Connect with us

HUKRIM

Study Tour 3 Negara Batal, Uang Rp 590 Juta Ludes

Published

on

Bobby Jacob Mooynafi

Kupang, penatimor.com – Penyidik Satreskrim Polres Kupang Kota terus mengembangkan penyidikan kasus dugaan penipuan dan penggelapan terhadap 88 mahasiswa pasca sarjana Undana, terkait rencana study tour ke Malaysia, Singapura dan Thailand.

Kasat Reskrim Iptu Bobby Jacob Mooynafi yang dikonfirmasi di kantornya, Rabu (8/11), mengatakan, untuk mengembangkan penyidikan, pihaknya intensif memeriksa tersangka dan saksi.

“Kita juga agendakan pemeriksaan terhadap para mahasiswa pasca sarjana Undana yang jadi korban,” kata Kasat Bobby.

Sementara, pelapor Winda Bolla, yang diwawancarai via ponsel, mengatakan, rencana keberangkatan pertama kali pada 17 September 2018.

Namun, saat semua peserta sudah siap berangkat, pada 15 September, tersangka Satrio Budi Santoso, datang ke Kupang dan menyampaikan ada pembatalan.

“Saat itu Satrio datang dan bilang nanti malam ada kabar. Kami tunggu malamnya tidak ada kabar, tapi esok paginya 15 September, ada kabar bahwa ada pembatalan. Akhirnya kami pertemuan lagi dan sepakati untuk berangkat 27 September. Namun pada 26 September ada pembatalan lagi dan ditunda ke bulan Oktober,” beber Winda.

Terhadap pembatalan kedua tersebut, lanjut Winda, akhirnya para peserta melakukan pertemuan lagi.

Setiap kali pembatalan, Satrio selalu ke Kupang memberikan penjelasan, dan menyampaikan bahwa tiket sudah dibelinya.

“Kami tanya ke dia, apakah masuk akal dia bisa tunda-tunda sampai dua kali begini. Apakah benar tiket sudah dibeli? Dia bilang sudah bekerja sama dengan semua maskapai dan merupakan travel ternama,” sebut pelapor.

“Setelah dibatal pada 27 September, kemudian ditunda ke 16 Oktober, ternyata batal lagi, dan kami semua memutuskan untuk tidak pergi lagi, dan meminta pengembalian uang,” sambung dia.

Namun, Satrio berjanji mengembalikan uang pada 19 Oktober 2018. Setelah itu, menunda lagi pembayaran ke 26 Oktober 2018.

Akhirnya, ada mahasiswi yang mengikuti tersangka ke Malang, untuk memastikan apakah yang bersangkutan benar akan menepati janjinya.

“Kami memang sudah jerah dan malas ditipu. Kami juga sudah tahu bahwa dia penipu. Akhirnya ibu Lala, perwakilan mahasiswa, pergi ke Malang, untuk mengawal pelaku untuk pengembalian uang. Namun pada 26 Oktober, ternyata dia bilang ke ibu Lala bahwa pencairannya belum bisa dilakukan. Dia minta Lala untuk tanda tangan di atas meterai sebagai saksi, dan akan membayar uang senilai Rp 590 juta itu pada 30 Oktober,” urai Winda lagi.

Setelah membuat surat perjanjian itu, Lala menunggu di Malang hingga tanggal 30 Oktober, untuk memastikan pengembalian uang tersebut.

Dan pada 30 Oktober, Lala pergi lagi ke kantor Senopati Travel, dan Satrio kembali menyampaikan permintaan maaf.

“Saya tranfer uang secara individu. Saya merasa dirugikan secara pribadi. Jadi pada tanggal 30 Oktober malam pukul 22.15, saya langsung berinisiatif melapor ke Polresta. Dan pada tanggal 31 Oktober saat dia datang ke Kupang dengan ibu Lala langsung ditangkap polisi. Niatnya untuk jelaskan ke kami, tapi kami tidak butuh penjelasan lagi, karena dia sudah datang Kupang hampir lima kali untuk jelaskan semua kebohongan,” sebut dia.

