Connect with us

UTAMA

DPRD Sebut Wali Kota Kupang Pencitraan, Tinggal di Rumah Mewah, Warga di Gubuk

Published

on

Theodora Ewalde Taek

Kupang, penatimor.com – Panas dan alot. Begitulah suasana sidang DPRD Kota Kupang pada Rabu (17/6) malam.

Debat alot antara anggota DPRD Theodora Ewalde Taek dan Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore benar-benar membuat suhu dalam ruang sidang utama seketika memanas.

Ketua DPRD Yeskiel Loudoe beberapa kali harus berusaha menenangkan suasana sidang dengan suara tinggi.

Berawal dari srikandi PKB itu mempersoalkan salah satu rumah warga miskin yang sudah dibongkar karena akan dibedah oleh Pemkot, namun bantuan itu tak kunjung datang.

Akhirnya, kehidupan keluarga miskin dan sudah lansia di wilayah Kelurahan Lasiana itu semakin memrihatinkan karena hidup tanpa rumah. Mereka harus tinggal di tempat yang sangat tidak layak.

Dengan suara lantang, legislatif yang biasa dipanggil Ewalde itu mempertanyakan tentang kesiapan Pemkot Kupang terkait program bedah rumah yang dijalankan.

Ewalde mengaku turun langsung ke lokasi rumah yang ingin dibedah Pemkot Kupang di Kelurahan Lasiana itu.

Menurutnya, saat dia mengunjungi rumah warga yang akan direhab tersebut, ternyata rumahnya yang lama sudah dibongkar dan mereka menumpang di rumah tetangga tanpa ada kejelasan kapan pembangunan akan dijalankan.

“Beberapa waktu lalu Wali Kota mengunjungi sebuah rumah di Kelurahan Lasiana sasaran kegiatan bedah rumah, rumah mereka sudah dirobohkan dan tanpa penghuni rumah dievakuasi dan tidak tahu mau tinggal dimana. Sekarang mereka tinggal di tempat yang sangat kecil yang sangat tidak manusiawi,” ujarnya.

Ewalde mempertanyakan dimana rasa kemanusiaan Pemkot Kupang di saat warga susah.

“Saya minta dalam 1×24 jam untuk memberikan tempat tinggal yang layak untuk warga ini,” ujarnya.

Dia mengaku melihat sendiri kondisi warga yang tinggal di tempat yang sangat tidak layak.

Sebagai wakil rakyat, Ewalde mengaku sangat tidak setuju warga yang ada di Daerah Pemilihan (Dapil) nya diperlakukan dengan tidak berprikemanusiaan.

“Wali Kota Kupang hanya pencitraan. Wali Kota Kupang tinggal di rumah jabatan yang mewah tetapi masyarakat tinggal digubuk. Seorang janda dan lansia dan anak-anaknya numpang di rumah tetangga, gubuknya berukuran 1×1 meter,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Kupang, Jefri
Riwu Kore, mengatakan, warga yang dimaksud adalah warga Kelurahan Lasiana yang sangat layak dibantu, dan menjadi prioritas pemerintah untuk dibantu.

“Pertanyaannya, jika rumah itu sudah dibongkar, siapa yang suruh bongkar? Karena belum saatnya kita bangun. Kami mendatangi rumah warga itu karena memang sangat prihatinkan, dan kami sungguh-sungguh akan membantu dan kami jadikan prioritas untuk diakomodir dalam program bedah rumah,” ujarnya.

Dia mengaku, untuk biaya tinggal sementara atau pindah sementara, memang masih dicari donator yang dapat membantu pemerintah untuk membantu warga ini.

“Dan sudah ada dua orang yang bersedia membantu yaitu Hilda Manafe selaku anggota DPD RI dan juga Herman Hery anggota DPR RI,” ujarnya.

Wali Kota mengaku pemerintah sudah mempersiapkan semuanya itu, jadi jangan mengatakan pemerintah atau Wali Kota pencitraan.

“Jadi jangan sampai menggunakan kata pencitraan karena tidak bagus dalam hubungan kemitraan ini,” tegas Wali Kota.

“Saya akan cek siapa yang menginstruksikan untuk membongkar rumah itu, karena belum saatnya. Karena kami masih dalam proses lelang, dan akan sekaligus dikerjakan dengan rumah yang ada di Kelurahan Fontein itu,” ujarnya.

Orang nomor satu di Pemkot Kupang itu meminta agar jangan menggunakan kata pencitraan, karena sangat tidak sopan dan kurang ajar dalam hubungan sebagai mitra.

“Saya tidak setuju dan tidak sedang melakukan pencitraan di sini. Jangan mengungkapkan sesuatu hal yang kurang sopan. Saya bukan pencitraan. Ini membantu masyarakat. Jangan kaitkan dengan rumah mewah. Saya menjelaskan apa yang menjadi hak saya,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Kupang, Yeskiel Loudoe yang memimpin jalannya persidangan meminta agar semua anggota tetap tenang.

“Tidak ada yang sempurna dalam dunia ini. Saya minta semua tetap menjaga suasana lembaga ini tetap sejuk, dan tetap menjaga hubungan kemitraan kita. Mari menjaga hubungan baik, agar tetap berjalan baik,” ujarnya. (*/wil)

Berikut ini surat terbuka dukungan terhadap Theodora Ewalde Taek.

