Connect with us

EKONOMI

25 Lapak Pasar Oebobo Tak Ditempati Pedagang

Published

on

Anggota Komisi II DPRD Kota Kupang Jemari Yoseph Dogon berdiskusi dengan Ketua RT 22 dan Ketua RW 07 Kelurahan Fatululi, saat mengunjungi Pasar Oebobo, Selasa (7/8).

Kupang, penatimor.com – Warga yang berdomisili di dekat Pasar Oebobo mengeluhkan banyak tempat jualan yang tidak difungsikan atau digunakan oleh pedagang, sementara masih banyak warga yang ingin berjualan di tempat tersebut tetapi tidak mendapat tempat.

Hal ini diungkapkan Jemari Yoseph Dogon, anggota Komisi II DPRD Kota Kupang, saat diwawancarai di Kantor DPRD Kota Kupang, Selasa (7/8).

Wakil rakyat yang akrab disapa Dogon itu mengatakan, setelah menerima surat pengaduan warga masyarakat tersebut, dirinya langsung mengecek langsung ke Pasar Oebobo pada Selasa (7/8), pukul 10.00.

Dia mendapati sekira 25 lapak jualan yang kosong dan tidak ditempati penjual selama berbulan-bulan.

“Saya ke sana dan bertemu dengan Ketua RT 22 dan Ketua RW 07, dan memang diakui setiap hari masyarakat mengeluh yang ingin mendapatkan tempat jualan di Pasar Oebobo, karena ada banyak lapak yang tutup selama berbulan-bulan,” katanya.

Menurutnya, setelah bertemu dengan para pedagang, ternyata memang banyak padagang yang sudah meninggalkan lapak jualannya selama berbulan-bulan, dengan alasan masih mencari modal usaha.

“Pertanyaannya sekarang, bukankah lapak itu diberikan kepada pedagang yang sudah menempati tempat tersebut. Kalau memang masih cari modal, lebih baik diberikan kepada orang yang sudah siap untuk berjualan dan tidak menunggu, sehingga lapak yang ada dibiarkan kosong seperti ini,” katanya.

Selain itu kata Dogon, ada juga pedagang yang mengaku mendapatkan lapak dari pedagang sebelumnya, dengan menyewanya per tahun sebesar Rp 3 juta.

“Jadi pedagang yang mendapatkan lapak dengan dikontrak dari pihak pedagang lain. Saya pribadi sangat kecewa hal ini bisa terjadi. Apa memang PD Pasar tidak mengaturnya secara baik atau memang ada unsur-unsur lain, dan jangan sampai terjadi korupsi besar-besaran di PD Pasar. Ini yang kami Komisi II meminta pemerintah untuk segera menyelidikinya,” ungkapnya.

Baca Juga :   Lion Air Tawarkan Tarif Promo 50 Persen

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Kupang Yeri Padji Kana, mengatakan, pembagian lapak jualan merupakan kewenangan PD Pasar, dan Disperindag hanya melakukan koordinasi.

“Urusan pembagian lapak untuk pedagang merupakan kewenengan PD Pasar. Kami hanya melakukan koordinasi saja. Pada dasarnya kami tidak berwenang untuk pembagian lapak itu,” kata Yeri.

Sementara itu, Direktur PD Pasar Kota Kupang Simon Pellokila, mengatakan, masalah pembagian lapak sebenarnya sudah diselesaikan.

Semua pedagang sudah mendapatkan tempatnya, tetapi memang masih banyak pedagang yang tidak mau menempati lapak yang disediakan, melainkan membuka lapak baru dengan meja sendiri, di luar dari lokasi pasar.

“Lapak-lapak yang dibangun pemerintah tidak digunakan pedagang. Tetapi mereka membuka lapak baru dengan membawa meja jualan sendiri dan membukanya di luar pasar,” ujarnya.

Dia melanjutkan, ada banyak lapak yang kosong karena pedagang yang tidak menggunakannya dan memilih berjualan di luar lokasi pasar.

