Connect with us

PENDIDIKAN

Perempuan Buku

Published

on

Honing Sanny

Oleh: Honing Sanny

SENDIRIAN dia duduk di salah satu pojok ruang tunggu VIP Bandara El Tari sambil serius membaca buku. Boleh jadi novel terjemahan. Sementara kakinya dibiarkan selonjor di atas koper kecil yang ada di depannya. Lalu di samping tergeletak novel yang masih terbungkus plastik yang juga menjadi bagian dari perjalanannya. Boleh jadi dia akan melakukan perjalanan dalam waktu yang lama.

Dari wajahnya yang agak serius dipastikan dia bukan orang NTT. Kulit wajahnya putih bening agak lonjong dengan sorot mata yang tajam mirip sekali wajah-wajah perempuan magribi yang pernah saya jumpai ketika berkunjung ke Maroko beberapa waktu yg lalu ketika dalam perjalanan menyeberangi Selat Gibraltar menuju Spanyol.

Aku orang kedua yang yang ada dalam ruangan yang sama. Meskipun aku memperhatikannya cukup lama namun tidak membuat dia terganggu. Dia asyik saja membaca tanpa sekalipun mengangkat wajah untuk memperhatikan sekelilingnya. Hanya sesekali petugas bandara dan pramusaji yang merapikan hidangan snack sederhana untuk para penumpang yang datang menunggu penerbangan.

Aku memberanikan diri menyapanya sebagai bentuk sopan santun khas  NTT yang selalu ramah menyapa tamu-tamu yang datang berkunjung ke NTT. Apalagi program gubernur yang baru selalu mengkampanyekan pariwisata sebagai primemover pembangunan sehingga keramahan menjadi modal utama agar orang betah dan mau berlama-lama tinggal di NTT seperti yang selama ini dilakukan masyarakat Bali terhadap semua orang yang datang ke Bali.

“Selamat pagi mbak, maaf mau kemana?”

“Aku mau ke Lamalera mas”, jawabnya acuh ta acuh.

“Jangan panggil aku mas, panggil saja abang. Nama saya Alkemis,” sambil menyodorkan tangan sebagai bagian dari perkenalan.

“Oh ya abang. Aurora. Aku dari Jakarta. Aku dulunya wartawan tapi sekarang lagi suka traveling. Aku baca banyak sekali hal tentang Lamalera dan Lembata dan aku ingin ke sana.”

Berdiam sesaat mendengar penjelasan tentang diri perempuan di hadapanku.

“Kamu sendirian.”

“Iya bang. Sendiri. Kalo sama teman jarang sekali. Aku ingin menikmati indahnya alam sendiri saja supaya  lebih dapat tastenya. Kan kalo sendirian bisa berlama-lama tanpa ada yang menggangu.”

“Abang mau kemana?”

“Saya juga ke Lembata tapi untuk urusan yang lain. Saya mau bertemu masyarakat. Kan sekarang lagi musim kampanye. Abang kan caleg jadi harus sering ketemu masyarakat.”

Mendengar bahwa aku juga ke Lembata dia terlihat gembira. Namun saat dengar kalau aku caleg wajahnya berubah datar dengan hiasan senyum seadanya. Boleh jadi dia tidak suka politik. Bisa jadi juga dia tidak percaya politisi. Dapat dimengerti karena profesinya sebagai wartawan pasti dia bertemu dengan banyak sekali politisi. Apalagi dia mantan wartawan dari salah satu televisi berita nasional.

“Kenapa kamu memandangku datar setelah tahu aku politisi”

“Ga juga sih bang. Tapi aku ga tertarik politik. Bagiku politik itu bullshit. Maaf ya bang, hampir semua politisi tukang bual. Suka memberi janji palsu. Sesudah berkuasa semua lupa. Sulit dihubungi lah. Ganti nomor telp lah. Handphone dipegang ajudan lah. Belum lagi gaya banget. Kemana-mana bawa sekretaris. Tapi udah lah bang. Sorry lho barangkali abang beda. Toh kita baru kenal sekarang.”

