Connect with us

HUKRIM

Divonis MA 10 Tahun, Kadis Perindag Sarai Dijebloskan ke Lapas

Published

on

Terpidana Lewi Tandi Rura (baju putih) bersama Jaksa Eksekutor S. Hendrik Tiip di kantor Kejati NTT, Jumat (12/7).

Kupang, penatimor.com – Jaksa Eksekutor Kejati NTT melakukan eksekusi putusan Kasasi Mahkamah Agung (MA) RI terhadap mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten Sabu Raijua (Sarai), Lewi Tandi Rura, SE., yang divonis hukuman 10 tahun penjara.

Eksekusi putusan dilakukan dengan menjebloskan Lewi Tandi Rura ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kupang untuk menjalani masa hukuman sebagai terpidana sesuai putusan dimaksud.

Jaksa Eksekutor S. Hendrik Tiip, SH., memasukan terpidana Lewi Tandi Rura ke Lapas Kupang sekira pukul 11.30, Jumat (13/7).

“Kami sudah masukan terpidana Lewi Tandi Rura ke Lapas Dewasa Kupang, sesuai surat perintah eksekusi putusan dari Kajari Sabu Raijua,” kata Hendrik Tiip yang ditemui di kantornya Jumat sore kemarin.

Sekadar tahu, diktum putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia terhadap terdakwa perkara korupsi proyek tambak garam di Kabupaten Sabu Raijua tersebut juga menetapkan Lewi Tandi Rura dihukum membayar denda sebesar Rp 500 juta.

Apabila tidak membayar, maka diganti hukuman 8 bulan kurungan.

Putusan Kasasi menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani terdakwa, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan, dan memerintahkan agar terdakwa segera ditahan.

Putusan kasasi ini jauh lebih tinggi dari putusan sebelumnya, dimana di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Kelas 1A Kupang, Lewi divonis 7 tahun penjara.

Sementara putusan banding Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Tinggi Kupang memvonis hukuman 6 tahun penjara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati NTT Hendrik Tiip, kepada wartawan di Kupang, Selasa (18/6) siang, mengatakan, pihaknya baru menerima pemberitahuan tentang putusan dimaksud.

“Baru informasi awal dari panitera. Salinan putusannya belum kami terima. Kalau sudah di kami, segera dilaporkan ke Kajari Sabu Raijua untuk dilakukan eksekusi putusan kasasi,” kata Hendrik.

Sebelumnya, terdakwa Lewi Tandi Rura dituntut JPU dengan hukuman 18 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. (mel)

Advertisement
Loading...
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Lakukan Penganiayaan dan Rampas Motor, Sepasang Kekasih Terancam 4 Tahun Penjara

Published

on

Pelaku Marten Litik (baju merah) saat diamankan tim Buser Polres Kupang Kota.

Kupang, penatimor.com – Tim Buru Sergap (Buser) Polres Kupang Kota berhasil menangkap pelaku dugaan tindak pidana penganiayaan dan perampasan sepeda motor.

Tersangka kasus ini bernama Marten Litik (56), warga Kelurahan Lasiana.

Kejadian penganiayaan dilakukan pada tanggal 15 Mei 2019, dengan tempat kejadian perkara (TKP) di Jalan Oe Ekam, dekat gedung gereja GMIT Pniel Sikumana.

Selanjutnya, tersangka ditangkap di Bandara El Tari Kupang, ketika baru kembali dari Kabupaten Sumba Timur.

Tersangka ditangkap tim yang dipimpin langsung oleh Kanit Pidum Ipda Yance Kadiaman, SH., bersama Kanit Buser Aipda Yance Sinlaloe.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH., melalui Kanit Pidum Ipda Yance Kadiaman di Mapolres Kupang Kota, membenarkan penangkapan tersebut.

Yance jelaskan, tindak pidana penganiayaan dilakukan pelaku Marten Litik bersama pacarnya IF terhadap korban Lasar Mani.

Sedangkan tersangka IF sudah terlebih dahulu diamankan di tahanan Mapolres Kupang Kota.

Dijelaskan, kedua pelaku ini melakukan penganiayaan terhadap korban terkait hutang piutang sebesar Rp 4 juta, dan mereka juga mengambil sepeda motor milik korban.

“Sampai saat ini juga sepeda motor milik korban belum ditemukan. Para tersangka juga belum mau mengaku keberadaan sepeda motor milik korban,” ungkap Yance Kadiaman.

