Connect with us

HUKRIM

Masalah Tanah di Amarasi Selatan, Penggal Kepala Kakek 73 Tahun, Dibawa ke Kantor Desa

Published

on

Tim Identifikasi Polres Kupang saat melakukan olah TKP dengan memeriksa kondisi mayat korban, Sabtu (9/6).

Kupang, penatimor.com – Pembunuhan sadis terjadi lagi di wilayah hukum Polres Kupang.

Kali ini di wilayah RT 012/RW 006, Dusun III, Desa Nekmese, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, sekira pukul 08.30, Sabtu (9/6).

Korbannya Kusnawi Bani, 73, meregang nyawa dengan cara tragis. Lehernya putus dipenggal pelaku utama Stefanus Ora.

Stefanus usai membunuh korban langsung menyerahkan diri ke polisi di Mapolsek Amarasi.

Informasi yang dihimpun wartawan, menyebutkan, kasus tersebut berawal sekira pukul 08.30, saat Stefanus Ora datang ke rumah Kepala Desa Nekmese Krisma Jems Balok memberitahukan bahwa dirinya akan membangun rumah di tanah yang diklaim milik korban.

Kepala Desa lalu menolak memberikan izin kepada pelaku untuk membangun di tanah tersebut, menggunakan dana bantuan Pemkab Kupang, karena tanah tersebut sedang bermasalah.

Namun pelaku mengatakan akan tetap membangun di tanah tersebut, dan saat itu pelaku memutuskan untuk pulang, sementara Kepala Desa menuju ke kantor desa.

Setelah sampai di rumah, Stefanus Ora bersama dua orang anaknya Kalvin Ora dan Gayon Ora, lalu pergi menemui korban di belakang rumahnya.

Saat itu, Stefanus Ora lalu marah-marah kepada korban sambil menanyakan tentang tanah yang akan digunakannya untuk pembangunan rumah bantuan dari pemerintah.

Tiba-tiba, Stefanus Ora mengambil sebatang kayu hendak memukul korban, namun kayu tersebut dibuangnya kembali.

Pelaku langsung mencekik leher korban, dan kedua anak pelaku turut serta membantu melakukan pemukulan terhadap korban secara berulang kali.

Selanjutnya, pelaku tanpa diduga mengambil sebilah parang yang disisipkan di bagian pinggangnya, dan langsung memotong korban secara berulang kali pada bagian leher dan wajah, sehingga korban terjatuh ke tanah. Pelaku tetap memotong leher korban sampai putus dari bagian tubuhnya.

Baca Juga :   BNN Ringkus Sindikat Jaringan Narkotika Lintas Provinsi, 54 Ribu Butir Pil Ekstasi Diamankan

Selanjutnya Stefanus Ora bersama anaknya Kalvin Ora mengambil kepala korban yang telah terlepas dari badannya lalu dibawa dengan menggunakan sepeda motor menuju Kantor Desa Nekmese yang berjarak sekitar 300 meter dari tempat kejadian perkara (TKP).

Sekira pukul 09.00, Stefanus Ora dan anaknya Kalvin Ora tiba di Kantor Desa Nekmese sambil membawa kepala korban, kemudian pelaku membawa kepala korban dan disimpan di dalam Kantor Desa Nekmese.

Pada saat itu di Kantor Desa Nekmese terdapat Kepala Desa Nekmese Krisma Jems Baok, 52, dan stafnya Yan Tinenti, 28.

Saat Krisma dan Yan melihat kajadian tersebut, pelaku mengatakan kepada Kepala Desa bahwa dirinya dirinya sudah membunuh korban. “Dia bilang saya sudah kasih mati geng Nekmese,” kata Krisma meniru perkataan pelaku.

Atas kejadian tersebut, Kades Nekmese Krisma Jems Baok melaporkan kejadian tersebut ke Pospol Amarasi Selatan kemudian meneruskan kejadian tersebut ke Polsek Amarasi maupun Polres Kupang.

