Connect with us

HUKRIM

Hari Ini Polres Kupang Jadwalkan Periksa Pastor FXP dan Empat Saksi

Published

on

Kasat Reskrim Polres Kupang Iptu Ebed Amalo

Kupang, penatimor.com – Penyidik Unit Pidum Sat Reskrim Polres Kupang mengagendakan pemeriksaan terhadap terlapor FXP, oknum pastor yang diduga melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap Derven Birdat Sunis (38).

Kapolres Kupang AKBP Indera Gunawan, SIK., melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Iptu Ebed Amalo yang dikonfirmasi wartawan, Senin (5/8), mengatakan, pihaknya telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap terlapor FXP pada hari ini.

“Jadwal hari ini mau periksa terlapor, tapi belum datang. Kalau hari ini terlapor tidak datang maka penyidik Pidum Sat Reskrim Polres Kupang akan ke Oepoli untuk periksa terlapor. Biar mempercepat proses hukum,” kata Kasat Reskrim.

Iptu Ebed menambahkan, terkait perkembangan penanganan perkara ini, penyidik sudah memeriksa empat orang saksi. Penyidik juga akan memeriksa empat saksi lagi.

Hingga berita ini diturunkan terlapor FXP belum berhasil dikonfirmasi.

Derven Birdat Sunis

Diberitakan sebelumnya, Derven Birdat Sunis (38), warga RT 03/RW 01, Desa Netemnanu Selatan, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT sekarat setelah dianiaya FXP, seorang pastor (pimpinan umat agama Katolik).

Pastor FXP pun dilaporkan ke Polres Kupang dengan nomor laporan: STPL/D/289/VII/2019/NTT/POLRESKUPANG pada akhir pekan lalu.

Aksi kekerasan dan main hakim sendiri sang pastor paroki itu terjadi pada Selasa, 9 Juli 2019 malam.

Korban, Derven Suni menuturkan kejadian itu berawal dari beberapa ekor ternak sapi milik warga setempat seperti milik Laus Manue masuk ke halaman gereja.

Karena merusak tanaman gereja, beberapa penjaga pastoran mengejar dan melempari sapi-sapi tersebut.

Melihat aksi pelemparan sapi tersebut, korban berusaha menegur mereka.

“Saya tegur Yosep Fallo. Saat itu saya tendang bambu yang dia pegang dan terkena mukanya. Tetapi saat itu saya langsung minta maaf,” tuturnya melalui rilis yang diterima pada Jumat (2/8).

Baca Juga :   Keluarga Korban Minta Edward Sailana Dihukum Berat

Aksi Derven itu ternyata sampai ke telinga Pastor FXP.

Awalnya pelaku mencari korban ke rumah namun tidak bertemu korban karena korban sedang ke Kota Kupang.

Derven Birdat Sunis

Minggu, 28 Juli 2019, tiba- tiba korban Derven dijemput oleh pastor FXP menuju rumah pastoran.

Setelah tiba di pastoran, korban langsung dianiaya hingga terjatuh.

Korban kemudian disuruh masuk ke lopo (salah satu ruangan) dan terus dianiaya oleh FXP.

Tak puas menggunakan tangan kosong, FXP mengambil kayu dan menganiaya korban.

Pelaku FXP lalu mengambil pisau
dan memotong telinga korban hingga nyaris putus. Pelaku juga juga menyulut tubuh korban dengan api rokok.

Tak sampai di situ saja, pelaku kemudian mengambil sebotol minuman keras lokal jenis sopi dan memaksa korban untuk minum.

Karena menolak minum, minuman keras tersebut disiram sang Pastor FXP ke tubuh korban.

“Saat siram saya dengan minuman, ia sempat bilang, saya baptis ulang kamu. Saya ditendang dan jatuh. Saat terjatuh dia paksa buka mulut saya dan ia membuang ludahnya ke mulut saya,” ujar Derven.

Setelah puas menganiaya korban, korban disuruh pulang dengan kondisi penuh luka.

Korban yang juga pengurus gereja kemudian mengadukan ke pimpinan gereja sehingga dilaporkan ke polisi di Polsek Amfoang Timur Polres Kupang.

Tak terima diperlakukan demikian, keluarga korban kemudian membuat laporan polisi ke Polres Kupang.

