Connect with us

HUKRIM

Dipolisikan Istri Rafi, Direksi BPR Christa Jaya Diperiksa Polresta

Published

on

Semuel Haning, SH.,M.Hum, didampingi Samsul Asadoma dan Fransisco Bessie, SH.,M.Hum., selaku tim kuasa hukum Christa Jaya mendampingi Komisaris Utama BPR Christa Jaya Christofel Liyanto dan Direktur BPR Christa Jaya Lani Tadu, siang tadi (11/9).

Kupang, penatimor.com – Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Christa Jaya melalui kuasa hukumnya, menanggapi dengan enteng laporan polisi Sri Wahyuni, istri Rahmat alias Rafi selaku tersangka kasus dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan.

Semuel Haning, SH.,M.Hum, didampingi Samsul Asadoma dan Fransisco Bessie, SH.,M.Hum., selaku tim kuasa hukum Christa Jaya, justru menilai laporan Sri Wahyuni hanyalah sebuah akal-akalan.

Tim hukum ini mendampingi Komisaris Utama BPR Christa Jaya Christofel Liyanto dan Direktur BPR Christa Jaya Lani Tadu, siang tadi (11/9).

“Terkait laporan polisi Sri Wahyuni, menurut kami itu salah satu temuan baru yang kami anggap hanya akal-akalan saja,” kata Semuel.

Mantan Rektor PGRI NTT itu menilai bahwa kronologi yang dibuat dalam laporan dimaksud adalah hasil yang Rafi dapat, hasil pinjaman uang dari BPR Christa Jaya.

Sebenarnya kata Semuel, itu adalah hasil agunan dari BPR Christa Jaya dan sebagian dari uang pribadi Wilson Liyanto.

“Lalu oknum ini tidak menepati janji dengan perjanjian yang telah disepakati sehingga hutang piutang dengan BPR Christa Jaya dan Wilson Liyanto semakin besar, maka oknum ini menyerahkan rumah, kunci beserta isinya dan aset-aset milik dia,” beber Semuel.

Dia melanjutkan, karena tidak bisa membayar hutang piutang, makanya aset-aset dijual agar mendapat kembali uang hasil pinjamannya di BPR Christa Jaya.

“Agar bisa mengimbangi hutang dia makanya dia melaporkan kembali klien kami dengan tindak pidana pencurian,” ungkapnya.

“Sebab ada yang menggangu klien kami, maka kami juga akan mengganggu nya. Klien kami ini juga masih ada niat baik untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan,” lanjut dia.

Sementara, Fransisco Bernando Bessie menambahkan, pihak nya hari ini juga memberikan keterangan di pihak kepolisian Polres Kupang Kota.

Baca Juga :   Menkominfo Tunggu Koordinasi Hapus Game PUBG

“Apa yang sudah kami sampaikan ini pasti tidak akan berbeda dengan keterangan yang akan kami berikan kepada pihak kepolisian dan data sudah ada. Untuk nanti lebih lanjut bisa ditanyakan ke pihak penyidik,” kata Fransisco.

Sedangkan, Komisaris Utama Bank Christa Jaya Christofel Liyanto saat ditanya wartawan mengenai uang yang ditransfer oleh tersangka Rahmat alias Rafi, membenarkan transferan uang tersebut sebesar Rp 3,5 miliar.

“Akan tetapi ditutupin hutangnya sekitar 40 BPKB mobil, supaya dikasih BPKB nya terhadap 40 orang yang membeli mobil dan membayar hutang yang lain, sedangkan sisanya uangnya diambil oleh Rahmat alias Rafi,” jelas Christofel.

“Jadi untuk tranfer uang itu bukan bayar hutang, tetapi disimpan dan diambil lagi untuk dipakai bayar hutangnya di lain. Untuk hutang di BPR Christa Jaya masih Rp 6,8 miliar, untuk hutang pribadi masih Rp 2 miliar sampai Rp 3 miliar,” pungkasnya. (wil)

Loading...
Loading...
loading...

HUKRIM

Lakalantas Maut di Kupang, Sopir Tewas di Tempat, 5 Penumpang Luka-luka

Published

on

Mobil pikap Suzuki Carry tampak ringsek akibat tabrakan di Jalan Yos Sudarso, Tenau, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Kupang, penatimor.com – Kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) yang mengakibatkan koban jiwa kembali terjadi di Kota Kupang.

