Connect with us

HUKRIM

Praperadilan Tersangka Kasus NTT Fair Ditolak

Published

on

Sidang praperadilan tersangka perkara dugaan korupsi proyek NTT Fair, Yuli Afra berlangsung di Pengadilan Negeri Kelas 1A Kupang. Tampak Kasi Penyidikan Bidang Pidsus Kejati NTT, Wijaya diperiksa sebagai saksi di persidangan.

Kupang, penatimor.com – Hakim tunggal Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Kupang, Fransiska D.P. Nino, SH.,MH., menolak praperadilan yang diajukan tersangka Yuli Afra melalui kuasa hukumnya, Rusdinur.

Penyidikan dan penetapan tersangka serta penahanan tersangka Julia Afra dinyatakan sah menurut hukum.

Hal ini dinyatakan secara tegas dalam putusan praperadilan yang diputuskan oleh hakim tunggal dengan Nomor Putusan 07/pid.pra/2019/PN Kupang tanggal 5 September 2019.

Sebelumnya, Rusdinur selaku kuasa hukum pemohon, menuding Kejati NTT tidak profesional dalam melakukan penyidikan, penetapan tersangka maupun penahanan terhadap tersangka Yulia Afra.

Rusdinur juga menyampaikan bahwa kejaksaan ngawur dan asal-asalan dalam menanggapi tanggapan alasan praperadilan yang diajukannya.

Namun tudingan tersebut dimentahkan oleh putusan hakim tunggal praperadilan yang menolak seluruh alasan praperadilan yang diajukan oleh kuasa hukum Yulia Afra.

Hakim menyatakan penetapan tersangka, penyidikan maupun penahanan terhadap Julia Alfa yang diterbitkan dan dilakukan Kejati NTT sah menurut hukum.

Kasi Penkum Kejati NTT Abdul Hakim, kepada wartawan mengatakan, penyidik yang menangani perkara dugaan tindak pidana korupsi dalam pekerjaan pembangunan NTT Fair merupakan penyidik yang profesional.

“Pasca putusan praperadilan ini, penyidik akan tetap dan meneruskan penyelesaian perkara ini sesuai dengan koridor hukum yang berlaku,” kata Abdul Hakim.

Abdul sampaikan, sesuai putusan majelis hakim, menetapkan penyidikan dinyatakan sah dan proses hukum terhadap tersangka tindak pidana korupsi Yuli Afra dilanjutkan.

Majelis hakim dalam putusannya, menyatakan bahwa terkait dengan pemohon tidak dapat diminta pertanggug jawaban, ditolak karena sudah masuk pokok perkara dan itu merupakan kewenangan penyidik.

Selain itu, majelis hakim juga menetapkan penyidikan tidak prematur, penetapan tersangka dan penahanan terhadap pemohon adalah sah karena secara formil sudah sesuai dengan putusan MK dan merujuk ke Pasal 184 KUHAP.

Baca Juga :   Merusak Jualan Nasi Babi di Oebobo, Pelaku Ditangkap, 2 Buron

Peristiwa dalam pekerjaan NTT Fair adalah mengarah ke hukum publik sehingga dalil pememohon tidak beralaskan hukum.

Atas pertimbangan tersebut, majelis hakim dalam putusannya menyatakan penyidikan, penetapan tersangka dan penahanan terhadap pemohon adalah sah. Hakim juga membebankan biaya perkara kepada pemohon.

Sebelumnya kuasa hukum pemohon yakni Rusdinur, sangat tendensius kepada kepentingan pribadi lainnya Yulia Afra.

Dan bukan hanya sekadar melindungi hak-hak tersangka Yulia Afra, Rusdinur awalnya menuding Kejaksaan Republik Indonesia tidak profesional dalam melakukan penyidikan, penetapan tersangka maupun penahanan terhadap tersangka Yulia Afra.

