Connect with us

HUKRIM

Hendak Kabur ke Timor Leste, Motivator Pencabul Siswi SD Dibekuk Polisi

Published

on

Pelaku Mozes Usfinit saat diamankan di Mapolsek Oebobo.

Kupang, penatimor.com – Aparat keamanan Polsek Oebobo bergerak cepat pasca mendapat laporan kasus pencabulan dan persetubuhan anak di bawah umur.

Akhir pekan lalu, polisi membekuk Mozes Usfinit (34), motivator dan pelaku bisnis Multi Level Marketing (MLM) di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Provinsi NTT.

Pelaku Mozes sebenarnya sudah mau ke luar kota, namun polisi menangkapnya di atas mobil saat ia menyetir seorang diri. Ia pun dibawa ke Mapolsek Oebobo.

Kapolsek Oebobo, Kompol Ketut Saba didampingi Kanit Reskrim Polsek Oebobo, Iptu Komang Sukamara, SH., di Mapolsek Oebobo mengemukakan kalau pasca diamankan, Mozes langsung diperiksa penyidik.

Awalnya Mozes mengakui semua perbuatannya dan membenarkan apa yang diceritakan korban.

Namun belakangan saat hendak dituangkan dalam BAP, Mozes justru menyangkali semua perbuatannya.

“Pelaku hanya mengaku mencium korban dan membantah telah menyetubuhi korban. Namun tidak masalah kalau pelaku tidak jujur karena korban secara jujur sudah menceritakan semua yang diperbuat pelaku,” ujarnya.

Pelaku Mozes Usfinit diperiksa Kanit Reskrim Polsek Oebobo Iptu Komang Sukamara, SH.

Polisi menilai pelaku ingin menutupi perbuatannya. Korban sendiri sudah menjalani visum. Kepada polisi, pelaku mengaku menyayangi dan tertarik dengan korban.

“Awalnya pelaku mengaku dan tapi dalam BAP menyangkal,” tambahnya.

Drama penangkapan terjadi saat polisi membuntuti mobil yang dipakai pelaku. Polisi langsung menghadang dan menangkapnya di ujung jembatan Oesapa.
Pelaku dikuatirkan kabur ke Timor Leste.

“Kami tangkap di atas mobil karena ada indikasi pelaku mau kabur ke Timor Leste,” urainya.

Korban saat diperiksa polisi mengaku kalau ia tidak saja dicabuli namun juga disetubuhi.

Terungkapnya kasus ini karena korban merasa sakit saat kencing. Selain itu secara tiba-tiba korban meminta dipindahkan ke Jakarta di rumah neneknya.

“Korban tidak betah di Kupang dan mengaku tidak mau lagi bertemu dengan pelaku,” tambah Kapolsek Oebobo,

Ibu korban curiga dan menginterogasi korban. Korban mengaku trauma bertemu pelaku karena pelaku telah mencabuli dan menyetubuhinya.

“Hasil visum korban pun sudah ada dan dokter sesuai hasil visum nya menjelaskan kalau ada robekan dan telah terjadi hubungan badan,” tambah mantan Kapolsek Katikutana Polres Sumba Barat ini.

Atas perbuatannya, Mozes dijerat dengan pasal 81 ayat (2) dan pasal 82 ayat (1) UU nomor 17 tahun 2016 jo UU nomor 35 tahun 2017 yang mengatur tentang persetubuhan anak dibawah umur dengan ancaman 12 tahun.

Pelaku Mozes saat ditemui di Mapolsek Oebobo mengaku kalau ia tidak tinggal menetap selama berada di Kupang.
Ia mengaku syok dan heran atas penangkapan terhadap dirinya.

Kepada wartawan, pelaku Mozes juga mengaku tidak menyetubuhi korban dan tidak pernah mencabuli korban.
Soal ciuman kepada korban, pelaku mengaku kalau itu hal biasa. Ia malah berkilah kalau ia tidak menjemput korban tetapi dihubungi ayah korban.

Polisi sudah mengamankan mobil rush hitam milik pelaku karena sesuai pengakuan korban, ia dicabuli dan disetubuhi diatas mobil pelaku di halaman hotel Amaris.
Korban AC sendiri senantiasa didampingi sang ibu saat pemeriksaan berlangsung.

