Connect with us

UTAMA

Warga Batuplat Ini Sudah 23 Tahun Geluti Daur Ulang Sampah

Published

on

Rony Nale menunjukkan hasil daur ulang sampah menjadi pupuk organik di kediamannya.

Kupang, penatimor.com – Daur ulang sampah ternyata menghasilkan banyak produk yang bernilai ekonomis.

Salah satunya sampah organik yang diolah menjadi pupuk dan bermanfaat untuk menyuburkan tanaman.

Selain itu, dengan mendaur ulang sampah memberikan dampak positif terhadap lingkungan.

Hal ini dapat terwujud jika setiap individu memiliki rasa keterpanggilan untuk memelihara lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan tempat.

Dan bisa memanfaatkan sampah tersebut menjadi lebih bernilai, sekaligus menanamkan nilai positif ketika memanfaatkan sampah tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh warga RT 7/RW 3 Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Rony Nale.

Dia memanfaatkan sampah organik untuk dijadikan pupuk. Hasil dari daurulang tersebut dipasarkan kembali dengan ukuran 5 kg seharga Rp 10.000.

Dalam kesempatan bersama media ini di kediamannnya, belum lama ini, Rony mengaku daur ulang sampah ini sudah digeluti sejak tahun 1996 sampai sekarang, atau sudah 23 tahun.

Sampah yang dimanfaatkan adalah sampah dedaunan kering yang kemudian dijadikan pupuk organik.

“Makna penting yang diambil yakni bagaimana kita manfaatkan sampah yang tak bernilai jadi ada nilai,” ujarnya.

Sampah kering dimanfaatkan secara baik berdampak pada nilai ekonomis. Dengan mendaur ulang sampah saja sudah merekrut tenaga kerja.

Menurut dia, intinya bahwa jangan melihat sampah tersebut tidak ada nilai, melainkan mindset harus dirubah dan dibarengi dengan kemauan kerja yang tinggi sehingga dapat membuahkan hasil yang maksimal.

Menurutnya, berbicara mengenai sampah tidak akan habis selama masih ada mahkluk yang menghuni bumi.

Oleh sebab itu, bagaimana dengan sumber daya manusia dapat mensiasatinya sehingga sampah yang ada dapat memberikan manfaat, terutama meningkatkan pendapatan ekonomi.

“Harus ada pemutusan mata rantai produksi sampah dari rumah tangga,” ungkapnya.

Dengan pemutusan mata rantai produksi sampah dari rumah tangga yakni sampah sudah dipilah dan dimanfaatkan secara baik.

Dengan demikian sampah yang ada tidak dibuang sembarangan dan menumpuk di setiap Tempat Penampungan Sampah (TPS).

Upaya selanjutnya, pemerintah terus berinovasi dengan membentuk komunitas-komunitas kecil atau melibatkan OPD terkait terutama yang tupoksinya berurusan dengan masyarakat untuk membentuk komunitas peduli sampah pada tingkat RT/RW.

Kemudian komunitas tersebut diberikan pemahaman secara baik tentang pemanfaatan sampah organik dan non organik.

Jika semua berjalan baik maka tidak ada lagi terlihat penumpukan sampah di TPS. Seperti pupuk organik yang dihasilkan oleh komunitas dan pihak pemerintah membeli hasil olahan daurulang pupuk organik dan ditabur pada tanaman yang ada di Taman Kota.

Prinsipnya, harus ada pembagian porsi yang baik antara tugas dan tanggung jawab sebagai pemerintah dan masyarakat sebagai warga kota.

“Sehingga waktu setahun ini tidak hanya dipakai untuk kerja bakti oleh para ASN setiap minggunya,” katanya.

Sekadar tahu bahwa dari hasil daurulang sampah ini bisa membangun ruangan pelatihan bagi petani tentang daurulang sampah.

Dan ruangan ini dilengkapi fasilitas sarana prasarana sehingga menjadi tempat pembelajaran atau magang baik dari lingkup SMA maupun mahasiswa.

Artinya bahwa mengatasi permasalahan sampah tidaklah sesulit juga, tetapi harus ada kemauan dan kerja keras serta memilki rasa peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Marilah kita bersama-sama memanfaatkan segala potensi yang ada menjadi bernilai, termasuk mendaurulang sampah,” pungkas Rony Nale. (R3)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Lapas Kupang Terima 10 Napi dari Rutan

Published

on

Sebanyak 10 narapidana pindahan dari Rutan Kelas II B Kupang saat tiba di Lapas Kelas II A Kupang.
Continue Reading

UTAMA

Tersisa 12 Orang Penghuni Rutan Kupang Positif Covid-19

Published

on

Kakanwil Hukum dan HAM NTT Merciana Djone saat mengunjungi Rutan Kelas IIB Kupang.
Continue Reading

UTAMA

38 Orang Tahanan di Rutan Kupang Terpapar Covid-19

Published

on

Kakanwil Hukum dan HAM NTT Merciana Djone saat mengunjungi Rutan Kelas IIB Kupang.
Continue Reading