Ruangan mulai ramai dan sudah banyak penumpang memenuhi ruangan. Saya juga bertemu dengan beberapa kawan termasuk beberapa pejabat Lembata yang baru kembali tugas di Jakarta. Kami saling bercerita tentang banyak hal termasuk beberapa dari mereka menceritakan pengalaman ketika pertama kali bertemu dengan gubernur NTT yang baru. Kesan pertama mereka galak, namun sesudahnya mereka kagum.

Baca Juga :   6 Parpol di NTT Dicoret KPU

“Perhatian-perhatian, pesawat udara tujuan lembata akan segera diberangkatkan. Para penumpang diharapkan segera naik ke pesawat.”

Semua penumpang pun bergegas keluar dari ruang VIP menuju pesawat. Saya memilih untuk tidak langsung jalan karena ingin menemani Aurora biar sama-sama menuju pesawat karena dia sendirian.

Sambil jalan paling akhir dari penumpang yang menuju pesawat aku tanyakan, “Seatmu nomor berapa?”

“19A bang. Aku suka dekat jendela dan dekat pintu keluar. Abang?”
“Aku juga 19C.”

Mendengar jawaban itu seperti tidak percaya tiba-tiba tangannya refleks menepuk pundakku.

“Berarti kita jejeran dong bang. Jodoh kali ya”, candanya santai menuju tangga pesawat.

*****

Setelah pesawat meninggalkan landasan, dia terlihat sibuk dengan androidnya mengabadikan setiap lekak lekuk deretan lembah dan bukit serta pesona bibir pantai Selat Ombai  yang berbentang di utara Pulau Timor.

Setelah semuanya hilang dari pandangan, seperti tidak peduli dengan kawan baru yang duduk di sampingnya dia kembali membuka buku melanjutkan membaca novel yang sama ketika pertama kali kami berjumpa di ruang tunggu.

Saya mencoba mengajaknya ngobrol. Siapa tahu dia suka cuma malu untuk memulai. “Di Lembata sudah ada yang tunggu.”

“Nggak bang.”

“Lalu siapa yang urus selama kamu di Lembata.?”

“Aku searching di internet kok bang. Aku udah dapat hotel juga mobil. Aku  sudah kabari mereka jam aku tiba di Lembata. Drivernya sudah kabari kalo dia sudah stand by di bandara tadi sebelum kita terbang. Rencananya aku cuma sebentar di hotel langsung cabut ke Lamalera. Bisa jadi aku akan nginap di sana karena katanya ada homestay. Kawanku yang pernah ke sana bilang penginapannya bersih. Pemiliknya tinggal di Jakarta. Namanya Bona Beding. Aku sudah beberapa kali kontak hp-nya namun selalu tidak aktif. Aku akan coba langsung saja pas sampe di sana.”

“Aku kenal kok Bona Beding”

“Oh ya. Dia teman abang?”

“Iya kami sama-sama waktu aku kuliah di Yogya. Sekarang juga sering kontak. Dia punya penerbitan sendiri. Namanya Lamalera. Nanti pas turun pesawat aku coba kontak Bona ya biar dia suruh adiknya yang kelola homestay siapkan kamar buat kamu. Aku juga tau ko rumahnya bersih. Banyak sekali artis dan orang-orang hebat jakarta yang menginap di homestay-nya.”

“Jadi dulu Abang kuliah di Yogya. Kalo boleh tahu kuliah dimana ya?”

“Aku di UGM mbak. Ambil geologi.”

“Aku di Brawijaya bang. Pernah dua kali coba tes UMPTN milih UGM tapi ga keterima.”

Setelah pesawat berhenti kamipun turun paling awal karena tempat duduk kami dekat pintu.

“Abang nginap dimana?”

“Aku kalo di Lembata selalu nginap di rumah penduduk. Kebetulan dari pertama kali ke Lembata saya selalu nginap di sana. Kami sudah lebih dari saudara hubungannya.”

Sambil menunggu bagasi kami pun bertukar nomor handphone karena sebentar lagi kami akan berpisah dengan tujuan masing-masing yang belum tentu bertemu kembali.

“Tulis saja Bang Alkemis. Rasanya tidak ada yang punya nama seperti nama Abang”, kataku sok akrab sambil tertawa sekaligus ciri khasku ketika sudah merasa akrab dengan orang.

Baca Juga :   Hari Ini Jenazah Marlony Natonis Dimakamkan

“Nama yang bagus Bang seperti judul novel pujangga Brazil Paulo Coelho.”