Selanjutnya, sekira pukul 11.00, piket fungsi Polres Kupang dan Siaga Mako yang dipimpin oleh Kasat Intelkam Polres Kupang AKP Mateus Cono dan Kasat Reskrim Iptu Simson Amalo, didampingi Ka SPKT Ipda Anderas Besi dan Kasi Propam Ipda I. Nyoman Sarjana menuju TKP.

Selanjutnya Unit Identifikasi melakukan olah TKP dan Unit Intelkam melakukan pulbaket terkait saksi-saksi maupun para pelaku di lokasi sekitar TKP.

Sekira pukul 13.10, jenazah korban dibawa menggunakan mobil ambulans Puskesmas Amarasi Selatan menuju RSUD Naibonat guna pemeriksaan oleh tim medis.

Selanjutnya pada pukul 17.00, jenazah korban dipindahkan ke Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uli Kupang guna dilakukan visum et repertum dan outopsi .

Kasat Reskrim Polres Kupang Iptu Simson Amalo yang dikonfirmasi, mengatakan, dalam kasus ini, polisi mengamankan barang bukti sebilah parang dengan panjang sekira 50cm dengan lebar 9cm dengan noda darah di seluruh bagian parang tersebut.

Baca Juga :   VIDEO Berniat Pinjam HP, Kemampuan Bernyanyinya Langsung Viral

“Kami juga mengamankan pakaian yang dipakai oleh pelaku saat melakukan pembunuhan dengan noda darah pada pakaian tersebut,” kata Simson.

Mantan penyidik Subdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda NTT itu melanjutkan, pembunuhan tersebut dilatarbelakangi adanya rasa dendam pelaku terhadap korban, terkait permasalahan tanah yang rencananya akan digunakan oleh pelaku untuk pembangunan rumah bantuan dari Pemkab Kupang.

“Tanah tersebut diklaim oleh kedua belah pihak, baik pelaku maupun korban adalah miliknya, dan kejadian tersebut sebelumnya telah berulang kali dilakukan mediasi oleh Kepala Desa namun tidak ada titik temu,” jelas Simson.

Perwira pertama dengan pangkat dua balok itu pundak itu melanjutkan, sertifikat kepemilikan tanah tersebut belum jelas dan di dalam tanah tersebut terdapat pohon Jati yang dulunya ditanam secara bersama-sama oleh korban dan pelaku.

“Antara pelaku dan korban masih memiliki hubungan keluarga yang mana pelaku memanggil korban sebagai kakeknya,” jelas Simson.

Ditambahkan, pelaku utama Stefanus Ora usai membunuh korban, langsung menyerahkan diri ke Mapolsek Amarasi yang diantar oleh anaknya Frenhky Ora, 30, sedangkan kedua pelaku lainnya Kalvin Ora dan Gayon Ora mengamankan diri di rumah mereka dan selanjutnya menuju ke rumah Ketua RT 12 Robertus Bani sebelum diamankan oleh Tim Buser Polres Kupang.

“Saat ini ketiga pelaku sudah diamankan di Rutan Polres Kupang untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” kata Kasat Simson.

Sementara, Kasat Intelkam dan Kasat Reskrim juga mengarahkan Kapolsubsektor Amarasi Selatan dan anggotanya untuk memberikan imbuan kepada masyarakat dan keluarga korban agar kasus tersebut dipercayakan kepada pihak kepolisian di Polres Kupang untuk melakukan proses hukum terhadap para pelaku serta pihak keluarga korban agar tidak melakukan tindakan balas dendam terhadap keluarga pelaku. (R1)

Baca Juga :   Rekonstruksi Pembunuhan Yanto Blegur, 21 Adegan Diperagakan
Loading...
Loading...
loading...

HUKRIM

Lakalantas Maut di Kupang, Sopir Tewas di Tempat, 5 Penumpang Luka-luka

Published

on

Mobil pikap Suzuki Carry tampak ringsek akibat tabrakan di Jalan Yos Sudarso, Tenau, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Kupang, penatimor.com – Kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) yang mengakibatkan koban jiwa kembali terjadi di Kota Kupang.

Kali ini tabrakan antara sebuah mobil Suzuki Carry jenis pikap dengan mobil Nissan Terano di Jalan Yos Sudarso, tepatnya di dekat gereja katolik Tenau, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Minggu (22/9).

