Connect with us

PENDIDIKAN

SMAN 1 Matawai La Pawu Tak Punya Gedung Sekolah, Kepsek Minta Perhatian Pemerintah

Published

on

Pelajar dan guru SMAN 1 Matawai La Pawu, Sumba Timur foto bersama anggota DPRD NTT, Winston Neil Rondo dan Camat Matawai La Pawu, Dominggus Lalu Panda beberapa waktu lalu.

Kupang, Penatimor.com – Sekolah Menegah Atas (SMA) Negeri 1 Matawai La Pawu, di Kecamatan Matawai La Pawu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak memiliki gedung sekolah, dan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara berpindah-pindah.

Hal ini terungkap saat Kepala Sekolah SMAN 1 Matawai La Pawu, Kristian Nengerutung bersama Camat Matawai La Pawu, Dominggus Lalu Panda mendatangi DPRD NTT untuk mengadukan perihal tersebut, Senin (10/12/2018).

Tiba di kantor dewan, keduanya nampak diterima anggota Komisi V DPRD NTT, Winston Neil Rondo. Setelah menyampaikan segala keluh kesah, keduanya didampingi Winston menemui Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi NTT, Yohanna Lisapally di kantornya.

Kepala Sekolah SMAN 1 Matawai La Pawu, Kristian Nengerutung mengisahkan, sekolah yang sudah berusia tiga tahun itu, sama sekali belum atau tidak memiliki gedung sekolah atau ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar. Selama ini yang dilakukan adalah dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

“Untuk kegiatan belajar mengajar, kami pinjam pakai ruang kelas SD, tapi kalau dipakai oleh para guru maka kami pinjam ke ruang kelas salah satu SMP. Bahkan, karena tidak ada tempat, terpaksa kami berpindah ke kantor desa atau gedung gereja yang ada. Jadi kadang sebagian siswa gunakan ruangan SD, sementara lainnya menggunakan gedung gereja,” ungkap Kristian mengisahkan.

Menurut Kristian, sekolah yang dipimpinnya itu saat ini memiliki enam rombongan belajar (Rombel) dengan jumlah siswa sebanyak 175 orang. Sedangkan untuk guru atau tenaga pengajar sebanyak 11 orang, dan hanya 1 guru PNS, sedangkan 10 lainnya merupakan guru honor komite sekolah.

“Masyarakat setempat juga peduli, sehingga telah menghibahkan lahan seluas sekitar dua hektar untuk dibangun gedung sekolah, dan untuk izin operasional juga sudah ada sejak tahun 2016 yang ditandatangani oleh bupati Sumba Timur, namun yang jadi persoalan yaitu belum adanya unit sekolah baru,” katanya.

Kristian berharap, keluhan terkait kondisi pendidikan khususnya sekolah yang dipimpinnya itu mendapat perhatian dari pemerintah provinsi NTT, baik melalui legislatif maupun eksekutif agar memberikan respon positif demi terwujudnya keadilan bagi seluruh masyarakat dalam mendapatkan hak pendidikan.

Kepala Sekolah SMAN 1 Matawai La Pawu, Kristian Nengerutung bersama Camat Matawai La Pawu, Dominggus Lalu Panda saat berada di kantor DPRD NTT, Senin (10/12/2018)

Camat Matawai La Pawu, Dominggus Lalu Panda menyampaikan, kecamatan tersebut berdiri sejak tahun 2001, sedangkan SMAN 1 Matawai La Pawu mulai terbentuk sejak tahun 2016, sehingga di tahun 2018, sekolah ini sudah tiga tahun menerima siswa baru.

“Sebelumnya kegiatan belajar mengajar menggunakan ruang kelas pada SMPN 1 Matawai La Pawu, tapi karena sudah gunakan kurikulum 13 (K-13) maka terpaksa harus minggat dari situ,” ungkap Dominggus.

Dominggus mengatakan, pada tahun 2019 para siswa akan menghadapi ujian, sehingga jika kondisi ini masih sama seperti saat ini, maka pihaknya pun tidak tahu harus berbuat apa demi menyelamatkan nasib generasi muda di daerah itu.

Karena itu, pihaknya mengharapkan perhatian dari pemerintah provinsi NTT yang kini memiliki kewenangan terkait kepengurusan bidang pendidikan tingkat SMA/ SMK dan SLB agar dapat menyediakan gedung sekolah untuk proses belajar mengajar sehingga peserta didik tidak terlantarkan.

“Kami datang jauh-jauh dari Sumba Timur untuk menyampaikan kondisi yang kami alami kepada lembaga dewan sebagai representasi dari kami masyarakat. Kami juga akan bersama-sama bapak Winston, anggota Komisi V bertemu kepala dinas pendidikan untuk sampaikan maksud kami. Besar harapan di tahun 2019, kebutuhan akan ruang kelas bisa terjawabi” harapnya.

