Connect with us

OPINI

Pertarungan II Jokowi vs Prabowo, Siapa Menang?

Published

on

Ilustrasi Jokowi vs Prabowo (NET)

Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)

SEMUA lembaga survei ternama seperti Poltracking, Populi Centre, Indikator Politik, Cyrus Network, Charta Politika, Indo Barometer, Alvara, LSI Denny JA, Y Publica dalam survei terbarunya telah menempatkan Jokowi-MA sebagai pemenang jika Pilpres dilakukan di waktu dekat ini, masalahnya pelaksanaan Pilpres masih kurang beberapa bulan lagi, yakni April 2019, hingga banyak orang harap-harap cemas bahkan ragu apa benar Jokowi-MA akan menang. Sebuah kekhawatiran yang tidak berlebihan, mengingat semakin gencarnya kubu Prabowo melakukan serangan politik secara total pada kubu Jokowi.

Untuk menjawab keraguan ini terpaksa saya harus berusaha berpikir keras, agar saya dapat memberikan analisa yang lebih obyektif, rasional, tajam dan akurat mengenai siapa yang menang atau yang kalah dari kedua kontestan Capres tsb.

KEKUATAN DAN KELEMAHAN JOKOWI-MA:

Jokowi merupakan petahana yang sudah pernah menang melawan Prabowo di Pilpres 2014. Prabowo mengakar di Gerindra dan Hatta Rajassa saat itu mengakar di PAN. Keduanya saat itu didukung penuh oleh partai lainnya yang besar dan menengah serta berpengaruh, yakni Partai Golkar, PPP dan PKS, serta partai gurem PBB. Namun sekali lagi Jokowi meski dikeroyok oleh banyak partai besar saat itu tetap menang. Hanya saja sejak adanya Pilkada DKI tahun 2016 yang paling rusuh sepanjang sejarah, Jokowi terus menerus diserang dengan berbagai fitnah yang lambat laun menggerus elektabilitas Jokowi, mengingat masih tumpulnya sebagian daya kritis masyarakat terhadap info-info hoax yang diulang terus menerus tanpa henti. Kelemahan dari kubu Jokowi adalah ketidak seriusannya untuk mengubah strategi dari menahan serangan menjadi berbalik menyerang, meskipun Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-MA sudah mengeluarkan statement politik untuk mengubah strategi itu, namun dalam pelaksanaannya tidak begitu terlihat perubahannya.

KEKUATAN DAN KELEMAHAN PRABOWO-SANDI

Prabowo harus diakui sangat cerdik dalam merangkul dan memanfaatkan kekuatan Islam fundamentalis. Mereka itu sebenarnya sangat kecil tetapi sangat militan dan terbiasa bergerak tanpa ada perintah, serta tak henti-hentinya terus bergerak melebarkan sayap dukungan. Saya sendiri pernah mengalami hidup sebagai pribadi yang seperti itu, meski saya dari dulu sangat anti untuk mengkafir-kafirkan orang lain yang tidak sepaham dengan saya. Karenanya saya sangat tidak heran mengapa mereka bisa bergerak seperti tidak ada letihnya. Keletihan itu akan muncul disaat kesadaran perlahan-lahan mulai tumbuh dalam jiwa mereka, bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, barulah mereka akan berhenti dengan sendirinya.

Pasukan penyebar hoax yang diinisiasi oleh pentolan-pentolan kubu Prabowo-Sandi ini memang tidak bisa diremehkan, akan tetapi berkat kesabaran dan keuletan dari seorang Jokowi, lautan massa buta yang berhasil kubu Prabowo ciptakan, pada akhirnya mampu dibelah secara perlahan-lahan oleh Jokowi. Ya, Jokowi bagaikan Musa yang membelah lautan dan kemudian Jokowi berjalan dengan tenang ke tengah lautan massa dengan selamat. Kalian telah melihat kejadian itu di momentum aksi 212 bukan? Dan para pemimpin pasukan itu satu persatu sekarang mulai beralih mendukung Jokowi bersama partai politiknya.

