Connect with us

SOSBUD

IAD Kabupaten Kupang Kunjungi Gua Peninggalan Jepang di Kampung Bonen

Published

on

BERSAMA. Ketua Ikatan Adhyaksa Dharma Karini (IAD) Daerah Kabupaten Kupang Ny. Melani Angsar berpose bersama anggota IAD dalam terowongan gua peninggalan Jepang di Bukit Fatusuba, Kampung Bonen, Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Rabu (22/6/2022).

KUPANG, PENATIMOR – Ikatan Adhyaksa Dharma Karini (IAD) Daerah Kabupaten Kupang mengunjungi situs sejarah gua peninggalan Jepang di Bukit Fatusuba, Kampung Bonen, Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Rabu (22/6/2022).

Rombongan yang dipimpin oleh Ketua IAD Daerah Kabupaten, Ny. Melani Angsar itu menjelajahi tiga gua dari total 50 gua peninggalan perang di lokasi wisata sejarah yang dibangun sekira 80an tahun silam itu.

Para pengurus dan anggota IAD juga membawa serta anak-anak dalam kegiatan wisata edukasi itu.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia pernah dijajah oleh Jepang selama 3,5 tahun. Maka tidak heran kalau ada sisa-sisa peninggalan penjajahan Jepang di Indonesia, termasuk di Kampung Bonen, seperti tempat pertahanan, senjata, dan gua-gua yang kini menjadi tempat wisata sejarah.

Puluhan gua ini dibangun oleh pekerja paksa masyarakat yang didatangkan dari wilayah Amarasi dan Kabupaten Rote Ndao.

Dipandu oleh Otniel Dhanny Liu, S.Th., pendeta yang melayani di GMIT Mizpa Bonen, beserta beberapa pemuda gereja dan pemilik tanah, rombongan IAD Kabupaten Kupang diajak menjajal gua peninggalan penjajahan Jepang itu.

Dimulai dari memasuki Gua Barak Pasukan, Gua Gardu Pantau Satelit, Gua Menara Teropong hingga Gua Panglima Perang.

Rombongan menyusuri terowongan bawah tanah yang tampak masih bersih dan rapih.

Ada terowongan yang sempit dan pendek sehingga harus dilalui dengan sedikit membungkukan badan hingga berjalan jongkok.

Seperti terowongan Gua Menara Teropong yang terhubung ke puncak Bukit Fatusuba yang terdapat pemandangan yang indah, baik ke laut maupun perbukitan.

Begitu pun di Gua Panglima Perang, untuk masuk ke dalam, pengunjung harus menuruni anak-anak tangga dari pahatan tanah.

Gua Panglima Perang memang tampak unik dan luas dibanding gua-gua lainnya, dimana pahatan tanah nya lebih rapih.

Di dalamnya terdapat beberapa ruangan yang berukuran cukup luas dan saling terhubung.

Ketua IAD Daerah Kabupaten Kupang, Ny. Melani Angsar, kepada awak media di sela-sela kegiatan tersebut, mengatakan, perkunjungan ke situs sejarah merupakan salah satu program IAD yang dilaksanakan dari tingkat pusat hingga daerah.

“Kegiatan ini untuk menambah pengetahuan pengurus dan anggota IAD Kabupaten Kupang akan situs-situs sejarah peninggalan perang yang ada di wilayah Kabupaten Kupang,” kata Ny. Melani Angsar.

“Kami juga membawa anak-anak, karena kegiatan ini sekaligus menjadi wisata edukasi, untuk menunjang pembelajaran sejarah. Tempat wisata sejarah dapat menjadi sumber belajar sejarah alternatif selain buku teks,” lanjut dia.

Untuk diketahui, penemu/pemberi nilai bagi gua-gua benteng pertahanan peninggalan Jepang di kampung Bonen adalah Pdt. Otniel Dhanny Liu ,S.Th., (Pemimpin ekspedisi) dan Pdt. Deazsy Liu-Tatengkeng, S.Si,MA (Pendeta pada gereja GMIT Mizpa Bonen).

Keduanya adalah pasangan suami-istri yang menjadi pelayan di Jemaat GMIT Mizpa Bonen.

Pdt. Otniel Dhanny Liu ,S.Th., saat diwawancarai, mengatakan, Kampung Bonen Baumata menyimpan satu potensi pariwisata pendidikan dan budaya yang luar biasa, namun seakan terkubur atau tersembunyi kurang lebih 80 tahun.