Anggota Komisi V DPRD NTT, Winston Neil Rondo mengapresiasi kegigihan Kepsek dan Camat Matawai La Pawu dalam memperjuangkan nasib pendidikan anak-anak di daerah itu, hingga merelakan waktu dan biaya pribadinya untuk menyampaikan aspirasi masyarakat ke lembaga DPRD dan Pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan.

“Karena itu tidak ada alasan bagi kami untuk tidak berdiri bersama mereka dalam memperjuangkan kepentingan terbaik bagi anak-anak di Matawai La Pawu, demi memiliki gedung sekolah yang memenuhi syarat,” ujarnya.

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD NTT ini menyatakan, telah mendengar dan melihat langsung kondisi proses belajar mengajar di sekolah tersebut beberapa waktu lalu saat melakukan hearing/ dialog publik bersama masyarakat setempat. Karena itu, dia akan memperjuangkan pembangunan sekolah tersebut melalui dana APBD Provinsi NTT pada tahun anggaran 2019. (R2)

Advertisement
Loading...
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PENDIDIKAN

Prihatin Tingginya Angka Putus Sekolah, Aipda Abraham Doeka Adakan Perpustakaan Keliling

Published

on

Aipda Abraham Doeka, anggota Polres Belu yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, sedang bersama anak-anak putusan sekolah di wilayah tersebut, belum lama ini.

Atambua, penatimor.com – Angka putus sekolah di Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Provinsi NTT, cukup tinggi.

Di Dusun Kalala, Desa Kabuna sendiri terdapat sekitar 100 anak usia sekolah dari 40 kepala keluarga dan sekitar 60 persen anak usia sekolah ini putus sekolah dan enggan bersekolah.

Jarak sekolah yang jauh dan rendah nya kesadaran orangtua menyekolahkan anak menjadi faktor terpenting tingginya angka putus sekolah di dusun tersebut.

Kalaupun ada anak usia sekolah yang bersekolah, mereka kadang tidak menamatkan pendidikan sekolah dasar atau tidak melanjutkan pendidikan ke SMP pasca lulus dari sekolah dasar.

Aipda Abraham Doeka, anggota Polres Belu yang bertugas sebagai Bhayangkara Pembina Keamanan dan ketertiban masyarakat (Bhabinkamtibmas) di Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, rupanya prihatin dengan kondisi ini.

Kondisi ini dimanfaatkan untuk menyalurkan ide kreatifnya membangkitkan kesadaran anak-anak di Desa Kabuna untuk bersekolah.

Berbekal pesan dan saran dari Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing, SIK.,MH., MSi., agar setiap Bhabinkamtibmas menciptakan inovasi dan kegiatan yang mendekatkan polisi dengan masyarakat, Aipda Abraham Doeka mulai merancang untuk membangun perpustakaan mini.

Ia menyadari penuh kalau anak-anak di Desa Kabuna bisa dibantu dengan belajar membaca dan mengenal huruf.

Sejak tahun 2016, Aipda Abraham Doeka pun merancang sepeda motor dinas nya menjadi perpustakaan mini.

Box bagian belakang sepeda motor Bhabinkamtibmas diisi dengan aneka buku bacaan.

Setiap kali turun ke desa binaannya dan bertemu kumpulan anak-anak, ia mengajak anak-anak membaca buku-buku bacaan yang dibawa nya.

Ia mulai mengenalkan huruf kepada anak-anak dan melatih mereka membaca.

Kebetulan ia memiliki kenalan di Komunitas Baca NTT yang setia menyumbangkan buku bacaan dan dibagikan kepada anak-anak untuk dibaca.

Terkadang Abraham meminjamkan bukunya untuk dibawa pulang dan berharap anak-anak bisa membaca buku tersebut.

Kendala lain dihadapi Abraham. Ia kesulitan tempat untuk melatih anak-anak belajar membaca.

Beruntung Ketua RT Salala, Armindo meminjamkan sebuah bangunan sederhana untuk dipakai menjadi perpustakaan mini.

Dibantu beberapa warga setempat, Abraham memanfaatkan halaman bangunan tersebut setiap sore mengumpulkan anak-anak di Desa Kabuna untuk belajar membaca dan menulis.

Abraham juga menyediakan buku bacaan favorit anak-anak terutama buku rohani.

Kegiatan hanya bisa dilakukan di halaman rumah dengan duduk bersila di atas rumput di halaman rumah pada sore hari.

Kegiatan tidak bisa dilanjutkan pada malam hari karena ketiadaan penerangan. Aliran dan sambungan listrik di lokasi tersebut belum tersambung sehingga proses belajar hanya dilakukan pada sore hari.

Aipda Abraham Doeka yang ditemui di sela-sela kegiatannya, mengaku kalau ide kreatif perpustakaan keliling dan rumah baca ini terinspirasi dari banyaknya anak putus sekolah di desa binaannya.