Winda juga sampaikan, dari total uang yang dikumpulkan senilai Rp 590 juta, setiap peserta mengumpulkan antara Rp 6.500.000 – Rp 7.500.000.

Nilainya bervariasi karena ada peserta yang membayar terlambat sehingga semakin tinggi biayanya.

“Jadi setoran tidak sama, karena Satrio bilang harga tiket sudah naik dan macam-macam alasan. Kami kumpul uang dari April 2018, pelunasan di Agustus. Dia bilang kumpul pertama untuk beli tiket, dan kedua untuk penginapan hotel. Kumpul pertama bulan April kisaran Rp 3,8 juta dan pelunasannya baru Rp 2,4 juta,” terang Winda yang mahasiswi pasca sarjana Program Studi Administrasi Publik.

Pembayaran itu, lanjut pelapor, untuk biaya perjalanan selama 7 hari ke Singapura, Malaysia dan Thailand, dan melakukan study tour ke Universitas Malaysia Utara.

“Saya memberikan laporan atas nama pribadi, tapi saat ini teman-teman yang juga menjadi korban, ikut bersama-sama dalam laporan saya, sehingga sifatnnya sudah kolektif,” pungkas Winda. (R1)

Advertisement
Loading...
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Lakukan Penganiayaan dan Rampas Motor, Sepasang Kekasih Terancam 4 Tahun Penjara

Published

on

Pelaku Marten Litik (baju merah) saat diamankan tim Buser Polres Kupang Kota.

Kupang, penatimor.com – Tim Buru Sergap (Buser) Polres Kupang Kota berhasil menangkap pelaku dugaan tindak pidana penganiayaan dan perampasan sepeda motor.

Tersangka kasus ini bernama Marten Litik (56), warga Kelurahan Lasiana.

Kejadian penganiayaan dilakukan pada tanggal 15 Mei 2019, dengan tempat kejadian perkara (TKP) di Jalan Oe Ekam, dekat gedung gereja GMIT Pniel Sikumana.

Selanjutnya, tersangka ditangkap di Bandara El Tari Kupang, ketika baru kembali dari Kabupaten Sumba Timur.

Tersangka ditangkap tim yang dipimpin langsung oleh Kanit Pidum Ipda Yance Kadiaman, SH., bersama Kanit Buser Aipda Yance Sinlaloe.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH., melalui Kanit Pidum Ipda Yance Kadiaman di Mapolres Kupang Kota, membenarkan penangkapan tersebut.

Yance jelaskan, tindak pidana penganiayaan dilakukan pelaku Marten Litik bersama pacarnya IF terhadap korban Lasar Mani.

Sedangkan tersangka IF sudah terlebih dahulu diamankan di tahanan Mapolres Kupang Kota.

Dijelaskan, kedua pelaku ini melakukan penganiayaan terhadap korban terkait hutang piutang sebesar Rp 4 juta, dan mereka juga mengambil sepeda motor milik korban.

“Sampai saat ini juga sepeda motor milik korban belum ditemukan. Para tersangka juga belum mau mengaku keberadaan sepeda motor milik korban,” ungkap Yance Kadiaman.

Dia melanjutkan, sebelum melakukan penagihan, kedua tersangka melakukan pengaaniyaan terlebih dahulu terhadap korban.

Pelaku kemudian membawa korban berkeliling ke beberapa tempat baru dan merampas motor milik korban.

“Kedua tersangka sudah diamankan dan kami juga masih mencari kendaraan milik korban. Tersangka dikenakan Pasal 368 KUHP dan Pasal 351 jo Pasal 55 dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara,” pungkas Kanit Pidum Ipda Yance Kadiaman. (wil)

Continue Reading

HUKRIM

Pukul Orangtua, Pemuda Mabuk Tewas Dibantai Adiknya

Published

on

Kasat Reskrim Polres TTS Iptu Jamari SH.

SoE, penatimor.com – Ondi Yacob Baunsele (26) warga Kunenu RT 12/RW 06 Desa Linamnutu Kecamatan Amanuban Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Provinsi NTT tewas dibantai adik kandungnya.