Dia melanjutkan, sebelum melakukan penagihan, kedua tersangka melakukan pengaaniyaan terlebih dahulu terhadap korban.

Pelaku kemudian membawa korban berkeliling ke beberapa tempat baru dan merampas motor milik korban.

“Kedua tersangka sudah diamankan dan kami juga masih mencari kendaraan milik korban. Tersangka dikenakan Pasal 368 KUHP dan Pasal 351 jo Pasal 55 dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara,” pungkas Kanit Pidum Ipda Yance Kadiaman. (wil)

Continue Reading

HUKRIM

Pukul Orangtua, Pemuda Mabuk Tewas Dibantai Adiknya

Published

on

Kasat Reskrim Polres TTS Iptu Jamari SH.

SoE, penatimor.com – Ondi Yacob Baunsele (26) warga Kunenu RT 12/RW 06 Desa Linamnutu Kecamatan Amanuban Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Provinsi NTT tewas dibantai adik kandungnya.

Peristiwa ini terjadi pada Kamis (18/7) subuh sekitar pukul 01.00 Wita di samping rumah korban.

Korban Ondi tewas ditangan Dance Eliaser Baunsele (21) yang juga adik kandung korban.

Kapolres TTS AKBP Totok Mulyanto DS, SIk melalui Kasat Reskrim Polres TTS Iptu Jamari SH., saat dikonfirmasi dikantornya mengakui kalau peristiwa ini bermula pada Rabu (17/7) malam sekitar pukul 23.00 Wita.

Saat itu korban Ondi datang ke rumah dalam keadaan mabuk minuman keras.

“Korban Ondi bertemu dengan ayah kandungnya Abraham Ayub Baunsele di teras rumah,” tandas Kasat Reskrim Polres TTS.

Selanjutnya sang ayah menyuruh korban untuk makan dan dijawab korban dengan emosi karena tidak terima ayahnya bertanya ke korban darimana saja, korban langsung menganiaya ayahnya dengan cara memukul sebanyak satu kali di bagian mulut ayahnya.

Kemudian ayah korban ke belakang rumah yang gelap dan tidur di samping kandang babi sebab korban terus mencari ayahnya.

Sedangkan ibu kandung korban Welmince Nome (50) bersama adik kandung korban Ofi Atriana Baunsele (14) juga berlari ke rumah tetangga Mel Selan karena korban mengancam akan membunuh semua orang dalam rumah.

Pada saat korban menganiaya dan mencari ayahnya, pelaku sedang duduk di samping rumah sambil cas HP.

Sedangkan korban masuk ke kamar tidur dan mengambil kapak di bawah kolong tempat tidur kemudian keluar ke ruang belakang lalu memotong periuk yang sedang tergantung dan spakbor sepeda motor yang sedang terparkir di belakang rumah.

Pelaku kemudian menegur korban karena korban Ondi sudah keterlaluan memukul ayah mereka. Teguran tersebut tidak diterima korban.

Korban langsung mengayunkan kapak ke arah pelaku dan pelaku menahan tangan korban.

Kemudian pelaku merampas kapak dari korban dan mengayunkan kearah telinga kiri, kemudian memotong korban mengenai kepala bagian kanan, memotong lagi mengenai rusak kanan korban.

Setelah membunuh korban, pelaku menuju ke tetangga nya Kia Atonis meminta tolong untuk mengantar pelaku ke Polsek Amanuban Selatan Polres TTS.

“Pelaku diantar Kia Atonis menyerahkan diri ke polisi pasca membunuh korban,” ujar Kasat Reskrim Polres TTS.

Laporan kasus ini kemudian dilakukan ayah korban dan pelaku Abraham Baunsele ke Polsek Amanuban Selatan.
Pelaku pun sudah diamankan di sel Mapolsek Amanuban Selatan.

Anggota Polsek Amanuban Selatan pun sudah mendatangi tempat kejadian perkara dan mendapati korban sudah dalam keadaan meninggal dunia.
Polisi melakukan olah TKP hingga Kamis (18/7) siang.

Pelaksanaan olah TKP diamankan dipimpin langsung Kapolsek Amanuban Selatan Ipda I Made Sudarma Wijaya, SH dan tim identifikasi dari Polres TTS. (mel)

Continue Reading

HUKRIM

Abraham Mengaku Sulut Api Rokok ke Mulut dan Wajah Korban karena Sering Menangis

Published

on

Abraham Sabneno alias Amran.

