Connect with us

PENDIDIKAN

Unwira Gelar Pelatihan Literasi Media, Libatkan Guru SMA di Kupang

Published

on

Tim fasilitator pelatihan literasi media dari Universitas Katolik Atama Jaya Jakarta pose bersama para peserta yang adalah guru-guru SMA di Kupang. Diabadikan di aula gedung baru kampus Unwira Penfui, Jumat (31/8).

Kupang, penatimor.com – Menjawab tantangan di era konvergensi media yang kini berkembang pesat, Prodi Ilmu Komunikasi Fisipol Unwira Kupang, menggelar pelatihan literasi media untuk guru-guru SMA di Kupang.

Pelatihan ini bagian dari wujud kerja sama Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta dan Unwira Kupang.

Kegiatan ini berlangsung di aula gedung baru kampus Unwira Penfui, Jumat (31/8).

Utusan peserta yang hadir berasal dari 34 sekolah yang mengikuti kegiatan ini.

Tema pelatihan ini merujuk pada cara menggunakan media yang “Sehat dan Cerdas Bermedia di Era Disruptif”, bagi trainers literasi media.

Tim fasilitator pelatihan literasi media dari Universitas Katolik Atama Jaya Jakarta yang berjumlah 4 orang, adalah dosen di Prodi Ilmu Komunikasi, universitas ini.

Di antarnya, Dorin Kartikawangi, Yohanes Temaluru, Nia Sarinastiti dan Alfonso Horison.

Konvergensi media dari konvensional menuju media baru merubah cara akses informasi masyarkat. Tidak hanya masyarakat umum tetapi di lingkup pendidikan, yaitu pada sekolah menengah atas.

Mengawali pemberian materi pelatihan literasi media, Dorin Kartikawangi menekankan pelatihan ini bertujuan untuk melatih para guru menjadi trainer bagi anak-anak didiknya dan juga masyarakat.

“Bagiamana seharusnya memanfaatkan media dengan baik. Guru harus menjadi trainer dan agent of change itu sendiri,” kata Dorin Kartikawangi.

Dia menjelaskan, literasi media adalah kemapuan mengkases, menganalisa, menilai dan mengembangkan pesan dalam berbagai bentuk atau kemampuan mengkonsumsi media secara kritis, baik itu media konvensional dan media baru.

Dorin melihat fenomena pengguna media baru yang mendewakan peralatan informasi seperti smartphone.

“Pengaruh media merubah cara mempresepsikan sesuatu, mulai dari kepercayaan dan perilaku,” imbuhnya.

Kehadiran media baru juga berpengaruh terhadap keberadaan media konvensioanl.

Namun Dorin mengatakan kehadiran media baru sangat berbahaya terhadap daya kiritis penggunaya. Karena begitu banyak informasi-informasi yang tidak bisa terukur.

Untuk itu penggunanya harus memiliki daya pikir kritis untuk memilih media yang baik untuk dikonsumsi. Semua orang memiliki fasilitas untuk mengkases informasi dari smartphone, jadi tidak ada yang bisa membatasi siapa pun.

Sementara, Yohanes Temaluru, menambahkan, pengguna media harus mampu melihat realita media. Membedakan mana fakta, mana opini dan fiksi.

Dia mengatakan, untuk menjadikan media sebagai saran belajar yang positif bukan untuk mencari-cari masalah yang menimbulkan kekacauan.

“Membaca, mendengar dan menonton dengan sehat dan cerdas,” sebut dia.

Yohanes melanjutkan, bahaya dari salah mengonsumsi media ialah pada munculnya mental imitasi negative, kelemahan bernalar secara logis, permisif terhadap hal-hal buruk dan sulit untuk membedakan antara baik dan buruk.

Peserta yang adalah para guru juga diajak menjadi audeins yang cerdas, mampu untuk mengevaluasi konten yang layak, bisa membatasi waktu dan mengonsumsi beragam media dan saluran.

Peserta pelatihan literasi media, dan juga seorang guru biologi di SMAN Keberbakatan Olahraga Flobamorata Kupang, Suwesti T.Y.Nona Heni, mengapresiasi kegiatan ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan para guru tentang media konvensional dan media baru.

Bagaimana cara menggunakan media baru yang berpengaruh terhadap anak-anak didik di sekolah agar seimbang.

Melalui kegiatan ini, dia mengatakan, bahwa untuk menggunakan media sosial ternyata membutuhkan daya pikir kritis.

Suwesti juga berharap untuk ada kunjungan ke sekolah-sekolah melakukan sosilisasi tentang literasi media.

Sementara Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Unwira Kupang Yoseph Andreas Gula, juga mengapresiasi kehadiran peserta pelatihan literasi media.

Menanggapi permintaan peserta untuk melakukan kunjungan keluar, dia mengatakan akan selalu siap. Karena sosialisai dan pelatihan literasi media sudah pernah dilakukan di luar wilayah Kupang.

“Ini menjadi harapan gerakan bersama supaya anak-anak muda dan orang tua cerdas dalam berliterasi media,” ujar Yoseph. (R1)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PENDIDIKAN

Donasi untuk Bocah Satu Kaki di Kupang Capai Rp 27 Juta, Digalang Forum Wartawan

Published

on

Forum Wartawan NTT Peduli berpose bersama usai menyerahkan langsung bantuan itu ke bocah difabel Yesi Ndun dan keluarganya.
Continue Reading

PENDIDIKAN

Tetap Semangat Sekolah, Bocah Satu Kaki di Kupang Dambakan Kaki Palsu

Published

on

Yessi Ndun, siswa SD di Desa Tuapanaf, RT 006/RW 003, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang rajin ke sekolah walau hanya memiliki satu kaki.
Continue Reading

PENDIDIKAN

Dinas Pendidikan Kota Kupang Segera Bagikan Seragam Sekolah ke 50 Ribu Siswa

Published

on

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang Drs. Dumuliahi Djami, Msi., yang diwawancarai (3/9/2020) petang.
Continue Reading
loading...