Connect with us

UTAMA

Bulog NTT Klarifikasi Kasus 80 Ton Beras

Published

on

Kepala Bidang Pengadaan Bulog NTT Alex Malelak saat jumpa pers di kantor nya, Senin (12/8) siang.

Kupang, penatimor.com – Bulog Divisi Regional NTT mengklarifikasi kasus 80 ton beras tidak bermerk yang diamankan oleh pihak Polres Kupang Kota.

Terdapat 70 ton beras tidak bermerk atau tidak berlabel diisi dalam karung putih polos dangan berat 50 kg, yang didatangkan dari Sulawesi Selatan.

Sesuai informasi, beras yang diamankan polisi ini merupakan permintaan dari Bulog Divisi Regional NTT.

Kepala Bulog Divisi Regional NTT melalui Kepala Bidang Pengadaan Alex Malelak, di kantor nya, Senin (12/8) siang, mengatakan, penahanan 70 ton beras tak berlabel di dalam karung polos, karena ada penawaran mitra penjual beras dengan kualitas beras medium yang harga nya Rp 8.300 per kg atau sesuai harga pasar.

“Karena sesuai target sangat jauh, sehingga kita juga masih membutuhkan beras untuk memenuhi kebutuhan penyaluran kita, sehingga penawaran tersebut kami sampaikan,” kata Alex.

“Mau datangkan beras, tapi aturan di Bulog seperti ini, untuk harga sesuai dengan di pasar, dan kami beli beras di sini, bukan di Makassar, pemeriksaan juga di sini,” sambung dia.

Terkait label ini jelas Alex, kecuali beras sudah sesuai standar dan tahap pemeriksaan dari Satker Bulog NTT.

Pada 25 Juli 2019, beras tersebut tiba, dan Bulog turun bersama Satker dan BPK ke pelabuhan untuk mengambil sampel guna memastikan beras tersebut layak atau tidak.

Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata beras tidak sesuai standar yang dipakai Bulog.

Sehingga Bulog tidak berani melakukan kesepakatan dengan penjual.

“Sebab kalau tidak sesuai dengan pemeriksaan, siapa yang mau bertangung jawab. Tapi kalau berasnya sesuai dengan standar, kami berani ambil berapa pun,” sebut dia.

Sedangkan mengenai tonase nya, khususnya berapa ton beras yang harus dibawa, Bulog tidak menentukan harus berapa yang dibawa.

Baca Juga :   Polda NTT Dalami Prostitusi Online, Periksa 8 Saksi

Bulog hanya sampaikan karung putih polos, karena itu ada dalam aturan nya.

“Kami mengambil beras dari penjual kalau kita sudah melakukan pemeriksaan dan sudah sesuai dengan standar, kita pasti ambil,” sebutnya.

Terkait kasus yang ada ini, Bulog juga belum mengetahui kesalahan nya atau mitra kerja nya.

“Untuk kami di Bulog, aturannya seperti itu,” jelasnya.

Terpisah, Andi Abdul Latief selaku penghubung yang dikonfirmasi pada 10 Agustus 2019, mengatakan beras tersebut didatangkan atas permintaan dan kesepakatan secara lisan dengan Bulog NTT pada bulan Mei lalu namun baru terealisasi bulan Juli.

Untuk mendatangkan beras tersebut dikatakan sesuai dengan perjanjian bahwa akan diuji lagi di Bulog setelah beras tersebut tiba, agar memastikan beras tersebut sesuai dengan sampel yang dimasukan ke Bulog atau tidak.

“Jadi permintaan Bulog, datangkan beras polos, karungnya putih dan isinya 50 kilo gram jadi saya datangkan itu. Kemudian beras sesuai maka akan diterima baru dibayar kalau tidak cocok akan dikembalikan,” ujarnya.

Dijelaskan, dirinya hanya penyambung atau memfasilitasi Bulog dengan pemilik beras di Sulawesi untuk memenuhi ketersediaan pangan di NTT.

Ditegaskan, dirinya berani mendatangkan beras tersebut karena atas permintaan pemerintah melalui Bulog dan bukan secara individu.

Kapolres Kupang Kota, AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK., melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Bobby Jacob Mooynafi, membenarkan hal tersebut saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (6/8).