Dalam hatiku mulai curiga ini perempuan tomboy pasti suka baca. Jujur aku selalu kagum dengan perempuan tomboy yang pintar apalagi suka membaca. Ceritanya tentang Paulo Coelho, sastrawan yang menghabiskan waktu di depan Pantai Copacabana sungguh menarik. Aku membaca hampir semua novelnya termasuk juga catatan hariannya.

Benar saja waktu pertama berjumpa dia pegang dua buah buku. Jangan-jangan di dalam kopernya masih ada beberapa buku lagi. Tapi karena karakter ariesku, aku jarang sekali memberikan pujian kepada orang lain apalagi dengan orang yang baru aku kenal dalam perjalanan.

“Berapa nomor handphonemu mba?”

“Aurora ya bang. Tapi jangan iseng ya Bang. Kalo iseng nanti aku males dan kalo sering-sering nanti aku blok. Aku ga mau ribet soalnya.”

“Iya iya. Toh belum tentu aku kontak kamu kok kalau ga penting-penting amat. Lagian profesi kita berbeda. Aku malah yakin kamu yang akan duluan kontak aku barangkali mau nanya banyak hal tentang Lembata dan NTT”, kataku penuh percaya diri.

“Mulai sekarang aku panggil kamu Aurora saja ya biar akrab. Kalau kamu  beberapa hari di Lamalera jangan lupa sempatkan mampir ke Pasar Barter di Wulandoni jaraknya tidak  dari Lamalera. Rasanya di dunia cuma ada di sana. Di pasar itu transaksinya tanpa uang. Masyarakat Lamalera membawa dendeng ikan paus lalu ditukarkan dengan makanan seperti ubi, jagung, pisang. Mudah-mudahan kamu bisa mengabadikan moment itu.”

“Asyik dong kalo begitu. Aku akan ambil gambar laku masukan ke IG dan facebook sekaligus membantu mempromosikan pariwisata  Lembata. Siapa tahu akan semakin banyak orang akan berkunjung ke sini. Btw, Abang ga mau kesana?”, sambil melirik memberi senyum menggoda.

Mendengar ajakan itu aku jadi salting alias grogi juga namun aku berusaha tetap terlihat cool. Aku mencoba menahan naluriku sebagai laki-laki.

“Sorry banget Aurora, Abang pingin sih jadi guide  buat kamu apalagi abang tahu banyak tempat bagus di Lembata namun acara abang padat sekali. Kalo batalin acara pasti masyarakat kecewa dan abang pasti tidak dipilih nanti saat pileg. Kan Lembata ini dari dulu selalu jadi basis politik buat Abang. Tapi abang akan pandu kamu pertelp saja.”

“Ya udah ga apa-apa kok. Aku kan suka iseng. Ngetes aja. Kan politisi juga suka iseng.”

Makin lama kok  aku makin mengangumi perempuan perjalanan ini. Omongnya enak. Wawasannya luas. Cepat akrab dan supel.

“Lamalera bukan cuma ikan paus dan pantai yang indah. Dari sana banyak sekali lahir orang hebat. Sebut saja Gorries Keraf ahli bahasa Indonesia. Sony Keraf mantan menteri jaman Gus Dur. Dari perkampungan yg dipenuhi karang itu banyak sekali pastor dan suster yang menyebar ke seluruh dunia. Namun kebanyakan orang Lembata sering menyebut orang Lamalera punya sifat yang cenderung irit dan hemat, barangkali karena kondisi alamnya sulit.”

“Sayang ya. Abang ga bisa ikut. Kalo abang memanin pasti banyak cerita selama di Lamalera.” Kali ini dari wajahnya terlihat serius tanpa ada ekspresi menggoda seperti ajakan pertama.

Saya mulai heran kok bisa ada perempuan lajang yang secara terbuka mengajak laki-laki yang baru dia kenal dalam perjalanan untuk menemaninya traveling meskipun dari banyak sopir travel lintas Flores saya dengar cerita bahwa banyak sekali pasangan traveling itu saling kenal saat dalam perjalanan lalu bersama-sama. Boleh jadi biar jadi teman dan lebih irit karena bisa berbagi sekamar berdua. Mungkin itu kenikmatan yang diperoleh para traveller.