“Ini juga merupakan wujud kedekatan Polri dengan masyarakat. Saya juga melihat banyak anak yang menghabiskan waktunya untuk bermain dan putus sekolah,” ujarnya.

Selain itu, banyak anak usia sekolah terpengaruh dengan keadaan lingkungan dan terlibat permainan judi jenis bingo.

“Generasi muda perlu dibangun sebagai manusia masa depan bangsa,” tambahnya.

Sebagai anggota Polri, ia terpanggil membina mental anak bangsa melalui belajar membaca.

Diakuinya kalau minat baca anak pada awalnya sangat rendah. Ia sampai mencari anak-anak hingga ke tempat bermain anak-anak hanya untuk sekedar mengajak mereka belajar membaca dan menulis.

Ia juga menyadari penuh soal kekurangan fasilitas untuk belajar dan masih banyak anak yang memilih bermain.

Dengan kondisi yang terbatas, ia berusaha sekuat tenaga mengajak anak-anak singgah ke perpustakaan mini.

Namun belakangan ini, minat anak membaca makin besar dan ditambah peran orangtua dan warga mendorong anak-anak setiap sore berkumpul di halaman perpustakaan mini
untuk belajar bersama.

“Orangtua sangat mendukung dan anak-anak mulai sadar akan pentingnya membaca dan menulis,” tandasnya.

Ricky Soares, bocah 9 tahun yang belum bersekolah mengaku kalau ia sangat terbantu dengan program Abraham Doeka.

Ia juga sangat senang dengan kehadiran perpustakaan keliling ini dengan aneka buku bacaan yang bervariasi.

“Saya sangat senang karena setiap sore kami bisa berkumpul belajar membaca. Kami juga bisa pinjam buku-buku untuk dibawa pulang. Dirumah kami belajar membaca,” ungkap dia sambil memperlihatkan buku yang sampulnya sudah usang karena sering berpindah tangan.

Aipda Abraham sendiri menyadari kalau perpustakaan mini dan perpustakaan keliling yang dihadirkan juga menjadi titik kumpul masyarakat untuk bersama-sama membahas masalah Kamtibmas dengan perangkat masyarakat sambil memantau prorses mencerdaskan kehidupan bangsa anak-anak usia sekolah di halaman perpustakaan mini.

Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing, SIk., MM., MSi., mengapresiasi dan menyatakan salut terhadap ide kreatif anggotanya.

“Kegiatan perpustakaan keliling dan mengajar anak-anak putus oleh Aipda Abraham Doeka dengan mendatangi anak-anak menggunakan sepeda motor merupakan hal yang luar biasa dan patut dihargai,” tandas Kapolrs Belu.

Mantan Kabag Binkar Biro SDM Polda NTT ini juga mengakui kalau hal ini merupakan ide kreatif dan terobosan sebagai upaya mendekatkan Polri dengan masyarakat.

“Bhabinkamtibmas telah melakukan tugas menjaga Keamanan dan ketertiban masyarakat serta ikut mencerdaskan anak bangsa walaupun dengan pola dan cara yang sangat sederhana,” tambah mantan Kabag Psikologi Biro SDM Polda NTT ini.

Sebagai pimpinan, ia pun senantiasa memantau dan memberikan penghargaan atas ide kreatif dan terobosan Aipda Abraham Doeka.

“Semoga apa yang dilakukan anggota Polri di Polres Belu memberi manfaat bagi generasi muda dan situasi keamanan di desa tetap aman dan kondusif,” tandas Kapolres Belu. (wil)

Continue Reading

PENDIDIKAN

Undana Gelar Halal bi Halal dan MTQ Mahasiswa

Published

on

Rektor Undana Kupang, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph.D., memberikan sambutan dalam Halal bi Halal dan pembukaan MTQ-M di ruang teater lantai 3 gedung Rektorat Undana, Penfui, Jumat (14/6).

Kupang, penatimor.com – Keluarga besar Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang menggelar Halal bi Halal dan pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat Mahasiswa (MTQ-M).

Kegiatan ini dilaksanakan di ruang teater lantai 3 gedung Rektorat Undana, Penfui, Jumat (14/6).

Tema yang diusung, “Halal bi Halal Mempererat Tali Silaturahmi dan Nilai-nilai menuju Tercapainya Insan Akademik yang Bermartabat”.

Sedangkan lomba MTQ-M, mengangkat tema, “Jadilah Generasi Qur’an yang Pancasilahi”.

Rektor Undana Kupang, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph.D., dalam sambutannya, mengucapkan terima kasih kepada para staf, dosen, mahasiswa, dan para undangan yang menyempatkan waktu mengikuti Halal bi Halal tersebut.