Dijelaskan bahwa pihaknya setelah mendapatkan informasi lalu bergerak melakukan pengamanan beras tersebut saat ada pembongkaran di Pelabuhan Tenau, Kecamatan Alak, Kota Kupang, sekitar pukul 17.00 pada Kamis (25/7).

Disebutkan, sesuai amanat UU Perdagangan menyatakan bahwa barang siapa yang memperdagangkan barang dalam negeri tanpa label maka bisa dipidana.

Baca Juga :   Bantah Ancam Kepsek SMPN 3 Kupang, Lius Kadja Mengaku Tim Sukses Wali Kota

“Kita dalami apakah barang (beras) merupakan barang yang dipersyaratkan dalam UU Perdagangan atau tidak,” tambahnya.

Polisi pun masih berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi NTT mengenai kelayakan beras masuk ke wilayah NTT serta melakukan koordinasi dengan instansi lain untuk permasalahan merk beras.

“Kami telah melayangkan panggilan kepada Dinas Perdagangan Provinsi NTT untuk diperiksa terkait kasus tersebut,” tandas dia.

Pemilik beras diduga melanggar Pasal 104 Undang-Undang (UU) Nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan dengan ancaman hukuman 5 tahun atau denda Rp 5 miliar, jika pelaku usaha tidak menggunakan atau tidak melengkapi label berbahasa Indonesia pada barang yang diperdagangkan dalam negeri. (wil)

Advertisement
Loading...
Loading...

UTAMA

Gunakan Qlue, Warga Kupang Lebih Mudah Laporkan Masalah Lingkungan dan Sosial

Published

on

Peresmian aplikasi Qlue di halaman parkiran M Hotel, Jalan Timor Raya, Kelurahan Kelapa Lima, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Kamis (22/8).

Kupang, penatimor.com – Wujudkan Smart City, Pemerintah Kota Kupang bekerja sama dengan Qlue.

Peresmian aplikasi Qlue atau pelaporan warga Kota Kupang, dilakukan di halaman parkiran M Hotel, Jalan Timor Raya, Kelurahan Kelapa Lima, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.

Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore bersama Chief Commercial Office Qlue (CCO) Maya Arvini, anggota DPRD Kota Kupang, dan tokoh agama, bersama-sama meresmikan Qlue dalam festival “Ayo Berubah”.

Aplikasi Qlue adalah aplikasi yang bisa digunakan warga Kota Kupang dalam melaporkan berbagai masalah lingkungan dan sosial, sehingga diharapkan akan meningkatkan layanan publik pemerintah Kota Kupang.

Chief Commercial Office Qlue (CCO), Maya Arvini, kepada wartawan, Kamis (22/8), mengatakan, dengan aplikasi Qlue ini, masyarakat Kota Kupang bisa melaporkan berbagai masalah lingkungan dan sosial.

Chief Commercial Office Qlue (CCO), Maya Arvini.

Mulai dari masalah sampah, lampu jalan dan rambu lalu lintas yang rusak, kemacetan, pelanggaran lalu lintas, parkiran liar, tunawisma/pengemis, fasilitas anak, pedagang kaki lima liar, pelanggaran bangunan, iklan liar, dan fogging demam berdarah deangue (DBD).

Laporan masyarakat akan ditintindak lanjuti oleh tim quick response dari tujuh perangkat daerah.

Untuk tahap awal, Pemerintah Kota Kupang telah menyiapkan 200 orang tim quick response untuk menindaklanjuti laporan masyarakat.

Pemkot juga menargetkan jumlah pengguna aplikasi Qlue sebanyak 22 ribu orang dengan jumlah laporan masyarakat sebanyak 30 ribu per tahun.

“Untuk MoU Pemkot Kupang dengan aplikasi Qlue dilakukan selama satu tahun,” sebut Arvini.

Ditambahkannya, Qlue dalam waktu dekat ini akan mencoba mamperkenalkan aplikasi ini ke kampus Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

“Untuk mendapat aplikasi Qlue, masyarakat Kota Kupang tinggal mendwonlood di playstore, dan semua fitur sudah ada dan siap digunakan,” pungkas dia. (wil)

Continue Reading

PENDIDIKAN

Guru dan Kepala Sekolah di Sumba Barat Belajar ke Sekolah Dampingan INOVASI

Published

on

Sebanyak 60 tenaga pendidik jenjang pendidikan dasar di Kabupaten Sumba Barat mengikuti kunjungan belajar ke sekolah-sekolah dampingan INOVASI di Kecamatan Tana Righu, Jumat (23/8).