Baca Juga :   Angka Perceraian Usia Muda di Kota Kupang Tergolong Tinggi

“Begini saja, saya akan minta kawan saya yang jauh lebih mengerti tentang daerah sini untuk temanin kamu ya.”

“Ga usah bang nanti ngerepotin. Kan kalo sama Abang kan kita bisa diskusikan banyak hal bukan sekedar Lembata. Apalagi Abang juga suka membaca. Kalo sekedar spot bagus, kan bisa nanya Mbak Google”, katanya penuh canda.

******
Tanpa terasa kami berdua telah lama berdiri di teras bandara Lewoleba. Kami ngobrol dengan akrabnya layaknya kawan sekolah SMA yang baru berjumpa padahal kami baru  kenalan. Benar-benar terasa keakraban di antara kami berdua.

Sementara udara begitu panasnya. Bandara pun sudah terlihat sepi karena semua penumpang sudah meninggalkan bandara. Tinggal dua mobil kami saja yang masih terlihat di parkiran. Koper-koper kami pun sudah dimasukan ke mobil masing-masing. Sambil menunggu kami, dua orang sopir yang membawa mobil kami duduk santai sambil  merokok.

“Aurora kayaknya udah sepi nih. Kita bubar yuk. Nanti kita bisa saling telpon kalo mau ngobrol lagi karena Abang sebentar lagi ada acara. Tapi jangan bayangkan seperti di Jakarta. Di sini tempat kopi cuma ada di Jeti. Tepatnya jejeran warung makan yang terletak persis di depan Pelabuhan Laut Lewoleba. Itu satu-satunya yang ada di sini. Makanan favorit  yang selalu dicari oleh semua yang datang ke Lembata adalah ikan kuah asam dan ikan bakar karena ikannya masih segar.”

“Ok bang kalo begitu nanti kita saling berkabar saja. Saya juga rencananya sore ini langsung ke Lamalera”.

Seperti refleks kami pun saling berpelukan untuk kemudian menuju ke mobil masing-masing.

“Abang saya punya novel bagus yang baru saya beli sebelum ke sini. Judulnya: Cinta Itu Luka. Barangkali saja abang mau baca. Kalo sudah selesai baca jangan lupa balikin ya sekalian jadi alasan kita bisa jumpa lagi.”

Dia pun mengeluarkan novel dari tasnya dengan penuh yakin khas petualang. Saya menerima dengan penuh haru karena jarang sekali jumpai wanita muda dengan tingkat percaya diri yang tinggi seperti Aurora. Gayanya mengingatkan saya pada wanita blasteran Solo- Eropa bernama Matahari yang menjadi spionase jaman perang dan menaklukkan banyak sekali jenderal perang di Eropa pada jamannya.

Kami pun berpisah. Mobil kami beriringan keluar dari bandara dan berpisah jalan ketika sampai di pertigaan.

Sepanjang perjalanan saya berusaha mengingat detail pertemuan dengan Aurora dan tiba-tiba saja saya seperti merasa kehilangan seorang sahabat dekat. Ada rasa sedih, galau dan sedikit rindu.

Tanpa ragu saya ambil telepon gegam, mencari nomor kontaknya lalu menuliskan pesan singkat melalui WA: Aku merasa kehilanganmu perempuan buku. Nikmati saja semilir angin pantai Lamalera. Biarkan saja dia mengelusmu lembut dan anggap saja aku sedang ada bersamamu. Sampai kita ketemu lagi. Jakarta, 7 Oktober 2018. (*)

Loading...
Loading...
loading...

PENDIDIKAN

Bupati Sumba Barat Daya Resmikan Perpustakaan Ramah Anak

Published

on

Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Kornelius Kodi Mete resmikan perpustakaan ramah anak di SD Inpres Ndapa Taka, Kecamatan Wewewa Tengah, Jum’at pagi (13/9).

Wewewa Tengah, penatimor.com – Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Kornelius Kodi Mete resmikan perpustakaan ramah anak di SD Inpres Ndapa Taka, Kecamatan Wewewa Tengah, Jum’at pagi (13/9).

Perpustakaan ini merupakan perpustakaan ketujuh di Pulau Sumba yang dikembangkan oleh INOVASI melalui kemitraan dengan Taman Bacaan Pelangi (TBP).

