Connect with us

HUKRIM

Rafi Transfer Rp 3,8 Miliar ke BPR Christa Jaya, Sisa Utang Rp 800 Juta

Published

on

Sri Wahyuni didampingi kuasa hukumnya Nusirwin (kanan) dan Anugrah Akbar (kiri) saat ditemui di Mapolda NTT, Kamis (5/9).

Kupang, penatimor.com – Kasus dugaan tindak pidana penipuan dan pengelapan dengan tersangka Rachmat, SE., alias Rafi, berbuntut panjang.

Pasalnya, tersangka dan istrinya Sri Wahyuni melapor balik Christofel Liyanto Cs yang adalah pemilik BPR Christa Jaya, dengan tuduhan pencurian dengan kekerasan dan ancaman dengan kekerasan.

Kasus ini sesuai Laporan Polisi Nomor: LP/B/852/VIII/2019/SPKT Resort Kupang Kota, tertanggal 28 Agustus 2019.

Dari laporan tersebut terkuak, sebelumnya telah terjadi transaksi dari rekwning tersangka dan pelapor ke rekening terlapor.

Hal tersebut disampaikan kuasa hukum terlapor Nusirwin, SH., M.Hum., dan Anugrah Akbar D. SH., kepada wartawan di Mapolda NTT, Kamis (5/9)

Dikatakan, laporan tersebut dilaporkan ke pihak kepolisian karena telah terjadi pencurian perabot rumah, semua isi showroom kurang lebih 30 mobil, hewan peliharaan serta melakukan penyitaan barang jaminan secara sepihak oleh terlapor.

Dijelaskan bahwa barang dijaminkan hanya beberapa aset, namun yang dilakukan penyitaan oleh terlapor bahkan hingga semua isi dalam rumah juga ikut disita.

Termasuk merusak pintu serta barang lainnya saat melakukan penyitaan.

“Mereka masuk pekarangan rumah tanpa izin dan sepihak. Kurang lebih sepuluh orang yang masuk untuk melakukan penyitaan,” katanya.

Diakui bahwa terjadi kesepakatan pinjam meminjam sesuai dengan perjanjian dengan terlapor, namun terlapor tidak bias melakukan penyitaan sepihak karena yang bisa melakukan penyitaan hanya Pengadilan.

Pada kesempatan itu, dia juga membantah adanya pemberian kewenangan dari pelapor selaku korban, dalam laporan ini untuk menduduki aset milik kliennya itu.

“Memang ada utang piutang antara pelapor dan terlapor, namun yang belum dibayar hanya tinggal Rp 800 juta, itu pun tidak macet, namun dipaksa untuk segera melunasinya,” katanya.

Terhadap tekanan yang dilakukan terlapor melalui kekerasan sehingga kliennya terpaksa melarikan diri, namun pada intinya kliennya siap bertanggungjawab atas utangnya itu.

Baca Juga :   Menteri ESDM Ajak Semua Stakeholder  Tingkatkan Rasio Elektrifikasi NTT

“Klien saya mengalami tekanan dan ancaman, maka ia berusaha menghindar dengan melarikan diri,” ungkapnya.

Terkait dengan olah TKP di 5 aset milik terlapor, dia mengaku itu merupakan upaya penyelidikan dari penyidik, karena terdapat barang yang rusak dan hilang.

“Pelapor akan mengembalikan utang yang berkaitan dengan BPR Christa Jaya, karena sebelumnya sudah mentransfer uang tunai kepada terlapor sebanyak Rp 3,8 miliar, sehingga sisa utangnya Rp 800 juta saja,” tambahnya.

Ketika disinggung mengenai laporan dari korban lainnya, dirinya sebagai kuasa hukum mengaku bahwa, sebenarnya ingin berdamai dengan para korban, namun terdapat beberapa korban yang tidak ingin berdamai, sehingga proses hukum terhadap kliennya tetap berlanjut.

Sedangkan terhadap utang terlapor yang tersisa itu, kliennya siap melunasi, namun laporan yang telah dilaporkan itu juga tetap dilanjutkan sesuai aturan hukum yang berlaku.

Sebelumnya penyidik dipimpin Kanit Pidum Polres Kupang Kota, Ipda Yance Kadiaman, SH., melakukan olah TKP di lima aset milik pelapor yang kini dikuasai BPR Christa Jaya, diantaranya showroom mobil bekas, Ayra Sejahtera Mobil (ASM), bengkel mobil di TDM III, perumahan ASM I dan II serta rumah tersangka yang beralamat di Jalan Fetor Foenay No. 9, Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. (wil)

Loading...
Loading...
loading...