Kapolres Kupang AKBP Indera Gunawan, SIK melalui Kasat Reskrim Polres Kupang, Iptu Ebed Amalo yang dikonfirmasi kemarin membenarkan kejadian itu.

Ia mengaku kasus itu sudah dilaporkan ke Polres Kupang dan sudah ditangani penyidik Sat Reskrim Polres Kupang.

“Sudah dilaporkan dan sementara dalam proses. Terlapornya romo (pastor),” ujarnya.

Baca Juga :   Pimpinan dan Anggota DPRD NTT Bakal Digugat, Ini Alasannya !

Penyidik yang menangani kasus ini sudah memeriksa pelapor yang juga korban serta sejumlah saksi lainnya.

Polisi juga akan memanggil pelaku Pastor FXP untuk dimintai keterangannya dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. (mel)

Advertisement
Loading...
Loading...

HUKRIM

Polisi di Kupang Ciduk Spesialis Copet di Angkot

Published

on

Anus Poi, spesialis copet di angkutan umum Kupang.

Kupang, penatimor.com – Tim Buru Sergap (Buser) Polsek Kelapa lima, Polres Kupang Kota, membekuk Anus Poi (63), spesialis tindak pidana pencurian di angkutan umum di Kota Kupang.

Pelaku diketahui merupakan warga Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Penangkapan pelaku kasus copet di angkutan umum ini atas laporan korban bernama Yulianti Fanggidae (49), warga Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama.

Kapolsek Kelapa Lima AKP Didik Kurnianto, SH., kepada wartawan di ruang kerja, Jumat (23/8) sore, mengatakan, pelaku ditangkap oleh Tim Buru Sergap Polsek Kelapa Lima dipimpin oleh Bripka Pius Riwu.

Dijelaskan Kapolsek, pelaku melakukan pencurian pada Kamis (22/8) dengan tempat kejadian perkara di depan dealer Yamaha Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama.

Awalnya pelaku bersama korban menumpangi angkutan kota jurusan Penfui-Kupang dan duduk bersampingan. Setiba nya di Toko Rukun Jaya, korban turun dari mobil angkutan tersebut untuk berbelanja.

Setelah korban berbelanja barang dan ingin membayar belanjaan barang tersebut, melihat dompet yang tersimpan di dalam tas korban tidak ada lagi.

“Dalam dompet korban berisi uang tunai sebesar Rp 1,3 juta, barang perhiasan emas 15 gram berupa cicin, rantai dan surat- surat penting lainnya. Total kerugian sebesar Rp 25 juta,” ungkap Kapolsek.

Korban langsung melaporkan kejadian tersebut di Polsek Kelapa Lima, dan atas laporan korban, pihak kepolisian langsung melakukan pencarian dan berhasil mengamankan terduga pelaku.

Polisi juga berhasil mengamankan barang bukti di tangan terduga pelaku.

“Barang bukti sebagian sudah dipakai untuk membayar cicilan mobil. Pelaku sudah diamankan di Mapolsek Kelapa Lima untuk proses hukum selanjutnya,” pungkas Kapolsek Kelapa Lima. (wil)

Continue Reading

HUKRIM

Polresta Kupang Tangkap Rafi Fiky di Makassar, Ada 30 Laporan Polisi

Published

on

Tersangka Rafi Fiky saat digiring menuju Mapolres Kupang Kota, Jumat (23/8).

Kupang, penatimor.com – Pelarian Rafi Fiky, SE., alias Rahmat alias Rafi berakhir.

Tersangka kasus dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan tersebut akhirnya ditangkap polisi dari Polres Kupang Kota.

Pria 35 tahun itu merupakan buronan polisi baik Polres Kupang Kota maupun Polda NTT selama dua tahun terakhir.

Dia menghilang dari Kota Kupang sejak awal tahun 2017 karena tersangkut sejumlah kasus.

Polisi bahkan menerima puluhan laporan polisi terkait Rafi. Di Polda NTT terdapat sekitar 19 laporan polisi dan di Polres Kupang Kota sebanyak 11 laporan polisi.

Tersangka ditangkap pada Kamis (21/8) malam, sekitar pukul 22.00 di Jalan Poros Taman Subian Indah, Kecamatan Bireng Kanaya, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Penangkapan dilakukan tim Buru Sergap (Buser) Sat Reskrim Polres Kupang Kota dipimpin Kanit Pidum Sat Reskrim Polres Kupang Kota Ipda Yance Kadiaman, SH.