Selain Bupati Kodi Mete, hadir dalam kesempatan ini Manajer Program TBP, Monica Harahap, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumba Barat Daya, Yublina Lena Dapasapu, _Education Officer_ INOVASI NTT, Kania Dewi, sejumlah pejabat terkait, komite sekolah dan orangtua siswa.

Dalam sambutannya, Bupati Kodi Mete mengajak semua yang hadir untuk bersama-sama memanfaatkan perpustakaan tersebut.

“Kehadiran perpustakaan ini adalah hadiah yang tidak terukur nilainya bagi kita. Untuk itu mari memanfaatkan perpustakaan ini untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia kita,” kata Kodi Mete.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Kodi Mete memperkenalkan tujuh program prioritas pemerintah daerah SBD selama lima tahun kedepan, yaitu Tujuh Jembatan Emas.

Program tersebut meliputi Desa Bercahaya, Desa Berair, Desa Berkecukupan Pangan, Desa Sehat, Desa Cerdas, Desa Tentram, dan Desa Wisata.

Menurutnya, kehadiran perpustakaan ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program Desa Cerdas.

Diakuinya, masih banyak anak-anak yang belum bisa membaca di usia yang seharusnya sudah bisa membaca. Perpustakaan ini ia harapkan dapat membantu mendorong minat baca anak-anak khususnya di SD Inpres Ndapa Taka agar kelak di masa depan, mereka siap memajukan daerahnya.

Bupati Kodi Mete memberikan apresiasi yang tinggi kepada INOVASI dan TBP atas upaya yang telah dilakukan dan mengajak anak-anak untuk terus belajar.

“Terima kasih kepada INOVASI dan TBP, masyarakat Wewewa Tengah, dan orangtua siswa di SD Inpres Ndapa Taka. Terima kasih kepada anak-anakku, belajarlah terus, supaya menjadi anak yang tidak hanya hebat tapi juga keluar dari kemiskinan,” ucap alumnus Fakultas Kedokteran, Universitas Gaja Mada ini.

Baca Juga :   Dikeroyok, Siswa SMP di Kupang Patah Tulang dan Pingsan

Sebelumnya, Manajer Program TBP, Monica Harahap dalam sambutannya menekankan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama semua pihak, termasuk pemerintah, sekolah, dan orangtua.

“Pendidikan anak itu adalah tanggung jawab kita semua. Jadi kalau ada anak yang tidak dapat membaca, itu salah siapa? Salah kita semua!” tanyanya retoris.

Ia juga mengajak orangtua untuk mendukung pembelajaran anak, khususnya saat di rumah. Melalui perpustakaan tersebut, anak-anak boleh meminjam buku dan dibawa ke rumah agar mereka dapat belajar di rumah dan didampingi oleh orangtua.

Sementara di sekolah, setiap kelas telah menentukan jadwal kunjungan wajib selama satu jam ke perpustakaan, sekali dalam seminggu. Pada jam kunjungan tersebut, guru kelas akan mendampingi siswa di perpustakaan.

Untuk perpustakaan ini, TBP menyumbangkan 1.000 eksemplar buku cerita anak yang sudah dijenjangkan sesuai dengan kemampuan membaca anak sekolah dasar pada umumnya. Sebelum peresmian, pustakawan, guru, dan kepala sekolah dibekali dengan pelatihan selama dua minggu untuk meningkatkan layanan perpustakaan.

Pelatihan tersebut mencakup pelatihan manajemen perpustakaan dan pelatihan kegiatan membaca masing-masing satu minggu.

Sementara itu, Education Officer INOVASI NTT, Kania Dewi yang mewakili Hironimus Sugi sebagai Provincial Manager, menyampaikan dalam sambutannya bahwa mengentaskan rendahnya tingkat literasi dasar di NTT khususnya di Sumba adalah pekerjaan rumah yang berat untuk diselesaikan.

Oleh karena itu, ia mengatakan, “Kami sebagai mitra pemerintah khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggandeng lembaga lain yang memiliki tujuan yang sama, seperti TBP.”

Dengan adanya perpustakaan ini, ia berharap agar anak-anak dapat memperluas wawasan mereka melalui membaca.