Diberitakan sebelumnya, nasib kurang beruntung dialami seorang siswi sebuah sekolah dasar di Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

AC, bocah berusia 10 tahun ini dicabuli dan disetubuhi secara paksa oleh MU (30) warga asal Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang biasa beraktivitas sebagai motivator.

MU melakukan aksi bejatnya di atas sebuah mobil sekitar pukul 21.00 wita di parkiran Hotel Amaris Kupang di Jalan Bundaran PU Kelurahan Tuak Daun Merah (TDM) Kecamatan Oebobo Kota Kupang akhir bulan Juni 2019 lalu.

Korban baru mengadukan kasus ini ke ibunya pekan ini karena selalu merasakan sakit pada organ vitalnya.

LZY, ibu korban kemudian mendampingi korban mengadukan kasus ini ke polisi di Polsek Oebobo.

Kapolsek Oebobo, Kompol Ketut Saba didampingi Kanit Reskrim Polsek Oebobo, Iptu Komang Sukamara, SH membenarkan kalau pihaknya sudah menerima laporan kasus ini.

Ditemui di Mapolsek Oebobo, Kapolsek Oebobo mengaku kalau pihaknya menerima laporan polisi pada Jumat (5/7) pagi dan langsung memeriksa korban serta saksi-saksi.

Senin (17/6) petang merupakan hari kelam bagi korban. Saat itu terlapor MU dan teman ibu korban menjemput korban AC dan ibu korban dirumah korban.
Terlapor mengajak korban dan ibu nya ke rumah makan Celebes Kupang untuk mengikuti acara.

Di rumah makan Celebes, korban, ibu korban, teman ibu korban dan terlapor MU hanya duduk-duduk dan bercerita.
Selang beberapa saat, ibu korban menelepon suaminya yang juga ayah korban agar menjemput korban dan meminta ayah korban mengantar korban ke gereja untuk mengikuti latihan kegiatan gereja.

Ayah korban menjemput korban di rumah makan Celebes dan keduanya ke gereja.
Usai latihan di gereja, korban dan ayahnya pulang ke rumah. Namun karena dirumah belum ada ibu korban maka korban meminta ayahnya mengantarkan ke tempat ibu korban.

Korban dan ayahnya kembali ke rumah makan Celebes mencari ibu korban namun diruman makan Celebes baik ibu korban maupun terlapor MU sudah tidak ada lagi.

Ayah korban menelepon ibu korban menanyakan keberadaan ibu korban karena ayah korban hendak mengantar korban ke ibu korban.

Karena HP ibu korban tidak aktif maka ayah korban menelepon terlapor MU menanyakan keberadaan mereka.
Terlapor MU kemudian menawarkan diri menjemput korban dan akan mengantar korban ke tempat ibu korban.

Terlapor MU kemudian menjemput korban dengan mobil mobil, sedangkan ayah korban pulang ke rumah.

Saat itu terlapor MU mulai melancarkan aksi bejatnya dengan mencabuli korban dengan cara mencium bibir korban satu kali.

Terlapor juga menyuruh korban membuka celana korban. Karena takut dan bingung, korban menuruti permintaan terlapor.

Kemudian terlapor memasukan jarinya dan organ vital korban, sedangkan tangan kanan terlapor tetap memegang dan mengendarai mobil.

Terlapor kemudian menyuruh korban memegang kemaluan terlapor. Korban pun menuruti permintaan terlapor.

Sementara terlapor meremas-remas payudara kanan korban dan tangan kanan terlapor memegang stir mobil.

Mobil terlapor berhenti di lampu merah dan saat itu terlapor menaikan celananya dan menyuruh korban menaikkan celana korban dan terlapor memberi sebuah balon kepada korban.

Terlapor membawa korban ke Hotel Amaris. Korban sempat bertanya untuk apa ia diajak ke hotel, namun terlapor tidak menjawabnya.

Saat tiba di parkiran hotel Amaris, terlapor menyuruh korban yang awalnya duduk di sebelah terlapor untuk pindah ke kursi tengah.

Kemudian terlapor juga pindah ke belakang dan membuka celana korban termasuk celana terlapor.

Kemudian terlapor mengangkat tubuh korban dan menyetubuhi korban.
Saat itu korban merintih kesakitan sehingga terlapor menyuruh korban tidur berbaring di kursi dan kemudian setelah korban berbaring terlapor mencabuli korban pada organ vital korban.