Kali ini tabrakan antara sebuah mobil Suzuki Carry jenis pikap dengan mobil Nissan Terano di Jalan Yos Sudarso, tepatnya di dekat gereja katolik Tenau, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Minggu (22/9).

Lakalantas maut yang terjadi sekira pukul 03.40 itu mengakibatkan pengemudi Suzuki Carry dengan nomor polisi DH 9910 AC itu meninggal dunia dan lima penumpang lainnya mengalami luka-luka.

Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Kupang Kota Iptu Rocky Junasmi, S.IK.,MH., kepada wartawan, Minggu (22/9), mengatakan, lakalantas tersebut berawal saat mobil Suzuki Carry bergerak dari arah Bolok menuju Tenau.

Sesampainya di tempat kejadian perkara (TKP), mobil Nissan Terano dengan nomor B 1326 WUJ melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.

Tabrakan kedua mobil yang masing-masing dikemudikan oleh Yoseph Dongi (57) dan Marselinus Liwu (44) itu pun tidak dapat dihindarkan.

“Kedua mobil bertabrakan di tikungan, karena jaraknya yang sudah terlalu dekat,” ujar Rocky.

Dijelaskan, mobil pikap yang dikendarai Yoseph ditumpangi lima orang, masing-masing Maria Undis (52), Doroteus Djehabut (62), Nathalia Martina Ece (37), Saptio Biobernadimus Ngalu (3) dan Kristiano De Alves Djehabut (7).

Para korban merupakan warga RT 12/RW 02, Kelurahan Mbaumuku, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, dan warga Jalan Bhakti Karang RT 18/06, Kelurahan Oebobo, Kota Kupang.

Kasat Lantas melanjutkan, kejadian tersebut mengakibatkan pengedara mobil Suzuki Carry Yoseph Dongi langsung meninggal dunia di TKP.

“Para penumpang mengalami luka-luka dan sedang dirawat di RSUD W.Z. Yohanes Kupang,” ungkapnya.

Ditambahkan, korban meninggal dunia diketahui merupakan warga Jalan Bhakti Karya, RT 21/RW 07, Kelurahan Oebobo, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Baca Juga :   Pencuri Motor di Kampus Undana dan UKAW Ditangkap Polisi

Sedangkan pengemudi mobil Nissan Terano Marselinus Liwu merupakan warga Jalan Timor Raya Km 18, Gudang CV. Bintang Timur l, Desa Tanah Merah, Kecamatan, Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. (wil)

Loading...
Continue Reading

HUKRIM

Bunuh Anak Sendiri, Polisi Segera Periksa Kejiwaan Dewi Regina Ano

Published

on

Tersangka Dewi Regina Ano saat dipindahkan dari RSU SK Lerik Kota Kupang ke Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang.

Kupang, penatimor.com – Proses penyidikan kasus dugaan pembunuhan anak kembar berusia 5 tahun terus dilakukan penyidik Satreskrim Polres Kupang Kota.

Kedua korban merupakan anak dari pasangan suami istri Obir Masus (31) dan Dewi Regina Ano (24).

Polisi telah menetapkan Dewi Regina Ano sebagai tersangka.

Menurut pengakuan Dewi Regina Ano, dirinya nekat menghabisi dua buah hatinya itu lantaran kecewa dan dendam dengan suaminya Obir yang jarang memenuhi kebutuhannya.

Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK., melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH, kepada wartawan, Minggu (22/9), mengatakan, pihaknya akan memeriksaan kejiwaan tersangka ke psikolog.

“Kami akan jadwalkan untuk pemeriksaan tambah terhadap saksi yang juga adalah suami dan para korban,” ujar mantan Kasat Reskrim Polres Sikka itu.

Lanjutnya, selain saksi, juga akan dilakukan pemeriksaan psikolog dan tes psikologi terhadap tersangka.

“Untuk pemeriksaan terhadap tersangka kita akan menyesuaikan dengan kondisi kesehatannya,” tandasnya.

Sebelumnya, warga Jalan Timor Raya, RT 09/RW 03, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, digemparkan dengan kasus dugaan pembunuhan sadis terhadap dua orang anak yang baru berusia 5 tahun.

