Connect with us

SOSBUD

Kisah Pilu Ibu Hamil dari Sulawesi Naik Kapal Kayu Cari RS Sampai di Flores, Bayi Meninggal

Published

on

Sumber Foto: FB Rudz Kaka

Kupang, Penatimor.com – Dalam hidup ini, setiap insan pasti memiliki kisah dan pengalaman berharga masing-masing.

Kendati begitu, tidak ada salahnya jika Anda mendengar pengalaman unik dari orang lain.

Selain menarik ataupun menyedihkan, setidaknya Anda bisa membayangkan jika berada di posisi orang dengan pengalaman yang belum pernah Anda rasakan sebelumnya.

Seperti yang diceritakan oleh seorang dokter kandungan yaitu dr. Rudi, SpoG yang bertugas di RSUD T.C Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kisah tersebut dia bagikan lewat akun Facebook  pribadinya, @Rudz Kaka, pada Minggu, 10 Maret 2019, pukul 18.00 Wita.

Pada awal cerita, dr. Rudi menyoroti soal akses pelayanan kesehatan di Indonesia bagian Timur.

“Kesedihan saya sebagai tenaga kesehatan kembali membuncah..,” tulisnya mengawali kisah.

Selanjutnya, dr. Rudi menceritakan pengalaman RS tempat dia bertugas itu menerima rujukan pasien ibu hamil dengan kondisi yang menyedihkan.

Mirisnya, pasien ibu hamil yang dirujuk tersebut bukan berasal dari sekitar wilayah Flores, NTT, tetapi berasal dari Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Bahkan sedihnya lagi, pasien ibu hamil tersebut tak hanya harus berjuang antara hidup dan mati dalam proses persalinannya, tetapi juga harus kuat menahan amukan gelombang samudera.

Lantaran dari tempat tinggal ibu hamil itu di Pulau Madu, Kecamatan Pasilambena, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan harus menggunakan kapal kayu menuju Kota Maumere, di Pulau Flores, NTT.

Tidak cukup sampai di situ, ibu hamil yang dirujuk itu ternyata dalam kondisi satu lengan tangan bayi keluar dari vagina, kondisi ibu lemah dan kondisi bayi sudah meninggal dunia.

Untuk cerita lengkapnya, silakan simak di bawah ini.

Miris Akses Pelayanan Kesehatan di Indonesia Timur Pada Masa Kini.

Kesedihan saya sebagai tenaga kesehatan kembali membuncah..

Ada sebuah pulau di sekitar Laut Flores, terletak di pertengahan antara Pulau Flores dan Pulau Sulawesi, namanya “Pulau Madu”. Tapi nasib penduduknya TIDAK SEMANIS dan SEINDAH nama pulaunya.

Secara geografis letak Pulau Madu lebih berdekatan dengan Pulau Flores, tapi secara legal administratif Pulau Madu termasuk dalam wilayah Kecamatan Pasilambena Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Selatan.

Beberapa kali RSUD T.C Hillers Maumere Kabupaten Sikka menerima rujukan pasien ibu hamil dengan kondisi yang menyedihkan, sangat tragis.

Hari ini saya kembali menerima rujukan dari Puskesmas Pasilambena, rujukan ibu hamil dengan kondisi lengan tangan bayi keluar dari vagina, kondisi ibu lemah, dan tentu saja dg kondisi bayi yang sudah meninggal lama.

Sedikit Kronologis menurut keluarga.

Sabtu, 9/3/2019

Pkl: 08.00 wita
Pasien mengeluh nyeri perut mau melahirkan, tetapi yang keluar adalah lengan tangan bayi,

Pkl: 09.00 wita
Pasien dibawa ke Puskesmas Pasilambena, karena tidak bisa dilahirkan secara normal, maka harus dirujuk ke Rumah sakit (RS), permasalahanya RS letaknya jauh, paling dekat adalah RSUD Tc Hillers Maumere di Kabupaten Sikka,

Pkl: 10.00 wita
Pasien dirujuk dengan menggunakan kapal kayu yang biasanya berkapasitas 20 orang, setelah setengah perjalanan, cuaca dan ombak menghadang, akhirnya kapal kembali lagi ke pelabuhan di Pulau Madu.

Pkl: 23.00 wita
Pasien kembali dirujuk dg kapal menuju Maumere.

Minggu, 10/3/2019

Pkl: 11.30 wita
Pasien sampai di RSUD Tc Hillers Maumere, kondisi pasien lemah dg kesadaran yang menurun, janin sudah meninggal lama, dengan bau dari jalan lahir luar biasa tidak sedap.

Pasien langsung dilakukan operasi caesar untuk melahirkan, didapatkan janin sudah meninggal.
Saat ini pasien dalam kondisi dilakukan perawatan intensif di ICU.

Pelajaran yg bisa kita petik:

1. Seharusnya ada koordinasi kedua pihak wilayah kerja dalam sistem rujukan, terutama pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar untuk menjalanin komunikasi dan kerjasama dg Kabupaten Sikka.
2.Akses transportasi saat ini masih sangat menjadi kendala dalam proses rujukan, bayangkan pasien ini mengarungi lautan dalam waktu hampir 12 jam.
3.Perlu dievaluasi kembali bagaimana daerah yang sangat terpencil seperti itu diberikan fasilitas yg memadai dalam mendukung kemudahan masyarakat dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang optimal.

Semoga kasus-kasus seperti ini tidak kembali terjadi jika ada KEMAUAN DAN TINDAKAN NYATA dari pemerintah, tenaga kesehatan dan  partisipasi masyarakat dalam memperbaiki pelayanan kesehatan yang ada.

Maumere, 10/03/2019.

Postingan ini mendapatkan banyak tanggapan dengan emoticon like, super, sad/ sedih sebanyak 1.094 dan 165 komentar, bahkan sudah dibagikan sebanyak 1.043 kali.

(R2/ akun FB Rudz Kaka)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SOSBUD

Pameran Pembangunan di Kefamenanu Perketat Protokol Kesehatan

Published

on

Salah satu pengunjung pameran tampak mencuci tangan sebelum memasuki stan pameran.
Continue Reading

SOSBUD

Gubernur VBL: Lontar Pohon Kehidupan Masyarakat NTT

Published

on

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat
Continue Reading

SOSBUD

Keluarga Besar Lamaholot di Kupang Gelar Silaturahmi Tahun Baru 2020

Published

on

Ketua IKAL Dr. Kotan Y. Stefanus, S.H, M.Hum., dalam jumpa pers (30/1/2020) petang.
Continue Reading
loading...