Connect with us

HUKRIM

Wali Kota Kupang Perintah Inspektorat Periksa Kasus Penganiayaan ASN Balitbang

Published

on

Malise Christin Sjioen tampak bersimbah darah akibat dianiaya rekan kerjanya. Foto: Istimewa

Kupang, penatimor.com – Terkait kasus dugaan penganiayaan antara dua Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kota Kupang, yang merupakan staf di Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbang) Kota Kupang, telah ditangani oleh Inspektorat Daerah Kota Kupang.

Hal ini dijelaskan Penjabat Sekretaris Daerah Kota Kupang, Elvianus Wairata, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (12/7).

Elvianus menjelaskan, kasus perkelahian dua ASN Kota Kupang ini telah dilaporkan kepada Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore, dan diinstruksikan kepada Inspektorat Daerah untuk melakukan pemeriksaan sesuai dengan aturan yang ada.

“Kami ingin agar ada pembinaan secara pemerintahan. Kasus ini juga sudah dilaporkan ke pihak kepolisian yang dilaporkan oleh korban, namun kami sebagai aparat pemerintah juga wajib memeriksanya,” katanya.

Menurut Elvinaus, kasus ini sudah sementara dalam proses pemeriksaan Inspektorat Daerah Kota Kupang.

Nantinya ketika sudah ada hasil pemeriksaan, maka akan dilaporkan kepada Wali Kota Kupang, untuk mengambil kebijakan dan mengambil keputusan sesuai aturan yang berlaku.

“Ini menjadi suatu pembelajaran berharga, agar jangan sampai ada ASN yang merupakan aparatur negara, mengulang masalah seperti ini, tentunya pemerintah adalah pelayan masyarakat, yang harusnya memberikan teladan yang baik,” terangnya.

Elvianus mengaku, untuk hukuman disiplin yang akan diberikan, memang harus menunggu sampai adanya hasil pemeriksaan Inspektorat, agar sanksi yang diberikan juga sesuai dengan petunjuk.

“Karena ada kategori ringan, sedang dan berat. Kalau berat maka dinonjobkan, tetapi kita harus melihat dari hasil pemeriksaan, sampai saat ini kami terus berupaya agar prosesnya berjalan lancar,” ungkapnya.

Elvianus mengaku, pembinaan ASN dirasakan sangat penting, karena sudah terjadi hal seperti ini. Tentunya penguatan kapasitas dan pembinaan terhadap ASN harus ditingkatkan lagi.

Baca Juga :   IAD Pusat Bantu Korban Bencana di NTT

“Kami tidak mau nanti ke depannya akan ada masalah-masalah seperti ini lagi. Jangan sampai akan merusak nama baik dan mengganggu kinerja staf lainnya,” ungkapnya.

Sementara, Polda NTT menindaklanjuti laporan kasus dugaan penganiayaan yang diadukan Malise Christin Sjioen (35).

Laporan dari salah satu Kasubag di Litbang Kota Kupang itu akan ditindaklanjuti dengan memintai keterangan para pihak terkait.

Korban Malise Christin Sjioen mempolisikan bendahara kantornya Angelina Masneno.

Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Jules Abraham Abast saat dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya, belum lama ini, mengatakan, pelapor dalam laporannya juga menyebutkan saksi Sulkarnaen Maldewa (40) yang juga ASN Balitbang Kota Kupang.

Kombes Jules menguraikan kronologi kasus tersebut, dimana bermula saat kegiatan workshop yang diadakan kantor Balitbang Kota Kupang.

Pelapor sebagai panitia, sedangkan terlapor merupakan bendahara Balitbang.

Setelah selesai workshop tersebut, urai Kabid Humas, korban menanyakan kepada terlapor terkait pembayaran hak mereka.

Namun yang dibayarkan hanyalah honor kepada peserta workshop, sedangkan uang tranportasi tidak dibayarkan.

Saat ditanya pelapor, terlapor menjawab: “Suka-suka saya, kalau tidak dibayar kenapa”.

