Connect with us

CERPEN & PUISI

Pasangan Pengganti

Published

on

Ilustrasi (net)

PENATIMOR – Hari ini akan menjadi hari yang paling memilukan bagiku. Ratih, gadis cantik yang kuidamkan secara diam-diam, akan menikah dengan lelaki lain.

Jikalau itu terjadi, aku pasti berduka sepanjang hidupku. Apalagi, sekian lama, di tengah status kami sebagai sahabat baik, aku telah merencanakan untuk menyatakan perasaanku kepadanya suatu saat nanti, ketika aku benar-benar telah siap untuk mengikatnya dalam tali pernikahan.

Baru malam tadi aku mengetahui rencana pernikahannya itu. Tiba-tiba saja, ia mengirimiku pesan yang membuat perasaanku dilematis: Besok, aku akan menikah dengan seorang lelaki yang tidak kuinginkan. Kami dijodohkan oleh orang tua kami. Maka sebelum itu terjadi, aku ingin jujur kepadamu, bahwa aku sangat mencintaimu. Aku tentu tak lagi berharap kau membalas perasaanku ini. Aku hanya ingin kau tahu, dan itu sudah cukup bagiku.

Dengan perasaan yang kacau, aku pun lekas meneleponnya. Sebelum benar-benar terlambat, aku ingin pula menyampaikan bahwa aku sangat mencintainya. Pun, aku ingin mengobrolkan perihal kami, kalau-kalau masih ada jalan untuk kebersamaan kami. Tetapi setelah berulang kali memanggil, ia tak juga menjawab. Dan kemudian, panggilanku tak lagi tersambung, seolah-olah ia mematikan ponselnya dan tak ingin mendengar tanggapan dariku.

Detik demi detik, aku makin dilanda kekalutan. Aku pun tak bisa memejamkan mataku sebab mengetahui kalau ia mencintaiku sekaligus mengetahui kalau ia akan menikah dengan lelaki lain. Aku seperti terombang-ambing di antara kesedihan dan kegembiraan. Hingga hasrat untuk hidup bersamanya, terus memaksaku mencari jalan keluar. Demi cinta kami yang saling berbalas, aku ingin menghindarkannya dari belenggu pernikahan yang dipaksakan.

Setelah sekian lama berpikir-pikir, aku pun menyimpulkan sebuah taktik yang jitu. Aku ingin menjadi lelaki pengganti bagi calon suaminya. Untuk itu, malam tadi, aku membayar dua orang untuk melakukan pekerjaan kotor. Aku menyuruh mereka untuk menculik dan mengamankan calon suaminya di tempat yang tersembunyi selama jadwal pernikahan berlangsung, sehingga aku bisa hadir dan bersanding dengan pujaanku itu di pelaminan
Beruntung, kedua orang suruhanku melakukan tugas mereka dengan baik.

Mereka membius dan menyekap calon suami pujaanku di sebuah ruangan pada satu kawasan pergudangan yang terbengkalai. Mereka pun menjamin bahwa lelaki itu tidak akan lepas sampai waktu pernikahan selesai. Karena itu, aku merasa tenang untuk datang dan menawarkan diri menjadi pasangan pengganti untuk sang idamanku, sebagaimana harapannya juga.

Demi menghindari pengetahuan orang-orang kalau penculikan itu ada hubungannya dengan diriku dan rencana pernikahan Ratih bersama sang lelaki, aku pun meminta kepada kedua orang suruhanku agar tidak membahas-bahas perihal pernikahan tersebut di hadapan sang calon mempelai pria.

Mereka juga harus mengutarakan motif yang lain jikalau terjadi apa-apa. Mereka pun memahami dan menyanggupi, sehingga aku merasa tenang.