Peristiwa ini terjadi pada Kamis (18/7) subuh sekitar pukul 01.00 Wita di samping rumah korban.

Korban Ondi tewas ditangan Dance Eliaser Baunsele (21) yang juga adik kandung korban.

Kapolres TTS AKBP Totok Mulyanto DS, SIk melalui Kasat Reskrim Polres TTS Iptu Jamari SH., saat dikonfirmasi dikantornya mengakui kalau peristiwa ini bermula pada Rabu (17/7) malam sekitar pukul 23.00 Wita.

Saat itu korban Ondi datang ke rumah dalam keadaan mabuk minuman keras.

“Korban Ondi bertemu dengan ayah kandungnya Abraham Ayub Baunsele di teras rumah,” tandas Kasat Reskrim Polres TTS.

Selanjutnya sang ayah menyuruh korban untuk makan dan dijawab korban dengan emosi karena tidak terima ayahnya bertanya ke korban darimana saja, korban langsung menganiaya ayahnya dengan cara memukul sebanyak satu kali di bagian mulut ayahnya.

Kemudian ayah korban ke belakang rumah yang gelap dan tidur di samping kandang babi sebab korban terus mencari ayahnya.

Sedangkan ibu kandung korban Welmince Nome (50) bersama adik kandung korban Ofi Atriana Baunsele (14) juga berlari ke rumah tetangga Mel Selan karena korban mengancam akan membunuh semua orang dalam rumah.

Pada saat korban menganiaya dan mencari ayahnya, pelaku sedang duduk di samping rumah sambil cas HP.

Sedangkan korban masuk ke kamar tidur dan mengambil kapak di bawah kolong tempat tidur kemudian keluar ke ruang belakang lalu memotong periuk yang sedang tergantung dan spakbor sepeda motor yang sedang terparkir di belakang rumah.

Pelaku kemudian menegur korban karena korban Ondi sudah keterlaluan memukul ayah mereka. Teguran tersebut tidak diterima korban.

Korban langsung mengayunkan kapak ke arah pelaku dan pelaku menahan tangan korban.

Kemudian pelaku merampas kapak dari korban dan mengayunkan kearah telinga kiri, kemudian memotong korban mengenai kepala bagian kanan, memotong lagi mengenai rusak kanan korban.

Setelah membunuh korban, pelaku menuju ke tetangga nya Kia Atonis meminta tolong untuk mengantar pelaku ke Polsek Amanuban Selatan Polres TTS.

“Pelaku diantar Kia Atonis menyerahkan diri ke polisi pasca membunuh korban,” ujar Kasat Reskrim Polres TTS.

Laporan kasus ini kemudian dilakukan ayah korban dan pelaku Abraham Baunsele ke Polsek Amanuban Selatan.
Pelaku pun sudah diamankan di sel Mapolsek Amanuban Selatan.

Anggota Polsek Amanuban Selatan pun sudah mendatangi tempat kejadian perkara dan mendapati korban sudah dalam keadaan meninggal dunia.
Polisi melakukan olah TKP hingga Kamis (18/7) siang.

Pelaksanaan olah TKP diamankan dipimpin langsung Kapolsek Amanuban Selatan Ipda I Made Sudarma Wijaya, SH dan tim identifikasi dari Polres TTS. (mel)

Continue Reading

HUKRIM

Abraham Mengaku Sulut Api Rokok ke Mulut dan Wajah Korban karena Sering Menangis

Published

on

Abraham Sabneno alias Amran.

Kupang, penatimor.com – Kerja keras aparat keamanan Polsek Kupang Barat Polres Kupang dibantu Polda NTT mengejar pelaku penganiayaan anak kurang gizi membuahkan hasil.

Kamis (18/7) malam sekitar pukul 19.30 wita, aparat keamanan Resmob Dit Reskrimum Polda NTT menangkap Abraham alias Amran (45).

Abraham ditangkap di rumah Thobias Bakun di Jalan Sukun II Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang Provinsi NTT.