“Atas nama keluarga besar Undana, sebagai Rektor saya ucapkan minal aidin walfaizin. Mohon maaf lahir dan bathin,” ungkap Rektor.

Lomba MTQ-M akan dilaksanakan selama satu minggu dan yang terpilih akan mewakili Undana untuk mengikuti MTQ Nasional ke Provinsi Aceh.

Ketua Panitia Arifin Sanusi, mengatakan, melalui Halal bi Halal mereka diberi ruang untuk bersilaturahmi dan menjalin persaudaraan.

“Sebelum nya kita umat muslim merayakan hari raya Idul Fitri, untuk itu atas nama panitia saya ucapkan mohon maaf lahir dan bathin,” ungkap dia.

Untuk lomba MTQ-M, menurut Arifin merupakan suatu tujuan pendidikan nasional, untuk menciptakan manusia Indonesia yang berpengetahuan, bertaqwa kepada Allah, berbudi pekerti, dan sehat jasmani.

“Pemenang lomba MTQ tingkat mahasiswa Undana akan mewakili Undana ke lomba MTQ tingkat nasional di Aceh,” sebut Arifin.

“Halal bi Halal dan lomba MTQ-M Undana bisa dilaksanakan berkat dukungan Rektor dan seluruh staf Undana,” tutup dia. (wil)

Continue Reading

PENDIDIKAN

Zumba Meriahkan Syukuran Dies Natalis II UPG ’45 NTT

Published

on

Zumba bersama meriahkan syukuran Dies Natalis II UPG 1945 Provinsi NTT, Jumat (7/6).

Kupang, penatimor.com – Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 Provinsi NTT merayakan Dies Natalis II dengan menggelar Zumba bersama para dosen dan pegawai.

Kegiatan syukuran tersebut berlangsung di halaman kampus UPG 1945, Jl. P.A. Manafe No. 7, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Oebobo, Jumat (7/6).

Rektor UPG 1945 NTT, David R.E Selan, SE.,MM., dalam sambutan nya mengatakan, Zumba bersama ini merupakan inspirasi, ide dan kreasi dari Ketua BPH Samuel Haning.

“Kegiatan ini juga didukung oleh dosen dan pegawai, sehingga malam ini kita meriahkan dan getarkan halaman kampus UPG 1945,” kata David.

Dia juga menceritakan perjalanan UPG ’45 NTT yang baru berjalan selama dua tahun.

“Seperti bayi yang masih dua tahun dan tidak bisa berpakaian. Yang masih perlu dituntun, sehingga masih perlu tuntunan orangtua, bapa, mama, keluarga, dan pengasuh untuk membesarkan anak ini untuk tumbuh menjadi besar,” ungkap David.

“Sehingga ini tidak terlepas dari semua perangkat, BPH, PGRI NTT, universitas, perangkat dari pimpinan universitas, fakultas, program studi, dosen, pegawai dan mahasiswa dan juga tidak terlepas dari stakeholder dalam hal ini masyarakat dan keluarga,” sambung dia.Rektor melanjutkan, dalam perjalanan kampus, ketika diuji oleh badai yang keras dan dahsyat, pihaknya hampir tidak berdaya menghadapi nya.

Tapi berkat satu harapan dan kekompakan di bawah komando Ketua BPH, mereka pun mampu melewati semua tantangan selama hampir empat tahun.

“Selama dua tahun ini perlu saya sampaikan kepada bapa-mama, kampus UPG 45 ini waktu itu ada 7.000 lebih mahasiswa yang aktif kuliah, mereka terjawab akan masalah bisa mengurus kelengkapan untuk dapat diwisudakan,” jelas dia.

Wisuda perdana pada bulan September 2018 dengan 500 wisudawan dan wisuda kedua tahun 2019 dengan jumlah 755 wisudawan.

Untuk sekarang, masih 2.000 lebih mahasiswa yang diproses untuk diwisudakan.

Dalam menghadapi kepastian hukum, David Selan mengaku pihaknya sudah mendapat izin legal bebas sesuai dengan UUD yang berlaku dan tidak diragukan siapa dan dimana.

“Selama dua tahun ini kami berproses dan sudah 11 program studi terakreditasi dengan 90 persen nilai B,” jelas dia.

Sementara, Ketua BPH PGRI Samuel Haning, SH., MH., di selah-selah acara tersebut, juga mengatakan akan mengggelar lagi kegiatan Zumba bersama.

“Nanti akan ada lagi Zumba bersama yang menghadirkan 20 ribu peserta,” ungkap Samuel Haning.

Acara tersebut juga dilanjutkan dengan pemotongan kue ulang tahun secara bersama oleh Rektor, Ketua BPH, dosen, dan pegawai UPG 1945, serta pembagian doorprize. (R3)

Continue Reading

Loading…




Loading…

Trending

error: Content is protected !!