Tentu saja aku tak mengutarakan rangkaian rencanaku itu kepada Ratih. Kalau kuberi tahu, ia  bisa berpikiran tidak-tidak. Ia bisa saja mengkhawatirkan keadaan calon suaminya itu dan mengabaikan kepentingan kami. Ia bisa juga berpikiran kalau aku adalah bagian dari sindikat kejahatan yang tak layak menjadi suaminya. Karena itu, yang kuinginkan adalah membuatnya berpikiran kalau kebersamaan kami pada akhirnya, merupakan perwujudan takdir yang misterius.

Perlahan-lahan, rencanaku tampak berjalan dengan baik. Kini, ketika aku datang di rumah Ratih saat waktu sudah lewat tengah hari, aku pun menyaksikan keriuhan para tamu undangan. Mereka tampak membincangkan dan merisaukan perihal calon suami Ratih beserta keluarganya yang tak juga datang setelah tiga jam berlalu dari jadwal akad yang telah disepakati.

Mereka bahkan mulai menggunjingkan kalau acara pernikahan tersebut akan berakhir tragis dan memalukan.

Seiring waktu, aku hanya terdiam di antara kerumunan orang-orang, sembari berharap rencanaku akan berakhir sempurna. Dengan perasaan waswas, aku berdoa semoga kehadiran calon mempelai pria itu tidak lagi diharapkan.

Hingga akhirnya, Ratih muncul dan naik ke atas pelaminan. Ia lantas duduk sendiri dengan raut yang datar. Ia seolah-olah tidak bersedih dan tidak pula berbahagia ketika kedua orang tuanya tampak gusar dan gelisah.

Waktu kemudian menunjukkan jam 2 siang. Para tamu yang sedari tadi berkumpul dan berdesakan, jadi tak sabar lagi untuk menunggu. Karena itu, satu per satu dari mereka mulai naik ke atas pangggung untuk menyalami Ratih, dan juga barangkali untuk menyampaikan kata-kata penyemangat untuknya.

Setelah itu, mereka menyantap hidangan yang tersedia, lalu akan pulang dengan membawa cerita pernikahan yang menghebohkan.

Sesaat kemudian, aku turut melangkah ke atas panggung pelaminan. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku membawa harapanku yang besar. Hingga akhirnya, aku berada di titik yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter darinya. Ia pun melihat kehadiranku, hingga kami saling menatap, seolah-olah kami sama-sama menyaksikan keajaiban. Dan setelah kami berhadapan, dengan begitu saja, ia menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukanku, lantas menangis.

Orang-orang pun sontak memandangi kami dengan tatapan penuh tanya. Mereka jelas heran melihat kami yang bukan sepasang mempelai, tetapi malah saling berpelukan. Namun melihat sikap tubuh kami yang tak saling menolak, mereka seolah bisa mengerti bahwa ada rahasia hati di antara kami, sehingga mereka tak mengusik dan malah membiarkan kami menumpahkan keresahan kami masing-masing.

Setelah sekian lama, kami pun mengurai pelukan dan kembali saling menatap.

“Aku juga mencintaimu!” kataku kemudian, untuk membalas pernyataan cintanya semalam.

Ia pun tampak tersenyum haru dan menyeka air matanya. Ia kemudian menarik tanganku ke sisi ayah dan ibunya. Ia lantas berlutut di hadapan mereka, dan aku pun turut.

“Kalau Ayah dan Ibu benar-benar mencintaiku sebagai anak, nikahkanlah aku dengan Rion. Kami saling mencintai,” pintanya, meminta restu untuk kami.

“Ayah dan Ibu sudah menyaksikan sendiri kalau lelaki yang Ayah-Ibu inginkan untuk menjadi suamiku itu, juga keluarganya, bukanlah orang-orang yang patut dipercaya.”

Kedua orang tuanya kemudian menatapku, seolah-olah mempertimbangkan permintaan Ratih. Aku pun berharap mereka berdua mau menerimaku menjadi pasangan anak mereka. Apalagi, mereka sudah mengenalku secara baik sebagai teman dekat sang putri.