Waikabubak, penatimor.com – Sebanyak 60 tenaga pendidik jenjang pendidikan dasar di Kabupaten Sumba Barat mengikuti kunjungan belajar ke sekolah-sekolah dampingan INOVASI di Kecamatan Tana Righu, Jumat (23/8).

Peserta terdiri dari guru dan kepala sekolah yang telah terpilih menjadi Fasilitator Daerah (Fasda) Program Literasi Kelas Awal dan Kepemimpinan Pembelajaran yang didanai oleh APBD Kabupaten Sumba Barat.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat.

Turut hadir pada kesempatan ini adalah Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat, Yehuda Malorung, Kabid Sekolah Dasar, pengawas sekolah, serta Tim INOVASI.

Dalam arahannya di depan Kantor Dinas Pendidikan, Yehuda menyampaikan bahwa tujuan kunjungan ini adalah sebagai bentuk pengakuan terhadap capaian INOVASI di Sumba Barat sekaligus menjadi ajang pembelajaran bagi Fasda yang akan bertugas di dua kecamatan lainnya.

“Secara prinsip, kunjungan ini berarti mengakui bahwa apa yang dilakukan INOVASI di Kecamatan Tana Righu memiliki dampak yang sangat positif. Kita bisa melihat dampak tersebut di sekolah-sekolah yang dikunjungi hari ini. Selain itu, kunjungan ini juga dilakukan agar Fasda yang akan memulai pendampingan program mendapatkan gambaran seperti apa sekolah-sekolah yang telah diintervensi oleh INOVASI. Harapannya mereka bisa lebih siap dan mendapatkan ide-ide yang dapat diterapkan pada saat pendampingan nanti,” paparnya menjelang keberangkatan ke sekolah.

Untuk diketahui, program Literasi Kelas Awal dan Kepemimpinan Pembelajaran dengan pendanaan APBD akan diimplementasikan di Kecamatan Lamboya dan Wanukaka.

Pelaksanaan kedua program ini merupakan manifestasi komitmen Pemda Sumba Barat untuk mereplikasi hasil rintisan kedua program INOVASI yang telah berakhir tersebut.

Komitmen tersebut dituangkan dalam bentuk anggaran senilai lebih dari Rp 800.000.000. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai pelatihan Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), dan pengadaan buku.

Baca Juga :   Robert Simbolon Penjabat Gubernur NTT, Senin Dilantik Mendagri

Selain itu, Dinas Pendidikan telah mengangkat dua operator sekolah untuk menjadi Fasilitator Kabupaten.

Kedua fasilitator ini akan menjalankan fungsi District Facilitator (DF) INOVASI untuk program Literasi Kelas Awal dan Kepemimpinan Pembelajaran yang didanai oleh APBD.

Peserta kunjungan belajar ini dibagi kedalam empat kelompok, sesuai dengan jumlah sekolah yang akan dikunjungi, yaitu SD Masehi Kareka Nduku, SD Katolik Kalelapa, SD Negeri Mainda Ole, dan SD Negeri Lokory.

Masing-masing kelompok hanya mengunjungi satu sekolah saja. Setelah kunjungan selesai, semua peserta berkumpul di SD Negeri Mainda Ole untuk menyampaikan hasil pengamatannya selama kunjungan kepada kelompok lain.

Kepala Sekolah SD Pogu Katoda yang berada di Kecamatan Wanukaka, Marten T. Poga, mengungkapkan ketakjubannya melihat lingkungan sekolah khususnya ruang kelas SD Negeri Lokory yang dikunjungi kelompoknya.

“Pokoknya wow. Saya tidak bisa berkata-kata,” ungkapnya penuh ekspresi sambil menggambarkan situasi ruang kelas dan perpustakaan yang penuh dengan pajangan dan gambar-gambar menarik untuk mendukung pembelajaran siswa.

Menurutnya, apa yang dilakukan SDN Lokory tidaklah murah. Namun berkat kerja sama antar guru dan dukungan dari masyarakat, hal ini ternyata bukan masalah bagi SDN Lokory.

Ia pun memuji kepemimpinan kepala sekolah SD Negeri Lokory atas upaya sekolahnya untuk menciptakan lingkungan belajar yang literat.