Tim Polres Kupang Kota tiba di Kota Kupang, Jumat (22/8) malam sekitar pukul 18.10 menggunakan pesawat Garuda Airlines nomor penerbangan GA-678.

Rafi tidak sendirian. Polisi juga membawa serta Sri, istri Rafi karena diduga terlibat dalam sejumlah perkara yang melibatkan tersangka Rafi. Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK., didampingi Waka Polres Kupang Kota, Kompol Edward Jacky Tofany Umbu Kaledi, SH SIK MM, Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH., MHum., Kaur Bin Ops Sat Reskrim Polres Kupang Kota, Ipda I Wayan Pasek Sujana, SH., dan Kanit Pidum, Ipda Yance Kadiaman, SH., di Mapolres Kupang Kota mengakui kalau Rafi sudah lama menjadi buronan polisi.

“(Tersangka) kasus penipuan dan penggelapan dan sudah DPO sejak dua tahun lalu,” ujar Kapolres Kupang Kota.

Baca Juga :   Mobil Terobos Arena CFD, Tabrak Kerumunan Pengunjung yang Sedang Makan

Penangkapan ini pun berkat kerja sama Polres Kupang Kota dengan tim khusus Dit Reskrim Polda Sulawesi Selatan.
Selain mengamankan Rafi dan istrinya, polisi juga mengamankan barang bukti 45 lembar STNK mobil berbagai merk, 18 foto copy sertifikat tanah, 1 bundel penyerahan aset, sejumlah ATM dan buku tabungan bank Mandiri dan BCA.

“Karena kita sudah amankan maka kita proses sidik dan di Polres Kupang Kota sendiri ada 11 laporan polisi,” tambah Kapolres Kupang Kota.

Polres Kupang Kota sudah menerima laporan sejak 2017 lalu. Pasca laporan kasus ini, tersangka Rafi kabur dan dijadikan DPO.

“Terkait dengan penipuan masalah mobil dan perumahan yang sudah terjadi beberapa tahun. Ada belasan LP yang kita terima,” ujar Kapolres.

Sambungnya, pihak Polres Kupang Kota masih membuka peluang dan ruang kepada masyarakat baik di dalam dan di luar Kota Kupang yang merasa ditipu oleh tersangka agar membuat laporan polisi sehingga bisa diproses.

Rafi sendiri langsung ditahan dan dikenakan pakaian tahanan. Sementara Sri sang istri masih dijadikan saksi. Sejak Jumat (22/8) malam, tersangka Rafi dijebloskan dalam sel Polres Kupang Kota hingga 20 hari kedepan sambil menunggu proses hukum lebih lanjut.

Tersangka dikenakan Pasal 372 dan Pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. (wil)

Continue Reading

HUKRIM

Siswa SMA Pelaku Cabul di Kupang Segera Disidangkan

Published

on

Tersangka Jimy Lona

Kupang, penatimor.com – Kejaksaan Negeri Kabupaten Kupang menyatakan berkas perkara dugaan pencabulan dan pemerkosaan dengan tersangka Jimy Lona (18), siswa kelas II SMA telah lengkap atau P-21.

Pihak penyidik Polres Kupang kemudian melimpahkan penanganan perkara ini ke pihak kejaksaan.

Kamis (22/8), penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reskrim Polres Kupang menyerahkan tersangka, berkas perkara dan barang bukti ke Kejari Kabupaten Kupang di Oelamasi.

Penyerahan dilakukan Kanit PPA Sat Reskrim Polres Kupang Ipda Fridinari Kameo, SH., diterima jaksa di Kejaksaan Negeri Kabupaten Kupang, Dewi Humau SH.

Kapolres Kupang AKBP Indera Gunawan, SIk., melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Iptu Simson Led Libranos Amalo, SH., didampingi Kanit PPA Sat Reskrim Polres Kupang Ipda Fridinari Kameo, SH., membenarkan hal tersebut saat dikonfirmasi, Kamis (22/8) di kantornya.

“Berkas nya sudah lengkap dan dinyatakan P-21, sehingga kita limpahkan penanganan lebih lanjut ke kejaksaan,” kata Kasat.