Golkar, PPP yang asli, PBB sekarang sudah berada di kubu Jokowi-MA. Di sisi lain pemimpin-pemimpin pasukan Prabowo sudah kabur dan sebagian besar masuk penjara karena perbuatan kriminal seperti korupsi, menyebarkan hoax dan melakukan tindak kekerasan atau penganiayaan. Panglima TNI dan KAPOLRI juga sangat setia pada Jokowi, tidak seperti Panglima TNI sebelumnya yang menyimpan agenda rahasianya sendiri setelah linglung dipuja-puji kubu Prabowo sebagai Sang Jenderal pembela Islam. PAN terbelah dan para pendirinya mengecam Amin Rais dukun politiknya Prabowo. SBY Baper, mulai memberikan dukungan totalnya pada Prabowo namun kader-kadernya di daerah malah memberikan dukungannya ke Jokowi-MA. Semua ini merupakan tanda paling kuat, bahwa Jokowi-MA benar-benar akan memenangkan pertarungan politik dalam PILPRES 2019.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya, mampukah kubu Jokowi memanfaatkan situasi politik ini dengan sangat baik, yakni berjuang untuk memenangkan Jokowi-MA secara total? Islam Moderat jelas dukung Jokowi- MA, kelompok Nasionalis sejati jelas dukung Jokowi-MA, penganut agama Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan Konghuchu sejati jelas dukung Jokowi-MA, kenapa kita masih ragu untuk menghadapi kaum oportunis yang bersekutu dengan kaum fundamentalis? Mereka hanya menguasai speaker hingga suaranya terdengar keras dan gaduh dimana-mana, tetapi kita yang berdiri di atas nalar yang sehat dan niat yang tulus untuk membentengi bangsa dan negara dari infiltrasi kaum oportunis dan barisan Satpam Surga, dengan izin Tuhan kita pasti menang asal kita maksimalkan kita punya tekad dan merealisasikan perjuangan ! Semoga…(SHE).

Jakarta, 2 Januari 2019.

Saiful Huda Ems (SHE). Advokat, pemerhati politik dan penulis yang menjadi Ketua Umum Pengurus Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI.

Advertisement
Loading...
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OPINI

Surat Terbuka untuk Gubernur NTT

Published

on

Ilustrasi/ foto: net

Akan Tembak Mati Pencuri, Mana Buktinya?

Selamat berjumpa Bapak Gubernur NTT, Victor B. Laiskodat. Maaf, saya menggangu di tengah kesibukan Bapak bekerja keras membangun NTT. Apalagi beberapa hari lalu saya lihat di media sosial, Bapak melakukan eksebisi dengan mantan juara dunia tinju Chris John. Sebelum naik ring, Bapak pasti menghabiskan cukup banyak waktu untuk melatih fisik, minimal menjaga kebugaran raga. Semoga Bapak dalam keadaan sehat-sehat sehingga mampu memimpin provinsi kepulauan NTT.

Saya kira, setiap orang NTT patut mendoakan dan mendukung Bapak karena tantangan yang Bapak hadapi dalam membangun NTT, tidak ringan. Untuk membangun NTT diperlukan semangat, konsistensi, daya kreasi, pantang korupsi dan keberanian – sedikit dengan “tangan besi”. Ingat “sedikit saja”.

Saya percaya Bapak memiliki semua itu, terutama dalam keberanian. Karenanya ketika Bapak muncul dengan entakan berupa psy war bahwa Bapak akan menembak mati para pencuri di NTT, khususnya Sumba dan mematahkan kaki para pelaku trafficking, saya terperangah, kagum sekaligus menunggu bukti.

Sayangnya, sampai hari ini saya belum pernah dengar ada pencuri yang ditembak dan pelaku trafficking yang kakinya dipatahkan, sehingga kedua penyakit tersebut kian berbiak dan menjelma menjadi kanker pembunuh. Para pencuri tetap merajalela dan Pekerja Migran Indonesia asal NTT yang kembali dalam rupa mayat semakin mencengangkan. Sudah hampir 50 PMI yang pulang sebagai mayat hingga pertengahn Juli ini.

Nenek 83 Tahun Kehilangan Kerbau

Gertakan Bapak akan menembak mati pencuri itu tiba-tiba saja terngiang-ngiang di telinga saya ketika mendapati kenyataan tiga ekor kerbau Mama kami Theresia Bela yang sudah berusia 83 tahun hilang diambil pencuri dari kandang pada tanggal 7 Juli 2019 malam di Pu’u Loba, Desa Kabali Dana, Wewewa Barat, Sumba Barat Daya.