“Kami semua salut dengan usaha kepala sekolah untuk menumbuhkan kerja sama antar guru untuk menciptakan kelas yang literat. Kepala sekolah SDN Lokory juga melibatkan masyarakat sekitar. Ada yang menyumbangkan keahlian menggambarnya, bahkan ada yang menyumbangkan uangnya untuk membeli cat dan bahan-bahan lainnya,” katanya penuh semangat.

Di akhir sesi, Sekretaris Yehuda menekankan pentingnya kejujuran dalam dunia pendidikan dan mengapresiasi sekolah-sekolah dampingan INOVASI di Kecamatan Tana Righu yang telah menjunjung tinggi kejujuran selama pelaksanaan program.

Baca Juga :   Nelayan Oesapa Tenggelam, Tim SAR Lanjutkan Pencarian

Ia mengakui bahwa masih ada guru dan kepala sekolah di Sumba Barat yang menutup-nutupi kondisi kemampuan dan capaian hasil belajar siswa. Ini mengakibatkan intervensi program yang dilakukan bisa tidak maksimal atau bahkan tidak tepat.

Hasil temuannya selama kunjungan menunjukkan bahwa guru-guru dan kepala sekolah sudah mulai terbuka.

“Saya tadi melihat di SD Masehi Kareka Nduku, ada pemetaan kondisi kemampuan membaca siswa. Di bulan Juli, ada empat siswa yang masih belajar mengenal huruf, padahal sudah kelas empat. Ini bagus, karena sekolah tidak lagi malu mengakui bahwa masih ada siswa kelas empat yang baru belajar mengenal huruf. Saya harap sekolah-sekolah di Kecamatan Lamboya dan Wanukaka nantinya juga terbuka dengan kondisi kemampuan siswanya agar kita bisa memberikan pendampingan yang sesuai,” tutupnya.

Setelah menyelasikan dua program rintisan di Sumba Barat hingga Juni lalu, INOVASI akan melanjutkan program Literasi Kelas Awal untuk level dua di Kecamatan Tana Righu hingga akhir tahun 2019. (*/wil)

Continue Reading

HUKRIM

Polisi di Kupang Ciduk Spesialis Copet di Angkot

Published

on

Anus Poi, spesialis copet di angkutan umum Kupang.

Kupang, penatimor.com – Tim Buru Sergap (Buser) Polsek Kelapa lima, Polres Kupang Kota, membekuk Anus Poi (63), spesialis tindak pidana pencurian di angkutan umum di Kota Kupang.

Pelaku diketahui merupakan warga Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Penangkapan pelaku kasus copet di angkutan umum ini atas laporan korban bernama Yulianti Fanggidae (49), warga Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama.

Kapolsek Kelapa Lima AKP Didik Kurnianto, SH., kepada wartawan di ruang kerja, Jumat (23/8) sore, mengatakan, pelaku ditangkap oleh Tim Buru Sergap Polsek Kelapa Lima dipimpin oleh Bripka Pius Riwu.

Dijelaskan Kapolsek, pelaku melakukan pencurian pada Kamis (22/8) dengan tempat kejadian perkara di depan dealer Yamaha Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama.

Awalnya pelaku bersama korban menumpangi angkutan kota jurusan Penfui-Kupang dan duduk bersampingan. Setiba nya di Toko Rukun Jaya, korban turun dari mobil angkutan tersebut untuk berbelanja.

Setelah korban berbelanja barang dan ingin membayar belanjaan barang tersebut, melihat dompet yang tersimpan di dalam tas korban tidak ada lagi.

“Dalam dompet korban berisi uang tunai sebesar Rp 1,3 juta, barang perhiasan emas 15 gram berupa cicin, rantai dan surat- surat penting lainnya. Total kerugian sebesar Rp 25 juta,” ungkap Kapolsek.

Korban langsung melaporkan kejadian tersebut di Polsek Kelapa Lima, dan atas laporan korban, pihak kepolisian langsung melakukan pencarian dan berhasil mengamankan terduga pelaku.

Polisi juga berhasil mengamankan barang bukti di tangan terduga pelaku.

“Barang bukti sebagian sudah dipakai untuk membayar cicilan mobil. Pelaku sudah diamankan di Mapolsek Kelapa Lima untuk proses hukum selanjutnya,” pungkas Kapolsek Kelapa Lima. (wil)

Continue Reading

Loading…




error: Content is protected !!