Tersangka Jimy Lona sudah ditahan sejak 1 Juli 2019 lalu. Warga dusun V kampung Oelea Desa Uitao Kecamatan Semau kabupaten Kupang Provinsi NTT ini diamankan polisi pasca menganiaya dan menyetubuhi secara paksa seorang siswi SMP YB (15).

Korban yang baru tamat SMP dan sedang mencari sekolah untuk mendaftar SMA ini mengalami trauma berat serta mengalami sejumlah luka pada sekujur tubuhnya. YB yang tinggal di Dusun V Desa Huilelot Kampung Uinao Kecamatan Semau dan bertetangga dengan desa pelaku harus mengurungkan niatnya melanjutkan pendidikan karena peristiwa ini.

Sabtu (29/6) siang sekitar pukul 13.00 wita, korban berjalan kaki seorang diri hendak ke rumah pamannya, Jhon Bati di Desa Uitao.

Dalam perjalanan tersebut, tersangka yang selama ini memendam rasa cinta denhan korban membuntuti korban.

Baca Juga :   Sopir Mabuk, Mikrolet Terbalik dan Tabrak Avanza di Lasiana

Tersangka mengambil jalan pintas lain dan di tempat yang sepi ia menghadang korban. kemudian mendekap korban dan menyeret korban. Korban berusaha berteriak namun upaya nya sia-sia karena jarak rumah penduduk yang cukup jauh.

Tersangka menyeret paksa tubuh korban dan memukuli korban. Ia mencekik leher korban saat korban berteriak minta tolong. Karena korban melakukan perlawanan, tersangka membanting tubuh korban ke tanah sehingga korban tak berdaya.

Korban pun pasrah saat tersangka mencopot seluruh pakaian yang dikenakan korban. Tersangka menyetubuhi korban secara paksa. Korban masih melakukan perlawanan. Namun tersangka mengancam akan mengikat tubuh korban dan pelaku akan memanggil rekannya yang lain untuk memperkosa korban beramai-ramai jika korban masih memberikan perlawanan.

Usai menyetubuhi korban, tersangka kembali mengajak korban ke sungai guna melanjutkan aksinya. Korban yang merasa tak berdaya berusaha membujuk tersangka agar mendahului korban di sungai.

Saat tersangka pergi, korban memilih kabur dan melarikan diri dalam keadaan tanpa pakaian sambil berteriak meminta bantuan warga. Korban malah nyasar di rumah tersangka dan bertemu dengan orang tua serta kerabat tersangka yang saat itu sedang menyiram tanaman bawang merah.

Yusak, salah seorang kerabat tersangka langsung menghampiri korban memberikan selembar kain dan menutupi tubuh korban. Orangtua tersangka kaget mendengar pengakuan korban kalau ia baru saja dianiaya dan disetubuhi paksa oleh tersangka. Sementara tersangka sendiri sudah melarikan diri di kebun.

Dominggus Lona, orangtua tersangka berinisiatif menghubungi Daud B, orangtua korban mengabarkan peristiwa tersebut dan orangtua korban memilih melaporkan ke polisi.

Polisi di Polsek Semau juga berhasil menangkap tersangka di kebun dan diserahkan ke Polres Kupang.

Tersangka Jimy Lona mengaku kalau selama ini ia memendam rasa cinta kepada korban. Namun rasa itu belum diungkapkan. Korban pun selama ini hanya berteman biasa dengan pelaku.

Baca Juga :   Aloysius Abi Yakin Lolos ke DPR RI dari Dapil NTT Dua

“Sudah lama saya naksir dia (korban). Hanya saya belum ungkap rasa cinta saya,” tandasnya.

Ia memilih menggunakan cara kekerasan berujung pada pemerkosaan. Diakui pula kalau sudah lama ia memantau korban dan memanfaatkan kesempatan saat korban berjalan seorang diri.

Tersangka yang tahun ini tidak naik kelas karena sering bolos pun pasrah dengan proses yang dihadapi. Tersangka mengakui kalau ia terlebih dahulu menganiaya korban karena korban melakukan perlawanan.

Korban sendiri mengalami luka pada lutut kiri dan kanan, memar pada perut dan dada serta bekas cekikan pada leher. Korban mengaku kalau seluruh badannya sakit karena sempat dibanting korban di tanah sebelum disetubuhi.

Polisi menjerat tersangka dengan Pasal 76D jo Pasal 81 ayat (1) Undang-undang RI tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (wil)

Continue Reading

Loading…




error: Content is protected !!