Connect with us

UTAMA

Pemerintah NTT Diminta Tidak ‘Namkak’ Tangani Kasus DBD

Published

on

Solidaritas Korban DBD Sumba Timur saat melakukan unjuk rasa di depan Kantor Gubernur NTT, Rabu (13/3).

Kupang, Penatimor.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta tidak ‘namkak’ (Nganga dalam bahasa Dawan/ Timor) dalam menangani kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di NTT khususnya di Kabupaten Sumba Timur.

Permintaan ini disampaikan Solidaritas Korban DBD Sumba Timur yang terdiri dari berbagai elemen; GMNI, GMKI, PMKRI, PERMASI, PERMAPELTA, KEMMAS, IPMASTIM, IRGSC, WALHI NTT) dalam orasi dan aksi di depan Kantor Gubernur NTT, Rabu (13/3/2019).

Dalam catatan Solidaritas Korban DBD Sumba Timur, virus DBD telah mewabah di Sumba Timur. Per Maret 2019, 18 orang meninggal dunia, dan ada sebanyak 880 pasien kasus di 22 Kecamatan di Sumba Timur.

Para pasien kini dirawat di tiga Rumah Sakit di Sumba Timur, yakni RSUD Umbu Rara Meha, RSK Lindimara, dan RSU Imanuel Waingapu. Pesebaran penyakit DBD di NTT per Maret 2019 mencapai 1.169 kasus.

Pihak Dinas Sumba Timur sudah menetepakan kasus DBD di Sumba Timur sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), tetapi hingga kini belum ada upaya masif dalam mencegah jumlah korban berjatuhan, menanggulangi korban dan mengkampanyekan perilaku hidup sehat untuk mencegah pesebaran virus DBD.

Sebagai wilayah yang banyak terjangkiti virus DBD, Sumba Timur mengalami kekurangan fasilitas penanggulangan DBD. Faktanya, kabupaten Sumba Timur hanya memiliki 5 unit alat fogging. Dari segi pesebaran, presentase penderita DBD paling banyak diidap oleh warga Kota Waingapu.

Karena itu, massa aksi yang berjumlah sekitar lebih dari 60 orang itu, melakukan aksi bersama menuntut Pemerintah Provinsi dan jajaran terkait segera bertindak menanggulangi bencana DBD, mengurangi jumlah korban, mencegah penyebaran virus DBD di Sumba Timur khususnya dan di NTT.

Rima Belaut, salah seorang peserta aksi dalam orasinya yang disampaikan dalam bahasa Inggris mengatakan, “Poor sanitation and enviromental governance in the City of Waingapu triggered the dengue virus to develop rapidly. Sanitation governance that has been carried out by the goverment so far does not good enough and the management of waste has been not properly implement by goverment in accordance with national policy number 18/2009 about waste management,” katanya.

Baca Juga :   GMIT Bet’El Maulafa Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Jemaat

Orasi dalam bahasa Inggris ini, bertujuan untuk melaksanakan amanat Pergub 56 Tahun 2018 tentang Hari Berbahas Inggris pada hari Rabu.

Massa aksi kecewa karena tidak dapat bertemu dengan gubernur untuk menyampaikan sikapnya. Masa Aksi diterima oleh Kabag Humas Pemprov NTT, Elisabeth Lendu.

Pada kesempatan itu, Elisabeth berjanji akan meneruskan aspirasi massa aksi kepada Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat agar segera mengambil langkah tegas atasi DBD di Sumba Timur.

Bertolak dari kantor gubernur, massa aksi menuju kantor DPRD NTT. Sama halnya, massa aksi tidak dapat bertemu seorang anggota dewan pun, dan hanya bertemu Humas DPRD NTT yang diterima oleh Alfons Waturaka.

Dalam orasi di Kantor DPRD, massa aksi menyatakan, anggota DPRD jangan hanya cari suara ketika menjelang pemilu, tetapi tetap pasang telinga dan peduli pada rakyat setiap waktu.

“Anggota DPRD NTT dapil Sumba Timur itu gagal total memperhatikan warganya, mereka hanya mampu cari suara tapi tidak mampu bersuara ketika rakyatnya menderita,” tegas Ferdinand Umbu Ridi, Ketua GMKI Cabang Kupang.

Seusai menerima pernyataan sikap massa aksi, Alfons Waturaka berjanji akan menjadwalkan audiensi Solidaritas untuk Korban DBD Sumba Timur dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah NTT.

Dalam aksi massa Solidaritas untuk Korban DBD menyatakan, menuntut komitment pemerintah provinsi NTT, segera membetuk tim khusus penanganan dan pencegahan kasus DBD di Sumba Timur.