Kenyataan ini sangat menyesakkan dada dan membuat Mama benar-benar menangis. Dia menangis karena kerja kerasnya selama bertahun-tahun sirna sesaat. Lantas karena rasa kehilangan itu, anak-anaknya dan sejumlah kerabat pergi ke sana ke mari untuk mencari, kalau-kalau bisa mendapatkan kembali. Dan kalau pun ketemu, tentu saja muncul persoalan lain. Sangat mungkin jatuh korban karena di satu sisi, sang pencuri pasti memertahankan. Sementara di sisi lain, pemilik akan berusaha mendapatkan kembali. Pertarungan pun akan sulit dihindari.

Bapak Gubernur Victor yang terhormat

Kami sekeluarga adalah pekerja keras. Dan Mama kami sejak muda sampai pada usianya yang sudah sepuh, adalah pekerja sangat keras. Kami bisa bersekolah berkat kerja keras orang tua yang tidak mengenal lelah mengolah tanah dengan kemarau panjang. Kami benar-benar memahami bahwa ihwal bekerja adalah pernyataan diri sebagai makhluk bermartabat yang harus berpeluh.

Sungguh! Kami hendak mempertahankan hidup dengan kerja keras dan makan dari keringat sendiri. Dan banyak masyarakat yang berikhtiar seperti itu. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana mungkin kami yang bekerja keras sementara orang lain yang menikmati dengan cara-cara kurang ajar? Karenanya ancaman Bapak kepada pencuri tersebut kami anggap sebagai kelegaan. Ternyata hanya merupakan omong kosong kaum cerdik pandai atau yang Berhard Russel sebut sebagai intellectual rubbish.

Tabiat mencuri di tengah masyarakat sudah ada sejak saya masih kecil dan ini sangat mengganggu ketenangan batin, membunuh semangat juang atau jiwa kerja keras, bahkan nyawa masyarakat. Bagaimana mungkin, setelah bekerja keras sepanjang hari di ladang atau atau sawah yang belum karuan akan berhasil, lalu pada malam hari harus berjaga sepanjang malam agar yang diperjuangkan pada siang hari tidak dicuri atau pindah ke tangan orang lain? Ini benar-benar wow!!

Pak Gubernur, gertakan Bapak tersebut mengingatkan kami untuk menuntut keamanan dan kenyamanan dalam bekerja. Kami tidak meminta Bapak Gubernur untuk datang mengisi periuk nasi kami lalu kami tinggal enak-enak makan dan minum lalu tidur pulas. Tidak! Sama sekali tidak!! Kami justru merasa terhina kalau diperlakukan demikian. Yang kami mau adalah terciptanya suasana yang menjamin kerja keras kami tidak sia-sia.

Yang perlu Bapak tahu juga—atau Bapak pasti sudah sangat tahu—kalau ada yang kehilangan ternak, lalu dia berusaha mencari dan ketemu, sang pemilik harus menebus dengan nilai yang sangat tinggi, bahkan hampir setengah harga ternak itu. Ini sangat menyakitkan dan merendahkan. Cepat atau lambat, hal ini akan membuat masyarakat sangat marah.

Pak Gubernur, kami butuh ketegasan Anda! Semoga Bapak gelisah dengan keadaan rakyat Bapak yang sedang teraniaya. Jangan sampai apa pun omongan Bapak ke depan tidak bermakna apa-apa di mata rakyat. Kalau omongan seorang pemimpin tidak dianggap lagi oleh orang-orang yang dipimpinnya, inilah kegagalan seorang pemimpin. Semoga Bapak tidak sefatal itu.

Terima kasih.

Salam hormat.

EMANUEL DAPA LOKA

Continue Reading

OPINI

PMII Kupang Soroti Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan di NTT 

Published

on

Hasnu Ibrahim (Dok.Ist)

Kupang, Penatimor.com – Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai provinsi berbasis kepulauan yang terdiri dari ratusan pulau dengan tiga buah pulau besar yakni Pulau Flores, Sumba dan Timor.

Dengan demikian menjadi suatu kebutuhan manakala memperhatikan serta memprioritaskan potensi kekayaan alam laut NTT demi mendorong percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di provinsi ini, dengan pengembangan sektor pariwisata atau ekowisata sebagai agenda prioritas Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT.