Lakalantas maut yang terjadi sekira pukul 03.40 itu mengakibatkan pengemudi Suzuki Carry dengan nomor polisi DH 9910 AC itu meninggal dunia dan lima penumpang lainnya mengalami luka-luka.

Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Kupang Kota Iptu Rocky Junasmi, S.IK.,MH., kepada wartawan, Minggu (22/9), mengatakan, lakalantas tersebut berawal saat mobil Suzuki Carry bergerak dari arah Bolok menuju Tenau.

Sesampainya di tempat kejadian perkara (TKP), mobil Nissan Terano dengan nomor B 1326 WUJ melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.

Tabrakan kedua mobil yang masing-masing dikemudikan oleh Yoseph Dongi (57) dan Marselinus Liwu (44) itu pun tidak dapat dihindarkan.

“Kedua mobil bertabrakan di tikungan, karena jaraknya yang sudah terlalu dekat,” ujar Rocky.

Dijelaskan, mobil pikap yang dikendarai Yoseph ditumpangi lima orang, masing-masing Maria Undis (52), Doroteus Djehabut (62), Nathalia Martina Ece (37), Saptio Biobernadimus Ngalu (3) dan Kristiano De Alves Djehabut (7).

Para korban merupakan warga RT 12/RW 02, Kelurahan Mbaumuku, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, dan warga Jalan Bhakti Karang RT 18/06, Kelurahan Oebobo, Kota Kupang.

Kasat Lantas melanjutkan, kejadian tersebut mengakibatkan pengedara mobil Suzuki Carry Yoseph Dongi langsung meninggal dunia di TKP.

“Para penumpang mengalami luka-luka dan sedang dirawat di RSUD W.Z. Yohanes Kupang,” ungkapnya.

Ditambahkan, korban meninggal dunia diketahui merupakan warga Jalan Bhakti Karya, RT 21/RW 07, Kelurahan Oebobo, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Baca Juga :   Periksa Mantan Gubernur dan Sekda NTT, Kejati: Saksi Bisa Tersangka

Sedangkan pengemudi mobil Nissan Terano Marselinus Liwu merupakan warga Jalan Timor Raya Km 18, Gudang CV. Bintang Timur l, Desa Tanah Merah, Kecamatan, Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. (wil)

Loading...
Continue Reading

HUKRIM

Bunuh Anak Sendiri, Polisi Segera Periksa Kejiwaan Dewi Regina Ano

Published

on

Tersangka Dewi Regina Ano saat dipindahkan dari RSU SK Lerik Kota Kupang ke Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang.

Kupang, penatimor.com – Proses penyidikan kasus dugaan pembunuhan anak kembar berusia 5 tahun terus dilakukan penyidik Satreskrim Polres Kupang Kota.

Kedua korban merupakan anak dari pasangan suami istri Obir Masus (31) dan Dewi Regina Ano (24).

Polisi telah menetapkan Dewi Regina Ano sebagai tersangka.

Menurut pengakuan Dewi Regina Ano, dirinya nekat menghabisi dua buah hatinya itu lantaran kecewa dan dendam dengan suaminya Obir yang jarang memenuhi kebutuhannya.

Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK., melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH, kepada wartawan, Minggu (22/9), mengatakan, pihaknya akan memeriksaan kejiwaan tersangka ke psikolog.

“Kami akan jadwalkan untuk pemeriksaan tambah terhadap saksi yang juga adalah suami dan para korban,” ujar mantan Kasat Reskrim Polres Sikka itu.

Lanjutnya, selain saksi, juga akan dilakukan pemeriksaan psikolog dan tes psikologi terhadap tersangka.

“Untuk pemeriksaan terhadap tersangka kita akan menyesuaikan dengan kondisi kesehatannya,” tandasnya.

Sebelumnya, warga Jalan Timor Raya, RT 09/RW 03, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, digemparkan dengan kasus dugaan pembunuhan sadis terhadap dua orang anak yang baru berusia 5 tahun.

Kedua korban ditemukan bersimbah darah dengan luka bacok di bagian kepala.