“Kami memberi waktu 7 x 24 jam untuk membentuk tim khusus. Bila melewati batas waktu yang ditentukan, kami akan datang lagi dengan massa lebih besar,” tegas Nong Emanuel, Koordinator Lapangan Massa Aksi Solidaritas untuk Korban DBD Sumba Timur.

Dalam aksinya itu, ada 7 poin pernyataan sikap dari Solidaritas untuk Korban Deman Berdarah Dengue (DBD) di Sumba Timur kepada Pemerintah dan DPRD Provinsi NTT, yakni:

Baca Juga :   Kuota PPPK 2019, Pemkot Kupang Dapat 145 Orang

Pemerintah daerah dan DPRD harus memperbaiki tata kelola kota dan sanitasi di Sumba Timur,

Meminta DPRD Kabupaten Sumba Timur untuk serius mengawasi tindakan pencegahan dan penanganan DBD dari sisi anggaran dan regulasi,

Memperbaiki dan membenahi tata kelola lingkungan hidup yang baik dan sehat sesuai UU/32/2009, Pengelolaan sampah harus berbasis pada UU 18/2008,

Membentuk tim khusus dan relawan untuk mencegah dan menangani DBD,

Menyediakan posko-posko dan obat-obatna di setiap untuk meminimalisir jarak dan keterlambatan akses kesehatan warga yang terkena wabah DBD,

Meminta Gubernur NTT turun tangan menyelesaikan persoalan DBD di Kabupaten Sumba Timur. (R2)

Advertisement
Loading...
Loading...

UTAMA

Kunjungi NTT, Jokowi Tinjau Tambak Garam Nunkurus

Published

on

Presiden Joko Widodo meninjau operasional tambak garam di Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Rabu (21/8).

Kupang, penatimor.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Ibu Negara Iriana, meninjau operasional tambak garam di Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (21/8).

Jokowi sengaja datang ke daerah itu untuk memastikan bahwa tambak garam yang ada di sana sudah mulai berproduksi.

“Saya ke sini hanya ingin memastikan bahwa program untuk urusan garam ini sudah dimulai. Karena kita tahu impor garam kita 3,7 juta (metrik) ton, sementara yang bisa diproduksi dalam negeri baru 1,1 juta ton. Masih jauh sekali,” kata Jokowi.

Secara keseluruhan, Provinsi NTT memiliki potensi besar produksi garam dengan luas tambak kurang lebih 21.000 hektare. Khusus Kupang, setidaknya 7.000 hektare lahan dapat dikembangkan untuk tujuan tersebut.

Sementara lokasi tambak garam yang dikunjungi Kepala Negara hari ini berproduksi di atas lahan tambak seluas 10 hektare dari potensi 600 hektare yang ada.

“NTT ini memiliki potensi yang bisa dikerjakan itu 21.000 hektare. Di Kupang ada kurang lebih 7.000 hektare, yang dimulai ini 600 hektare dulu. Tetapi juga baru diselesaikan 10 hektare,” jelasnya.

Pengembangan industri garam di NTT memerlukan investasi yang tak sedikit. Meski demikian, pemanfaatan sepenuhnya untuk lahan tambak seluas 600 hektare tersebut akan dikejar penyelesaiannya di tahun mendatang.

Selain itu, mantan gubernur DKI Jakarta tersebut juga menginginkan agar para petani tambak setempat diberdayakan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

“Tahun depan akan selesai 600 hektare, petani tambak diikutkan juga. Kerja sekaligus ikut (memiliki) seperti saham sehingga nanti penghasilan masyarakat di sini bisa lebih baik,” jelasnya.

Dalam kunjungan tersebut, Jokowi sempat melihat garam hasil produksi lahan tambak tersebut dan membandingkannya dengan garam sejenis dari luar wilayah itu. Dia memastikan bahwa garam yang dihasilkan di Nunkurus memiliki kualitas yang sangat baik.

Baca Juga :   Ular Raksasa Ditemukan di Hutan TTS

“Tadi saya ditunjukkan beberapa perbandingan garam yang diambil dari luar dibawa ke sini. Yang dari Madura, yang dari Surabaya, dan dari Australia. Memang hasilnya di sini lebih bagus, lebih putih, bisa masuk ke garam industri, dan kalau diolah lagi bisa juga menjadi garam konsumsi,” tambahnya.

Selama kunjungan tersebut, Presiden Jokowi didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Gubernur NTT Viktor Laiskodat beserta istri. (jim)

Continue Reading

UTAMA

Jaksa Agung Supervisi Kejati NTT

Published

on

Jaksa Agung RI Dr. (HC) H.M.Prasetyo, SH.

