Connect with us

UTAMA

DBD di Kupang Renggut Nyawa Bocah 4 Tahun

Published

on

Ilustrasi demam berdarah (NET)

Kupang, penatimor.com – Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang dr. Ari Wijana mengatakan, sudah ada satu korban jiwa akibat wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi di Kota Kupang.

Korban meninggal akibat DBD atas nama Antonius, berumur 4 tahun 6 bulan yang merupakan warga Kelurahan Maulafa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Ari Wijana mengatakan, korban meninggal pada tanggal 13 Februari, setelah mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang. Korban dirujuk dari Rumah Sakit Leona.

Meninggalnya Antonius berdasarkan diagnosa dari pihak RSUD W.Z. Johannss bahwa yang bersangkutan menderita DBD.

Ari Wijana mengaku, kepastian korban yang meninggal akibat DBD harus berdasarkan diagnosa pihak rumah sakit, karena dalam sepekan terakhir ada dua anak yang meninggal akibat sakit radang paru-paru dan leukimia, namun beredar isu di tengah masyarakat, bahwa kedua anak itu meninggal akibat DBD.

Untuk itu kata Ari, dirinya perlu memberikan klarifikasi agar tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat, terkait wabah DBD yang sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

“Jadi memang ada isu di masyarakat yang menyebutkan bahwa ada dua anak yang meninggal DBD, kepastian medisnya harus dikeluarkan secara sah oleh pihak rumah sakit,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Ari Wijana mengaku bahwa sesuai data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kota Kupang hingga Selasa (19/2) menyebutkan jumlah kasus DBD sudah mencapai 410 kasus dengan satu korban jiwa.

Menurut dia, secara kumulatif angka kasus DBD di Kota Kupang terus naik, dan sekarang sudah mencapai angka 400 kasus. Tetapi secara kurva harian, angkanya berada pada angka 8 sampai 3 kasus saja.

“Artinya ada penurunan jumlah kasus secara harian. Memang secara kumulatif angkanya akan terus naik, karena memang Kota Kupang setiap bulannya ada kasus DBD,” kata dr. Ari saat diwawancarai di Balai Kota Kupang, Senin (18/2).

Menurutnya, diprediksi angka kasus DBD sampai Desember 2019 maka bisa mencapai 700an kasus. Jika angka kasus DBD secara kurva harian terus menurun maka akan dilihat apakah status Kota Kupang KLB DBD sudah dapat dicabut atau tidak.

“Jika nantinya angka kasus DBD sudah ada pada kurva normal yaitu per harinya hanya terjadi 5 sampai 6 kasus, maka akan diusulkan ke Wali Kota untuk mencabut status KLB DBD,” terangnya.

Ari menjelaskan, berdasarkan kurva normal per bulan, maka kasus DBD pada Januari lalu tidak boleh lebih dari 66 kasus, sementara yang terjadi di Kota Kupang yaitu 278 kasus, karena itu ditetapkan sebagai KLB.

Sementara jika dibandingkan Februari tahun 2018, ada 200 kasus dibandingkan dengan Februari tahun ini ada 80an kasus.

“Semua data ini kami masukan dalam data atau perhitungan kurva normal, jika memang sudah berangsur-angsur menurun, maka akan diusulkan untuk dicabut status KLB nya,” terang Ari.

Sementara saat ini, lanjut dia, belum bisa diusulkan untuk mencabut status KLB DBD, karena sampai sekarang terhitung masih ada delapan kasus per harinya.

Sehingga ditargetkan akhir Februari mendatang barulah akan dikaji untuk melihat apakah sudah ada pada kurva normal atau tidak.

Jika sudah maka dapat diusulkan ke Wali Kota Kupang untuk mencabut status KLB DBD di Kota Kupang.

Sampai saat ini kata Ari Wijana, semua upaya pencegahan terus dilakukan. Baik itu fogging, pemantauan jentik dan abatesasi maupun Posko DBD di setiap Puskesmas di Kota Kupang. (R1)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Tim Penyidik Kejati NTT Geledah Kantor BPN Provinsi NTT

Published

on

Tim penyidik Kejati NTT saat menggeledah Kanwil BPN Provinsi NTT, Senin (19/10/2020).
Continue Reading

HUKRIM

Diduga Aniaya Suami, IRT di Kupang Resmi Tersangka

Published

on

Kasat Reskrim Iptu Hasri Manasye Jaha, SH.
Continue Reading

UTAMA

Seorang Nelayan di Kupang Tewas Tenggelam

Published

on

Penemuan mayat nelayan di Pantai Kelapa Lima, Kota Kupang.
Continue Reading
loading...