HUKRIM

Lakalantas Maut di Kupang, Sopir Tewas di Tempat, 5 Penumpang Luka-luka

Published

on

Mobil pikap Suzuki Carry tampak ringsek akibat tabrakan di Jalan Yos Sudarso, Tenau, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Kupang, penatimor.com – Kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) yang mengakibatkan koban jiwa kembali terjadi di Kota Kupang.

Kali ini tabrakan antara sebuah mobil Suzuki Carry jenis pikap dengan mobil Nissan Terano di Jalan Yos Sudarso, tepatnya di dekat gereja katolik Tenau, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Minggu (22/9).

Lakalantas maut yang terjadi sekira pukul 03.40 itu mengakibatkan pengemudi Suzuki Carry dengan nomor polisi DH 9910 AC itu meninggal dunia dan lima penumpang lainnya mengalami luka-luka.

Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Kupang Kota Iptu Rocky Junasmi, S.IK.,MH., kepada wartawan, Minggu (22/9), mengatakan, lakalantas tersebut berawal saat mobil Suzuki Carry bergerak dari arah Bolok menuju Tenau.

Sesampainya di tempat kejadian perkara (TKP), mobil Nissan Terano dengan nomor B 1326 WUJ melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.

Tabrakan kedua mobil yang masing-masing dikemudikan oleh Yoseph Dongi (57) dan Marselinus Liwu (44) itu pun tidak dapat dihindarkan.

“Kedua mobil bertabrakan di tikungan, karena jaraknya yang sudah terlalu dekat,” ujar Rocky.

Dijelaskan, mobil pikap yang dikendarai Yoseph ditumpangi lima orang, masing-masing Maria Undis (52), Doroteus Djehabut (62), Nathalia Martina Ece (37), Saptio Biobernadimus Ngalu (3) dan Kristiano De Alves Djehabut (7).

Para korban merupakan warga RT 12/RW 02, Kelurahan Mbaumuku, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, dan warga Jalan Bhakti Karang RT 18/06, Kelurahan Oebobo, Kota Kupang.

Kasat Lantas melanjutkan, kejadian tersebut mengakibatkan pengedara mobil Suzuki Carry Yoseph Dongi langsung meninggal dunia di TKP.

“Para penumpang mengalami luka-luka dan sedang dirawat di RSUD W.Z. Yohanes Kupang,” ungkapnya.

Ditambahkan, korban meninggal dunia diketahui merupakan warga Jalan Bhakti Karya, RT 21/RW 07, Kelurahan Oebobo, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Baca Juga :   Wakapolda Ingatkan Siswa SMAN 9 Kupang Patuhi Hukum

Sedangkan pengemudi mobil Nissan Terano Marselinus Liwu merupakan warga Jalan Timor Raya Km 18, Gudang CV. Bintang Timur l, Desa Tanah Merah, Kecamatan, Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. (wil)

Loading...
Continue Reading

HUKRIM

Bunuh Anak Sendiri, Polisi Segera Periksa Kejiwaan Dewi Regina Ano

Published

on

Tersangka Dewi Regina Ano saat dipindahkan dari RSU SK Lerik Kota Kupang ke Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang.

Kupang, penatimor.com – Proses penyidikan kasus dugaan pembunuhan anak kembar berusia 5 tahun terus dilakukan penyidik Satreskrim Polres Kupang Kota.

Kedua korban merupakan anak dari pasangan suami istri Obir Masus (31) dan Dewi Regina Ano (24).

Polisi telah menetapkan Dewi Regina Ano sebagai tersangka.

Menurut pengakuan Dewi Regina Ano, dirinya nekat menghabisi dua buah hatinya itu lantaran kecewa dan dendam dengan suaminya Obir yang jarang memenuhi kebutuhannya.

Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK., melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH, kepada wartawan, Minggu (22/9), mengatakan, pihaknya akan memeriksaan kejiwaan tersangka ke psikolog.

“Kami akan jadwalkan untuk pemeriksaan tambah terhadap saksi yang juga adalah suami dan para korban,” ujar mantan Kasat Reskrim Polres Sikka itu.

Lanjutnya, selain saksi, juga akan dilakukan pemeriksaan psikolog dan tes psikologi terhadap tersangka.