Hal ini kata Simon, sudah dibicarakan dengan Komisi II DPRD Kota Kupang untuk segera mengadakan pertemuan dengan para pedagang, agar mau masuk dan menempati lapak yang telah disediakan.

“Kami bersama Komisi II DPRD Kota Kupang akan melakukan pertemuan dengan para pedagang pada Kamis nanti. Tujuannya agar semua pedagang yang mendapatkan tempat jualan, bisa segera menempatinya dan ditata secara baik, agar jangan ada lagi lapak-lapak di luar lokasi pasar,” pungkas Simon Pellokila. (R1)

Loading...
Loading...
loading...

EKONOMI

PLTU Berkapasitas 2×50 MW Segera Dibangun di Kupang Barat

Published

on

PT PP melakukan penandatanganan kontrak pembangunan dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di dua lokasi, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara. Foto Dok PT PP

Jakarta, penatimor.com – PT PP melakukan penandatanganan kontrak pembangunan dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di dua lokasi, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.

Adapun masing-masing pembangkit berkapasitas 2×50 MW berlokasi di Desa Panaf, Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur akan mengisi luasan sebesar 30 hektar dan pembangkit lainnya berada di Desa Bolaang Mangitang Timur, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara mengisi luasan sebesar 32 hektar milik PT PLN (Persero).

Acara penandatanganan kontrak dilakukan oleh Direktur Utama Perseroan Lukman Hidayat beserta seluruh partner yang bertanggung jawab dalam penyelesaian proyek di Kantor Pusat PLN Jakarta, Senin (9/9).

Direktur Utama PT PP Lukman menuturkan dalam kontrak ini perseroan berperan sebagai kontraktor yang akan bertanggung jawab dalam penyelesaian proyek, dengan bekerja sama bersama beberapa partner.

PT PP optimistis bisa menyelesaikan proyek tersebut untuk unit pertama selama 36 bulan dan unit kedua selama 39 bulan. Perseroan juga optimistis kedua PLTU tersebut dapat beroperasi pada 2022.

Proyek pembangunan PLTU Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara ini akan menelan investasi dengan potensi nilai total investasi mencapai lebih dari Rp 8 triliun, di mana nilai kontrak perseroan mencapai Rp 2,1 triliun.

Dengan pembangunan PLTU Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara ini, diperkirakan akan melistriki beberapa desa dan kecamatan untuk di Nusa Tenggara Timur dan juga Sulawesi Utara dan sekitarnya. (jim)

Loading...
Continue Reading

EKONOMI

20 Ton Semangka Rote Diekspor ke Timor Leste

Published

on

Petugas dari Kementan mengecek semangka yang akan diekspor. Foto: Kementan

Kupang, penatimor.com – Upaya pemerintah dalam membangun pertanian di perbatasan mulai membuahkan hasil dengan kegiatan ekspor sejumlah wilayah perbatasan ke negara tetangga.

“Terus bertumbuh, volume ekspor semangka asal Rote. Kita terus gali potensi komoditas unggulan di perbatasan yang bisa diekspor,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) melalui keterangan tertulisnya saat menerima laporan pelepasan ekspor buah Semangka segar sebanyak 2 ton ke Timor Leste, Sabtu (17/8).

Menurut Jamil, kegiatan ekspor buah hortikultura ini bukan yang pertama kalinya, berdasarkan data sistem otomasi perkarantinaan IQFAST, tercatat hingga pertengahan tahun 2019 ini, terdapat 20,1 ton buah semangka segar asal Kabupaten Rote, Nusa Tenggara Timur ini yang telah dilalulintaskan menuju negeri tetangga, Timor Leste.

Jamil juga menambahkan bahwa neraca dagang berjalan tahun 2019 komoditas pertanian ke negara RDTL masih negatif, dimana jumlah ekspor aneka komoditas pertanian sebanyak 1,8 ribu ton dan sebaliknya jumlah komoditas yang masuk sebanyak 3,8 ribu ton.