Keelokan pariwisata NTT terus tersingkap. Upaya  tersebut menjadi salah satu agenda konsentrasi kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur Nusa Tenggara Timur yang baru dilantik pada tanggal 5 September  2018 tahun lalu.

Gebrakan baru dalam menyongsong “NTT Bangkit dan NTT Sejahtera” tentunya dapat dilihat dari 5 platform visi/misi pemerintah yakni Pariwisata, Infrastruktur, Pendidikan, Kesehatan dan Reformasi Birokrasi.

Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kupang, Hasnu Ibrahim menyebutkan, dari ke 5 program tersebut, salah satu agenda yang menarik bagi PMII Kupang yakni menakar pemahaman Pemprov NTT terkait konsep pariwisata dan ekowisata.

PMII Kupang menilai, antara konsep pariwisata dan ekowisata sering dicampur adukkan sehingga asas sustainabelity (keberlanjutan) jarang diperhatikan oleh semua kalangan terutama Pemprov selaku pemangku kebijakan.

“Sebelum kita membahas lebih jauh apa itu Pariwisata dan bagaimana perbedaannya  dengan Ekowisata? Alangkah baiknya seluruh stakeholder harus memahami dulu perbedaan dari kedua pengertian tersebut,” ungkap Hasnu, Kamis (30/5/2019).

Hasnu menjelaskan, kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah daerah, dan pengusaha (UU 10/2019 tentang Kepariwisataan).

Sedangkan ekowisata, yakni kegiatan perjalanan wisata yang dikemas secara profesional, terlatih, dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor/ usaha ekonomi, yang mempertimbangkan warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan penduduk lokal serta upaya-upaya konservasi sumber daya alam dan lingkungan.

“Maka antara konsep pariwisata dan ekowisata sangat jelas perbedaannya. Sehingga publik NTT harus cerdas dalam melihat setiap kebijakan otonomi daerah Pemerintah Provinsi NTT,” jelasnya.

Dia menegaskan, otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan (UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah).

“Sedangkan pemerintah daerah sebagaimana dijelaskan dalam UU tersebut bahwa gubernur, bupati, wali kota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah,” tegasnya.

Dalam siklus kebijakan daerah, lanjutnya, otonomi daerah dan pemerintah daerah wajib hukumnya untuk membuat peraturan daerah sebelum menjalankan dan melaksanakan program. Karena peraturan daerah (Perda) adalah peraturan daerah provinsi dan/atau peraturan daerah kabupaten/kota masih dalam koridor UU No 32 Tahun 2004.

Pembangunan pariwisata memiliki peran signifikan dalam aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Dalam aspek ekonomi, sektor pariwisata menyumbang devisa dari kunjungan wisatawan manca negara (Wisman) dan Produk Domestik Bruto (PDB) beserta komponennya.

Dalam aspek sosial, pariwisata berperan dalam penyerapan tenaga kerja, apresiasi seni, tradisi dan budaya bangsa, dan peningkatan jati diri bangsa. Dalam aspek lingkungan, pariwisata Khususnya ekowisata dapat mengangkat produk dan jasa wisata seperti kekayaan dan keunikan alam dan laut, dan alat yang efektif bagi pelestarian lingkungan alam dan seni budaya tradisional.

Pengembangan sektor pariwisata dan penunjangnya memiliki makna penting dalam integrasi nasional. Infrastruktur bukan saja berfungsi mengikat geografi wilayah Nusantara, tetapi juga memandu lahirnya partisipasi, efisiensi dan kesejahteraan.

“Keberhasilan negara memberikan kesejahteraan bermakna hak dan kewajiban negara dan warga negara telah berjalan optimal. Warga yang sejahtera cenderung bersifat integratif dan hubungan warga negara dengan pemerintahan positif sehingga masing-masing ingin memelihara manfaat dan hubungan positif tersebut,” paparnya.

Berdasarkan The Travel and Tourism Competitiveness Report 2009 (Word Economic Forum), daya saing pariwisata Indonesia tercatat pada peringkat ke-81 dari 133 Negara. Posisi diatas masih dibawah Malaysia (32 %), Singapura (10 %), dan Thailand (39 %), sedangkan Indonesia (31 %).

