota Kupang yang dinyatakan lulus dalam ajang Province Referee Assessor Evaluation 2025 yang digelar oleh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di Jakarta.

KUPANG, PENATIMOR – Kabar membanggakan datang dari dunia perwasitan cabang olahraga sepakbola Nusa Tenggara Timur. Di tengah persaingan ketat 46 mantan wasit terbaik dari seluruh Indonesia, satu nama dari Kota Kupang, NTT, berhasil menembus daftar kelulusan nasional.

Dialah Antonius Rismiaji, satu-satunya peserta asal Kota Kupang yang dinyatakan lulus dalam ajang Province Referee Assessor Evaluation 2025 yang digelar oleh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Berdasarkan Surat Keputusan Nomor 480/SKEP/IX-2025 yang ditetapkan di Jakarta pada 19 September 2025 dan ditandatangani Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, Antonius Rismiaji mencatatkan total skor 58,6 dan menempati peringkat ke-21 dari total 46 peserta nasional.

Kehadiran Antonius Rismiaji menjadi satu-satunya perwakilan Kota Kupang, NTT, yang lolos dalam evaluasi bergengsi yang berlangsung pada 8–12 September 2025 di Jakarta.

Ajang ini merupakan evaluasi nasional bagi para mantan wasit terbaik Indonesia untuk menjadi Referee Assessor (Penilai Wasit), sebuah posisi strategis dalam menjaga kualitas dan integritas kompetisi sepak bola nasional.

Dengan capaian tersebut, Antonius resmi menyandang status sebagai instruktur dan assessor wasit tingkat provinsi, sekaligus membuka babak baru bagi pengembangan perwasitan di NTT.

Modal Besar untuk PSSI NTT

Kelulusan Antonius Rismiaji membawa dampak signifikan bagi PSSI Nusa Tenggara Timur (PSSI NTT). Kini, NTT memiliki satu instruktur resmi yang dapat mencetak dan membina wasit lisensi C3 dan C2 di tingkat daerah.

Artinya, proses peningkatan kualitas wasit di NTT tidak lagi sepenuhnya bergantung pada instruktur dari luar daerah. Regenerasi wasit lokal bisa dilakukan lebih sistematis, terstruktur, dan berkelanjutan.

Langkah ini menjadi momentum penting dalam upaya meningkatkan kualitas kompetisi lokal di NTT, mulai dari liga internal, turnamen antar-kabupaten, hingga kompetisi resmi yang berada di bawah naungan PSSI.

Evaluasi nasional ini bukan proses yang mudah. Para peserta dinilai melalui berbagai aspek, mulai dari LOTG (Laws of The Game) Knowledge (10%), Video Test (10%), VAR Video Test (20%), Match Situation Analysis Test (20%), RA Match Assessment Test (25%), dan Post Match Debriefing Preparation (25%).

Dari total bobot penilaian tersebut, hanya peserta dengan kompetensi menyeluruh yang mampu bertahan dan dinyatakan lulus.

Dalam surat keputusan tersebut ditegaskan bahwa peserta berperingkat 1 sampai 12 dapat bertugas sebagai Penilai Wasit pada kompetisi PSSI tingkat nasional, sementara seluruh peserta yang lulus dapat bertugas sebagai instruktur kursus wasit level provinsi.

Dengan posisi ke-21 dan total skor 58,6, Antonius tetap masuk dalam daftar kelulusan dan berhak menjalankan peran strategis di tingkat provinsi.

Keberhasilan ini menjadi sinyal positif bahwa sumber daya perwasitan dari NTT mampu bersaing di level nasional. Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan akses pelatihan, NTT kini memiliki figur yang bisa menjadi motor penggerak peningkatan kualitas wasit daerah.

Menanggapi kelulusannya tersebut, Antonius Rismiaji mengaku bersyukur dan menilai pencapaian ini bukan hanya untuk dirinya pribadi, melainkan untuk sepak bola NTT secara keseluruhan. “Puji Tuhan, ini bukan tentang saya pribadi. Ini tentang bagaimana NTT bisa punya perwakilan di tingkat nasional. Saya ingin pengalaman yang saya dapatkan bisa ditransfer kepada wasit-wasit muda di NTT,” ujarnya.

Ia juga menegaskan komitmennya untuk segera bergerak membangun sistem pembinaan wasit di daerah. “Dengan adanya lisensi ini, kita punya peluang lebih besar untuk mencetak wasit C3 dan C2 di NTT tanpa harus selalu bergantung pada instruktur dari luar. Target saya sederhana, kualitas wasit NTT harus naik dan berani bersaing di level nasional,” tegas Antonius.

Menurutnya, tantangan ke depan bukan hanya soal teknis perwasitan, tetapi juga soal mentalitas, integritas, dan konsistensi. “Wasit itu bukan sekadar tahu aturan. Integritas dan kesiapan mental sangat menentukan. Saya ingin membantu membentuk karakter wasit NTT agar profesional dan berwibawa,” tutupnya. (bet)

Advertisement


Loading...
error: Content is protected !!