“Perlu kita gali dan dorong bersama Pemda agar komoditas pertanian di wilayah batas negara bisa bertumbuh dan surplus. Dan kami melalui unit kerja karantina pertanian Kupang siap mengawal,” ungkapnya.

Program Pembangunan Pertanian di Perbatasan NTT

Pembangunan pertanian di wilayah perbatasan termasuk di NTT juga turut didukung sinergi Kementan dengan kementerian dan lembaga lain. Hal ini sejalan dengan agenda prioritas kebijakan Pemerintah Jokowi–JK yang telah menetapkan pembangunan wilayah perbatasan.

Dalam Nawa Cita pemerintah Jokowi-JK disebutkan pemerintah akan membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Salah satu sektor yang menjadi fokus pembangunan di wilayah perbatasan adalah sektor pertanian.

Sektor ini dinilai dapat menghasilkan nilai tambah tinggi bagi masyarakat.

Baca Juga :   Perdana, NTT Ekspor Rumput Laut ke Argentina

“Upaya ini telah dilakukan pak Mentan Amran. Dan akan terus berlanjut. Dan hasilnya berupa sistem pertanian modern terpadu dan berkelanjutan melalui pendekatan kawasan mulai terlihat. Buktinya kita mulai ekspor dan terus bertumbuh,” jelas Jamil.

Peta Aplikasi Komoditas Pertanian Ekspor

Kementan melalui Barantan yang telah mengagas aplikasi IMACE yang telah diserahkan secara khusus kepada pemerintah daerah NTT pada medio Juni 2019. Harapannya ini dapat digunakan sebagai landasan dalam pengambilan kebijakan pembangunan berorientasi komoditas ekspor.

Seperti contoh, Kabupaten Rote dengan potensi produk hortikultura, semangka yang laris dipasar ekspor dapat lebih dikembangkan. Dapat disusun program yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk capai tujuan tersebut antara lain pemanfaatan benih varietas unggul, peningkatan penggunaan pupuk organik, serta pengendalian hama terpadu.

Dan sebagai fungsi fasilitator perdagangan, petugas karantina pertanian di PLBN Motain akan lakukan tindakan dan perlakuan yang cepat, tepat dan akurat. Sehingga produk ini dapat mengantongi sertifikat kesehatan, PC sebagai persyaratan ekspor.

“Kami memberi perhatian khusus bagi proses bisnis eksportasi di wilayah perbatasan. Harus lebih cepat agar semakin banyak komoditas yang bisa kita kirim,” pungkas Jamil. (mel)

Loading...
Continue Reading

EKONOMI

Ekonomi NTT Triwulan II 2019 Tumbuh 6,36 Persen

Published

on

Foto: PenaTimor

Kupang, Penatimor.com – Perekonomian Nusa Tenggara Timur (NTT) berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2019 mencapai 26,50 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai 17,26 triliun.

“Ekonomi NTT triwulan Il-2019 tumbuh sebesar 6,36 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018 (y-on-y),” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, Maritje Pattiwaellapia kepada wartawan di Kupang, Senin (5/8/2019).

Maritje menjelaskan, dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 9,53 persen.

“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) yang bertumbuh sebesar 6,40 persen,” ungkapnya.

Menurut Maritje, bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), ekonomi NTT pada triwulan ll-2019 mengalami pertumbuhan sebesar 5,95 persen.

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 16,72 persen.

“Sedangkan dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Pengeluaran Pemerintah (PK-P) sebesar 50,25 persen,” ujarnya.

Dia menyebutkan, ekonomi NTT pada semester I 2019 tumbuh sebesar 5,92 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tertinggi pada semester pertama tahun 2019 dicapai oleh lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 9,38 persen.

Struktur Ekonomi NTT pada Triwulan ll-2019 masih didominasi oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan kontribusi sebesar 29,67 persen.

“Sedangkan dari sisi pengeluaran masih didominasi oleh Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga, yaitu sebesar 72,74 persen,” tandas Maritje. (ale)

Loading...
Continue Reading
Loading...




Loading…

error: Content is protected !!