PMII mengapresiasi gagasan Dinas Pariwisata provinsi yang terus berusaha mengembangkan pariwisata NTT ke arah ekowisata. Seperti dituturkan Mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT Alexander Sena saat menjabat sebagai Kadis Pariwisata NTT berikut :

Pariwisata NTT dikembangkan dengan konsep ekowisata yaitu keberlanjutan bagi alam maupun masyarakat.

“Nusa Tenggara Timur memiliki potensi budaya dan alam. Konsep ke depan untuk NTT adalah ecotourism (ekowisata),” tutur Alexander baru-baru ini di Jakarta, kepada Kompas Travel.

Alexander menuturkan, pariwisata yang berbasis masyarakat salah satu programnya adalah pengembangan desa wisata. Sejak tahun 2012, lanjutnya, pemerintah provinsi menganggarkan Rp 50 juta per desa untuk pengembangan desa wisata.

“Kami targetnya setiap tahun itu 50 desa. Program ini sejak 2012 sampai 2018,” katanya.

Desa yang disasar adalah desa yang memiliki kelompok-kelompok masyarakat yang bergerak di bidang wisata atau berpotensi wisata. Pengembangan yang diberikan berupa misalnya pelatihan sadar wisata bagi masyarakat desa wisata serta pelatihan bagi pemilik homestay.

Alexander juga menjelaskan pentingnya pelestarian alam NTT sebagai daya tarik pariwisata. Potensi alam untuk wisata yang dimiliki NTT, jelas Alex, mulai dari Pulau Komodo, Kelimutu, banyaknya titik penyelaman yang tersebar di NTT seperti di Riung (Ngada), Pulau Kepa di Alor, sampai Teluk Maumere di Maumere.

“Ini merupakan aset pariwisata bahari, karena NTT adalah kepulauan, banyak pulau besar dan kecil tersebar,” tutur Alexander.

Tambahan lagi, lanjut Alexander, adalah potensi budaya. Di NTT banyak tradisi unik seperti penangkapan ikan paus di Lembata. Lalu suku-suku tradisional yang masih hidup sesuai tradisi nenek moyang seperti Wae Rebo di Manggarai. Ada pula tradisi Pasola di Sumba.

Hanya saja, Alexander mengakui untuk infrastruktur perlu banyak pengembangan. Seperti akses penerbangan masih berupa rute domestik yang terkonsentrasi di Labuan Bajo dan Kupang. Demikian juga hotel berbintang masih terkonsentrasi di Kupang dan Labuan Bajo.

Untuk akomodasi, Alexander menganggap pentingnya pengembangan homestay di NTT. “Hampir semua kabupaten punya hotel, tinggal kelasnya saja. Kebanyakan hotel melati,” tambah Alexander.

Menanggapi hal itu, Hasnu menyatakan, pada realisasinya, gagasan serta gebrakan tersebut diatas kini telah dilupakan. Sehingga bagi PMII, ada indikasi kuat terkait kasus dugaan korupsi khususunya di Dinas Pariwisata Provinsi NTT.

“Dalam melihat indikasi kasus korupsi ini sangat sederhana, walaupun PMII Kupang belum memiliki bukti yang sangat cukup dalam membongkar persoalan ini,” tegas Hasnu.

Karena itu, Hasnu mengatakan, program yang tidak sesuai dengan realitas fisik maka besar kemungkinan ada indikasi kasus korupsi di dalamnya, karena korupsi bukan saja dinilai merampok uang negara, tapi hasil keputusan kebijkan yang salah pada tempatnya adalah suatu bentuk korupsi pada ranah administrasi publik.

“Sebagaimana yang diketahui secara seksama, NTT tidak hanya mempunyai tiga danau unik dipuncak gunung Kelimutu yang akhirnya kadang kala berubah warna dan pulau Komodo sebagai wisata unggulan. Di lain Aspek provinsi ini juga masih mempunyai banyak pantai dan teluk yang bisa menjadi tujuan wisata bahari,” katanya.

PMII Kupang juga mendesak Bidang Destinasi dan Promosi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, agar menjadikan destinasi wisata bahari seperti teluk yang diunggulkan keindahannya yakni Taman Laut Teluk Maumere, Pink Beach di Manggarai Barat, Pantai Nihiwatu di Sumba, Alor Dive, Pantai Cepi Watu di Borong Manggarai Timur dan Pantai Nemberala di Rote Ndao agar diperhatikan secara serius dan menjadi agenda prioritas Pemprov.