“Selama ini, Ayah dan Ibu melihat sendiri kalau Rion adalah laki-laki yang baik. Aku yakin, ia tidak akan mengecewakan aku, juga Ayah dan Ibu,” bujuk Ratih lagi, mencoba meyakinkan orang tuanya yang tampak masih menimbang-nimbang.

“Untuk apa lagi mengharapkan kedatangan seorang lelaki yang jelas-jelas sudah mengkhianati dan mempermalukan kita?”

Kedua orang tuanya kemudian saling berdiskusi dengan suara berbisik.

Sesaat kemudian, ayahnya memintaku untuk berdiri dengan menarik lenganku. Ia lantas menatapku dengan raut yang serius. “Bersediakah kau menjadi lelaki yang bertanggung jawab untuk putri kami?” tanyanya

Tanpa pikir panjang, aku pun mengangguk tegas. “Aku bersedia, Om. Aku berjanji akan membahagiakan Ratih.”

Aku lantas melihat rona keharuan dan kelegaan di wajahnya.

Akhirnya, di tengah tatapan penuh tanya dari orang-orang, aku dan Ratih dibawa ke dalam rumah. Kami pun melangsungkan akad nikah. Dan seketika, aku merasa sangat bahagia, sebab harapanku telah tercapai. Kulihat, Ratih pun demikian.

Setelah itu, kami kembali ke ruang resepsi, lalu duduk bersanding di atas pelaminan. Dengan serta-merta, orang-orang menampakkan dan menyuarakan kegembiraan mereka menyaksikan kebersamaan kami, seolah-olah mereka turut lega dan senang karena Ratih berhasil juga melangsungkan akad dan pesta pernikahannya, meski dengan aku yang jelas mereka tak sangka.

Waktu pun terus berganti, dan kami tetap bersemangat untuk menunjukkan kebahagiaan kami kepada para tamu.

Sampai akhirnya, ketika hari sudah sore, saat tamu yang datang tidak banyak lagi, ponselku berdering. Aku pun melihat orang suruhanku tengah memanggil. Aku lantas permisi ke sisi belakang pelaminan, dan menjawabnya dengan suara pelan.

“Ada apa?” tanyaku, penasaran.

“Anu, Bos, maaf, tawanan kami kabur,” jawabnya.

Seketika, aku jadi kalang kabut. “Apa? Bagaimana bisa?” sergahku.

“Entahlah. Kami sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa lepas dari ikatan kami,” terangnya.

Aku pun jadi khawatir. “Ah, kan sudah kubilang kalau kalian harus menahannya sampai pesta pernikahan selesai, atau sampai aku memberikan perintah untuk melepaskannya,” kesalku. “Pokoknya, aku tidak mau tahu. Kalian harus menangkapnya dan menyembunyikannya kembali. Kalau tidak, aku tak akan memberikan sisa upah kalian.”

“Baiklah. Akan kami usahakan,” tanggapnya.

Aku lantas menutup sambungan telepon. Aku lalu berusaha menenangkan perasaanku, kemudian kembali ke pelaminan dengan sikap yang biasa.

Detik demi detik bergulir, dan aku terus dihantui kecemasan kalau-kalau bekas calon suami Ratih akan datang. Aku jelas khawatir kalau ia muncul dan membuat masalah. Tetapi kenyataannya, aku patut bersyukur, sebab setelah sekian lama, sampai pesta benar-benar selesai, lelaki itu tak juga tampak. Bahkan sampai kini, aku tak mendengar kabar tentang keberadaannya, seolah-olah ia telah menghilang. ***

Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Menulis cerpen berjudul “Pedagang Kebencian” yang berhasil menjadi salah satu Cerpen Terpilih pada Malam Anugerah Ngewiyak Vol, 26 Maret 2022. I. Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping).

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

CERPEN & PUISI

Bimbang antara Memilih Dia atau Mengikuti Dia

Published

on

Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Continue Reading
error: Content is protected !!