Connect with us

HUKRIM

Putusan Inkracht, Yulia Afra dan Dona Toh Resmi jadi Narapidana

Published

on

Jaksa eksekutor Kejati NTT Hendrik Tiip saat mengeksekusi putusan terpidana korupsi NTT Fair, Yulia Afra dan Dona Febiola Toh di Lapas Wanita Kupang, Rabu (12/2).

Kupang, penatimor.com – Jaksa eksekutor Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT mengeksekusi putusan Pengadilan Tipikor Kupang terhadap dua terdakwa perkara korupsi proyek NTT Fair, sekira pukul 10.00 Wita, Rabu (12/2).

Kedua terdakwa yang telah berstatus narapidana ini adalah Yulia Afra selaku mantan Kepala Dinas PRKP Provinsi NTT/Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan Dona Fabiola Toh sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

Yulia dan Dona menjalani masa hukuman di Lapas Wanita Kelas III Kupang.

Jaksa Eksekutor Kejati NTT Hendrik Tiip yang dikonfirmasi wartawan, mengatakan, eksekusi dilakukan setelah putusan Pengadilan telah berkekuatan hukum tetap atau inkracht.

Yulia Afra akan menjalani masa hukuman sesuai putusan Pengadilan selama 5 tahun penjara, dan Dona Fabiola Tho selama 6 tahun penjara.

Sebelumnya, Yulia Afra mencabut upaya hukum banding yang telah dilakukan melalui penasehat hukumnya.

Dengan pencabutan banding tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati NTT juga melakukan hal yang sama.

JPU sebelumnya juga melakukan upaya banding setelah terdakwa Yuli Afra menyatakan banding pasca sidang pembacaan putusan majelis hakim di Pengadilan Tipikor Kupang.

Dengan pencabutan upaya hukum banding tersebut, berarti terdakwa Yuli Afra dan JPU sama-sama menerima putusan majelis hakim, dengan demikian putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap alias inkracht.

Yuli Afra oleh majelis hakim dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dan denda sebanyak Rp 200 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Kasi Penkum Kejati NTT Abdul Hakim yang dikonfirmasi di kantornya, Senin (3/2), mengatakan, dengan pencabutan upaya banding berarti terdakwa dan JPU menerima putusan majelis hakim sehingga akan berstatus inkracht.

“Kalau sudah inkracht tentunya jaksa akan melakukan eksekusi putusan, dengan memasukan terdakwa yang sudah berstatus terpidana ke Lembaga Pemasyarakatan untuk menjalani masa hukuman sesuai diktum putusan hakim,” jelas Abdul Hakim.

Terpisah, Fransiskus Jefri Semuel selaku penasehat hukum terdakwa Yuli Afra, ketika dikonfirmasi wartawan, membenarkan pencabutan upaya banding yang sebelumnya dilayangkan pihaknya ke Pengadilan.

Menurut Fransiskus, kliennya telah mempertimbangkan dan memutuskan menerima putusan majelis hakim.

“Klien kami meminta banding, namun setelah dipertimbangkan, beliau meminta untuk dicabut. Sebelumnya terdakwa nyatakan banding karena putusan majelis hakim lebih tinggi dari tuntutan JPU dan dinilai tidak sesuai dengan peranan terdakwa, tetapi terdakwa setelah mempertimbangkan meminta untuk dicabut,” imbuhnya.

Lanjutnya, sebagai penerima kuasa, dirinya telah melakukan pencabutan sesuai dengan permintaan terdakwa.

“Intinya kita menerima putusan yang sudah dijatuhi dan klien kami sudah siap menjalani masa hukuman,” sebut dia.

Sementara, JPU Hendrik Tiip yang dikonfirmasi, juga membenarkan pencabutan atas upaya bandingnya, karena alasan utama mengajukan banding karena terdakwa ajukan banding.

Dikatakan, pihaknya sebenar tidak mengajukan banding, namun sesuai dengan SOP, jika terdakwa ajukan banding maka JPU juga harus ajukan banding, karena apabila tidak banding dari JPU lalu dalam putusan banding memenangkan terdakwa, maka JPU tidak bisa kasasi.

“Kalau tidak banding maka kita tidak bisa kasasi, tapi karena mereka cabut maka kita juga cabut,” tandas Hendrik.

Selain terdakwa Yulia Afra, JPU tetap mengajukan banding untuk terdakwa Hadmen Puri dan Ferry Jons Pandie terkait status barang bukti (BB). Sedangkan terdakwa Linda Liudianto, JPU juga melakukan banding terhadap uang penggantinya.

“Kalau terdakwa Dona Fabiola Toh siap dieksekusi dalam waktu dekat karena sudah incrah, sedangkan Barter Yusuf masih pikir-pikir,” ujar Hendrik. (ani)

Loading...


Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Korban Pencurian Sadis di Rumdis Imigrasi Kupang Beberkan Keterlibatan Oknum Polisi dan Istrinya

Published

on

Susanti
Continue Reading

HUKRIM

Karyawan Bank NTT Johan Nggebu Cabut Gugatan, Prapid Gugur

Published

on

S. Hendrik Tiip, SH., dan Samuel David Adoe, S.H.
Continue Reading

HUKRIM

Dugaan Korupsi Kredit Macet, Empat Karyawan Bank NTT Jalani Sidang Perdana

Published

on

Empat terdakwa yang merupakan karyawan Bank NTT Cabang Utama Kupang sedang mendengarkan dakwaan JPU di Pengadilan Tipikor Kupang, Selasa (25/2).
Continue Reading
loading...




Loading…