Sudah saatnya, sektor pariwisata menjadi kekuatan ekonomi baru bagi NTT, sebab sumbangannya terhadap Produk Domestik Regional Bruto Provinsi dengan jumlah penduduk mencapai 5.203 juta jiwa itu sebesar Rp 2 triliun pada 2016.

“Artinya, sektor pariwisata sudah menjadi kekuatan ekonomi baru dengan indikator wisatawan asing ke NTT 80.000 orang, domestik 369.000 orang pada 2015 dan meningkat lebih dari 100.000 orang pada 2016 atau melebihi target pemerintah 10 persen atau naik 20 persen,” tandasnya.

Terkait arus kunjungan wisatawan ke NTT dan dampaknya bagi perekonomian serta daya beli masyakat sekitar destinasi pariwisata yang ada, diakui Menteri Pariwisata RI, Dr. Arief Yahya bahkan mengapresiasi Gubernur NTT dan jajarannya karena berhasil ‘menyulap’ Flobamorata menjadi destinasi wisata dunia.

Parameternya jelas, angka kunjungan wisatawan domestik dan internasional meningkat pesat sampai 100 persen di tahun 2016 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ini membuat NTT semakin tersohor. Bahkan Menpar memperingatkan NTB karena bisa dilampaui NTT.

Kontribusi sektor ini terbilang tinggi jika dibandingkan dengan sektor atau bidang administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib yang hanya 12,67 persen.

Demikian pula terhadap sektor atau bidang perdagangan besar dan eceran, reparasi Mobil dan sepeda motor yang hanya 11,07 persen dan sektor kontruksi menempati struktur paling buntut dengan kontribusi hanya 10,81 persen dalam struktur ekonomi NTT.

Dampaknya, kata dia, pada triwulan-II 2017 tercatat sebesar Rp22,25 triliun (Atas Dasar Harga Berlaku) dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,01 persen (yoy).

Menurut Hasnu, berdasarkan hasil audiensi bersama Bank Indonesia (BI) dan PMII Kupang terkait “Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi NTT pada bulan Oktober 2018, diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi NTT pada triwulan-II 2017 mengalami peningkatan apabila dibandingkan triwulan-I 2017 yang sebesar 4,98 persen, meskipun sedikit melambat jika dibandingkan triwulan II-2016 yang tumbuh sebesar 5,35 persen (yoy).

“Hal ini katanya karena infrastruktur penunjang juga pariwisata telah semakin memadai, dengan perkembangan tersebut, maka akan memberikan manfaat dan kontribusi yang semakin besar khususnya bidang ekonomi terhadap kesejahteraan masyarakat NTT,” katanya.

Dia menyatakan, saat ini kontribusi sektor pariwisawa terhadap penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat NTT telah mencapai 20 persen, dan diharapkan kontribusi tersebut bisa terus meningkat dengan beragam pembenahan dan pengembangan yang dilakukan.

Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pariwisata memberi perhatian khusus terhadap pembangunan pariwisata di NTT. Perhatian itu, dibuktikan pada kebijakan pemerintah yang telah menetapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai salah satu prioritas pengembangan destinasi strategis nasional dari NTT.

“Kunjungan wisatawan domestik dan internasional ke NTT terus meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan konektivitas udara, darat, dan laut yang semakin lancar dari berbagai arah. Bandara El Tari di Kupang dan Bandara Komodo di Labuan Bajo kini disiapkan melayani penerbangan internasional melalui pola charter flight maupun regular flight,” katanya.

Karena itu, berbagai event skala lokal, nasional, regional dan internasional seperti Tour de Flores, Tour de Timor, sebagai bagian dari strategi menjadikan NTT mendunia.

“Terobosan baru, kita bekerja sama dengan Carnival Shipping Line, operator cruise terbesar dunia agar rutin mendatangkan kapal pesiar ke NTT. Selama ini home port kapal pesiar dunia di Singapura dan di Indonesia mereka hanya lewat saja, sehingga keuntungan ekonomisnya dinikmati Singapura,” ungkapnya.