Ibu mereka juga kritis disamping kedua anaknya yang telah meninggal, sehingga harus dilarikan ke RSUD S.K. Lerik Kupang untuk menjalani perawatan intensif.

Kejadian ini diketahui oleh Obir Masus ketika pulang dari kerja sebagai kuli bangunan.

Setibanya di rumah, Obir mendapati pintu rumah dalam keadaan terkunci sehingga ia memanggil kedua anaknya, namun tak kunjung dibuka.

Tidak lama berselang dirinya langsung mendobrak pintu. Saat itu pula ia menemukan kedua buah hati dan istrinya sudah tergeletak di lantai bersimbah darah. (wil)

Baca Juga :   Prabowo Dinilai Abaikan Tanggung Jawab atas Kepentingan Publik
Loading...
Continue Reading

HUKRIM

Polisi Segera Rekonstruksi Kasus Bunuh Bayi di Kupang

Published

on

Ilustrasi bayi baru lahir (NET)

Kupang, penatimor.com – Polres Kupang Kota tengah melengkapi berkas perkara dugaan pembunuhan bayi oleh ibu kandung saat melahirkan di toilet kos yang berlamat di RT 42/RW 13, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Penyidik berencana akan melakukan rekonstruksi pada Rabu (25/9) mendatang.

Upaya rekonstruksi perbuatan penganiayaan yang mengakibatkan bayi meninggal dunia tersebut bertujuan melengkapi berkas perkara untuk dilimpahkan ke kejaksaan.

Hal tersebut disampaikan Kapolres Kupang Kota AKBP Satrya Perdana P. Tarung Binti, SIK., melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH., saat dikonfrimasi di ruang kerjanya, Jumat (20/9).

Dikatakan sudah lima orang saksi termasuk tersangka telah diperiksa namun untuk menguatkan keterangan tersangka maka perlu dilakukan rekonstruksi di tempat kejadian perkara (TKP).

“Kita sudah jadwalkan, akan dilakukan rekonstruksi ulang perkara ini supaya jelas perbuatan dari ibu kandung ini. Rencananya akan dilangsungkan pada hari Rabu pekan depan,” tandasnya.

Selain akan melakukan rekonstruksi, pihak kepolisian masih menunggu hasil autopsi yang dilakukan terhadap korban.

“Hasil autopsi belum keluar dan diharapkan bisa diperoleh dalam waktu dekat sehingga bisa konfontir dengan keterangan tersangka,” imbuhnya.

Sebelumnya, polisi berhasil mengungkapkan pelaku dan motif pembunuhan terhadap bayi malang itu setelah mengamankan ibu korban atas nama Yuliana Virgina Samiyawa Muda (24) asal Desa Balaweling II, Kecamatan Solor, Kabupaten Flores Timur.

Tersangka Yuliana Muda saat melancarkan aksinya itu masih berstatus sebagai mahasiswa Universitas Aryasatya Deo Muri Kupang dan baru menjadi alumni empat hari.

Tersangka diketahui melancarkan aksi pidana penganiayaan anak yang mengakibatkan meninggal dunia tersebut pada Selasa (27/8) dan baru ditemukan membusuk sekitar pukul 13.00, pada Selasa (8/9).

Baca Juga :   Belum Ada Kuota ASN untuk Pemkot Kupang

Tersangka saat diperiksa mengaku, ayah dari bayi tidak berdosa itu merupakan salah satu pegawai harian lepas di salah sati instansi pemerintahan dan sudah berkeluarga berinisial NA (25).

Namun hubungan gelap antara tersangka dan NA berakhir pada bulan Februari 2019 lalu karena kekasihnya mengetahui kehamilan tersangka dan tidak ingin bertanggung jawab, sehingga tersangka malu dan takut sehingga bayi yang dilahirkan pun mendapat imbasnya.

Terhadap perbuatan tersangka yang menghilangkan nyawa manusia tersebut, dia dijerat dengan pasal 80 ayat 3 Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 sebagaimana perubahan atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, jo Pasal 341 KUHP. (wil)

Loading...
Continue Reading
Loading...




Loading…

error: Content is protected !!