“Pepatah lama mengatakan, membaca adalah jendela dunia. Mari kita bersama-sama sepenuh hati membantu membuka jendela mereka lebar-lebar untuk melihat dunia seluas-luasnya.” imbuhnya.

Baca Juga :   Jumlah Anak Jalanan di Kota Kupang Terus Menurun

Menanggapi hal tersebut, Cornelia Ina Kii, Kepala Sekolah SD Inpres Ndapa Taka, saat dimintai keterangan usai peresmian, mengatakan bahwa pengelolaan perpustakaan selanjutnya bukan hal yang mudah. Namun diakuinya, pembekalan yang mereka dapatkan melalui TBP akan ia manfaatkan.

“Dalam membenahi perpustakaan selanjutnya, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi berbekal ilmu yang kami dapat dari pelatihan, saya akan mendorong guru-guru agar melaksanakan program yang telah ditetapkan,” tegasnya.

Bersama INOVASI, TBP sebelumnya telah meresmikan perpustakaan serupa di SD Inpres Poma di Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya pada 11 September, dan di SD Negeri Lokory, Kecamatan Tana Righu, Kabupaten Sumba Barat pada 12 September.

Perpustakaan kedelapan yang berada di SD Katolik Kalelapa, Kecamatan Tana Righu, Kabupaten Sumba Barat akan diresmikan pada 16 September yang akan datang. (*/mel)

Loading...
Continue Reading

PENDIDIKAN

Wakapolda NTT Tatar Mahasiswa Baru STAKN Kupang tentang Radikalisme

Published

on

Wakapolda NTT Brigjen Pol Johni Asadoma memaparkan materinya pada pembekalan mahasiswa baru STAKN Kupang, Selasa (10/9).

Kupang, penatimor.com – Wakapolda NTT
Brigjen Pol Johni Asadoma menjadi narasumber dalam kegiatan pembekalan mahasiswa baru Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Kupang tahun akademik 2019/2020.

Kegiatan ini mengangkat tema, “Membangun Pola Pikir Mahasiswa yang Berwawasan Berkebangsaan”.

Kegiatan ini berlangsung di halaman kampus STAKN Kupang, Jalan Gunung Fatuleu, Kelurahan Oetete, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Selasa (10/9).

Wakapolda Johni Asadoma pada kesempatan ini membawakan materi tentang radikalisme.

Dijelaskan, radikalisme paling berbahaya kalau tidak dicegah, karena akan menghancurkan negara kita, seperti tentang isu agama dan suku yang baru saja terjadi.

“Negara kita Indonesia ini adalah negara yang hebat, karena dengan beraneka ragam suku, lebih kurang ada 250 suku yang terdiri dari ribuan pulau,” sebut Wakapolda.

Radikal menurut mantan Wakapolda Sulawesi Utara itu, berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Radic” yang bermakna ekstrem yang menyeluruh sampai akar-akarnya, dan fundamental fanatik.

Radikalisme atau terorisme menurut Wakapolda adalah suatu paham yang tidak menerima kondisi suatu bangsa atau suatu kelompok yang dianggap tidak ada kemajuan dan ingin merubah bangsa tersebut secara refusioner sampai ke akar-akarnya.

Radikal terdiri atas beberapa bentuk yaitu radikalisme agama, suku etnis, dan radikalisme nasionalisme, sehingga kalau hal ini terjadi akan menghancurkan bangsa.

Sehingga radikalisme sangat berkembang pesat apabila tidak segera dicegah, karena juga bisa tumbuh di dunia pendidikan terutama di mahasiswa.

“Sehingga pembekalan seperti ini bagus untuk menguatkan dan merawat naturalisme. Merawat keberagaman dan kebhinekaan ini yang paling penting,” kata Johni yang juga Ketua Umum PB Pertina.

Karena radikal menurut dia, tumbuh di mana saja, termasuk di NTT, khususnya Kota Kupang kuga sudah tumbuh gerakan radikal ini.

Baca Juga :   Sudah 204 Kasus DBD di Kota Kupang, 4 Meninggal Dunia

Untuk itu, kita harus bisa berupa agar terhindar dari bahaya radikalisme dan terorisme, sehingga hidup dengan aman dan tentram.