Pemerintah, lanjut dia, katanya akan bangun home port cruise di Labuan Bajo dan call-call port di sejumlah kabupaten. Pemprov NTT juga jemput bola, membahas kerja sama investasi bangun infrastruktur pariwisata dengan Spanyol dan pelaku ekonominya. Kontennya dibahas di Kupang, lalu diajukan ke Bappenas untuk skema bantuan luar negeri.

“Gambaran diatas, tentu sangat bisa untuk menjawab NTT Bangkit dan NTT Sejahtera, melalui pengembangan dan peningkatan sektor pariwisata,” ujarnya.

Tapi bagi PMII, pemikiran perihal integrasi usaha wisata dengan sektor pertanian atau pedesaan, dikenal dengan community-based tourism (CBT). Pada dasarnya, ada tiga komponen utama dalam pariwisata yang dapat mendukung konsep CBT yakni penjelajahan (adventure travel), wisata budaya (culture travel) dan ekowisata (ecotourism).

“Apabila dasar pikiran diatas yang dilakukan maka sudah jelas akan melibatkan pula masyarakat dalam proses pembuatan keputusan, khususnya terkait dengan perolehan pendapatan, kesempatan kerja, serta pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat, yang pada akhirnya akan menumbuhkan jati diri dan rasa bangga dari penduduk setempat akibat peningkatan kegiatan pariwisata. Karena konsep CBT PMII menilai implementasi ekonomi kerakyatan di sektor riil, yang langsung dilaksanakan dan dinikmati oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Karena budaya, lingkungan dan peninggalan sejarah adalah nyawa (Roh) dari kegiatan pariwisata Indonesia. Tanpa adanya budaya maka pariwisata akan terasa hambar dan kering,  dan tidak akan memiliki daya tarik untuk dikunjungi.

“Sehingga konsep CBT adalah hasil edukasi pemahaman ekowisata tidak kita temui dalam konsep pariwisata,” tambahnya.

PMII juga melihat, di tengah dinamika ekonomi dunia, ditandai krisis ekonomi dunia, globalisasi ekonomi yang belum tuntas, kenaikan harga minyak dunia, serta tarik menarik kepentingan ekonomi dunia maju dan dunia ketiga, telah berkembang suatu jenis jasa wisata yang memberikan jaminan bagi terciptanya kesejahteraan. Sektor usaha tersebut dikenal dengan ecotourism atau ekowisata.

“NTT memiliki potensi keindahan dan kekayaan dan kekayaan alam, khususunya apabila jasa ekowisata yang dikembangkan. Sebagai bentuk wisata yang sedang tren, ekowisata mempunyai kekhususan tersendiri yaitu mengedepankan konservasi lingkungan, pendidikan lingkungan, kesejahteraan produk lokal dan menghargai budaya lokal,” sebutnya.

“PMII Kupang berharap, seluruh stakeholder khusunya Pemprov dan Dinas Pariwisata NTT agar memikirkan kelangsungan (sustainabelity) dari provinsi ini tidak hanya terkooptasi terhadap keuntungan berbasiskan profit oriented, tapi yang lebih penting dalam dunia wisata adalah asas konservasi serta keberlanjutan, agar generasi NTT tetap tersenyum melihat keindahan alam dari provinsi ini,” pungkasnya. (R2)

Continue Reading

OPINI

Catatan AHP Kenang Sosok Mendiang Bupati Ende Marsel Petu

Published

on

Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira (kiri) bersama mendiang Bupati Ende Marsel Petu (kanan)

Kupang, Penatimor.com – Bupati Ende Ir. Marselinus Y.W. Petu atau yang akrab disapa Marsel Petu, telah berpulang menghadap Sang Khalik, Minggu (26/5/2019) dini hari, sekira pukul 02.17 WITA.

Kepergian bupati yang baru saja dilantik untuk kepemimpinan periode kedua itu, membawa duka mendalam bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya masyarakat Nusa Bunga, Kabupaten Ende.

Termasuk Andreas Hugo Pareira (AHP), Anggota DPR RI / Ketua DPP PDI Perjuangan mengungkapkan duka mendalam dalam catatannya:

Selamat Jalan “Bupati Pancasila, Bupati Rakyat Ende”

Kira-kira akhir Januari 2018, saya ditelepon Marsel Petu, Bupati Ende. Beliau menyampaikan akan ke Jakarta dan ingin bertemu untuk mengobrol beberapa hal. Saya langsung jawab: “Silakan ka’e, kapan tiba di Jakarta, kontak saya, sehingga kita bertemu”.

