Connect with us

HUKRIM

Polda NTT Limpah ke Kejati Berkas Korupsi Dana Bos SDI Liliba

Published

on

Tim penyidik Subdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda NTT saat melimpahkan berkas perkara dugaan korupsi dana BOS SDI Liliba di kantor Kejati NTT, Jumat (22/3).

Kupang, penatimor.com – Penyidik Subdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda NTT melimpahkan kembali ke Kejati NTT berkas perkara dugaan korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahun 2017 pada SD Inpres Liliba di Kecamatan Oebobo, Kota Kupang

Pelimpahan dilakukan penyidik, Jumat (22/3), setelah melengkapi petunjuk jaksa peneliti Kejati NTT.

Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Jules Abast yang dikonfirmasi di ruang kerjanya, mengatakan, dengan pelimpahan ini, penyidik tinggal menunggu hasil penelitian jaksa, apakah masih harus dilengkapi atau sudah lengkap dan ditetapkan P-21.

“Penyidik tunggu penetapan jaksa apakah P-21 atau masih ada kekurangan yang harus dilengkapi,” kata Jules.

Ditanya mengenai adanya potensi tersangka baru dalam pokok perkara dimaksud, Jules sampaikan penyidik masih fokus merampungkan berkas perkara kedua tersangka yang ada.

“Nanti kita lihat, sementara masih fokus pada dua tersangka,” ujar mantan Kabid Propam Polda NTT itu.

Tim penyidik Subdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda NTT juga telah mengajukan perpanjangan masa penahanan untuk kedua tersangka, masing-masing Rosina Monoh selaku Kepala SDI Liliba dan Yener P. Noty sebagai Bendahara SDI Liliba.

Sekadar tahu, dalam pemeriksaan kedua tersangka ditemukan banyak kwitansi pembelanjaan yang tidak sesuai dengan harga dan volume barang serta pembelanjaan fiktif.

Akibat perbuatan kedua tersangka, negara mengalami kerugian sebesar Rp 149.622.181.

Tim penyidik juga menyita barang bukti dari kedua tersangka berupa 1 buah dokumem rencana kerja anggaran sekolah (RKAS) tahun 2017, 1 buah RKAS tahun 2018, 1 buah box dokumen pengelolaan pertanggungjawaban dana BOS SDI Liliba triwulan I, II, III dan IV tahun 2017, 1 buah box dokumen pengelolaan dan pertanggungjawaban dana BOS SDI Liliba triwulan I dan II tahun 2018 dan uang sebesar Rp 50 juta dari tangan kepala sekolah.

Polisi telah memeriksa 21 saksi dan meminta audit kerugian keuangan negara kepada Inspektorat Provinsi NTT.

Kedua pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka pada tanggal 3 Desember 2018 lalu.

Penyidik baru menetapkan dua orang tersangka, dan belum ada indikasi penambahan tersangka.

Selain itu, penyidik juga terus melakukan pendalaman terhadap kasus ini dan jika ada informasi lain dari masyarakat, maka akan ditindak lanjuti. Namun sejauh ini belum ada indikasi penambahan tersangka.

Penyidik juga sudah melakukan penahanan kedua tersangka setelah ditetapkan menjadi tersangka. Kedua tersangka sementara ditahan di ruang tahanan Polres Kupang Kota sambil menunggu proses pemberkasan.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kedua tersangka, penyidik menjerat kedua tersangka dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana jo Pasal 55 ayat Ke-1e KUHP.

Kedua tersangka juga terancam hukuman pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun, serta denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar. (R1)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Jonas Salean ‘Bebas’

Published

on

Jonas Salean saat meninggalkan kantor Kejati NTT, Selasa (27/10/2020).
Continue Reading

HUKRIM

Kajati NTT jangan Campuradukkan Wewenang Administrasi Negara dan Wewenang Penuntutan Jaksa

Published

on

Petrus Salestinus (NET)
Continue Reading

HUKRIM

Polisi Ciduk Pelaku Penganiayaan di Kupang, Gunakan Parang, Korban Pegawai Navigasi

Published

on

Jeskial Lodo Ndilu alias Eky alias Bartex (29), warga Jalan Banteng, Kelurahan Airnona, Kecamatan Kota Raja.
Continue Reading
loading...