Setelah menjawab demikian, terlapor mendorong korban dan menutup pintu ruangannya.

Sehingga di dalam ruangan hanya ada terlapor, pelapor dan saksi Sulkarnaen.

Saat di dalam ruangan tersebut, terjadi perselisihan dan cekcok antara pelapor dan terlapor.

Terlapor lalu melempari korban dengan hekter namun tidak mengenai korban.

Tidak hanya itu, terlapor juga mengambil pelubang kertas lalu memukul ke bagian pelipis kiri korban sehingga mengalami luka robek.

“Kasus ini sudah ditangani Direktorat Reskrimum Polda NTT dan kasusnya dalam penyelidikan,” kata Kombes Jules.

“Kita juga masih mengalami kendala, karena kejadian di dalam ruangan kantor, saksi-saksi juga merupakan rekan kerja dari pelapor dan terlapor. Pelapor maupun terlapor sampai saat ini belum bisa memberikan keterangan terkait masalah ini,” lanjut dia.

Baca Juga :   Pemkot Segera Bentuk Pansel Sekda

Mantan Kapolres Manggarai Barat itu menambahkan, dalam waktu dekat, penyidik akan memanggil pelapor, terlapor dan para saksi.

“Sehingga kita akan cepat mengetahui. Kami juga sudah melakukan visum terhadap korban,” sebut dia.

Korban juga sampai saat ini masih dirawat intensif di Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Titus Uly Kupang.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Balitbang Kota Kupang Hendrik Saba belum berhasil dikonfirmasi. (wil)

Loading...
Loading...
loading...

HUKRIM

Dewi Regina Ano: Saya Mau Mati dengan Anak-anak

Published

on

Tersangka Dewi Regina Ano saat dipindahkan dari RSU SK Lerik Kota Kupang ke Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang.

Kupang, penatimor.com – Dewi Regina Ano (24) tersangka kasus pembunuhan anak kembarnya mulai pulih dari luka-luka yang dialaminya, setelah dirawat di ruang Cendana 10 Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang yang merupakan ruang khusus untuk tersangka dan tahanan.

Sejak pindah ke rumah sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang, tl tersangka mengaku siap menjalani proses hukum yang bakal dihadapinya.

“Saya siap beri keterangan dan diperiksa,” ujar Dewi Ano, ibu kandung dari dua korban.

Dewi juga mengaku pasrah dengan proses hukum yang bakal dihadapi. Tersangka mengaku sering dianiaya suaminya Obis Masus walau hanya masalah sepele namun ia enggan melaporkan ke polisi karena berharap sang suami bisa bertobat.

“Saya juga bingung tiba-tiba keluarga suami di kampung tidak mau omong (bicara) dengan saya dan itu sudah lama,” ujarnya.

Kekesalan pada suami makin memuncak manakala tersangka meminta uang untuk membeli pembalut dan mengobati sakit keputihan yang dialaminya.

Tersangka mengaku bahwa ia tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga ia hanya berharap uang dari sang suami namun sang suami sering mengabaikan permintaannya. Karena jengkel dan kesal dengan sang suami, tersangka mengaku secara spontan terbersit niat untuk bunuh diri.

Ia juga memikirkan 2 anak yang masih kecil sehingga ia juga memilih menghabisi anak-anaknya.

“Saya mau mati dengan anak-anak. Karena kalau hanya saya yang mati maka saya takut anak-anak menderita dan tidak ada yang urus,” ungkapnya.

Lanjutnya, sangat menyayangi kedua anak kembarnya, namun ia nekat melakukan aksi pidana itu karena kemarahan yang memuncak pada suami.

Terpisah Obir Masus (31) membantah keterangan istri nya. Ia mengaku seluruh uang penghasilan dari hasil kerja sebagai tukang diberikan kepada tersangka.

Baca Juga :   Wagub Akui Tata Ruang di NTT Belum Maksimal

“Semua upah saya kasi ke dia (tersangka/istri). Dia yang kelola uang nya,” ujar Obir Masus.

