Connect with us

HUKRIM

Ranti Kore dan Chris Nahas Dituntut 11 Tahun Penjara

Published

on

Ranti Kore Cs sedang mengikuti persidangan dengan agenda pembacaan surat tuntutan JPU di Pengadilan Negeri Kupang, Rabu (17/10).

Kupang, penatimor.com – Majelis Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Kupang kembali menggelar sidang lanjutan kasus penculikan terhadap bocah Richard Mantolas (4), anak dari Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri (Kejari) TTU, Kundrat Mantolas.

Sidang dengan agenda pembacaan tuntutan terhadap empat orang terdakwa yakni terdakwa Christian Nahas, Simson Rassy, Tomas Valentino Kore dan Prantiana Kore dilangsungkan di ruang sidang Cakra PN Kupang, Rabu (17/10).

Agenda sidang pembacaan tuntutan JPU, dipimpin oleh Hakim Ketua, Yetedi Windiarton, SH.M.Hum didampingi dua hakim anggota, Prasetio Utomo, SH Dan Tjokorda Pastima, SH.MH, sementara ke empat terdakwa didampingi oleh tim Penasihat Hukumnya, Johanes Rihi, SH , Meriyeta Soruh, SH., dan Paulus Seran, SH.

JPU dalam tuntutannya menyatakan para terdakwa Christian Nahas Cs terbukti melakukan tindak pidana telah membiarkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan dan atau turut serta melakukan penculikan dan perdagangan anak sebagaimana diatur dan diancam dalam dakwaan Pasal 83 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Atas perbuatan para terdakwa, JPU menuntut hukuman pidana kepada terdakwa Christian Nahas dengan pidana penjara selama 11 Tahun, terdakwa Simson Rassy dengan hukuman penjara selama 8 Tahun, Tomas Valentino Kore hukuman penjara selama 6 tahun sementara terdakwa Prantiana Kore dengan hukuman penjara selama 11 tahun. Para terdakwa juga dikenakan denda Rp 60.000.000 subsideair 6 bulan kurungan penjara.

Penasihat Hukum, Meriyeta Soruh, SH., usai sidang tersebut menilai tuntutan yang disampaikan JPU terlalu tinggi jika dibandingkan dengan keterangan serta fakta-fakta persidangan yang berjalan selama ini.

“Tuntutan tersebut terlalu tinggi, namun ini baru tuntutan jadi kami akan melakukan pembelan pada agenda sidang berikutnya sehingga diharapkan setelah penyampaian pembelaan, majelis hakim dapat mempertimbangkan,” ujar Meriyeta.

Terpantau, usai mendengar tuntutan JPU, terdakwa Christian Nahas merasa tidak terima dengan tuntutan JPU dan melampiaskan kemarahannya dengan membanting-membanting papan larangan di samping meja keamanan yang di siapkan aparat kepolisian.

Melihat aksi nekat terdakwa tersebut aparat kepolisian dari Polres Kupang Kota yang bertugas di PN Kupang langsung mengamankan terdakwa dan dimasukan ke dalam ruangan tahanan.

Sidang ditunda dan akan dilanjutan pada tanggal 24 Oktober 2018 mendatang dengan agenda mendengarkan nota pembelaan oleh tim penasehat hukum terdakwa. (R1)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Guru Penganiaya Siswa hingga Meninggal di Alor Dipecat, Polisi Tetapkan Tersangka

Published

on

Kapolres Alor, AKBP Agustinus Christmas.
Continue Reading

HUKRIM

Korupsi Dana Desa Makun, Kades dan Berdahara Segera Diadili, Kejari TTU Sita Uang dan Aset Ratusan Juta

Published

on

Kajari Kabupaten TTU, Roberth Jimmy Lambila, SH.,MH.
Continue Reading

HUKRIM

SADIS! Siswa SMP di Alor Meninggal Dunia Setelah Dianiaya Gurunya

Published

on

Jenazah korban saat berada di RSUD Kalabahi.
Continue Reading
error: Content is protected !!