Pertemuan berlangsung dua minggu kemudian, pertengahan Februari 2018, di ruangan kerja saya di kantor DPP PDI Perjuangan, Jln Diponegoro 58.

Dalam obrolan yang panjang, Marsel Petu menyampaikan obsesinya untuk menjadikan Ende sebagai salah satu national heritage dan destinasi wisata ideologi Pancasila.

Mengingat di Ende lah Bung Karno pernah dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda, bertemu, bergaul, berdialog dengan masyarakat, berdiskusi dan berolah pikir dengan para misionaris Katolik yang bekerja di Ende. Sehingga Ende merupakan salah satu “stepping stone” lahirnya Pancasila. Di Ende lah Bung Karno mulai menggali dan menemukan ide Ke-bhinekaan untuk philosphi hidup berbangsa dan bernegara, sebagai cikal bakal lahirnya Pancasila.

Marsel menjelaskan banyak hal yang menyangkut paket rencana untuk menjadikan Ende sebagai Kota Pancasila, termasuk rencana beliau untuk membangun patung lambang negara burung Garuda di atas puncak Gunung Meja.

Marsel juga menjelaskan tekadnya untuk melakukan upacara dan parade Pancasila secara besar-besaran di setiap tanggal 1 Juni, dan menjadikan itu sebagai agenda nasional yang dilaksanakan di Ende.

Saya menyimak pembicaraan Bupati Ende ini dengan kagum karena pengetahuan dan pemahaman dan upaya pengamalannya terhadap Pancasila, yang mungkin tidak banyak lagi dimiliki oleh banyak orang termasuk oleh pemimpin maupun pejabat-pejabat kita saat ini.

Di akhir diskusi kami, Marsel Petu sambil senyum menyampaikan ke saya: “Pak Andre, baju saya memang kuning, tapi darah saya merah”.

Marsel Petu juga menyampaikan ke saya, beliau ingin kembali maju untuk pencalonan bupati periode jabatan 2019-2024, dan secara khusus menyampaikan keinginan untuk didukung oleh PDI Perjuangan.

Tanpa ragu, saya jawab: “kita akan maju bersama, PG dan PDI Perjuangan akan menjadi pilar utama pendukung Marsel-Jafar”.

Kita semua tahu, Marsel-Jafar akhirnya maju lalu terpilih kembali dan baru awal April 2019 dilantik untuk mengemban jabatan bupati/wakil bupati periode 2019-24.

Keterpilihan Marsel-Jafar dengan kemenangan yang cukup telak membuktikan betapa rakyat mencintai bupatinya yang pekerja keras dan penuh dengan ide progresif.

Ende lima tahun dibawah kepemimpinan Marsel-Jafar telah menorehkan banyak prestasi-prestasi riil, sebagai kabupaten dengan perencanaan pembangunan terbaik tingkat propinsi dan salah satu yang terbaik tingkat nasional.

Ende pun telah membuka diri dalam hal jalur transportasi niaga laut maupun udara, sehingga menjadi salah satu pintu gerbang utama transportasi manusia dan barang dari dan ke Flores. Sehingga kota Ende dalam beberapa tahun terakhir menjadi lebih sibuk baik siang maupun malam. Ende telah menjadi kota kecil yang hidup 24 jam.

Dalam beberapa acara kunjungan kemasyarakatan, saya sempat bersama dengan sang bupati Pancasila ini. Betapa dalam pidato-pidatonya, Marsel selalu muncul dengan narasi kerakyatan, ungkapan bahasa kultural merupakan retorika-retorika yang menyentuh dan memotivasi rakyat untuk kerja dan menjadi lebih maju.

Rakyat mencintai sang bupati Pancasila yang merakyat ini. Di massa kepemimpinan beliau yang meskipun singkat telah meletakan dasar-dasar pembangunan menuju Kabupaten Ende yang Sare Pawe.

Selamat jalan Ka’e Marsel, selamat jalan Bupati Pancasila yang merakyat.

Andreas Hugo Pareira
Anggota DPR RI / Ketua DPP PDI Perjuangan

(R2/PenaTimor)

Continue Reading

Loading…




Loading…

Trending

error: Content is protected !!