Ia pun menyuruh korban melakukan oral ke kemaluan terlapor dan korban pun pasrah menuruti permintaan terlapor.
Terlapor masih melanjutkan aksinya menyetubuhi korban.

Setelah selesai melancarkan aksi bejatnya, terlapor menyuruh korban untuk memakai celana dan pindah ke depan dan terlapor pergi membawa korban ke ibu korban yang berada di rumah makan Nostalgia.

Di parkiran rumah makan Nostalgia, terlapor berjanji akan membelikan korban jaket, mainan dan makanan.

Terlapor juga menyuruh korban agar jangan menceritakan kejadian tersebut ke ibu korban.

Korban mendiamkan peristiwa yang dialaminya karena ia juga diancam terlapor.

Namun pasca kejadian ini, korban selalu merasa sakit pada organ vital sehingga menceritakan ke ibunya.

Terlapor juga hanya berjanji dan tidak memenuhi janji nya kepada korban. Korban baru menceritakan peristiwa ini kepada ibunya beberapa waktu lalu dan diteruskan ke Polsek Oebobo.

Korban sudah menjalani visum di rumah sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang dan selanjutnya diperiksa penyidik Polsek Oebobo. (wil)

Advertisement
Loading...
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

PT TLL Diduga Okupasi Lahan Warga Desa Nunkurus

Published

on

Forum Relawan Jokowi NTT bersama masyarakat Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang saat menggelar konferensi pers, Selasa (16/6/2019).

Kupang, Penatimor.com – PT Timor Livestock Lestari (TLL), sebuah perusahaan tambak garam yang beroperasi di wilayah Kabupaten Kupang diduga mengokupasi kurang lebih 400 hektare (ha) dari 712 ha lebih lahan warga Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang.

Hal ini disampaikan tokoh masyarakat Desa Nunkurus, Jan Christofel Bennyamin didampingi Forum Relawan Jokowi NTT bersama puluhan warga desa setempat saat menggelar konferensi pers, Selasa (16/7/2019).

Menurut Jan Christofel Bennyamin yang biasa disapa Oni Benyamin, kurang lebih selama 26 tahun, lahan warga tersebut dikuasai oleh PT Panggung Gunda Ganda Semesta (PT PGGS) yang diberikan Hak Guna Usaha (HGU) untuk mengelola tambak garam. Namun lahan tersebut ditelantarkan begitu saja tanpa ada aktifitas.

“Sehingga oleh Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Kupang, HGU PT PGGS dicabut pada 27 Mei 2019. Awalnya kami bergembira, karena setelah dicabut HGU-nya maka lahan itu akan dikembalikan kepada pemerintah dan kemudian pemerintah akan mengembalikan ke pemilik asli. Karena itu tujuan dari dicabutnya HGU tersebut,” ungkap Oni Benyamin.

Namun, lanjut dia, pada pelaksanaannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat yakni lahan tersebut akan dikembalikan oleh pemerintah kepada masyarakat, karena yang terjadi justru muncul persoalan baru. Dimana, oleh Pemerintah Desa Nunkurus, lahan tersebut justru diserahkan kepada pemilik baru yang secara historis tidak pernah memiliki lahan dimaksud.

“Padahal sudah dibagi atas kesepakatan bersama bahwa lahan 312 ha tetap dikelola oleh PT TLL, sedangkan sisanya dikembalikan ke masyarakat,” tegasnya.

Oni Benyamin menegaskan, lahan seluas 400 ha lebih yang dicaplok PT TLL itu, merupakan lahan milik Koperasi Fetomone yang didalamnya terdapat tujuh keluarga besar yakni kelurga Benyamin, Seik, Polin, Patola, Gago, Tanone dan Takubak.

“Dari tujuh keluarga besar ini, ada keluarga-keluarga semua yang tergabung didalamnya dari Desa Nunkurus dan desa-desa tetangga lainnya,” tegasnya.

Setelah Pemprov NTT mencabut HGU itu, sambungnya, maka dirinya membuka lahan garam seluas 25 ha, namun saat hendak membuat pagar diatas lahan milik koperasi itu, dia mengaku didatangi sejumlah pemuda menggunakan barang tajam dengan tujuan meminta agar menghentikan pengerjaan di lahan itu.