Kupang, penatimor.com – Jaksa Agung RI Dr. (HC) H.M.Prasetyo, SH., dan Ketua Umum IAD Pusat Ny. Ros Ellyana Prasetyo melakukan kunjungan kerja dan supervisi ke Kejati NTT.

Jaksa Agung dan rombongan dijadwalkan tiba di Kupang sore ini, pukul 17.40, Rabu (21/8), dan akan berada di Kupang hingga Kamis (22/8).

Kasi Penkum Kejati NTT Abdul Hakim yang dikonfirmasi wartawan, mengatakan, selain kunjungan kerja dan supervisi, Jaksa Agung juga akan melakukan peresmian TK Adhyaksa X Kupang dan penyerahan aset eks Sagared.

“Bapak Jaksa Agung setelah tiba nanti di kantor Kejati NTT akan langsung melakukan briefing kepada seluruh Kajari dan Kacabjari se-daratan Timor dan seluruh pegawai pada Kejati NTT,” kata Abdul.

Selain itu, Ketua Umum IAD Pusat dijadwalkan melakukan supervisi dan tatap muka dengan Ketua IAD Wilayah NTT dan Ketua IAD Daerah se-NTT.

Sementara, pada Kamis (22/8), sekira pukul 08.15, akan dilakukan peresmian TK Adhyaksa X oleh Ketua Umum IAD Pusat.

Selanjutnya, Ketua IAD Pusat dan rombongan juga diagendakan mengunjungi tempat tenun ikat Ina Sabu.

Sedangkan, Jaksa Agung melakukan penyerahan bangunan eks PT Sagaret. (mel)

Continue Reading

HUKRIM

Jery Awu Tega Aniaya Pacar Pakai Ikat Pinggang dan Kabel Listrik

Published

on

Tersangka Yermias Ricky Awu alias Jery.

Denpasar, penatimor.com – Yermias Ricky Awu alias Jery, 33, tega menganiaya pacarnya bernama Meriana Ringu alias Meri, 22, hingga babak belur dan tak sadarkan diri di mes milik Made di Banjar Untal-Untal, Dalung, pada Selasa (13/8) pukul 18.30.

Pelaku yang merupakan asal Sumba, kini ditahan di Mapolsek Kuta Utara, Bali, dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Penganiayaan berawal dari pelaku yang baru datang dari suatu tempat terlibat adu mulut dengan korban. Tak bisa kendalikan emosi, pelaku mengambil ikat pinggangnya.

Dengan ikat pinggang warna cokelat tersebut, pelaku memukul kaki, bokong dan punggung kekasihnya hingga korban tidak berdaya. Usai melakukan penganiayaan, pelaku dengan santai pergi ke warung dekat TKP. Keduanya diketahui tinggal bersama di TKP.

Keesokan harinya sekitar pukul 23.00, keduanya kembali adu mulut. Kali ini pelaku mengambil kabel listrik dan memukul tubuh korban.

“Sempat jeda sebentar, pelaku kembali memukul korban dengan ikat pinggang. Setelah itu pelaku mengambil selang air dan memukul korban hingga menjelang pagi,” kata salah satu sumber, Minggu (18/8).

Tak tahan dengan sakit yang dialami, korban pun lemas. Sedangkan pelaku memanggil tetangganya bernama Pino, menyuruh memanggil pamannya yang bernama Yustius Bunmo alias Yus. Oleh Yus pertengkaran keduanya sempat dilerai.

“Pelaku dan korban pun keluar dari kamar usai dilerai Yus. Sesampainya di teras, pelaku kembali menampar korban sebanyak dua kali hingga korban pingsan. Korban baru sadar saat tiba di RS Trijata Polda Bali,” bebernya.

“Penyidik masih mendalami motif lainnya. Untuk sementara, motifnya diduga pelaku ini cemburu. Korban mengalami luka bekas pukulan dan cambukan di sekujur tubuhnya,” terangnya.

Kasubag Humas Polres Badung Iptu Ketut Oka Bawa yang dikonfirmasi mengatakan, peristiwa tersebut telah ditangani Polsek Kuta Utara dan Unit PPA Polres Badung.

Baca Juga :   Peringati Hari Pahlawan, Lantamal VII Gelar Upacara Tabur Bunga di Laut

“Selain pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti berupa kabel dan sabuk yang dipakai tersangka menganiaya korban,” ucap Oka. (jim)

Continue Reading

Loading…




error: Content is protected !!