Kupang, penatimor.com – Kerja keras aparat keamanan Polsek Kupang Barat Polres Kupang dibantu Polda NTT mengejar pelaku penganiayaan anak kurang gizi membuahkan hasil.

Kamis (18/7) malam sekitar pukul 19.30 wita, aparat keamanan Resmob Dit Reskrimum Polda NTT menangkap Abraham alias Amran (45).

Abraham ditangkap di rumah Thobias Bakun di Jalan Sukun II Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang Provinsi NTT.

Abraham langsung diserahkan ke Polsek Kupang Barat dan digelandang ke Mapolsek Kupang Barat tanpa melakukan perlawanan.

Perburuan polisi sejak Senin (15/7) hingga Kamis (18/7) pun berakhir dan menemui titik terang.

Ditemui di Mapolsek Kupang Barat, pelaku mengaku kalau ia mendengar kabar dari anaknya kalau ia dicari polisi sehingga selalu menghindar.

Ia juga jengkel sehingga menuliskan kata-kata ancaman ke polisi di sebuah papan dan ditempatkan di depan rumahnya.

Kamis (18/7) pagi sekitar pukul 06.00 wita usai menulis ancaman di papan, pelaku ke Bolok dengan jalan kaki. Ia pun menumpang angkutan ke Sikumana Kota Kupang.

Namun pelaku masih singgah ke Oeba meminta uang ke rumah Niko Faik mencari anaknya bernama Mirna yang menjadi asisten rumah tangga di rumah Hasan.

Berbekal uang Rp 20.000 pelaku singgah makan di Pasar Inpres Naikoten dan menggunakan jasa ojek ke Kelurahan Sikumana hingga ditangkap polisi.

Pelaku mengaku menyulutkan api rokok ke mulut, wajah dan dahi anaknya karena anaknya, (korban) sering menangis dan rewel.

“Benar saya sering sulutkan api rokok ke mulut anak saya (korban) karena sering menangis,” tandas pelaku.

Tidak hanya menyulutkan api dari puntung rokok, pelaku juga mengaku sempat memasukkan korban ke dalam kardus dan mengikat korban ke pohon. Ia beralasan supaya korban cepat belajar jalan.

Fakta lain yang dilakukan pelaku yakni pelaku memukul dengan kayu ‘mahoni’ sehingga tangan korban patah.

Mengenai ihwal kaki korban patah, pelaku beralasan kalau korban terjatuh dari tempat tidur.

Kepada polisi, pelaku mengaku kalau ia juga mengancam membunuh istri dan anaknya karena ia lelah bekerja akibat membuat beden (lahan) sayur dan menyirami tananam.

Disisi lain pelaku juga malah mengkonsumsi susu bantuan untuk korban.

“Saya memang minum susu bantuan yang sebenarnya untuk anak-anak saya,” ujarnya.

Ia juga mengaku kalau ketidaaan uang menjadi alasan ia tidak mengurus pernikahan sah dengan istri.

Kapolsek Kupang Barat, Ipda George Christian didampingi Kanit Reskrim Polsek Kupang Barat, Aiptu Basilio Pereira, SH mengaku kalau pihaknya sudah berusaha mencari pelaku sejak Senin (15/7).

Ia bersyukur pelaku ditangkap Resmob Polda NTT dan diserahkan ke Polsek Kupang Barat. “Segera kami periksa pelaku,” tandasnya.

Hingga saat ini, penyidik sudah memeriksa empat orang saksi masing-masing Erni Lakusaba, Ismail Sabneno dan Novita Sabneno dan Oktovianus Lakusaba.

“Anak (korban) menangis sehingga tersangka pukul korban hingga kaki dan tangan patah dan dia (pelaku) sulut korban dengan rokok. Tersangka lebih banyak menyangkal,” ujar mantan Kasi Propam Polres Kupang Kota ini.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan pasal 80 ayat (1) jo pasal 76 C UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan PP pengganti UU RI nomor 01 tahun 2016 tentang perubahan ke 2 atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan pasal 44 ayat (1) UU RI nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dan pasal 351 ayat (2) jonto pasal 335 ayat (1) KUHP.

Pelaku pun langsung ditahan dalam sel Polsek Kupang Barat dan selanjutnya diserahkan ke Polres Kupang untuk penanganan lebih lanjut. Polisi pun sudah mengamankan sejumlah barang bukti dari rumah pelaku. (mel)

Continue Reading

Loading…




Loading…

Trending

error: Content is protected !!