Surat Untuk Walde
Kepada Yang Terhormat Theodora Ewalde Taek di Lembaga DPRD Kota Kupang

Dewan yang Terhormat, adalah sapaan bagi dirimu yang terpilih mewakili suara rakyat di Lembaga Kota Kupang. Pada pagi ini, Kamis, 18 Juni 2020, saya menonton sebuah konten Youtube yang membuat hati miris. Sedih bercampur haru. Bagaimana tidak, engkau yang disebut terhormat itu dilecehkan oleh sebuah kata yang tidak pantas. Kurang Ajar. Kata itu terlontar dari mulut seorang pemimpin di Kota Kupang. Kota karang yang akrab disebut Kota Kasih. Kata-kata itu begitu menghujam kalbu dan merobek nurani. Menghantam marwah dan martabat seorang perempuan yang memiliki rahim kehidupan ini. Pembunuhan yang begitu kejam lewat diksi yang sangat kasar.

Yang lebih menyakitkan, saat kata kurang ajar itu terlontar dalam intonasi tinggi penuh amarah menghujam dirimu, tak ada satupun laki-laki di ruang terhormat itu yang berdiri untuk membela seorang wanita yang telah membeberkan sebuah fakta yang harus dibenahi. Bahkan teman satu fraksi dan satu rahim partai yang duduk persis disebelah kananmu nampak membisu tanpa ekspresi. Ah,, terbuat dari apa hati mereka? Begitu tega membiarkan seorang wanita berjuang sendiri melawan sebuah keangkuhan. Membiarkan seorang ibu yang menyampaikan tangis karna tak mampu menahan rasa pedih ketika melihat rakyat yang dia kasihi berada di titik nadir. Namun ketika kata yang begitu tidak pantas tersebut meluncur bebas dan membuat polusi rasa di antara para wakil rakyat, Engkau, Ya, Engkau Theodora Ewalde Taek, tidak membalas kata itu kepada pria asal Pulau Sabu yang memimpin Kota Kupang ini. Padahal kau bisa menohok balik ke jantung yang begitu pongah melontarkan kata karna miskin terhadap pilihan diksi. Engkau telah menunjukkan bahwa dirimu adalah anak matahari terbit yang tidak musti meleleh seperti embun, hanya karna pongahnya sebuah terik panas. Engkau telah menari indah dan bersenandung merdu seperti lebah yang mengumpulkan madu. Engkau adalah Srikandi Partai Kebangkitan Bangsa. Partai yang rahmatan lil alamin.

Terimakasih engkau telah mengajarkan bahwa sesuatu yang tidak pantas tidak perlu dibalas dengan sesuatu yang tak pantas pula. Engkau telah memperlihatkan sebuah kebesaran jiwa sekalipun engkau hanya seorang perempuan yang kata para lelaki hanya kaum lemah. Mereka tak pernah tahu bahwa engkau telah menjejak panasnya bumi dan tak pernah surut hanya karena gertakan. Bukan seperti mereka yang datang hanya untuk duduk diam dan dengar. Engkau sebenarnya hanya menyampaikan Fakta bahwa ada rakyat yang tidur di gubuk lantaran sebuah janji manis seorang pemimpin. Rupanya kata pencitraan dan rumah mewah yang engkau sampaikan dengan emosi seorang ibu telah memantik rasa marah dari Wali Kota yang berwibawa di Kursi Pimpinan DPRD sehingga engkau harus menerima sebuah kata tak layak. Kurang Ajar. Sekali lagi semua terdiam saat kehormatan seorang wanita dilucuti. Seperti cerita dewi Drupadi dalam kisah Mahabrata. Tepuk tangan dewan yang terhormat seperti tanpa malu saat wali kota bicara dengan penuh emosi. Apapun kata orang tapi engkau telah membuktikan kata-katamu bukan bohong belaka sebab saat engkau melakukan siaran langsung pada pukul 01:00 dini hari, engkau membeberkan fakta bahwa warga yang engkau sebut dalam sidang tadi benar-benar tidur dalam gubuk yang tak layak. Menahan suhu dingin dalam terpaan angin keras yang sedang melanda pulau Timor.

Yang lucu, ketika begitu banyak media dengan suara yang sama menyanyikan paduan suara membantah fakta siaran langsung yang dilakukan oleh ibu Walde pada saat subuh melalui akun facebook. Memperlihatkan fakta dan menelanjangi kebohongan para pengambil kebijakan. Mereka yang katanya kaum cendekia bertopeng pers bernyanyi lalu lupa terhadap netralitas dan objektifitas. Ah, memang begitulah paduan suara, tergantung mau menyenangkan siapa, tak peduli langunya merdu atau tidak, mereka akan berteriak dengan lantang.

Ibu Walde yang terhormat, tetaplah terbang seperti layang-layang yang selalu membumbung ke angkasa dengan melawan angin, sebab itu akan membawamu ke sebuah tempat dimana engkau akan melihat langit baru dan bumi baru.

Kota Kupang, 19 Juni 2020
Dari Kami yang selalu mendukungmu

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

UTAMA

Polres Lembata Bantu Evakuasi Warga Terdampak Erupsi Ile Lewotolok

Published

on

Personel Polres Lembata mengevakuasi warga terdampak erupsi gunung Ile Lewotolok, Minggu (29/11/2020).
Continue Reading

UTAMA

Dihujani Abu Vulkanik Ile Lewotolok, Bandara Wunopito Ditutup

Published

on

Erupsi Gunung Ile Lewotolok, Minggu (29/11/2020).
Continue Reading

UTAMA

Erupsi Ile Lewotolok, Pemkab Lembata Evakuasi Warga

Published

on

Gunung Ile Lewotolok mengeluarkan asap tebal akibat erupsi, Minggu (29/11/2020).
Continue Reading