Kedua korban ditemukan bersimbah darah dengan luka bacok di bagian kepala.

Ibu mereka juga kritis disamping kedua anaknya yang telah meninggal, sehingga harus dilarikan ke RSUD S.K. Lerik Kupang untuk menjalani perawatan intensif.

Kejadian ini diketahui oleh Obir Masus ketika pulang dari kerja sebagai kuli bangunan.

Setibanya di rumah, Obir mendapati pintu rumah dalam keadaan terkunci sehingga ia memanggil kedua anaknya, namun tak kunjung dibuka.

Tidak lama berselang dirinya langsung mendobrak pintu. Saat itu pula ia menemukan kedua buah hati dan istrinya sudah tergeletak di lantai bersimbah darah. (wil)

Baca Juga :   HUT Lantas Ke-64, Polantas di Polda NTT Sumbang 60 Kantong Darah
Loading...
Continue Reading

HUKRIM

Polisi Segera Rekonstruksi Kasus Bunuh Bayi di Kupang

Published

on

Ilustrasi bayi baru lahir (NET)

Kupang, penatimor.com – Polres Kupang Kota tengah melengkapi berkas perkara dugaan pembunuhan bayi oleh ibu kandung saat melahirkan di toilet kos yang berlamat di RT 42/RW 13, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Penyidik berencana akan melakukan rekonstruksi pada Rabu (25/9) mendatang.

Upaya rekonstruksi perbuatan penganiayaan yang mengakibatkan bayi meninggal dunia tersebut bertujuan melengkapi berkas perkara untuk dilimpahkan ke kejaksaan.

Hal tersebut disampaikan Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK., melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH., saat dikonfrimasi di ruang kerjanya, Jumat (20/9).

Dikatakan sudah lima orang saksi termasuk tersangka telah diperiksa namun untuk menguatkan keterangan tersangka maka perlu dilakukan rekonstruksi di tempat kejadian perkara (TKP).

“Kita sudah jadwalkan, akan dilakukan rekonstruksi ulang perkara ini supaya jelas perbuatan dari ibu kandung ini. Rencananya akan dilangsungkan pada hari Rabu pekan depan,” tandasnya.

Selain akan melakukan rekonstruksi, pihak kepolisian masih menunggu hasil autopsi yang dilakukan terhadap korban.

“Hasil autopsi belum keluar dan diharapkan bisa diperoleh dalam waktu dekat sehingga bisa konfontir dengan keterangan tersangka,” imbuhnya.

Sebelumnya, polisi berhasil mengungkapkan pelaku dan motif pembunuhan terhadap bayi malang itu setelah mengamankan ibu korban atas nama Yuliana Virgina Samiyawa Muda (24) asal Desa Balaweling II, Kecamatan Solor, Kabupaten Flores Timur.

Tersangka Yuliana Muda saat melancarkan aksinya itu masih berstatus sebagai mahasiswa Universitas Aryasatya Deo Muri Kupang dan baru menjadi alumni empat hari.

Tersangka diketahui melancarkan aksi pidana penganiayaan anak yang mengakibatkan meninggal dunia tersebut pada Selasa (27/8) dan baru ditemukan membusuk sekitar pukul 13.00, pada Selasa (8/9).

Baca Juga :   Pencuri Motor di Kampus Undana dan UKAW Ditangkap Polisi

Tersangka saat diperiksa mengaku, ayah dari bayi tidak berdosa itu merupakan salah satu pegawai harian lepas di salah sati instansi pemerintahan dan sudah berkeluarga berinisial NA (25).

Namun hubungan gelap antara tersangka dan NA berakhir pada bulan Februari 2019 lalu karena kekasihnya mengetahui kehamilan tersangka dan tidak ingin bertanggung jawab, sehingga tersangka malu dan takut sehingga bayi yang dilahirkan pun mendapat imbasnya.

Terhadap perbuatan tersangka yang menghilangkan nyawa manusia tersebut, dia dijerat dengan pasal 80 ayat 3 Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 sebagaimana perubahan atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, jo Pasal 341 KUHP. (wil)

Loading...
Continue Reading
Loading...




Loading…

error: Content is protected !!