Bahkan Rusdinur kepada salah satu portal berita online juga menyampaikan bahwa kejaksaan dalam menanggapi tanggapan alasan praperadilan yang diajukannya secara ngawur dan asal-asalan.

Namun hari ini, apa yang dicelotehkan oleh pengacara yang bergelar pendidikan sarjana hukum magister hukum tersebut telah tertepis oleh putusan hakim tunggal praperadilan yang menolak seluruh alasan praperadilan yang diajukan oleh kuasa hukum Yulia Afra dan menyatakan penetapan tersangka penyidikan maupun penahanan terhadap Julia Alfa yang diterbitkan dan dilakukan Kejaksaan Tinggi NTT sah menurut hukum.

Adapun media memberitakan bahwa terdapat “17 Fakta Yang Menyudutkan Jaksa di Persidangan Pra-Peradilan NTT Fair”, namun dengan putusan praperadilan, hal tersebut terbantahkan.

Sebelumnya, Rusdinur dalam sebuah media online juga mengomentari terkait tidak perlunya didengar saksi-saksi di sidang praperadilan dengan mengatakan, “Insiden yang memalukan tersebut merupakan ‘pukulan telak’ bagi pihak Jaksa. “Ini ‘pukulan telak’ dan memalukan bagi Jaksa. Independensi dan profesionalisme Jaksa dalam menyidik kasus NTT Fair akan dipertanyakan oleh masyarakat.

Komentar Rusdinur tersebut ditanggapi ringan oleh Jaksa Benfrid Foeh.

“Saksi yang pernah kami hadirkan di sidang praperadilan namun oleh hakim dianggap tidak perlu didengar keterangannya hanya semata-mata ketika itu kami ingin membuktikan secara komprehensif bahwa tindakan penyidikan penetapan tersangka maupun penahanan tersangka yang dilakukan oleh penyidik Kejati NTT telah sesuai koridor hukum dan ternyata berdasarkan putusan praperadilan bahwa tanpa dihadirkan saksi-saksi tersebut pun ternyata penyidikan, penetapan tersangka maupun penahanan terhadap Yulia Arfa telah sah menurut hukum,” kata Benfrid.

Baca Juga :   Guru dan Kepala Sekolah di Sumba Barat Belajar ke Sekolah Dampingan INOVASI

Sementara itu salah satu pengamat hukum yang tidak mau disebutkan namanya, menyampaikan bahwa mengajukan praperadilan terkait sah atau tidaknya suatu penyidikan, penetapan tersangka maupun penahanan merupakan salah satu hak tersangka atau kuasa hukumnya.

Namun hendaknya dengan alasan yang berdasar hukum dan menurut normatif disiplin ilmu yang komprehensif serta tidak salah memaknai mengenai suatu ketentuan sehingga tidak malah terkesan menghambat proses pengungkapan perkara secara cepat dan terkesan menghambat suatu proses perkara. (wil)

Loading...
Loading...
loading...

HUKRIM

Lakalantas Maut di Kupang, Sopir Tewas di Tempat, 5 Penumpang Luka-luka

Published

on

Mobil pikap Suzuki Carry tampak ringsek akibat tabrakan di Jalan Yos Sudarso, Tenau, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Kupang, penatimor.com – Kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) yang mengakibatkan koban jiwa kembali terjadi di Kota Kupang.

Kali ini tabrakan antara sebuah mobil Suzuki Carry jenis pikap dengan mobil Nissan Terano di Jalan Yos Sudarso, tepatnya di dekat gereja katolik Tenau, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Minggu (22/9).

Lakalantas maut yang terjadi sekira pukul 03.40 itu mengakibatkan pengemudi Suzuki Carry dengan nomor polisi DH 9910 AC itu meninggal dunia dan lima penumpang lainnya mengalami luka-luka.

Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Kupang Kota Iptu Rocky Junasmi, S.IK.,MH., kepada wartawan, Minggu (22/9), mengatakan, lakalantas tersebut berawal saat mobil Suzuki Carry bergerak dari arah Bolok menuju Tenau.

Sesampainya di tempat kejadian perkara (TKP), mobil Nissan Terano dengan nomor B 1326 WUJ melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.

Tabrakan kedua mobil yang masing-masing dikemudikan oleh Yoseph Dongi (57) dan Marselinus Liwu (44) itu pun tidak dapat dihindarkan.

“Kedua mobil bertabrakan di tikungan, karena jaraknya yang sudah terlalu dekat,” ujar Rocky.

Dijelaskan, mobil pikap yang dikendarai Yoseph ditumpangi lima orang, masing-masing Maria Undis (52), Doroteus Djehabut (62), Nathalia Martina Ece (37), Saptio Biobernadimus Ngalu (3) dan Kristiano De Alves Djehabut (7).

Para korban merupakan warga RT 12/RW 02, Kelurahan Mbaumuku, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, dan warga Jalan Bhakti Karang RT 18/06, Kelurahan Oebobo, Kota Kupang.

Kasat Lantas melanjutkan, kejadian tersebut mengakibatkan pengedara mobil Suzuki Carry Yoseph Dongi langsung meninggal dunia di TKP.

“Para penumpang mengalami luka-luka dan sedang dirawat di RSUD W.Z. Yohanes Kupang,” ungkapnya.

Ditambahkan, korban meninggal dunia diketahui merupakan warga Jalan Bhakti Karya, RT 21/RW 07, Kelurahan Oebobo, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Baca Juga :   Gelapkan Uang Rp 118 Juta, Karyawan CV NAM Terancam 4 Tahun Penjara

Sedangkan pengemudi mobil Nissan Terano Marselinus Liwu merupakan warga Jalan Timor Raya Km 18, Gudang CV. Bintang Timur l, Desa Tanah Merah, Kecamatan, Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. (wil)

Loading...
Continue Reading

HUKRIM

Bunuh Anak Sendiri, Polisi Segera Periksa Kejiwaan Dewi Regina Ano

Published

on

Tersangka Dewi Regina Ano saat dipindahkan dari RSU SK Lerik Kota Kupang ke Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang.

Kupang, penatimor.com – Proses penyidikan kasus dugaan pembunuhan anak kembar berusia 5 tahun terus dilakukan penyidik Satreskrim Polres Kupang Kota.

Kedua korban merupakan anak dari pasangan suami istri Obir Masus (31) dan Dewi Regina Ano (24).

Polisi telah menetapkan Dewi Regina Ano sebagai tersangka.

Menurut pengakuan Dewi Regina Ano, dirinya nekat menghabisi dua buah hatinya itu lantaran kecewa dan dendam dengan suaminya Obir yang jarang memenuhi kebutuhannya.

Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK., melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH, kepada wartawan, Minggu (22/9), mengatakan, pihaknya akan memeriksaan kejiwaan tersangka ke psikolog.

“Kami akan jadwalkan untuk pemeriksaan tambah terhadap saksi yang juga adalah suami dan para korban,” ujar mantan Kasat Reskrim Polres Sikka itu.

Lanjutnya, selain saksi, juga akan dilakukan pemeriksaan psikolog dan tes psikologi terhadap tersangka.

“Untuk pemeriksaan terhadap tersangka kita akan menyesuaikan dengan kondisi kesehatannya,” tandasnya.

Sebelumnya, warga Jalan Timor Raya, RT 09/RW 03, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, digemparkan dengan kasus dugaan pembunuhan sadis terhadap dua orang anak yang baru berusia 5 tahun.

Kedua korban ditemukan bersimbah darah dengan luka bacok di bagian kepala.

Ibu mereka juga kritis disamping kedua anaknya yang telah meninggal, sehingga harus dilarikan ke RSUD S.K. Lerik Kupang untuk menjalani perawatan intensif.

