Connect with us

HUKRIM

SADIS! Bocah 13 Tahun di Kupang Diduga Diculik Tetangganya, Anak Anggota Polda

Published

on

Ilustrasi (NET)

Kupang, penatimor.com – Johan CPD (13), siswa sekolah dasar di Kota Kupang, diduga diculik dan disandera sejumlah pemuda yang juga tetangga nya.

Peristiwa penculikan itu sendiri terjadi pada tanggal 26 Maret 2020. Korban baru bisa bertemu dengan orangtua nya pada tanggal 1 April 2020.

Dengan pertimbangan kalau korban masih trauma dan sedang menghadapi ujian akhir sekolah maka orangtua mendiamkan kasus ini.

Baru pada Selasa (19/5/2020) petang setelah korban selesai ujian sekolah, orangtua korban melaporkan kasus penculikan dan penyanderaan ini ke polisi di Polda NTT.

Apesnya, Bripka Bobby Djhau dan istrinya (orangtua korban) malah dilaporkan ke lembaga perlindungan anak, P2TP2A Provinsi NTT dengan alasan menganiaya korban.

Hal ini menjadi kebingungan bagi keluarga korban.

Ditemui di Mapolda NTT, Rabu (20/5/2020), Bripka Bobby Djhau yang juga anggota Subbid Provost Bid Propam Polda NTT mengaku kalau pada tanggal 26 Maret 2020 usai mandi sore, korban meminta uang untuk belanja di kios.

“Saya berikan uang Rp 50.000 untuk belanja telur, gula dan teh,” ujar Bobby Djhau.

Usai belanja, korban tidak kembali ke rumah. Hingga
pukul 23.00 wita, Bobby Djhau mulai resah dan mencoba mencari korban.

Ia mendatangi kios tempat korban belanja dan menanyakan kepada pemilik kios. Pemilik kios membenarkan korban sempat berbelanja ke kios miliknya.

Karena belum juga kembali maka pada tanggal 27 Maret 2020 malam, Bobby melaporkan kasus kehilangan anak ke Polres Kupang Kota.

“Anak saya tidak pulang ke rumah dalam tempo 1×24 jam jadi saya laporkan kasus kehilangan anak. Saya juga tetap berdoa dan berusaha mencari anak saya,” tandas warga Jalan Taruna RT 02/RW 01 Kelurahan Tode Kiser, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang ini.

Bobby sendiri kaget karena pada tanggal 28 Maret 2020, ia mendapat telepon dari anggota polisi kalau korban sudah ditampung di kantor P2TP2A.

“Anak saya hilang tapi kok adanya di P2TP2A,” ujarnya.

Dalam kebingungan, Bobby Djhau mengajak ibu dan istrinya untuk bertemu korban, namun pihak P2TP2A enggan mempertemukan korban dengan orang tuanya tanpa alasan yang jelas.

Barulah pada tanggal 31 Maret 2020, korban bisa bertemu dengan orangtua dan dipulangkan pada tanggal 1 April 2020.

“Itupun dengan berbagai prosedur dan sejumlah surat yang kami harus tanda tangani,” tambah Bobby Djhau.

Pasca kembali ke rumah, Bobby Djhau tidak ingin menganggu mental anaknya sehingga mendiamkan kasus ini. Baru lah pada tanggal 8 April 2020, korban membuat pengakuan mengejutkan kalau saat itu ia diculik dan disekap oleh 6 pria dan 1 perempuan yang juga tetangga mereka.

“Korban mengaku diancam dan disekap di sekitar kantor lurah Tode Kiser. Saat saya cari anak saya dengan sepeda motor, para pelaku mengancam anak saya dan menyuruh tiarap sehingga anak saya tidak berani melawan,” urainya.

Sepanjang malam tanggal 26 Maret, korban disekap dan dikurung.

Keesokan harinya atau pada tanggal 27 Maret 2020, korban dijemput dengan mobil dan dibawa ke Kelurahan Oesapa dan disekap serta dikurung.

Dan siangnya ada 5 pelaku yang menjemput korban kemudian diantar ke kantor P2TP2A NTT.

Dikantor P2TP2A NTT, para pelaku mengaku kalau korban sering dianiaya orangtua nya sehingga harus mendapat perlindungan dari lembaga tersebut.

“Saya tidak pernah menganiaya anak saya,” tegas Bobby.

Kasus ini kemudian dilaporkan Jachoba Jane Djhau-Ludjipau (65), ibu kandung Bobby atau nenek korban ke polisi dengan laporan polisi nomor LP/B/209/V/RES.1.24/2020/SPKT tanggal 19 Mei 2020.

Laporan kasus penculikan yang terjadi di Jalan Taruna 2A Kelurahan Tode Kiser ini diterima Bripka Armando Wabang, petugas di SPKT Polda NTT. “Kami melaporkan Dido Cs.

Ada pula pelaku nama Johan alias Jojo dan Megi sebagai pelaku penculikan.

“Nanti polisi yang akan menyelidiki lebih lanjut,” ujar Bobby usai memberikan keterangan sebagai saksi di ruang Dit Reskrim Umum, Mapolda NTT.

Pihak P2TP2A NTT belum berhasil dikonfirmasi terkait laporan ini. (wil)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Gegara Judi Kupon Putih, Kakek 77 Tahun di Kupang Tikam Bandar hingga Sekarat

Published

on

Kapolsek Oebobo AKP Magdalena G. Mere.
Continue Reading

HUKRIM

Enam Pejabat Pemkot Kupang jadi Saksi di Sidang Perkara Jonas Salean

Published

on

Enam orang saksi diambil sumpah sebelum diperiksa di sidang Pengadilan Tipikor Kupang.
Continue Reading

HUKRIM

Putusan Kasasi, Linda Liudianto Tetap Dihukum 8 Tahun Penjara

Published

on

Linda Liudianto menyalami JPU S. Hendrik Tiip saat persidangan di Pengadilan Tipikor Kupang.
Continue Reading