Obir juga membantah sering memukuli tersangka. “Memang ada masalah kecil-kecil tapi saya tidak sampai pukul,” ujarnya.

Tersangka kini telah menjalani masa tahanan di Mapolres Kupang Kota dan siap diperiksa.

Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana P Tarung Binti, SIK melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Bobby Jacob Mooy Nafi, SH.,MH, kepada wartawan, Selasa (17/9) mengatakan tersangka dinyatakan sehat setelah menjalani perawatan medis di RSB Titus Uly Kupang.

Ditambahkan setelah dinyatakan sembu, pihaknya langsung menyebloskan tersangka ke ruang tahan untuk proses hukum lanjutan.

“Kami sudah menahan tersangka untuk proses hukum lanjutannya,” ujar Mantan Kasat Reskrim Polres Sikka itu.

Lanjutnya, pihaknya juga akan mulai memeriksa tersangka atas kejadian yang dilakukannya. Selain tersangka, penyidik juga akan melakukan pemeriksaan tambahan kepada saksi Obir Masus dan akan dilakukan tes psikologi terhadap tersangka.

“Kami baru menahan ibu dari dua orang korban ini dan segera diperiksa,” tandasnya.

Sebelumnya, warga jalan Timor Raya, RT 09/RW 03, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, digemparkan dengan kasus dugaan pembunuhan sadis terhadap dua orang anak yang baru berusia 5 tahun.

Kedua korban ditemukan bersimbah darah dengan luka bacok di bagian kepala. Ibu mereka juga kritis di samping kedua anaknya yang telah meninggal, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit S.K Lerik Kupang untuk menjalani perawatan intensif.

Kejadian ini diketahui oleh Obir Masus ayah mereka, sendiri ketika pulang dari kerja sebagai kuli bangunan. Setibanya di rumah, Obir mendapati pintu rumah dalam keadaan terkunci sehingga ia memanggil kedua anaknya, namun tak kunjung dibuka.

Baca Juga :   OTT BUMN, KPK Tangkap Direktur Krakatau Steel

Tidak lama berselang dirinya langsung mendobrak pintu. Saat itu pula ia menemukan kedua buah hati dan istrinya sudah tergeletak di lantai bersimbah darah.

Terhadap tersangka, polisi menjerat nya dengan pasal 80 ayat (3), (4) undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Sub Pasal 338 KUHP. Tersangka pun terancam hukuman 20 tahun penjara.

“Ancaman hukuman adalah 20 tahun penjara untuk pasal yang kita kenakan. Namun jika pembunuhan dilakukan oleh orang tua terhadap anak nya, maka ancaman hukuman ditambah sepertiga dari ancaman hukuman,” ujar Iptu Bobby. (wil)

Loading...
Continue Reading

HUKRIM

Pembunuh Anak Kembar di Kupang Ditahan Polisi

Published

on

Tersangka Dewi Regina Ano saat dipindahkan dari RSU SK Lerik Kota Kupang ke Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang.

Kupang, penatimor.com – Penyidikan kasus dugaan pembunuhan anak kembar Angga Masus (5) dan Angki Masus (5) terus dilakukan penyidik Polres Kupang Kota.

Tersangka Dewi Regina Ano (24) setelah menjalani perawatan medis atas luka yang dideritanya langsung ditahan di Mapolres Kupang Kota.

Korban dalam peristiwa tersebut yakni anak kandung tersangka sendiri. Kedua korban merupakan anak kembar dari hubungannya dengan suami istri Obir Masus (31).

Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK., melalui Kasat Reskrim Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH, kepada wartawan, Selasa (17/9), mengatakan, tersangka dinyatakan sehat setelah menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang.

Ditambahkan, setelah dinyatakan sembuh, pihaknya langsung menjebloskan tersangka ke tahanan untuk proses hukum lanjutan.

