Connect with us

HUKRIM

Plt. Kadis Nakertrans NTT Dipolisikan

Published

on

Plt. Kadis Nakertrans Provinsi NTT Sisilia Sona saat menemui massa aksi di depan kantornya, Senin (14/1) pagi.

Kupang, penatimor.com – Kasus pencegahan keberangkatan dan penelantaran penumpang transit asal Alor tujuan Yogyakarta di Bandara El Tari Kupang, Selfina Marsia Etidena (24), berbuntut panjang.

Kasus ini telah dilaporkan Selfina didampingi kuasa hukumnya Dedy Jahapay ke Polda NTT, Senin (14/1) sore, dengan terlapor Sisilia Sona yang adalah Plt. Kepala Dinas Nakertrans Provinsi NTT dan petugas Satgas TPPO yang bertugas di Bandara El Tari Kupang pada 4 Januari 2019.

Terlapor diduga melakukan tindak pidana perampasan kemerdekaan, membuat perasaan tidak menyenangkan dan penyalagunaan kewenangan sebagaimana diatur dalam Pasal 333 KUHP, Pasal 335 KUHP dan Pasal 421 KUHP

Laporan di SPKT Mapolda NTT tersebut berdasarkan laporan polisi Nomor: LP/B/16/1/2019/SPKT yang diterima Bamin 1 SPKT Brigpol Joao Vrengqi Talan.

Selfina adalah mahasiswi semester VII Sekolah Tinggi Teologi (STT) Galilea Yogyakarta yang baru saja menyelesaikan PKL di Kabupaten Alor.

Senin (14/1), ratusan mahasiswa dan pemuda Alor di Kupang yang tergabung dalam Aliansi Peduli Kemanusiaan, melakukam unjuk rasa di kantor Dinas Nakertrans Provinsi NTT.

Dalam aksi tersebut, Plt. Kadis Nakertrans NTT Sisilia Sona dihadiahi telur busuk dan karangan bunga.

Koordinator umum Barka Manilapai didampingi Korlap Etus Saldena dalam aksi itu, mendesak Plt. Kadis Nakertrans menghadirkan Satgas yang mencegah keberangkatan dan menelantarkan Selfina Etidena.

“Tolong pertemukan kami dengan lima anggota Satgas yang menahan dan menelantarkan anak kami di bandara. Mereka sama sekali tidak punya hati nurani. Kami keluarga juga sudah beli tiket dan besok kami akan beramai-ramai antar anak kami ke bandara, jadi tolong ibu Kadis tahan lagi,” tantang Barka Manilapai.

Barka juga mengudang Sisilia Sona untuk ikut bersama-sama dengan massa aksi dalam rapat dengar pendapat di DPRD Provinsi NTT.

Namun permintaan itu tidak direspon sosok yang juga Kepala Badan Kesbangpol NTT itu.

Korlap Etus Saldena, menambahkan, pihaknya tidak ingin ada lagi Selfina-Selfina yang lain.

“Kita tidak ingin ada lagi yang diperlakukan semena-mena, hanya karena penilaian subjektif fisik, kulit hitam, keriting rambut, tampang miskin lalu di curigai dan didiskriminasi,” tandas Etus.

Pada hakikatnya, lanjut dia, pihaknya sepakat menolak human trafficking, tapi mereka ingin yang ditangkap itu pelaku besarnya bukan korban.

“Pilihan moratorium menjadi salah satu pencegahan perdagangan orang dan masih banyak cara lain yang lebih efektif untuk memberantas human trafficking,” imbuh dia.

Dia meminta Pemprov NTT menghentikan pencekalan kepada setiap warga yang ingin pergi ke luar daerah.

“Gunakan cara yang lebih manusiawi. Karena mereka bukan teroris, bukan juga pelaku human trafficking,” tandas dia.

Menurutnya, pelaku tempatnya bukan di bandara, karena bandara adalah tempat terakhir mereka yang dikirim.

“Di desa-desa, di kampung-kampung, di situlah pelaku berkeliaran. Tugas Satgas harusnya di desa dan di kampung,” imbuh dia.

Plt. Kadis Nakertrans NTT Sisilia Sona yang diwawancarai, mengatakan, semua tindakan yang dilakukan pihaknya sudah sesuai dengan prosedur.

“Berita acaranya pun semua ada dan sudah sesuai dengan protap kami yang dilaksanakan Satgas di bandara,” kata Sisilia.

Dia juga membantah bahwa petugasnya telah merobek tiket miliki Selfina maupun mengucapkan kata-kata rasis dari petugas.

“Kami sudah mencegah 3.000 lebih, tidak ada satu masalah yang kami cegah jadi soal. Ini kasus yang baru pernah terjadi, dan bagus juga, proses pembelajaran untuk semua. Kalau demikian, kita terima, kita hadapi dan selesaikan. Kami juga tengah melakukan upaya-upaya untuk menyelesaikan persoalan ini. Saya jamin selesai,” tandas Sisilia.

Dia juga menegaskan semua yang terjadi dan dipersoalkan, merupakan di luar fakta lapangan, karena saat itu Selfina dinilai tidak mampu menunjukan bukti identitas, apalagi tempat, tanggal dan tahun lahir yang tertera di KTP dan KTM jelas berbeda.

“Jadi kami masih berproses, dan memang sebelumnya data yang kami dapatkan itu tidak bisa mengatakan bahwa dia mahasiswa,” tandas Sisilia Sona.

Terpantau, aksi massa dimulai dari titik kumpul di Bundaran PU.
Massa aksi mulai bergerak pukul 09.00 menuju Kantor Nakertrans NTT, kemudian lanjut menyerakan laporan ke Kantor Gubernur NTT, kemudian ke DPRD NTT dan final dengan membuat laporan ke Polda NTT.

Aksi massa dilakukan mahasiswa Alor di Kupang dari Kemahnuri, Ikmaiwell, Imailolong, dan IKKA Kupang.

Selfiana Etidena ditahan dan ditelantarkan oleh Satgas Anti Trafficking Dinas Nakertrans Provinsi NTT dengan alasan tidak bisa menunjukan kartu tanda mahasiswa (KTM) dan dianggap sebagai calon tenaga kerja ilegal.

Aliansi Mahasiswa Peduli Kemanusian dalam unjuk rasa tersebut juga menyatakan mendukung penuh kebijakan Gubernur NTT terkait moraturium TKI .

Massa aksi juga mempertanyakan dasar kewenangan Satgas dalam melakukan pelarangan terhadap seseorang yang bepergian ke luar daerah.

Termasuk parameter objektif yang dijadikan bukti permulaan bagi satgas menduga seseorang yang berpergian ke luar daerah sebagai calon tenaga kerja ke luar daerah atau luar negeri. (R3)

Loading...


Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Visum Dokter Dinilai Kaburkan Penyebab Kematian Ansel Wora

Published

on

Petrus Salestinus
Continue Reading

HUKRIM

Polisi Bekuk Dua Pelaku Pengancaman Menggunakan Senjata Tajam di Kupang

Published

on

Kedua pelaku pengancaman diamankan polisi bersama senjata tajam yang digunakan.
Continue Reading

HUKRIM

Dikeroyok, Mahasiswa di Kupang Ini Patah Kaki

Published

on

Lukas Leiju Malanna (27), mahasiswa UKAW Kupang yang menjadi korban tindak pidana pengeroyokan yang mengakibatkan patah tulang pada kakinya.
Continue Reading
loading...




Loading…