Abraham langsung diserahkan ke Polsek Kupang Barat dan digelandang ke Mapolsek Kupang Barat tanpa melakukan perlawanan.

Perburuan polisi sejak Senin (15/7) hingga Kamis (18/7) pun berakhir dan menemui titik terang.

Ditemui di Mapolsek Kupang Barat, pelaku mengaku kalau ia mendengar kabar dari anaknya kalau ia dicari polisi sehingga selalu menghindar.

Ia juga jengkel sehingga menuliskan kata-kata ancaman ke polisi di sebuah papan dan ditempatkan di depan rumahnya.

Kamis (18/7) pagi sekitar pukul 06.00 wita usai menulis ancaman di papan, pelaku ke Bolok dengan jalan kaki. Ia pun menumpang angkutan ke Sikumana Kota Kupang.

Namun pelaku masih singgah ke Oeba meminta uang ke rumah Niko Faik mencari anaknya bernama Mirna yang menjadi asisten rumah tangga di rumah Hasan.

Berbekal uang Rp 20.000 pelaku singgah makan di Pasar Inpres Naikoten dan menggunakan jasa ojek ke Kelurahan Sikumana hingga ditangkap polisi.

Pelaku mengaku menyulutkan api rokok ke mulut, wajah dan dahi anaknya karena anaknya, (korban) sering menangis dan rewel.

“Benar saya sering sulutkan api rokok ke mulut anak saya (korban) karena sering menangis,” tandas pelaku.

Tidak hanya menyulutkan api dari puntung rokok, pelaku juga mengaku sempat memasukkan korban ke dalam kardus dan mengikat korban ke pohon. Ia beralasan supaya korban cepat belajar jalan.

Fakta lain yang dilakukan pelaku yakni pelaku memukul dengan kayu ‘mahoni’ sehingga tangan korban patah.

Mengenai ihwal kaki korban patah, pelaku beralasan kalau korban terjatuh dari tempat tidur.

Kepada polisi, pelaku mengaku kalau ia juga mengancam membunuh istri dan anaknya karena ia lelah bekerja akibat membuat beden (lahan) sayur dan menyirami tananam.

Disisi lain pelaku juga malah mengkonsumsi susu bantuan untuk korban.

“Saya memang minum susu bantuan yang sebenarnya untuk anak-anak saya,” ujarnya.

Ia juga mengaku kalau ketidaaan uang menjadi alasan ia tidak mengurus pernikahan sah dengan istri.

Kapolsek Kupang Barat, Ipda George Christian didampingi Kanit Reskrim Polsek Kupang Barat, Aiptu Basilio Pereira, SH mengaku kalau pihaknya sudah berusaha mencari pelaku sejak Senin (15/7).

Ia bersyukur pelaku ditangkap Resmob Polda NTT dan diserahkan ke Polsek Kupang Barat. “Segera kami periksa pelaku,” tandasnya.

Hingga saat ini, penyidik sudah memeriksa empat orang saksi masing-masing Erni Lakusaba, Ismail Sabneno dan Novita Sabneno dan Oktovianus Lakusaba.

“Anak (korban) menangis sehingga tersangka pukul korban hingga kaki dan tangan patah dan dia (pelaku) sulut korban dengan rokok. Tersangka lebih banyak menyangkal,” ujar mantan Kasi Propam Polres Kupang Kota ini.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan pasal 80 ayat (1) jo pasal 76 C UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan PP pengganti UU RI nomor 01 tahun 2016 tentang perubahan ke 2 atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan pasal 44 ayat (1) UU RI nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dan pasal 351 ayat (2) jonto pasal 335 ayat (1) KUHP.

Pelaku pun langsung ditahan dalam sel Polsek Kupang Barat dan selanjutnya diserahkan ke Polres Kupang untuk penanganan lebih lanjut. Polisi pun sudah mengamankan sejumlah barang bukti dari rumah pelaku. (mel)

Continue Reading

Loading…




Loading…

Trending

error: Content is protected !!