“Kami sudah menahan tersangka untuk proses hukum lanjutannya,” ujar mantan Kasat Reskrim Polres Sikka itu.

Lanjutnya, pihaknya juga akan mulai memeriksa tersangka atas kejadian yang dilakukannya.

Selain tersangka, penyidik juga akan melakukan pemeriksaan tambahan kepada saksi Obir Masus dan akan dilakukan tes psikologi terhadap tersangka.

“Kami baru menahan ibu dari dua orang korban ini dan segera diperiksa,” tandasnya.

Sebelumnya, warga Jalan Timor Raya, RT 09/RW 03, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, digemparkan dengan kasus dugaan pembunuhan sadis terhadap dua orang anak yang baru berusia 5 tahun.

Kedua korban ditemukan bersimbah darah dengan luka bacok di bagian kepala. Ibu mereka juga kritis di samping kedua anaknya yang telah meninggal, sehingga harus dilarikan ke RSUD S.K. Lerik Kupang untuk menjalani perawatan intensif.

Kejadian ini diketahui oleh Obir Masus ketika pulang dari kerja sebagai kuli bangunan.

Setibanya di rumah, Obir mendapati pintu rumah dalam keadaan terkunci sehingga ia memanggil kedua anaknya, namun tak kunjung dibuka.

Baca Juga :   Banyak Jabatan Lowong, Pemkot Kupang Dinilai Sangat Lamban Tata Birokrasi

Tidak lama berselang dirinya langsung mendobrak pintu. Saat itu pula ia menemukan kedua buah hati dan istrinya sudah tergeletak di lantai bersimbah darah.

Menurut pengakuan Dewi Regina Ano, ia nekat menghabisi dua buah hatinya itu lantaran kecewa dan dendam dengan suaminya Obir yang jarang memenuhi kebutuhannya. (wil)

Loading...
Continue Reading

HUKRIM

Polisi Segera Periksa Bagian Kredit BPR Christa Jaya

Published

on

Pemilik BPR Christa Jaya, Christofel Liyanto saat berbincang dengan pelapor Sri Wahyuni di ruang Sat Reskrim Polres Kupang Kota, Kamis (12/9).

Kupang, penatimor.com – Penyidik Unit Pidum Sat Reskrim Polres Kupang Kota telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi terlapor dari BPR Christa Jaya.

Pemeriksaan ini berdasarkan laporan polisi Sri Wahyuni terhadap pemilik BPR Christa Jaya dengan sangkaan pencurian dengan kekerasan dan ancaman dengan kekerasan.

Kasus ini sesuai laporan polisi Nomor LP/ B/852/VIII/2019/SPKT Resort Kupang Kota tertanggal 28 Agustus 2019.

Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana PT. Binti, SIK., melalui Kasat Reskrim Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH., di ruang kerjanya, Kamis (19/9) siang, mengatakan, terkait laporan tersebut, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap saksi terlapor.

Dijelaskan Kasat, untuk laporan Sri Wahyuni selaku istri tersangka Rahmat alias Rafi, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap salah satu saksi terlapor, Wilson Liyanto.

Pemeriksaan dilakukan pada Jumat (13/9) dan saksi terlapor didampingi oleh kuasa hukum Samuel Haning, SH.,M.Hum.

Mantan Kasat Reskrim Polres Sikka ini juga sampaikan, pekan depan penyidik juga akan melakukan pemeriksaan tambahan terhadap saksi terlapor dan juga sejumlah saksi tambahan.

“Nanti kami akan buat surat panggilan pemeriksaan terhadap staf pada bagian pengurusan kredit, untuk mengecek tentang besar pinjaman dan barang- barang yang dijaminkan,” kata Kasat Bobby.

“Setelah itu kita akan segera melakukan gelar perkara,” imbuhnya.

Terpisah, Samuel Haning yang dikonfirmasi via ponsel, membenarkan pemeriksaan terhadap kliennya Wilson Liyanto. (wil)

Loading...
Continue Reading
Loading...




Loading…

error: Content is protected !!