“Saat saya hendak menarik batas tanah, saya didatangani anak muda dengan membawa parang. Mereka katakan ini lahan Perusahaan. Kami juga dilarang garap lahan kami. Kami punya bukti penguasaan hak ulayat,” tegasnya.

Karena itu, masyarakat Desa Nunkurus meminta relawan Joko Widodo (Jokowi) untuk memediasi penyelesaian sengketa lahan tersebut agar dikembalikan ke masyarakat atau pemilik lahan yang sebenarnya. “karenanya kami minta bantuan relawan Jokowi untuk memediasi penyelesaian sengketa lahan ini,” tandasnya.

Ketua Forum Relawan Jokowi NTT, Jhon Ricardo meminta pihak Pemprov dan DPRD NTT segera mengambil langkah untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi di Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang tersebut.

“Bagi kami langkah-langkah ini harus segera dilakukan oleh pemerintah untuk meminimalisir dan mencegah berbagai dampak seperti konflik horizontal dan vertikal serta menjamin tegaknya hak-hak masyarakat,” katanya.

Jhon Ricardo menegaskan, pihaknya akan melaporkan masalah ini kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), karena sesuai informasi, Presiden Jokowi direncanakan akan turun ke lokasi ini untuk panen garam dan bagi sertifikat gratis.

“Hari Selasa kami sebagian besar relawan akan berangkat ke Jakarta, membawa surat kepada Pak Presiden Jokowi untuk jangan dulu turun ke NTT selama persoalan ini belum selesai. Karena sebagai relawan kami ingin agar ketika Presiden Jokowi datang ke mana saja, harus memberikan kegembiraan kepada masyarakat yang dia datangi,” tegasnya.

Karena itu, lanjutnya, pihaknya berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secepatnya. Dengan harapan, lahan tersebut harus dikembalikan kepada pemilik yang sebenarnya, sehingga tidak menimbulkan konflik di tengah masyarakat, khususnya di Desa Nunkurus.

“Intinya bagi kami, lahan ini harus dikembalikan dulu kepada masyarakat pemilik yang sebenarnya. Hari Kamis kami akan turun ke DPRD NTT dan meminta supaya menjembatani persoalan ini,” tandasnya. (ale)

Continue Reading

HUKRIM

Dalam Enam Bulan, 23 Warga Kota Kupang Tewas di Jalan Raya

Published

on

Kasat Lantas Polres Kupang Kota Iptu Rocky Junasmi.

Kupang, penatimor.com – Angka kecelakaan lalu lintas di wilayah Kota Kupang selama semester I tahun 2019 cukup tinggi.

Selama enam bulan pertama atau dalam periode Januari-Juni 2019, terdapat 23 orang warga Kota Kupang meninggal dunia di jalan raya karena terlibat kecelakaan lalu lintas.

Kapolres Kupang Kota, AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK., melalui Kasat Lantas Polres Kupang Kota, Iptu Rocky Juniasmi, SIK.,MH., membenarkan hal tersebut di kantornya, Senin (15/7) siang.

Ia menyebutkan kalau selama semester I tahun 2019 ini terdapat 197 kasus kecelakaan lalu lintas di Kota Kupang.

Dari jumlah ini, 23 orang meninggal dunia, 66 orang mengalami luka berat serta 242 orang mengalami luka ringan.

“Kerugian material akibat kecelakaan lalu lintas selama enam bulan ini mencapai setengah miliar lebih atau Rp 513 juta,” ujar Kasat Lantas Polres Kupang Kota.

Korban kecelakaan terbanyak dari kalangan swasta diikuti pelajar dan mahasiswa.

Di sisi lain, kecelakaan lalu lintas terbanyak melibatkan sepeda motor dan mobil penumpang. “Tertinggi adalah kecelakaan tunggal atau out of control,” ujarnya.

Dari segi pekerjaan pelaku kecelakaan lalu lintas didominasi karyawan dan kalangan swasta disusul pelajar dan mahasiswa serta anggota Polri.

Ditanya soal penyebab kecelakaan lalu lintas, dia menyebutkan kalau rata-rata karena mabuk akibat konsumsi minuman keras, melanggar batas kecepatan, tidak menjaga jarak serta melanggar ketentuan yang ada.

