Connect with us

UTAMA

GMIT Dorong Penanganan Kejahatan Human Trafficking Dilakukan Antarnegara

Published

on

(Dok.//penatimor.com)

Kupang, Penatimor.com – Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) mendorong penangangan kejahatan kemanusiaan perdagangan orang (human trafficking) dilakukan antarnegara. Karena kejahatan ini berjejaring dari dalam sampai luar negeri.

Ketua Sinode GMIT, Pendeta (Pdt) Mery Kolimon sampaikan ini di Kupang, Selasa (12/2/2019), pada kegiatan “Memorial Day” memperingati satu tahun kematian Adelina Sau, salah seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal akibat disiksa secara keji oleh majikannya di Malaysia.

Menurut Pdt. Mery, untuk memutuskan mata rantai atau jaringan pelaku kejahatan kemanusiaan (Human Trafficking) atau tidak pidana perdagangan orang (TPPO) tidak bisa dilakukan secara parsial atau penanganannya hanya dilakukan oleh satu negara.

“Ini kejahatan lintas negara. Kejahatan yang tidak hanya terjadi di Malaysia, atau hanya terjadi di Indonesia, tetapi pelaku-pelaku kejahatan ini terhubung atau berjaringan antarnegara,” ungkapnya.

Dia menambahkan, penanganan terhadap kejahatan ini perlu dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh. Perlu diadakan kerja sama serius antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia serta negara-negara lain yang menjadi tujuan tenaga kerja asal Indonesia, khususnya NTT.

Ketua Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Advokasi Hukum dan Perdamaian Sinode GMIT, Pdt. Emmy Sahertian mengatakan, kebijakan Pemerintah NTT melakukan moratorium pengiriman tenaga kerja ke luar negeri belum menjamin berakhirnya kasus TPPO.

“Karena ternyata kebijakan itu ke basis belum terlihat secara baik, karena kekuatan itu ada di basis atau masyarakat. Sehingga tokoh masyarakat, tokah agama, tokoh adat harus dilibatkan menjadi satu kesatuan kekuatan,” ujar Pdt. Emmy.

Dia mengungkapkan, pengalaman menangani kasus TTPO yang sudah berlangsung selama ini, pihaknya menemukan pola-pola baru proses perekrutan yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan kemanusiaan tersebut.

Jika dahulu perekrut merupakan orang dari luar, maka metode baru yang diterapkan saat ini adalah dengan menggunakan atau memanfaatkan orang-orang terdekat, seperti keluarga, kerabat maupun orang tua korban.

“Kalau dulu mereka pakai orang luar, metode itu sudah bergeser. Sekarang ini justru mereka menggunakan lingkaran keluarga atau lingkaran orang dekat. Dan kadang-kadang keluarga itu tidak paham bahwa yang datang ini adalah para perekrut atau pelaku TTPO,” ungkapnya.

Dia berargumen, metodologi baru yang dipakai oleh para pelaku kejahatan kemanusiaan tersebut sesungguhnya sangat berbahaya, karena ketika mereka berhasil masuk ke dalam lingkaran keluarga maka berdampak pada hancurnya hubungan kekeluargaan maupun kekerabatan.

“Ini sangat berbahaya karena mereka sudah memasuki lingkaran keluarga, sehingga kalau ketika kita di pengadilan, maka ini sangat mengenaskan,” tandasnya.

Pdt. Emmy menegaskan, tindak pidana perdagangan orang merupakan kejahatan transnasional, dan dalam praktiknya berjejaring hingga perekrutan dilakukan sampai ke daerah-daerah terpencil yang minim informasi.

“Mereka bekerja dalam satu jaringan yang sangat kuat dan kadang juga melibatkan oknum-oknum. Sehingga penanganannya harus secara masif, bukan hanya sekadar moratorium, tetapi penanganan berbasis partisipatif seluruh masyarakat, dalam konteks kebangsaan Indonesia,” pungkasnya. (R2)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Jonas Salean ‘Bebas’

Published

on

Jonas Salean saat meninggalkan kantor Kejati NTT, Selasa (27/10/2020).
Continue Reading

HUKRIM

Kajati NTT jangan Campuradukkan Wewenang Administrasi Negara dan Wewenang Penuntutan Jaksa

Published

on

Petrus Salestinus (NET)
Continue Reading

UTAMA

VIRAL! Video Seorang Pria di NTT Digantung Kepala di Bawah, Ibu Korban Minta Keadilan

Published

on

Seorang pria dihukum dengan cara digantung kepala di bawah.
Continue Reading
loading...