Wakapolda juga memotivasi semua mahasiswa baru sebagai calon guru, agar menekuni profesi yang diemban, karena pekerjaan guru sangat mulia yaitu memintarkan anak-anak dan membuat karekternya lebih bagus.

Termasuk, mendidik peserta didik menjadi orang yang baik, apalagi sebagai guru agama Kristen mengajarkan tentang ajaran Tuhan Yesus Kristus.

Mahasiswa baru juga harus fokus dan maksimal dalam menuntut ilmu, khususnya menguasai disiplin ilmu agama yang dipelajari.

“Harus juga menguasai dalam berbahasa Inggris, karena perkembangan bahasa sangat penting dan menguasai ilmu teknologi. Sebab perkembang zaman yang semakin canggih. Kalau ketiga hal ini kita dikuasai, pasti kalian akan menjadi sukses,” kata Wakapolda. (wil)

Loading...
Continue Reading

PENDIDIKAN

Wakapolda NTT Ingatkan Siswa SMAN 10 Kupang Hindari Miras

Published

on

Wakapolda NTT Brigjen Pol Johni Asadoma memberikan motivasi kepada para siswa SMAN 10 Kupang, Selasa 10/9).

Kupang, penatimor.com – Wakapolda NTT
Brigjen Pol Johni Asadoma melanjutkan Safari Kamtibmas ke SMA Negeri 10 Kupang.

Kunjungan ke SMA yang beralamat di Jalan Sikib 2, Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa itu dilakukan Wakapolda, Selasa (10/9) pagi.

Wakapolda juga memimpin apel pagi bersama para guru dan siswa, serta mahasiswa PPL.

Seperti biasa, jenderal bintang satu itu mengenalkan tugas pokok kepolisian dan memotivasi para siswa agar menjadi generasi penerus bangsa, khususnya NTT.

Johni Asadoma yang juga Ketua Umum PB Pertina itu, menjelaskan tupoksi kepolisian, yakni menjaga dan memelihara Kamtibmas, menegakkan hukum, serta melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.

Para siswa juga diminta giat belajar dan memperbanyak ilmu pengetahuan agar kedepannya menjadi orang yang berguna.

“Adik-adik juga harus menjauhkan diri dari minuman keras, karena dapat merusak diri, badan dan otak. Harus fokus dan hanya utamakan belajar dan belajar,” kata Wakapolda.

“Kita juga harus bisa mencontohi negara yang maju, dimana di usia sekolah mereka hanya belajar agar menjadi pintar dan dapat berprestasi,” sambung dia.

Para siswa yang ingin mengikuti tes masuk Bintara Polri, diminta agar mempersiapkan diri dari sekarang, karena ada serangkaian tes yang tidak mudah, seperti tes akademik, fisik, dan kesehatan.

Karena dalam mengikuti tes Bintara Polri saat ini, sudah transparan dan tidak ada lagi calo menjanjikan kelulusan.

“Kalau belajar dan pintar, fisik menunjang, pasti bisa menjadi anggota polisi,” tandas Wakapolda.

Mantan Wakapolda Sulawesi Utara itu juga memberikan kesempatan kepada para siswa agar dapat berpidato menggunakan bahasa Inggris dan yang bisa akan dihadiahi sebuah handpone.

Tapi kali ini, belum ada siswa SMAN 10 Kupang yang bisa berpidato dan mendapatkan hadiah.

Baca Juga :   235 CPNS Kota Kupang Lulus, Segera Bekerja

Wakapolda juga berpesan kepada kepada para siswa agar tidak takut untuk bermimpi dan menggantungkan cita-cita setinggi langit dan meraih mimpi.

Sementara itu, Kepala SMAN 10 Kupang Drs. Daniel Bolle, mengucapkan terima kasih kepada Wakapolda NTT atas kunjungan tersebut.

“Terima kasih bapak Wakapolda karena sudah mau berkunjung ke sekolah kami dan sudah memberikan arahan dan motivasi kepada siswa-siswi SMAN 10,” kata Daniel Bolle.

“Soal apabila siswa kedapatan mengonsumsi miras di jam sekolah, sesuai aturan di sini, siswa bersangkutan akan dikeluarkan dari sekolah,” pungkas dia. (wil)

Loading...
Continue Reading
Loading...




Loading…

error: Content is protected !!