Kejadian ini diketahui oleh Obir Masus ketika pulang dari kerja sebagai kuli bangunan.

Setibanya di rumah, Obir mendapati pintu rumah dalam keadaan terkunci sehingga ia memanggil kedua anaknya, namun tak kunjung dibuka.

Tidak lama berselang dirinya langsung mendobrak pintu. Saat itu pula ia menemukan kedua buah hati dan istrinya sudah tergeletak di lantai bersimbah darah. (wil)

Baca Juga :   Lagu NTT Antar Via Vallen jadi Trending Topic di YouTube
Loading...
Continue Reading

HUKRIM

Polisi Segera Rekonstruksi Kasus Bunuh Bayi di Kupang

Published

on

Ilustrasi bayi baru lahir (NET)

Kupang, penatimor.com – Polres Kupang Kota tengah melengkapi berkas perkara dugaan pembunuhan bayi oleh ibu kandung saat melahirkan di toilet kos yang berlamat di RT 42/RW 13, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Penyidik berencana akan melakukan rekonstruksi pada Rabu (25/9) mendatang.

Upaya rekonstruksi perbuatan penganiayaan yang mengakibatkan bayi meninggal dunia tersebut bertujuan melengkapi berkas perkara untuk dilimpahkan ke kejaksaan.

Hal tersebut disampaikan Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK., melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH., saat dikonfrimasi di ruang kerjanya, Jumat (20/9).

Dikatakan sudah lima orang saksi termasuk tersangka telah diperiksa namun untuk menguatkan keterangan tersangka maka perlu dilakukan rekonstruksi di tempat kejadian perkara (TKP).

“Kita sudah jadwalkan, akan dilakukan rekonstruksi ulang perkara ini supaya jelas perbuatan dari ibu kandung ini. Rencananya akan dilangsungkan pada hari Rabu pekan depan,” tandasnya.

Selain akan melakukan rekonstruksi, pihak kepolisian masih menunggu hasil autopsi yang dilakukan terhadap korban.

“Hasil autopsi belum keluar dan diharapkan bisa diperoleh dalam waktu dekat sehingga bisa konfontir dengan keterangan tersangka,” imbuhnya.

Sebelumnya, polisi berhasil mengungkapkan pelaku dan motif pembunuhan terhadap bayi malang itu setelah mengamankan ibu korban atas nama Yuliana Virgina Samiyawa Muda (24) asal Desa Balaweling II, Kecamatan Solor, Kabupaten Flores Timur.

Tersangka Yuliana Muda saat melancarkan aksinya itu masih berstatus sebagai mahasiswa Universitas Aryasatya Deo Muri Kupang dan baru menjadi alumni empat hari.

Tersangka diketahui melancarkan aksi pidana penganiayaan anak yang mengakibatkan meninggal dunia tersebut pada Selasa (27/8) dan baru ditemukan membusuk sekitar pukul 13.00, pada Selasa (8/9).

Baca Juga :   Perempuan Sebatang Kara Ditemukan Meninggal di Dalam Kamar

Tersangka saat diperiksa mengaku, ayah dari bayi tidak berdosa itu merupakan salah satu pegawai harian lepas di salah sati instansi pemerintahan dan sudah berkeluarga berinisial NA (25).

Namun hubungan gelap antara tersangka dan NA berakhir pada bulan Februari 2019 lalu karena kekasihnya mengetahui kehamilan tersangka dan tidak ingin bertanggung jawab, sehingga tersangka malu dan takut sehingga bayi yang dilahirkan pun mendapat imbasnya.

Terhadap perbuatan tersangka yang menghilangkan nyawa manusia tersebut, dia dijerat dengan pasal 80 ayat 3 Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 sebagaimana perubahan atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, jo Pasal 341 KUHP. (wil)

Loading...
Continue Reading
Loading...




Loading…

error: Content is protected !!