Connect with us

UTAMA

GMIT Bet’El Maulafa Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Jemaat

Published

on

Ketua Majelis Jemaat Bet’El Maulafa, Pdt. Lorine Lena-Foeh berada di kebun jemaat, belum lama ini.

Kupang, penatimor.com – Di lahan seluas satu hektare yang berlokasi di depan Gereja Bet’El Maulafa, puluhan jemaat mulai menanam aneka sayuran, buah-buahan dan tanaman obat-obatan. Tujuannya untuk membantu ekonomi keluarga, agar bisa menekan pengeluaran sehari-hari.

Lahan yang tepat di depan Gereja Bet’El Maulafa tampak ramai saat pagi dan sore hari.

Jemaat ramai-ramai datang untuk menyiram tanaman mereka. Pada pagi hari biasanya hanya ibu-biu yang sibuk menyiram, tetapi sore hari, para ibu ini akan dibantu oleh anak-anaknya yang ramai bermain sambil membantu menyiram semua tanaman yang ada.

Ada begitu banyak tanaman yang ditanam. Diantaranya, sayur sawi, bayam, kangkung, bawah merah dan putih, cabai, tomat, buah melon, pepaya, jeruk dan aneka tanaman lainnya.

Menariknya, ketika sore hari, pekerjaan menanam dan menyiram kebun bukan hanya tugas kaum perempuan, tetapi para suami dan anak-anak akan ramai datang untuk membantu.

Program ini dinamakan program ekologi dan ketahanan pangan untuk pemberdayaan ekonomi Jemaat Bet’El Maulafa.

Awalnya, Ketua Majelis Jemaat bersama majelis harian melihat kondisi ekonomi jemaat, dimana kebanyakan hanya para suami yang bekerja.

Sementara istri hanya sebagai ibu rumah tangga, dan tidak banyak yang memiliki keterampilan.

Ketua majelis jemaat bersama majelis harian mulai merumuskan program yang bisa berdampak secara langsung pada ekonomi jemaat. Pasalnya, tugas gereja bukan hanya tentang peningkatan iman dan pelayanan jemaat, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup jemaat, di bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Saat program ekologi dan ketahanan pangan ini mulai dijalankan, pada tahun 2016 lalu, awalnya hanya beberapa keluarga yang ikut dan bersedia mengikuti pelatihan.

Hari demi hari semakin bertambah jumlah jemaat yang mau ikut. Sampai sekarang, ada sekitar 90an keluarga yang mengikuti gerakan menanam ini.

Lahan seluas satu hektare di depan gereja pun penuh dan ramai setiap pagi dan sore. Ada juga jemaat yang memilih menanam di halaman rumah sendiri.

Awalnya, tujuan menanam adalah untuk meringankan dan mengurangi pengeluaran untuk membeli bahan makanan setiap hari, karena sayur dan buah sudah tersedia di kebun.

Program ini terus dikembangkan dan sekarang sudah banyak jemaat yang menjual hasil kebunnya. Mereka memasarkan hasil kebun menggunakan media sosial dan lainnya.

Keunggulan ari hasil kebun jemaat Bet’El Maulafa adalah semua pupuk menggunakan pupuk organik yang dibuat sendiri oleh jemaat.

Gereja juga memberikan pelatihan untuk jemaat mengolah bahan makanan sisa dan bahan lainnya menjadi pupuk. Jadi bisa dikatakan hasil yang dijual berkualitas dan terjamin kesehatannya.

Gereja Bet’El dikatakan berhasil dalam menjalankan program ini. Perhatin dari semua pihak mulai datang. Diantaranya dari Pemerintah Kota Kupang yang mau bekerja sama dan mendukung program ini.

Ada juga tawaran dari hotel-hotel untuk bekerja sama dalam memasok bahan makanan sayur-sayuran dan buah.

Bantuan mulai berdatangan, mulai dari bantuan sumur bor, sampai anakan sayur-sayuran dan buah dari Dinas Ketahanan Pangan Kota Kupang.

Sampai sekarang, sudah ada tiga kelompok tani yang terbentuk. Satu kelompok tani terdiri dari belasan sampai puluhan petani.

Jemaat mendapat pekerjaan baru yang bisa membantu ekonomi keluarga, juga bisa memberikan asupan gizi bagi keluarga dengan makanan yang sehat dan bergizi bebas dari bahan-bahan kimia.

Ketua Majelis Jemaat Bet’El Maulafa, Pdt. Lorine Lena-Foeh, mengatakan, awal pindah ke jemaat Bet’El, dirinya berpikir keras tentang kondisi jemaat dan melihat ada begitu banyak lahan kosong bebatuan, begitu banyak tebing dan tanjakan yang tampak.

“Saya bertanya kepada Tuhan, apakah tujuan menempatkan saya di jemaat ini. Jemaat dengan keterbatasan,” ungkapnya.

Menurutnya, jemaat memiliki banyak lahan, tetapi tidak dimanfaatkan. Atau memang jemaat tidak tahu mau diapakan lahan ini.

Akhirnya, dirinya bersama majelis harian menggelar rapat dan mulai merancang program ekologi dan ketahanan pangan untuk pemberdayaan ekonomi jemaat.

“Saya lihat, kebanyakan jemaat berada di ekonomi menengah ke bawah. Para istri tidak bekerja dan hanya di rumah mengurus keluarga. Tugas gereja bukan hanya tentang iman jemaat, tetapi juga perut jemaat. Jika jemaat lapar, bagaimana bisa beribadah dan melayani dengan sungguh-sungguh. Bagaimana jemaat memberikan perpuluhan dan kolekte, sementara untuk makan saja sulit. Saya melihat hal-hal ini, dan merasa bahwa gereja bertanggung jawab untnk memperbaiki ini,” ungkapnya.

Pdt. Lorine mengaku, usaha yang dilakukannya bersama jemaat dan majelis harian membawa hasil yang membanggakan.

Jemaat belajar dan mau menjadi lebih baik. Di mulai dari dalam keluarga. Anak-anak mendapat asupan makanan bergizi, dan semua anggota jemaat mulai menanam di rumahnya masing-masing.

“Kami akan terus kembangkan ini dan akan terus berdiri bersama jemaat, bekerja bersama untuk membawa jemaat dalam kedewasaan iman, dan kematangan ekonomi,” pungkasnya. (R1)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Jonas Salean ‘Bebas’

Published

on

Jonas Salean saat meninggalkan kantor Kejati NTT, Selasa (27/10/2020).
Continue Reading

HUKRIM

Kajati NTT jangan Campuradukkan Wewenang Administrasi Negara dan Wewenang Penuntutan Jaksa

Published

on

Petrus Salestinus (NET)
Continue Reading

UTAMA

VIRAL! Video Seorang Pria di NTT Digantung Kepala di Bawah, Ibu Korban Minta Keadilan

Published

on

Seorang pria dihukum dengan cara digantung kepala di bawah.
Continue Reading
loading...