Connect with us

HUKRIM

Rekonstruksi Kasus Bunuh Bayi di Kupang, Tersangka Peragakan 26 Adegan Sambil Menangis

Published

on

Rekonstruksi kasus pembunuhan bayi baru lahir di Mapolres Kupang.

Kupang, penatimor.com – AP alias Apriana (29), tersangka kasus penganiayaan dan menyebabkan kematian anak melakukan reka ulang adengan kasus ini, Jumat (11/6/2021).

Reka ulang dilakukan di halaman belakang Mapolres Kupang guna menghindari kerumunan dan aksi massa yang tidak terima dengan perbuatan tersangka.

Tersangka AP hanya bisa menangis karena ia memperagakan sendiri seluruh adegan dalam reka ulang kasus ini.

Warga RT 09/RW 04, Desa Oebesi, Kecamatan Amarasi TImur, Kabupaten Kupang ini ditahan sejak bulan April 2021 lalu.

Sejumlah saksi seperti pacar tersangka, Otniel Saepitu, Hagar Misa (dukun) dan Silpa Polistona (kakak tersangka) tidak bisa hadir sehingga peran mereka dilakukan oleh penyidik Polres Kupang.

Ada 26 adegan yang dilakukan tersangka. Dalam reka ulang yang dikawal aparat kepolisian ini terungkap kalau tersangka baru kembali dari Malaysia sebagai TKW pada bulan Januari 2020 lalu.

Ketika kembali ke desanya, ia bertemu dengan Otniel Saepitu yang juga mantan pacarnya. Otniel ternyata sudah menikah dan memiliki anak.

Namun Otniel dan tersangka tetap menjalani hubungan terlarang hingga keduanya beberapa kali melakukan hubungan badan layaknya pasangan suami istri.

AP pun hamil dan baru pada bulan Desember 2020, ia menyadari kalau ia hamil sehingga berniat menggugurkan janin dalam kandungannya.

Tersangka beralasan kalau ia malu karena hamil dari suami orang sehingga mencari upaya menggugurkan janin dalam kandungannya.

Selama pelaksanaan reka ulang selama satu jam, tersangka hanya bisa menangis. Walau demikian ia tetap bisa melakukan seluruh adegan dengan baik hingga tuntas.

Ia mengaku sedih dan menangis karena tidak ada kerabat yang menghadiri reka ulang kasus ini.

Ia juga meminta agar Otniel Saepitu yang menghamilinya pun diproses hukum.

Demikian pula Hagar Misa yang memberikan ramuan juga perlu diproses hukum.

“Jangan hanya saya yang diproses dan menanggung semua ini. Yang lain juga perlu diproses. Saya begini karena ada juga pihak lain yang terlibat,” ujarnya lirih sambil menangis.

Tindak pidana penganiayaan dan menyebabkan kematian anak ini ditangani polisi sesuai laporan polisi Nomor: LP/B/03/IV/ 2021/Polsek Amarasi Timur/ Polres Kupang/Polda NTT tanggal 22 April 2021.

Polisi sudah memeriksa 8 orang saksi yakni Bertha Nenosaban, Agustinus Misa, Asnat Taebenu Nenoharan, Hagar Misa, Tomas Pae, Silpa Polistona, Marselinus Misa dan Otniel Saefetu.

Tersangka dijerat dengan sejumlah pasal yaitu Pasal 76 C Jo Pasal 80 ayat (3) dan  ayat (4) Undang-undang RI Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan Peraturan Pemerintah pengganti UU RI Nomor 01 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI nomor 35 tahun 2014 perubahan atas UU RI nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan anak menjadi UU.

Ancaman hukuman 15 tahun penjara ditambah sepertiga karena penganiayaan tersebut dilakukan oleh orangtua.

Tersangka juga dijerat pasal 341 KUHP dengan ancaman 7 tahun penjara dan pasal 342 KUHP dengan ancaman 9 tahun penjara. (wil)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Kejari Kota Kupang Musnahkan Barang Bukti 31 Perkara

Published

on

Sejumlah barang bukti dimusnahkan secara bersama-sama dengan cara dibakar pada dua buah wadah drum oleh Kajari Kota Kupang, perwakilan BNN, Polres Kupang Kota, Wakil Ketua PN Kelas IA Kupang dan Balai POM Kota Kupang.
Continue Reading

HUKRIM

Kapolda NTT Akan Proses Hukum Pengambilan Paksa Jenazah Pasien Covid-19

Published

on

Kapolda NTT, Irjen Pol Lotharia Latif.
Continue Reading

HUKRIM

SADIS! Bocah 4 Tahun di Sabu Raijua Tewas Tertimpa Batang Pohon Kelapa, Kepala Pecah

Published

on

Eksavator dan batang pohon kelapa dipasang police line sebagai barang bukti.
Continue Reading
error: Content is protected !!