“Untuk pemeriksaan terhadap tersangka kita akan menyesuaikan dengan kondisi kesehatannya,” tandasnya.

Sebelumnya, warga Jalan Timor Raya, RT 09/RW 03, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, digemparkan dengan kasus dugaan pembunuhan sadis terhadap dua orang anak yang baru berusia 5 tahun.

Kedua korban ditemukan bersimbah darah dengan luka bacok di bagian kepala.

Ibu mereka juga kritis disamping kedua anaknya yang telah meninggal, sehingga harus dilarikan ke RSUD S.K. Lerik Kupang untuk menjalani perawatan intensif.

Kejadian ini diketahui oleh Obir Masus ketika pulang dari kerja sebagai kuli bangunan.

Setibanya di rumah, Obir mendapati pintu rumah dalam keadaan terkunci sehingga ia memanggil kedua anaknya, namun tak kunjung dibuka.

Tidak lama berselang dirinya langsung mendobrak pintu. Saat itu pula ia menemukan kedua buah hati dan istrinya sudah tergeletak di lantai bersimbah darah. (wil)

Baca Juga :   Rekonstruksi, Pendeta Sailana Perankan 42 Adegan
Loading...
Continue Reading

HUKRIM

Polisi Segera Rekonstruksi Kasus Bunuh Bayi di Kupang

Published

on

Ilustrasi bayi baru lahir (NET)

Kupang, penatimor.com – Polres Kupang Kota tengah melengkapi berkas perkara dugaan pembunuhan bayi oleh ibu kandung saat melahirkan di toilet kos yang berlamat di RT 42/RW 13, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Penyidik berencana akan melakukan rekonstruksi pada Rabu (25/9) mendatang.

Upaya rekonstruksi perbuatan penganiayaan yang mengakibatkan bayi meninggal dunia tersebut bertujuan melengkapi berkas perkara untuk dilimpahkan ke kejaksaan.

Hal tersebut disampaikan Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK., melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH., saat dikonfrimasi di ruang kerjanya, Jumat (20/9).

Dikatakan sudah lima orang saksi termasuk tersangka telah diperiksa namun untuk menguatkan keterangan tersangka maka perlu dilakukan rekonstruksi di tempat kejadian perkara (TKP).

“Kita sudah jadwalkan, akan dilakukan rekonstruksi ulang perkara ini supaya jelas perbuatan dari ibu kandung ini. Rencananya akan dilangsungkan pada hari Rabu pekan depan,” tandasnya.

Selain akan melakukan rekonstruksi, pihak kepolisian masih menunggu hasil autopsi yang dilakukan terhadap korban.

“Hasil autopsi belum keluar dan diharapkan bisa diperoleh dalam waktu dekat sehingga bisa konfontir dengan keterangan tersangka,” imbuhnya.

Sebelumnya, polisi berhasil mengungkapkan pelaku dan motif pembunuhan terhadap bayi malang itu setelah mengamankan ibu korban atas nama Yuliana Virgina Samiyawa Muda (24) asal Desa Balaweling II, Kecamatan Solor, Kabupaten Flores Timur.

Tersangka Yuliana Muda saat melancarkan aksinya itu masih berstatus sebagai mahasiswa Universitas Aryasatya Deo Muri Kupang dan baru menjadi alumni empat hari.

Tersangka diketahui melancarkan aksi pidana penganiayaan anak yang mengakibatkan meninggal dunia tersebut pada Selasa (27/8) dan baru ditemukan membusuk sekitar pukul 13.00, pada Selasa (8/9).

Baca Juga :   Wakapolda Ingatkan Siswa SMAN 9 Kupang Patuhi Hukum

Tersangka saat diperiksa mengaku, ayah dari bayi tidak berdosa itu merupakan salah satu pegawai harian lepas di salah sati instansi pemerintahan dan sudah berkeluarga berinisial NA (25).

Namun hubungan gelap antara tersangka dan NA berakhir pada bulan Februari 2019 lalu karena kekasihnya mengetahui kehamilan tersangka dan tidak ingin bertanggung jawab, sehingga tersangka malu dan takut sehingga bayi yang dilahirkan pun mendapat imbasnya.

Terhadap perbuatan tersangka yang menghilangkan nyawa manusia tersebut, dia dijerat dengan pasal 80 ayat 3 Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 sebagaimana perubahan atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, jo Pasal 341 KUHP. (wil)

Loading...
Continue Reading
Loading...




Loading…

error: Content is protected !!