Menurut Pdt. Dhanny, selama ini tidak ada yang mengetahui peninggalan sejarah itu, dan ketika ia dengan istrinya sampai dan melayani di kampung Bonen, barulah melakukan ekspedisi dan mengeksplorasi potensi sejarah tersebut.

“Sejak itu barulah masyarakat luas jadi tahu bahkan warga kampung baru tersadar dan menyadari akan kekayaan potensi yang mereka miliki, namun mereka tidak berdaya berbuat apa-apa untuk pengembagan potensi ini,” jelas Dhanny.

Ia melanjutkan, di lokasi tersebut terdapat 50 gua atau terowongan yang panjang berupa labirin yang ujungnya mendaki sampai puncak bukit Fatusoba.

Dari puncak bukit Fatusoba, pengunjung bisa menikmati panorama sunset yang indah dan kerlip lampu-lampu Kota Kupang.

“Kami sementara bergumul untuk setidaknya pemerintah atau ada pihak ketiga yang bisa membantu kami untuk pengembangan potensi wisata ini,” ungkap Dhanny.

Untuk diketahui, gua peninggalan Jepang di Kampung Bonen terdiri atas Gua Penjara/Tahanan, Gua Klinik Pengobatan, Gua Kamar Panglima Perang, Gua Gudang Minyak yang terbakar tahun 1943, dan Gua Barak Pasukan.

Ada sekira empat gua yang adalah gudang yang konon tersimpan senjata, amunisi, mesiu dan harta-harta karun yang terkubur, ada pula Gua bar/bioskop, pantry/dapur umum, Gua radio, perpustakaan dan ruang rapat, Gua pantau satelit yang jalur menuju ke puncak bukit, gudang beras, apron pesawat tempur, Gua tempat radar penangkal rudal/pesawat, dan kastil bawa tanah.

Adapun Gua Paul Pandie yang mana Paul Pandie yang adalah seorang pendoa yang mati di dalam gua tersebut karena hendak mencuri harta karun, dan masih banyak lagi gua-gua lain dengan fungsinya yang berbeda, termasuk gua-gua buntu tempat para pekerja/pelayan, tempat pemandian pasukan dan masih banyak gua-gua lainnya, dimana untuk menjelajah semuanya biasa memakan waktu sehari penuh.

Masih menurut Pdt. Dhanny, situs benteng peninggalan Jepang di Kampung Bonen yang menyimpan potensi warisan pendidikan dan kebudayaan yang luar biasa tersebut mungkin merupakan yang terbesar se-Indonesia, namun selama ini seolah terkubur dan terlupakan selama kurang lebih 80 tahun.

“Ini nilai sejarah dan penelitian pendidikan yang luar biasa, juga nilai pelestarian lingkungan. Hanya sayangnya situs ini luput dari perhatian pemerintah baik daerah maupun pusat, karena tidak dituliskan dalam sejarah,” sebut Dhanny.

Ditambahkan Dhanny, pihak gereja dan pemuda setempat sangat terbatas bahkan tidak punya daya untuk melestarikannya. Mereka sangat membutuhkan bantuan banyak pihak yang mau peduli untuk pengembangan ekonomi kreatif dan wisata bagi masyarakat setempat. (nus)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

EKONOMI

Julie Laiskodat Diplomasi Pariwisata, Komodo dan Tenun Ikat kepada Mantan PM Malaysia Tun Mahatir

Published

on

KAIN TENUN NTT. Bunda Julie Sutrisno Laiskodat didaulat memberikan pengalungan kain tenun khas NTT kepada mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Mahatir Mohamad.
Continue Reading

SOSBUD

IAD Wilayah NTT Peduli Kelestarian Alat Musik Sasando

Published

on

Ketua IAD Wilayah NTT Ny. Rofiqoh Hutama Wisnu bersama jajaran pengurusnya berpose bersama saat mengunjungi Rumah Sasando di Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang pada Senin (6/6/2022).
Continue Reading

SOSBUD

Ketua FK-PKB Olly Dondokambey Hadiri Perhadapan Panitia Konas XV FK-PKB PGI di Kupang

Published

on

Panitia Konas XV FK-PKB PGI menjalani proses pengembalaan jelang perhadapan panitia di gedung Gereja Ebenhaezer Oeba, Jumat (3/6). Pengembalaan panitia berlangsung Minggu (5/6) pukul 08.30 Wita. (FOTO: Humas Pan. Konas)
Continue Reading
error: Content is protected !!