Jika dibandingkan dengan tahun 2018, justru ada penurunan Jumlah kecelakaan lalu lintas semester I 2018 sebanyak 239 kasus mengakibatkan 28 orang meninggal dunia, 11 orang mengalami luka berat dan 425 orang mengalami luka ringan serta kerugian material sebesar Rp 380.650.000.

Selain kasus kecelakaan lalu lintas, mantan Kasat Lantas Polres Manggarai Polda NTT ini pun menyebutkan kalau selama enam bulan ini, pihaknya banyak menindak pelanggar dan pengguna jalan raya.

Selama bulan Januari-Juni 2019 ini, terdapat pelanggaran 7.068 dan polisi melakukan tilang 4.782 serta non tilang 2.286 kejadian.

Dari sisi pelanggaran, sebanyak 308 kejadian karena tidak menggunakan helm.
Sementara tilang di semester 1 tahun 2018 terdapat 6.916 pelanggaran, 4.498 tilang dan 2.418 non tilang.

Kasat Lantas Polres Kupang Kota, Iptu Rocky Junasmi, juga mengimbau agar warga Kota Kupang menjadi warga yang taat berlalu lintas serta patuh terhadap aturan lalu lintas.

“Jadilah pelopor keselamatan berlalu lintas dan hargai pengguna jalan raya yang lain,” tandasnya. (wil)

Continue Reading

HUKRIM

Gadaikan BPKB Mobil Tanpa Izin Pemilik, Muhammad Najmi Terancam 4 Tahun Penjara

Published

on

Muhammad Najmi (kanan) saat diamankan di Mapolres Kupang Kota.

Kupang, penatimor.com – Tim Buru Sergap Satreskrim Polres Kupang Kota menangkap Muhammad Najmi.

Pria 33 tahun itu diduga melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan terhadap BPKB mobil Toyota Avansa yang digadaikan di kantor BFI Multifinance.

Kasus ini dilaporkan ke polisi oleh Serli Mesa (43) selaku korban dan juga warga Kelurahan Lasiana, Kota Kupang.

Pelaku Muhammad Najmi ditangkap pada Sabtu (13/7) oleh Tim Buser yang dipimpin langsung Kanit Pidum Satreskrim Polres Kupang Kota, Ipda Yance Kadiaman didampingi Kanit Buser Aipda Yance Sinlaeloe.

Pelaku ditangkap di Desa Wehali, Dusun Wemalae, Kecamatan Malaka Tengah,
Kabupaten Malaka.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH., melalui Kanit Pidum Ipda Yance Kadiaman, saat dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya, Senin (15/7) sore, membenarkan.

Yance jelaskan, awalnya pelaku ingin membeli mobil korban.

Karena sudah saling kenal, korban pun menyerahkan mobilnya ke pelaku, dengan ketentuan pembayaran dilakukan sekali saja.

Tetapi saat mobil dan BPKB sudah diserahkan, pelaku kembali menawarkan agar dapat membayar sebagian terlebih dahulu dan sisa nya dicicil.

Tawaran itu ditolak korban, dan langsung meminta mobilnya dikembalikan beserta BPKB.

Namun pelaku hanya mengembalikan mobil, sedangkan BPKB tidak dikembalikan dengan alasan mobil tersebut akan dibeli pelaku.

Ternyata BPKB tersebut dijadikan agunan kredit di BFI Multifinance, tanpa sepengetahuan korban.

Kasus ini terungkap saat pembayaran angsuran kredit tersebut macet, dan pihak BFI melakukan penarikan mobil korban yang dijadikan sebagai agunan.

“Setelah dilakukan penarikan mobil tersebut, barulah korban mengetahui bahwa selama ini BPKB mobil nya digadaikan di Kantor BFI multifinance,” kata Yance.

Merasa ditipu oleh pelaku, korban pun mendatangi Mapolres Kupang Kota dan melaporkan kasus tersebut di SPKT.

“Menindak lanjuti laporan tersebut, pelaku sudah diamankan di Polres Kupang Kota. Pelaku dikenakan Pasal 372 tentang Penggelapan dengan ancaman 4 tahun penjara,” imbuh Yance Kadiaman.

“Kami juga sudah mengajukan permohonan izin penyitaan barang bukti ke Pengadilan terhadap mobil tersebut,” pungkas perwira berpangkat satu balok di pundak itu. (wil)

Continue Reading

Loading…




Loading…

Trending

error: Content is protected !!