Connect with us

UTAMA

Sudah 519 Kasus Demam Berdarah di Kota Kupang

Published

on

Ilustrasi pasien demam berdarah (NET)

Kupang, penatimor.com – Data kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Kupang sudah mencapai 519 kasus.

Rincian kasus DBD per bulan yaitu, Januari 282 kasus, Februari 185 kasus dan sampai 5 Maret terdata ada 4 kasus, dengan satu kematian selama tahun 2019 ini.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, dr. Ari Wijana didampingi Kepala Bidang Penanganan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sri Wahyuningsi.

Ari Wijana mengatakan, sampai saat ini memang angka kasus DBD terus naik, tetapi secara kurva hariannya selalu menurun, dan berada di posisi 5 sampai nol kasus per harinya.

Dia mengatakan dalam waktu dua minggu kedepan akan dilakukan kajian agar bisa mencabut status KLB DBD.

“Kami masih menunggu, jika dalam waktu dua minggu ini jumlah kasusnya sudah menurun sampai empat kasus per harinya, maka akan segera diusulkan ke Wali Kota untuk mencabut status KLB DBD,” terangnya.

Pasalnya, secara angka kumulatif kasus DBD akan terus meningkat, namun secara kurva harian kasus DBD terus menurun.

Ari menjelaskan, dirinya juga sudah bertemu dengan Wakil Wali Kota Kupang untuk mendiskusikan terkait rencana pencabutan status KLB DBD di Kota Kupang.

“Puncaknya saat penetapan status KLB, jumlah kasus per harinya mencapai 27 kasus, dan dalam beberapa waktu terakhir ini sudah mulai menurun sehingga akan dilakukan kajian untuk pencabutan status KLB,” kata Ari.

“Karena berdasarkan kurva harian sudah ada pada angka normal yaitu 5 kasus atau bahkan kurang dari 5 kasus per harinya. Saya sudah siapkan datanya, dan akan disampaikan ke Wali Kota untuk melihat dan dipertimbangkan apakah status KLB dapat dicabut,” katanya.

Sementara untuk fogging fokus, lanjut Ari, akan terus dijalankan. Karena fogging ini tidak berhubungan dengan KLB, karena setiap kali ditemukan ada kasus DBD, maka akan dilakukan penyelidikan epidemiologi dan jika dianjurkan untuk fogging maka akan dilakukan fogging.

“Selain fogging, kegiatan pembagian abate juga akan terus berjalan, kegiatan penyuluhan, pemantauan jentik nyamuk, pemberantasan sarang nyamuk dan lainnya akan tetap dijalankan,” ungkapnya.

Yang menjadi perhatian sekarang adalah Kelurahan Oesapa dengan jumlah kasus sebanyak 49 kasus, sehingga hampir semua wilayah sudah dilakukan fogging.

“Sudah ada 150 titik wilayah yang sudah difogging oleh petugas Dinas Kesehatan dan berbagai stakeholder lainnya. Sementara sosoalisasi 3M juga terus dilakukan karena memang sampai sekarang masih musim hujan,” kata Ari.

Dia mengaku, untuk abate yang dipesan beberapa waktu seharga Rp 200 juta, sudah ada dan akan segera didistribusikan ke Puskesmas-Puskesmas untuk dibagikan di masyarakat dan kelurahan-kelurahan yang ada.

Sementara untuk dana tanggap darurat menurut Ari Wijana, dana ini akan digunakan untuk membayar klaim rumah sakit pasien DBD yang dirawat di 12 rumah sakit dan 11 Puskesmas di Kota Kupang.

“Klaim akan diajukan oleh pihak rumah sakit, pemerintah akan membayar setara kelas III BPJS, dan hanya ditanggung bagi masyarakat yang dirawat setelah ditetapkannya KLB DBD, dan hanya berlaku bagi masyarakat Kota Kupang saja,” ujarnya. (R1)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Seorang Karyawati SPBU di Kupang Ditemukan Tak Bernyawa, Diduga Dibunuh

Published

on

Berdy Susanti Gabriel (30), karyawati salah satu SPBU di Kota Kupang ditemukan tidak bernyawa di pinggir jalan, Senin (26/10).
Continue Reading

HUKRIM

Jonas Salean ‘Bebas’

Published

on

Jonas Salean saat meninggalkan kantor Kejati NTT, Selasa (27/10/2020).
Continue Reading

HUKRIM

Kajati NTT jangan Campuradukkan Wewenang Administrasi Negara dan Wewenang Penuntutan Jaksa

Published

on

Petrus Salestinus (NET)
Continue Reading
loading...